Sex & Relationship
Rambu Berkonflik

11 Apr 2016


Seperti garam dan gula dalam proses memasak, konflik antarpasangan adalah ‘bumbu penyedap’ dalam sebuah hubungan. Jika ‘takaran’ dan ‘pengolahan’-nya pas, konflik dapat membuat Anda dan pasangan jadi lebih mesra. Sayangnya, tidak sedikit pula pasangan yang justru harus menghadapi kemungkinan terpahitnya.
 
Sama-sama bekerja dengan status freelance, pasangan Wina (27) dan Galih (34) berharap mereka dapat lebih mudah mengatur waktu karena jadwal kerja fleksibel. Ternyata, jam sibuk mereka berbeda. Galih sering berpindah tempat untuk menemui klien, sementara sang istri bekerja dari rumah sambil menjaga buah hati mereka. Saat di rumah, Galih pun lebih sering berinteraksi dengan klien di telepon genggam.
           
“Saya sering mengkritik Galih lewat kalimat sindiran. ‘Selalu saja lebih mesra sama ponsel…’ Kalau sudah saya sindir, dia biasanya akan menjawab, ‘Aku kan lagi kerja, ini aku dengerin kamu, kok’, tapi ekspresi wajahnya tidak menampakkan bahwa ia serius ingin mendengarkan saya,” kenang pekerja freelance di bidang media sosial ini. Kalau sudah begitu, Wina jadi malas untuk melanjutkan percakapan, meski sebenarnya ada hal penting yang perlu mereka bicarakan.

Lain lagi dengan Kathy (30) di Bekasi dan Seto (31) di Surabaya. Menjalani hubungan pacaran beda kota membuat mereka sangat bergantung pada teknologi komunikasi. Tiap hari mereka bertukar pesan teks, suara, atau video pendek menggunakan aplikasi messenger. Menjelang rencana pernikahan, banyak hal yang perlu mereka siapkan. Jeda waktu membalas pesan pun terasa jadi masalah penting bagi mereka.

“Seto suka lama atau tidak langsung membalas pesan saya. Padahal, dari read receipts di aplikasi, saya tahu dia sudah baca pesan saya,” keluh Kathy. Sebagai orang yang tidak suka berbasa-basi, teguran demi teguran pun Kathy layangkan ke Seto. “Pernah suatu kali saya merasa sangat kesal karena Seto tidak membalas pesan saya seharian. Saya telepon dia dan menyebutnya dengan salah satu nama binatang,” imbuh wanita yang bekerja sebagai marketing executive perusahaan asing ini.
Perasaan negatif yang muncul dari konflik sebenarnya selalu satu paket dengan perasaan cinta. Menurut psikolog Pingkan C.B. Rumondor, konflik akan selalu ada selama manusia berinteraksi. Terutama jika kebutuhan satu pihak tidak dapat dipenuhi oleh pihak lainnya. “Konflik tidak selalu bersumber dari masalah besar. Banyak juga yang muncul karena hal-hal sepele namun dilakukan berulang-ulang,” tambah head psychologist situs online dating setipe.com dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara di Jakarta ini.

Menurut riset psikolog John Gottman dan The Gottman Institute dari Amerika Serikat, 69% konflik pada pasangan merupakan konflik yang berulang dan sangat sulit dipecahkan. Perbedaan sifat, kebiasaan, dan kebutuhan gaya hidup menjadi langganan pemicu konflik antarpasangan. “Yang dibutuhkan tiap pasangan itu bukan hanya mengenali konflik, tetapi juga cara mengatasinya. “Inilah yang akan membuat hubungan jadi lebih kuat dan cocok,” ujar Pingkan.

Kecocokan tentu tidak hadir begitu saja. Harus ada usaha proses kompromi yang membutuhkan kepekaan dan tenggang rasa dari kedua pihak. Jika tidak, menurut Pingkan, masalah akan terus menumpuk, pecah menjadi konflik, dan bisa berdampak buruk bagi hubungan.

Bagi Wina, kritik berupa sindiran sudah tidak ampuh untuk mengubah sikap Galih. Cara itu justru membuat Galih defensif dengan menjadikan pekerjaan sebagai alasan. “Saya capek menyindir Galih. Akhirnya, saat sedang agak santai, saya bilang yang sejujurnya ke dia. Saya bilang, saya merasa kesepian karena Galih sulit diajak berdiskusi. Saya juga bilang, sikap dia menyebalkan,” ungkap Wina. Sejak saat itu, Wina dan Galih sepakat untuk selalu mengungkapkan perasaan secara langsung dan jelas.

Berbeda dengan Kathy. Ia justru berusaha untuk lebih menahan cara bicaranya terhadap Seto. Terlebih lagi, Seto agak menjaga jarak setelah peristiwa penyebutan nama binatang itu. “Saya memutuskan untuk menemui Seto di Surabaya untuk meminta maaf. Tapi, saya juga minta dia menjelaskan alasan mengapa dia selalu lama membalas pesan, padahal sudah baca,” tutur Kathy.Dari pembicaraan tersebut, Seto mengakui bahwa ia punya kebiasaan menunda sesuatu. Seto berjanji untuk mengubah sikapnya, Kathy pun berusaha memperbaiki cara bicaranya.(f) 
 

Cempaka Fajriningtyas