Fiction
Gado-gado: Divisi SDM

16 Mar 2019


ilustrasi: tania.
 
Pekerjaan saya sebagai profesional yang bekerja di bidang sumber daya manusia (SDM) memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya, orang SDM tidak boleh ‘alergi’ dengan siapa pun, bagaimanapun situasinya.
 
Ya, karena memang objek kerja SDM adalah manusia, seperti halnya seorang akuntan yang tidak boleh ‘alergi’ dengan angka. Tantangan terbesarnya, bagaimana divisi SDM bisa menjadi jembatan bagi kepentingan perusahaan dan kepentingan karyawan. Juga menjembatani kepentingan karyawan satu dengan karyawan lainnya. Di situlah letak kesulitannya. Manusia kan bukan robot, sangat dinamis dan mungkin juga menjengkelkan suatu saat.
 
Pagi tadi, kami memanggil beberapa kandidat pelamar. Saya dan Kepala Bagian SDM berada di ruang interview. Lalu masuklah seorang kandidat. Sebut saja Andi. Pria itu sangat kurus, mungkin tembok kantor kami masih lebih tebal dibanding dia, hahaha….
 
Andi adalah sarjana manajemen informatika alias sarjana komputer. Tapi, ketika ditanya tentang kegunaan fitur mailing-merge di komputer, dia malah mengira itu adalah fitur untuk mengirim e-mail. Atau ditanya mengenai VLookUp dan HLookUp dia malah menjawab, “Lukap-lukap, sih, saya enggak tahu,” dengan suara gugup.
 
Lalu, ketika ditanya, “Kenapa tidak mencari tahu tentang perusahaan kami sebelum wawancara ini?” jawabannya pendek (dan menjengkelkan), “Enggak aja.” Antara kesal, tapi ingin ketawa, sampai saya harus keluar ruangan dulu untuk menenangkan diri. Speechless juga mendapat pelamar seperti ini.
 
Saya juga pernah menghadapi seorang karyawan kantor cabang. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, sampai ia tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri. Di perusahaan kami, karyawan yang akan mengundurkan diri sebisa mungkin akan kami konseling terlebih dahulu.
 
Karena dia wanita, sayalah yang ditugaskan untuk melakukan konseling. Dan Saya cuma bisa melongo ketika dalam sesi konseling itu dia bilang, “Saya tadinya mau curhat sama Mbak, tapi sungkan, soalnya Mbak pendiam, sih.” “Kok, bisa menyimpulkan saya pendiam, padahal kita belum pernah ketemu langsung?” tanya saya keheranan.
 
 “Tahu dari BBM, Mbak,” jawabnya. Saya melongo lagi. Sejak kapan kita bisa mendeteksi seseorang pendiam atau tidak melalui status BBM tanpa pernah bertemu langsung?
 
Eh, dia cuma cengengesan dan bilang, “Ya, soalnya Mbak enggak pernah update status, sih.” Oalaaah! Cerita-cerita lucu menggemaskan seprti itu banyak sekali kami temui termasuk yang agak absurd seperti, ada kepala seksi yang mengintimidasi stafnya yang sudah menikah, mungkin karena dia belum dilamar-lamar juga oleh pasangannya, hahaha….

Dan itu tugas HRD juga untuk membereskan. Yang paling serius saat melakukan konseling karyawan yang pernah mencoba loncat dari lantai empat kantor kami karena dia yakin Tuhan tidak punya kuasa menahan kehendaknya. Untunglah ia tertolong. Manusia memang bukan robot, dinamikanya sangat menakjubkan. Dan saya tidak boleh alergi karenanya, seabsurd apa pun itu.
 
***
 
Edithya Permata Sari
 
 Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak.femina@pranagroup.id atau pos
Femina (Prana Group) Jl. Mampang Prapatan Raya No. 75, Lt 7. Mampang Prapatan Jakarta 12790, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
 
 


Topic

#fiksi, #gadogado

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.