Profile
Astika Suprapto, Pemenang I Lomba Perancang Mode 2017, Rindu Merilis Label Sendiri

27 Oct 2017

Sebagai anak diplomat, Astika Suprapto (26) kerap mengalami gegar budaya dan merasa ‘tidak seharusnya berada di sini’. “Setiap kali pindah, saya harus masuk ke dunia baru, beradaptasi lagi, dan benar-benar membuat saya tak nyaman karena saya tahu saya bukan berasal dari sana,” ungkap Astika yang lahir di Australia dan pernah tinggal di Kaledonia Baru, Portugal, Malaysia, dan kini bermukim di Paris, Perancis.
 
Ide akan ‘tidak pada tempatnya’ atau Misplaced ini yang kemudian diangkat sebagai ide sekaligus menjadi nama dari karya busana ready-to-wear yang ia siapkan untuk Lomba Perancang Mode (LPM) 2017 yang mengambil tema Urban Identity Kebetulan setiap tahun ia pulang ke Indonesia dan ketika melihat tema lomba ini sesuai dengan kisah hidupnya, maka ia pun tergelitik untuk mengikutinya.

“Ini merupakan kompetisi yang pertamakalinya saya ikuti dan saya sangat senang berhasil menjadi pemenangnya, mengingat reputasi LPM yang bergengsi akan menjadi portfolio bagus dan membangun awarenessuntuk rencana saya terjun menjual label sendiri,” ungkap pemegang gelar Master dari International Fashion Academy (IFA) Paris ini.

Para juri menyukai pemikirannya yang matang akan konsep dan rencana bisnis pemasarannya. Sebab yang dinilai dalam kompetisi LPM bukan sekadar kreativitas merancang, tetapi juga kelihaian desainer-desainer muda ini dalam memetakan pemasarannya.

“Astika tahu siapa target marketnya, yaitu pasar Eropa. Selera pasar di sana menyukai desain kasual, simple, dan tidak menyukai corak yang ramai dan lebih menyukai warna lembut. Itu sebabnya ia hanya menambahkan sedikit wastra Indonesia atau sebagai lapisan dalam Trench Coat. Setidaknya ini sebagai pemancing keingintahuan mereka akan wastra Indonesia. Beberapa bajunya juga reversable sehingga konsumen juga bisa memilih apakah ingin menonjolkan wastranya atau tidak. Ini kreatif,” puji desainer senior Musa Widyatmojo sebagai salah seorang juri LPM 2017.

Beruntung, kemenangannya di ajang LPM, memberinya kesempatan untuk memperluas wawasan di bidang fashion lewat beasiswa shortcourse dari Istituto Marangoni. Dalam modul pembelajarannya, akan ada pembekalan mengenai pemanfaatan media sosial untuk pemasaran. “Ini sangat penting untuk dipahami para desainer di zaman sekarang ini. Sebab bisa membuka pasar dan eksposure yang lebih luas,” ujarnya, yang berencana akan menggandeng para blogger mode di Perancis dan Indonesia untuk membantu eksposure labelnya ‘AS’- akronim namanya - di kancah global maupun tanah air.

“Selain menggunakan media sosial, target awal saya ingin menjajaki pasar dulu, coba menjual di butik-butik kecil dulu, baru menjajaki kemungkinan masuk ke department store di Paris,” kata Astika, semangat.  
Memiliki label sendiri memang impiannya sejak lama. Astika boleh bingung dengan identitas dirinya, namun ia konsisten merajut jalur kariernya. Menyukai segala hal yang berkaitan dengan dunia fashion, ia memilih mengambil kuliah D3 Fashion di Kuala Lumpur, dan, pada bulan Januari 2016, Astika berhasil meraih gelar Master-nya dari International Fashion Academy (IFA) di Paris.

Astika juga pernah menimba ilmu dengan bekerja sebagai tutor fashion selama 1 tahun di Kuala Lumpur, dan bahkan menjajaki dunia jurnalistik sebagai Fashion Stylist dan Reporter Mode di sebuah majalah wanita tahun 2012-2013 lalu.

“Saya sangat suka fashion dan menikmati sekali ketika saya bekerja menjadi Reporter Mode. Bisa bertemu langsung dengan orang-orang hebat di dunia fashion dan belajar dari mereka,” akunya.  Dan saat ini Astika bekerja freelance sebagai Asisten Pembuat Pola dan Menjahit di sebuah butik bridal  di Paris.(f)


Baca juga:


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?