Trending Topic
Meski Masih Alami Defisit Anggaran, JKN dan BPJS Kesehatan Merupakan Sistem Asuransi Terbesar di Dunia

10 Jan 2019


Foto: Pixabay
 
Pada tahun 2018, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sempat mengalami defisit anggaran sekitar Rp16,5 triliun. Walau sempat mengalami defisit anggaran, sejak dilaksanakan pada tahun 2014, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS Kesehatan telah menjadi sistem asuransi dengan skema pembayar premi tunggal terbesar di dunia yang menanggung lebih dari 203 juta orang hingga saat ini.
 
Hal tersebut terungkap dari hasil studi berjudul “Universal Health Coverage di Indonesia: Konsep, Perkembangan, dan Tantangannya”. Studi itu merupakan studi pertama yang sepenuhnya ditulis dan dipimpin oleh tim peneliti Indonesia yang dipublikasikan di The Lancet.
 
Dokter Rina Agustina dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang memimpin penulisan hasil studi tersebut menjelaskan bahwa Indonesia telah menciptakan skema Universal Health Coverage (UHC) yang adaptif dan fleksibel untuk mengakomodir kondisi dan kebutuhan yang beragam untuk menjamin perlindungan risiko keuangan, serta akses pelayanan kesehatan yang aman, efektif dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat; seperti yang dimandatkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
 
“JKN turut meningkatkan perawatan penyakit tidak menular. Namun, studi ini menemukan berbagai kesenjangan yang membutuhkan perhatian segera, terutama terkait kelompok rentan dan keberlanjutan finansial. Jika tidak segera diatasi, kesenjangan ini dapat membahayakan keberlanjutan di masa mendatang,” kata Rina Agustina dalam acara seminar ilmiah di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesai beberapa waktu lalu.
 
Permasalahan pertama adalah adanya kelompok yang disebut sebagai kelompok menengah yang hilang (missing middle), dimana hanya 52% orang yang terdaftar pada usia 20 hingga 35 tahun dari lapisan ekonomi menengah. Lebih lanjut hanya 25% pendaftar anak-anak sejak dilahirkan hingga usia 4 tahun.
 
Permasalahan kedua adalah kesenjangan finansial yang dirasakan oleh JKN dan BPJS Kesehatan, pendapatan tidak dapat menutup pengeluaran.  Rendahnya iuran dan tingginya klaim untuk penyakit kronis disebut jadi salah satu akar masalah. Sebanyak 23% peserta mendaftar ketika mereka sakit. Selain itu, mereka yang telah memiliki sejarah penyakit kronis juga terbukti sangat antusias mendaftar sebagai peserta JKN.
 
Pertumbuhan beban penyakit tidak menular di Indonesia sudah sangat serius. Salah satunya disebabkan faktor kebiasaan merokok pada 65% laki-laki dewasa, atau termasuk angka tertinggi di dunia. Faktor lainnya adalah masalah gizi, termasuk obesitas, stunting pada anak yang diasosiasikan dengan meningkatnya risiko terhadap hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung, sehingga pada akhirnya meningkatkan klaim kesehatan untuk jangka panjang.
 
Para peneliti merekomendasikan agar pemerintah berinovasi untuk pendekatan preventif dan promotif untuk mendukung pendekatan kuratif. Pemerintah harus menciptakan investasi multisektoral agar mengurangi faktor risiko utama untuk mencegah atau menunda penyakit, sehingga mampu menekan biaya tinggi penyakit di masa mendatang.
 
Penguatan lini terdepan kegiatan berbasis masyarakat dan sistem informasi kesehatan digital yang berbasis data, juga penting. Ini akan meningkatkan efisiensi dan memandu terciptanya solusi bagi permasalahan kesehatan Indonesia dengan kondisi yang beragam. (f)

Baca Juga: 

Penyakit Kanker Seperti Yang Pernah Diderita Ustadz Arifin Ilham, Bukan Penyakit Instan

Tren Kebugaran dan Kesehatan 2019




 

Desiyusman Mendrofa


Topic

#bpjskesehatan, #asuransikesehatan