Health & Diet
5 Mitos Tentang Garam, Anda Perlu Tahu

22 Aug 2017

 

Foto: Pixabay
 
Belakangan melonjaknya harga garam menyebabkan timbul banyak polemik. Sebenarnya, jauh sebelum isu tentang harga garam ini berkembang, pemberi rasa asin pada makanan ini sudah membuat banyak orang bertanya-tanya. Terutama dalam hal kesehatan.
 
Tak sedikit orang yang berusaha untuk menghindari garam dalam makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Banyak mitos tentang garam yang terkait kesehatan. Padahal menurut dr. Emilia Achmadi MS, RD ketakutan ini terlalu berlebihan, karena pada dasarnya tubuh manusia membutuhkan garam sebagai ‘bahan bakar’ untuk menjalankan fungsi tubuh, selain gula dan lemak.
 
Berikut ini lima mitos dan fakta tentang garam yang perlu Anda ketahui:
 
1/ Mitos: Diet No Garam baik untuk tubuh.
Faktanya, garam sangat penting bagi sel-sel tubuh untuk menjalankan fungsi otot dan hidrasi. Mengonsumsi garam secukupnya akan membuat tubuh sehat. Tapi, jika berlebihan, sama seperti halnya gula, garam bisa membahayakan tubuh.

Menurut Journal of Hypertention, mereka yang mengurangi kunsumsi sodium sekitar 1000 miligram bisa mengalami berbagai penyakit. Seperti darah rendah, detak jantung lebih tinggi, serta meningkatkan risiko diabetes. Diet no garam justru bisa membuat tubuh kehilangan cairan. Yang terjadi, berat tubuh berkurang karena tubuh kehilangan cairan akibat kurang garam. Salah satu fungsi garam di dalam tubuh adalah untuk mengikat air.
 
2/ Mitos: Garam crystal lebih bagus dari garam laut.
Faktanya, selain rasa asin yang diberikan, garam crystal memberikan efek yang sama. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya semua jenis garam memiliki kandungan sodium. Tidak berarti ada satu jenis garam yang memiliki kandungan sodium berbeda dari jenis garam lainnya. Itulah sebabnya, tidak ada jenis garam yang lebih baik dari garam yang lainnya.            
  
3/ Mitos: Garam musuh kesehatan.
Garam memang kerap disebut sebagai biang keladi berbagai masalah kesehatan, seperti hipertensi dan jantung. Tapi, berbagai penelitian yang dilakukan belakangan ini justru menyarankan agar kita tidak menghilangkan garam dalam makanan, tapi mmengonsumsi garam secukupnya.

Aturannya, untuk orang dewasa total konsumsi garam perhari sekitar 1500 – 2200 mg. Ini berarti penggunaan sejumput garam dalam makanan yang Anda masak sehari-hari. Tapi, pola makan masa kini membuat seseorang mengonsumsi lebih dari 5000 miligram garam. Dua kali lipat dari apa yang dibutuhkan tubuh.

Garam bisa berasal dari banyak makanan, mulai dari makanan cepat saji, makanan kemasan, hingga snack dan minuman. Agar asupan garam tidak berlebih, konsumsilah makanan yang diolah sendiri.
 
4/ Mitos: Garam menyebabkan hipertensi.
Faktanya, garam tidak menyebabkan hipertensi, tapi bagi penderita hipertensi memang perlu mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Mengapa? Karena garam di dalam tubuh akan mengikat air. Semakin banyak garam, berarti semakin banyak air yang terikat di dalam darah. Kondisi ini akan membuat jantung memompa lebih keras dan membuat tekanan darah meningkat.
 
5/ Mitos: Garam sama dengan sodium
Secara kimia garam disebut sebagai sodium klorida. Meski begitu, kandungan sodium dalam satu gram garam hanya setengahnya saja. Jika pada label kemasan makanan tercantum kandungan garam, maka tingkat sodiumnya hanya setengahnya saja. Di dalam tubuh, sodium berfungsi untuk kerja kontraksi otot sekaligus untuk dehidrasi.

Ketika berkeringat dan membuang urin, kita kehilangan sodium. Jika tidak menggantikannya dengan yang baru, maka sodium di dalam tubuh akan hilang. Perlu diketahui, bahwa garam bukanlah satu-satunya sumber sodium. Senyawa ini juga bisa didapat dari sayuran dan buah-buahan.(f)
 
Baca juga:
Garam Langka, Ini Penyebabnya
Garam untuk 4 Perawatan Wajah: Scrub - Kompres Jerawat


Faunda Liswijayanti


Topic

#garam , #kesehatan