Reviews
Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui, Film yang Mengangkat Nilai Budaya Bugis

13 Sep 2017


Foto : Inipasti Communika

Ada yang menarik dalam perhelatan Makassar International Eight Festival (F8) yang digelar 6 – 10 September 2017 lalu. Untuk pertama kalinya, dalam perhelatan akbar tahunan yang diselenggarakan di Anjungan Pantai Losari, Makassar, tersebut dimulai dengan memutar trailer film  Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui, yang rencananya baru akan tayang akhir tahun ini.
 
Makassar International Eight Festival dianggap tepat dipilih sebagai media untuk promosi, karena film ini begitu kental membahas seluk beluk budaya Bugis Makassar. Pasalnya, ‘Silariang’ yang memiliki arti kawin lari dalam bahasa Bugis Makassar, menjadi bumbu cerita utama yang dibahas dalam film karya sutradara Wisnu Adi dan Kunun Nugroho ini.
 
Budaya silariang ini sendiri biasanya terjadi karena banyak hal, antara lain tidak direstuinya hubungan karena perbedaan status sosial antara dua kekasih. Isu lokal yang dekat dengan anak muda inilah yang ingin coba dikenalkan pada masyarakat luas.
 
"Dalam beberapa tahun belakangan, ada kegairahan untuk mengangkat isu-isu lokal. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Sebagai putra daerah, tentu saja saya juga ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari kampung halaman saya, Makassar. Dan saya percaya kearifan lokal bakal menjadi kekuatan baru di perfilman Indonesia," ujar Ichwan Persada selaku Produser film ini.
 
Film ini menceritakan tentang Yusuf (Bisma Karisma, SM*SH, Juara) yang ingin melanjutkan hubungan cintanya dengan Zulaikha (Andania Suri, Beauty and the Best ) ke jenjang pernikahan. Namun cinta mereka terhalang oleh perbedaan kasta. Yusuf, meski berkecukupan, namun hanya rakyat biasa, dan dianggap tak layak meminang Zulaikha yang keturunan bangsawan Bugis.
 
Demi cinta, mereka rela melakukan silariang, walau sebenarnya bukan perkara yang mudah. Ada keluarga yang merasa tercoreng harga dirinya, ada pula ibu yang terluka hatinya karena ditinggal putrinya. Konflik inilah yang coba dikupas film Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui, yang kini sudah masuk tahap editing.
 
"Film yang sarat dengan budaya Bugis yang coba dikemas secara populer khas anak muda ini memperlihatkan sejumlah nilai-nilai budaya yang baik dan bisa ditiru. Mungkin judulnya terkesan negatif, namun justru menurut saya di situlah jalan untuk menyampaikan sejumlah nilai-nilai baik," ungkap Ichwan yang sebelumnya telah sukses memproduksi film Cerita Dari Tapal Batas, Hijabers in Love dan MIRACLE: Jatuh Dari Surga.
 
Untuk memberi kesan lokal yang kuat, tak hanya menampilkan Bisma dan Andania yang berdialog menggunakan logat Bugis Makassar, film ini juga mengajak aktor lokal berbakat Makassar seperti Nurlela M. Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, dan Fhail Firmansyah. (f)


Baca Juga :
Banda: the Dark Forgotten Trail vs the Battleship Island, Sama-Sama Menguak Sejarah Pahit Penjajahan Lewat Film
4 Film Terbaik di Good Pitch South East Asia 2017
Film Dokumenter dan Dukungan untuk Kemanusiaan


Nuri Fajriati


Topic

#resensifilm, #filmindonesia