Fiction
Gado-gado: Entong

2 Mar 2019


ilustrasi: tania.
 
Sejak kemarin, Ibu terus mengomeliku karena kucing peliharanku berkali-kali berusaha masuk ke dalam lemari. Ibu mengancam akan membuangnya, jika hewan berbulu cokelat muda itu terus membuat keributan di rumah.
 
Ibu memang orang yang paling menolak keberadaan kucing itu sejak awal. “Lin, kamu itu buruan cari suami. Jangan Entong saja yang diurusi!”
 
Fiuh, aku sudah kenyang mendapat teguran seperti itu. Wajar saja, beberapa bulan lagi aku akan menginjak umur dua puluh enam tahun. Teman-teman seumuranku yang masih melajang makin sedikit jumlahnya. Tentu saja Ibu khawatir setengah mati.
 
Siang ini, melihatku asyik mengelus-elus kepala Entong, Ibu pun kembali geram. “Jangan elus-elus seperti itu! Bulunya terbang ke mana-mana. Kamu kan tahu bulu kucing itu tidak baik. Bisa bikin mandul. Kamu belum menikah. Bahaya, Nduk!”
 
Aku berusaha untuk tetap santai menanggapi tegurannya. Mau bagaimana lagi? “Entong sepertinya sudah mau melahirkan, Bu,” ujarku, saat Entong kembali terlihat panik dan berjalan ke arah garasi.
 
Aku mengikutinya, begitu juga Ibu. Melihat tingkah yang tak biasa dari Entong, Ibu pun mulai panik. “Aduh, kardusnya cepat dikasih kain! Nanti darahnya ke mana-mana. Minumnya juga didekatkan, melahirkan itu bikin haus.” Kulirik ekspresi di wajah Ibu yang kini tampak tak sabaran. Ketika Ibu mendorong mangkuk berisi air minum, Entong mengerang kesakitan. Ibu terpaku selama beberapa saat.
 
Meskipun sudah melahirkan tiga anak, ini adalah pengalaman pertamanya  menyaksikan persalinan seekor kucing. Entong melahirkan enam ekor anak dalam waktu empat jam. Karena kelelahan, Entong pun tertidur setelah meminum sedikit air. Ibu yang bolak-balik menyaksikan proses persalinan keenam anak kucing itu tiba-tiba tampak haru. Seolah baru saja menyaksikan cucu-cucunya lahir.
 
“Ibu melahirkan satu anak saja rasanya sakit bukan main. Dia yang melahirkan enam anak tanpa bidan dan suami yang menemani bagaimana, ya, rasanya? Kasihan, deh,” ujarnya, sambil  menutup pintu garasi.
 
Malam ini kami sekeluarga akan keluar untuk makan malam. Selama makan malam, aku dan kedua adikku sibuk membicarakan Entong. Ibu ikut menimpali sesekali. Ia terlihat bangga menyaksikan proses persalinan Entong.
 
“Coba tulang-tulang ayamnya boleh dibawa pulang, ya? Entong pasti senang,” celoteh adikku yang berumur 8 tahun sambil mengumpulkan tulang-tulang ayam penyetnya di atas tisu.
 
Ibu terdiam sejenak. Kepalanya memutar mencari sosok pelayan.
 
“Mas!” katanya, sambil melambaikan tangan ke arah pelayan di dekat meja kami. Pelayan itu menghampiri meja kami. “Ada yang mau dipesan lagi, Bu?” katanya ramah. Aku buru-buru memalingkan wajah.
 
Tidak begitu siap mendengar apa yang akan Ibu katakan pada pelayan itu. Ada rasa malu.
 
“Tulang-tulangnya boleh dibungkus, Mas? Untuk kucing di rumah saya,” kata Ibu, percaya diri.
 
Ekspresi yang ditunjukkan pelayan itu mewakili kegelian kami bertiga atas kenekatan Ibu. Setelah berhasil menahan dirinya untuk tidak tertawa, pelayan ramah itu pun mengangguk.
 
“Boleh sekali, Bu.”
 
Begitu sampai di rumah, Ibu langsung menghampiri kardus Entong. “Pus, makan dulu. Biar ASI-nya banyak,” ujarnya, sambil membuka bungkusan tulang ayam.
 
Lucunya, Entong menuruti perkataan Ibu, meskipun gerakannya terlihat lemah. Entong mulai mengendus-endus tulang ayam, lalu memakan sisa-sisa daging yang melekat di tulangnya dengan lahap. Kami bertiga yang menyaksikan pemandangan langka itu langsung memotretnya.
 
“Entong yang sehat, ya? Ibu enggak akan usir Entong kalo Entong nurut.
 
Doakan mbak-mbakmu itu punya anak banyak kayak kamu, ya.” Entong mengeong lemah, seolah paham apa yang baru saja Ibu katakan. 
 
Aku terkikik.
 
Ibu memang bukan orang yang keras hatinya. Aku paham bahwa omelannya selama ini hanyalah bentuk kekhawatirannya terhadap masa depanku. Aku pun ikut mengaminkan perkataannya. Ya, semoga aku punya banyak anak seperti Entong!
 
***
 
LINDAWATI ANUGRAH – BONTANG
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak.femina@pranagroup.id atau
pos Femina (Prana Group) Jl. Mampang Prapatan Raya No. 75, Lt 7. Mampang Prapatan Jakarta 12790, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Topic

#fiksi, #gadogado

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.