Trending Topic
Dunia Kerja Di Indonesia Sudahkah Terjadi Kesetaraan Antara Pria dan Wanita?

12 Sep 2017


Foto: Pixabay

“Kesetaraan gender bukanlah soal ‘zero-sum game’,” ungkap Todd Lauchlan, satu dari dua male champion yang berbicara di talk show tentang kesetaraan gender di dunia kerja, Kamis (7/9) lalu di Ruang Forum Diskusi JLL Indonesia.

Acara ini merupakan program serempak dari 95 jaringan perusahaan konsultan properti tersebut di seluruh kawasan Asia Pasific. Tahun ini, mereka mengangkat tema: Diversity & Inclusion Week (4 – 8 September 2017) dengan fokus pada kesetaraan gender, generasi (baby boomers, X, dan millennial), dan geografi (kesempatan bekerja lintas negara) di lingkup kerja JLL.

Ucapannya cukup menarik, sebab dalam teori ekonomi, Zero-sum game adalah perhitungan matematis dari suatu situasi, di mana keuntungan dari satu pihak, mengakibatkan kerugian yang setimpal bagi pihak lain, demikian sebaliknya. Dengan kata lain, setiap kebijakan yang diberikan untuk mendorong tumbuhnya kesetaraan gender di dunia kerja tidak dilakukan dengan melukai pihak lain, atau dalam hal ini menjadi ancaman bagi para pekerja pria.

“Kesetaraan gender adalah soal tersedianya kesempatan yang menyeluruh bagi semua pihak, baik wanita maupun pria. Kesempatan yang sama ini akan mendorong setiap orang untuk memberikan performa terbaiknya dalam sebuah organisasi atau perusahaan,” ungkap Todd, yang menjabat sebagai Country Head JLL Indonesia.

Angela Wibawa, Head of Markets di JLL Indonesia mengatakan bahkan di dunia properti, seperti yang digeluti oleh JLL, jumlah pegawai wanita hampir menyamai, bahkan di beberapa divisi, sama dengan jumlah pegawai pria.

Menyambut ucapan Todd, ia menerangkan bahwa tidak ada pembedaan terhadap penghargaan performa pegawai. Bahkan, salah satu pegawai wanita di divisinya tetap dipertimbangkan untuk dipromosikan sebagai National Director, meski di saat yang sama pegawai tersebut tengah menjalani sabbatical leave, cuti selama 1 tahun untuk mengasuh anaknya.

“Baik wanita maupun pria, penghargaan dalam hal promosi, benefit, dan gaji sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme terbuka yang adil berdasarkan performa dan kontribusi mereka terhadap perusahaan. Jadi, bukan berapa lama orang bekerja yang menentukan promosi,” jelas wanita yang sudah 22 tahun berkecimpung di dunia properti itu.

Di jajaran senior leaders, komposisi antara wanita dan pria sudah mencapai 40:60%. Sebuah hal yang cukup membanggakan, bahwa di dunia properti yang dulu identik sebagai bisnis maskulin ini wanita sudah mulai memegang tampuk kepemimpinan.
Meski demikian dalam banyak hal, terutama di wilayah domestik, masih banyak dari wilayah kesetaraan gender ini yang masih harus dikejar oleh para pria. “Istri saya sangat luar biasa, di saat yang bersamaan saya bisa melihat dia , mengasuh anak, bahkan merawat ayah saya yang usianya sudah 80 tahun dan memiliki gangguan dimensia,” ungkap Luke Rowe, Head of Residential JLL Indonesia, memberikan apresiasi pada kesigapan wanita dalam menyeimbangkan peran domestiknya.

Bagaimanapun, bicara soal dunia kerja, ada beberapa sisi yang harus dibenahi oleh wanita untuk membangun kesetaraan itu. Meski wanita tidak beranggapan bahwa menjadi seorang ibu menghambat karier mereka, tapi rendahnya literasi digital menjadi problem tersendiri.
 
Lorens Halim, salah satu peneliti Accenture, di talkshow yang sama mengungkap bahwa penguasaan teknologi digital mampu mendorong 82% ibu bekerja berada di jalur karier fast track.

“Sebanyak 40% dari ibu bekerja di jalur fast track ini mengambil waktu untuk mempelajari STEM atau ilmu komputer, dan memaksimalkan teknologi digital untuk memajukan karier mereka di dunia kerja,” ungkap wanita yang memimpin departemen ASEAN People Program and ASEAN Transitions di Accenture itu. Terbukti, dalam studi yang dilakukan oleh Accenture, bahwa kemampuan mengadopsi teknologi digital dalam keseharian di dunia kerja mampu menutup gap kesetaraan gender di dunia kerja.(f)


Naomi Jayalaksana


Topic

#gender, #kesetaraan