
Foto: Shutterstock
Pernahkan Anda mengenal seseorang yang terobsesi pada kebersihan? Bisa jadi ia mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, obsesi pada penderita OCD didefinisikan sebagai pemikiran, dorongan, dan gambaran yang mengganggu, tidak diinginkan, dan terjadi secara terus menerus hingga menimbulkan kecemasan.
Secara terbuka presenter Rina Nose baru-baru ini mengaku mengidap OCD. Ia mengaku ‘gila’ kebersihan dan merasa cemas bila melihat jejak kotor, misalnya kertas tisu yang berserakan di toilet umum.
“Ya, saya OCD yang merupakan gangguan mental yang mengharuskan saya memastikan segala sesuatu secara berulang-ulang, dan jika tidak dilakukan maka saya akan merasa cemas,” ungkap Rina.
OCD berasal dari kata ‘obsesif’ dan ‘kompulsif’ yang berarti pikiran serta perilaku seseorang yang terjadi secara terus menerus dan berulang. Penderita OCD biasanya mempunyai satu tema atau pola tertentu lalu melakukan tindakan secara kompulsif.
“Hal ini terjadi karena pengidap OCD tidak dapat menyaring pemikirannya, misalnya pada kasus Rina, tentang kuman. Pengidap tidak akan bisa berhenti berpikir tentang kontaminasi kuman sampai menimbulkan keresahan dalam dirinya. Tentu saja adanya rasa resah dan cemas akan menyita waktu si penderita sampai berjam-jam bahkan dapat menganggu aktivitas normal mereka,” jelas DR. dr. Ria Maria Theresa, Sp.KJ, psikiater RS Premier Bintaro.
dr. Ria mengatakan bahwa ada pengidap OCD yang sadar akan obsesi berlebihan dalam dirinya. Ia mengetahui penyebabnya dan mengakui bahwa hal yang menjadi obsesi tersebut kerap tidak masuk akal.
Tetapi, ada juga yang belum menyadari, mengabaikan, atau tidak mau mengakuinya. Sebagian besar mengabaikan gangguan pada dirinya karena takut diberi label gangguan mental dari lingkungan sekitarnya.
“OCD bisa disebut gangguan mental bila ada distres dan disfungsi yang menyebabkan pengidapnya merasa tersiksa, tidak nyaman, hingga menganggu fungsi dalam kehidupannya,” ucap dr. Ria.
Gejala OCD sering menyerang di usia muda dan berpotensi memburuk seiring bertambahnya usia. Jika sudah parah, dapat menyebabkan depresi bahkan mendorong penderita bunuh diri.
Pengobatan bisa dimulai dengan berkonsultasi kepada psikiater. Psikiater akan memberikan terapi perilaku kognitif atau konseling, bahkan obat-obatan jika diperlukan. (f)
BACA JUGA:Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, obsesi pada penderita OCD didefinisikan sebagai pemikiran, dorongan, dan gambaran yang mengganggu, tidak diinginkan, dan terjadi secara terus menerus hingga menimbulkan kecemasan.
Secara terbuka presenter Rina Nose baru-baru ini mengaku mengidap OCD. Ia mengaku ‘gila’ kebersihan dan merasa cemas bila melihat jejak kotor, misalnya kertas tisu yang berserakan di toilet umum.
“Ya, saya OCD yang merupakan gangguan mental yang mengharuskan saya memastikan segala sesuatu secara berulang-ulang, dan jika tidak dilakukan maka saya akan merasa cemas,” ungkap Rina.
OCD berasal dari kata ‘obsesif’ dan ‘kompulsif’ yang berarti pikiran serta perilaku seseorang yang terjadi secara terus menerus dan berulang. Penderita OCD biasanya mempunyai satu tema atau pola tertentu lalu melakukan tindakan secara kompulsif.
“Hal ini terjadi karena pengidap OCD tidak dapat menyaring pemikirannya, misalnya pada kasus Rina, tentang kuman. Pengidap tidak akan bisa berhenti berpikir tentang kontaminasi kuman sampai menimbulkan keresahan dalam dirinya. Tentu saja adanya rasa resah dan cemas akan menyita waktu si penderita sampai berjam-jam bahkan dapat menganggu aktivitas normal mereka,” jelas DR. dr. Ria Maria Theresa, Sp.KJ, psikiater RS Premier Bintaro.
dr. Ria mengatakan bahwa ada pengidap OCD yang sadar akan obsesi berlebihan dalam dirinya. Ia mengetahui penyebabnya dan mengakui bahwa hal yang menjadi obsesi tersebut kerap tidak masuk akal.
Tetapi, ada juga yang belum menyadari, mengabaikan, atau tidak mau mengakuinya. Sebagian besar mengabaikan gangguan pada dirinya karena takut diberi label gangguan mental dari lingkungan sekitarnya.
“OCD bisa disebut gangguan mental bila ada distres dan disfungsi yang menyebabkan pengidapnya merasa tersiksa, tidak nyaman, hingga menganggu fungsi dalam kehidupannya,” ucap dr. Ria.
Gejala OCD sering menyerang di usia muda dan berpotensi memburuk seiring bertambahnya usia. Jika sudah parah, dapat menyebabkan depresi bahkan mendorong penderita bunuh diri.
Pengobatan bisa dimulai dengan berkonsultasi kepada psikiater. Psikiater akan memberikan terapi perilaku kognitif atau konseling, bahkan obat-obatan jika diperlukan. (f)
Kecemasan Melanda Masyarakat, Layanan Konsultasi Psikologi Online Bermunculan
Hidrasi Sehat dan Mindfulness untuk Atasi Kecemasan Hadapi Fase New Normal
Lansia Juga Butuh Vaksin. Berikut Vaksin Penting untuk Mereka
Topic
#kesehatanmental, #OCD, #RinaNose, #kecemasan


