
Ilustrasi pebisnis artisan. Foto: dok. Shutterstock
Menjual produk dengan harga tinggi merupakan hal yang cukup menantang bagi sebagian besar pebisnis, terutama jika ada kompetitor yang menjual dengan harga lebih murah.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara menjual produk dengan harga premium dan tetap laku di pasaran?
Jika Anda memiliki pertanyaan serupa, kisah dari beberapa pengusaha berikut ini mungkin dapat menjadi contoh. Mereka sengaja diundang oleh Femina Media bersama DBS Treasures untuk menjadi pembicara di acara DBS Treasures Indonesia Womenpreneur Conference (IWC) 2023 pada Selasa - Rabu, 11-12 Juli 2023 di Plaza Indonesia, Jakarta.

Anne Natalie, founder brand tas kulit mewah Jetalla'Aneiu. Foto: Muhammad Zaki
Tawarkan Sisi Personal
Anda mungkin tak asing lagi dengan gagasan marketing dimana mengkategorikan alasan konsumen membeli produk. Pertama, karena menginginkan fungsi barangnya, kedua karena nilai emosional barangnya.Jika ingin bermain di kelas premium, pebisnis perlu memerhatikan poin kedua seperti yang dilakukan oleh brand tas kulit mewah asal Bandung, Jetalla'Aneiu. Merek artisan premium ini didirikan oleh pasangan suami istri Anne Natalie dan Paulus Sulaeman pada tahun 2014.
Sebagai founder, Anne mengaku bahwa daftar pemesanan tas Jetalla'Aneiu sudah penuh hingga 2025 mendatang. Perempuan 39 tahun ini juga berbagi kisah bisnisnya bisa berkembang di kelas high-end.
"Produk kita dibuat berdasarkan pesanan, sehingga personality yang punya benar-benar tergambar di tas ini," ujar Anne.
"Misalnya, klien ingin warna biru. Kita akan tanya, mau biru yang seperti apa. Kita tunjukkan kita punya pilihan warna biru dengan jenis kulit yang ini dan ini. Jadi kita punya banyak sekali pertanyaan kepada klien sehingga kita tahu karakter klien seperti apa," kata Anne yang telah mengikuti berbagai workshop pembuatan tas kulit, salah satunya bersama Peter Nitz (pencipta tas-tas mewah kelas dunia serta pengajar kerajinan produk kulit ternama asal Zurich, Swiss) juga melihat cara pembuatan tas Hermes dalam sebuah pameran di Singapura, demi memberikan produk yang terbaik.
Harga tas Jetalla'Aneiu berkisar di angka puluhan juta dengan beragam ukuran. Namun Anne memastikan produknya benar-benar berkualitas dengan memantau proses produksi hingga mendengarkan langsung permintaan klien.

Allyssa Hawadi, Co-founder & VP of Public Relations Buttonscarves Beauty. Foto: Muhammad Zaki
Quality is Power
Ada harga, ada kualitas. Prinsip ini tampaknya dipegang oleh merek kosmetik lokal Buttonscarves. Membidik pasar menengah ke atas, Co-founder & VP of Public Relations Buttonscarves Beauty, Allyssa Hawadi mengaku percaya diri pasang harga produk di angka Rp200 ribu ke atas, dimana angka ini bersaing dengan maraknya produk-produk lokal maupun impor dengan banderol yang lebih murah."Karena memang sejak awal kami tahu konsumen utama dari Buttonscarves secara umum adalah kelas menengah ke atas," ujar Allyssa.
"Kebetulan kami memang memiliki background di bidang fashion dan kecantikan. Dan founder kami, Linda adalah seorang make up artist, dia sangat fanatik dengan developing product kecantikan itu seperti apa, dan kami sangat percaya dengan kualitas karena kualitas itulah yang menjadi power," terang Allyssa.

Tama Florentina, Founder Moire Rugs. Foto: Muhammad Zaki
Edukasi ke Calon Konsumen
Selain mengembangkan produk dengan kualitas tinggi, strategi lain yang mungkin Anda perlu lakukan adalah mengedukasi calon konsumen. Langkah ini seperti dicontohkan oleh pengusaha karpet kelas high-end Tama Florentina, Founder Moire Rugs."Kita sudah cukup dikenal di kalangan pebisnis interior, nah selanjutnya kita ingin merambah ke end-user, kita buat campaign dengan menggandeng media high-end juga yang memang khusus end-user," ujar Tama.

Leonard Theosabrata, Direktur Utama LLP-KUKM (SMESCO Indonesia). Foto: Muhammad Zaki
Maintain Originalitas dan Sentuhan Pribadi
Keaslian dan otentikasi suatu produk memiliki nilai tersendiri di mata konsumen, karena dengan begitu suatu produk menjadi punya keunikan yang tak tergantikan oleh produk lain.Direktur Utama LLP-KUKM (SMESCO Indonesia), Leonard Theosabrata, menjelaskan bahwa keaslian dari suatu produk itu bisa dimulai dari sentuhan nyata founder-nya yang bersifat fundamental. Terutama sekali jika produk yang dihasilkan adalah artisan.
"Aspek genuinity itu penting, khususnya bagi bisnis artisan. Kita mendirikan brand tidak sekadar ikut tren, tapi didasari oleh sesuatu yang fundamental. Karena unsur genuin ini yang nantinya akan dirasakan sekali oleh konsumen," kata Leo.
Selain itu, menurut Leo, pebisnis juga perlu mengedepankan pola pikir kapitalisme. Di satu sisi, adalah hal yang baik untuk menciptakan produk dengan tujuan sosial, namun jangan menafikan fakta bahwa dengan berbisnis, kompensasi pendapatan yang layak juga menjadi tujuan penting.
"Sisi kapitalisnya harus ada, jangan kerja sosial terus," kata Leo. (f)
Khalifa Moon (Kontributor)
Baca Juga:
Tantangan Kreativitas UKM Perempuan dan Peluang Ke Depan
Bidik Pasar Gen Z, Pengusaha Wajib Berstrategi
Kebangkitan UKM Perempuan Indonesia: Menguatkan Kinerja Bisnis UKM Dengan Belajar Trend dan Ilmu Baru
Topic
iwc 2023, dbs treasures indonesia womenpreneur conference, bisnis artisan, ekslusif, produk unggulan, emotional value


