
Dok: Shutterstock
Suatu hari, Dinda (33) mendapat pesan singkat dari wali kelas anaknya, Tania (7), yang cukup membuat Dinda pusing. Pasalnya, sang wali kelas menegur Dinda karena dianggap membiarkan Tania datang ke sekolah dengan pulasan lipstik merah di bibir anak kelas satu SD tersebut. Tania memang sedang senang-senangnya bermain dengan make-up. Selain memperhatikan saat Dinda berdandan, Tania juga senang nonton tutorial make-up di YouTube. Tapi, mengetahui anaknya memakai lipstik ke sekolah, Dinda benar-benar tak habis pikir.
Sulit Dibendung
Zaman berubah, teknologi makin berkembang, termasuk paparan soal make-up pada anak-anak. Sekarang, pengetahuan anak-anak soal make-up bisa didapat dari mana saja, termasuk dari media sosial dan YouTube, sumber informasi generasi Z dan alpha. Seperti Tania. Gadis kecil berambut panjang ini sangat suka menonton tutorial make-up di YouTube. Sebenarnya, kebiasaan ini tak lepas dari kegemaran sang ibu menonton tutorial dari beauty blogger terkenal di YouTube. Tania juga bisa dengan mudah menemukan video anak-anak yang menjajal berbagai kosmetik di YouTube.
Penonton video aksi anak-anak un-boxing produk make-up atau mencoba make-up ini bisa mencapai puluhan juta. Sebuah video di YouTube, yang menampilkan anak usia 7 tahun mencoba lipstik ibunya dan berkata, “Aku mau pakai make-up seperti ibuku,” bahkan telah ditontoh lebih dari 4 juta kali. Usia penikmat make-up yang kian muda ini dimanfaatkan pengembang produk kecantikan untuk membuat lini prpoduk kecantikan khusus anak. Para ‘beauty blogger cilik’ pun menjadi salahs atu sasaran untuk mempromosikan produk mereka.
Amerika Serikat dan Korea Selatan adalah contoh negara di mana produk kosmetik untuk anak tumbuh dengan subur. Di Seoul, Korea Selatan misalnya, kita bisa menemukan salon kecantikan khusus anak-anak. Bahkan, negeri K-pop ini juga menawarkan paket liburan keluarga yang menghadirkan program rias wajah dan spa untuk anak.
Salah satu tempat perawatan kecantikan untuk anak yang sedang populer dan cukup besar di Korea Selatan adalah ShSshu & Sassy. Pengunjung salon ini tak kalah ramai dengan salon kecantikan untuk wanita dewasa. Awalnya perusahaan ini membuat produk kecantikan untuk anak berlabel ShuShu Cosmetics. Paket perawatan yang ditawarkan beragam, mulai dari masker, mengaplikasikan produk perawatan wajah, manikur, pedikur, hingga layanan make-up. Di akhir perawatan, para konsumen cilik ini akan memakai tabir surya dan lipstik. Pelanggan terbesar ShuShu & Sassy berusia antara empat hingga tujuh tahun.
Tren maraknya penggunaan kosmetik, sempat dikaji oleh Kim Ju-duck, Profesor Studi Kecantikan Sungshin Women’s di Universitas Seoul pada tahun 2016 yang melakukan survei terhadap 288 siswi sekolah dasar di Korea Selatan. Temuannya saat itu, sekitar 42 persen responden tersebut sudah memakai make-up. Dari hasil penelitiannya, Kim menyimpulkan bahwa tren kecantikan anak mustahil dibendung karena maraknya media seperti YouTube yang menampilkan aktivitas anak-anak merias wajah. Melihat teman sebaya di media sosial seperti YouTube merias wajah mendorong anak untuk melakukan hal serupa.
Hal tersebut diperkuat oleh Asisten profesor di Institute of Body and Culture, Universitas Konkuk, Yunkim Ji-yeong, dikutip dari artikel I Want to be Pretty Like Mom! yang tayang di situs The Korean Herald awal tahun ini, menyebutkan bahwa tayangan YouTube berisi tutorial make-up, terutama yang dilakukan oleh anak-anak, mendorong anak lain untuk berpikir bahwa merias wajah adalah keharusan.
Walaupun belum ada survei resmi tentang tren penggunaan make-up pada anak-anak dan remaja di Indonesia, survei yang dilakukan Gadis awal tahun ini tentang kebiasaan remaja dan tren 2019, sedikit banyak bisa memberikan gambaran tentang penggunaan make-up di kalangan remaja di wilayah Jabodetabek.
Salah satu hasil survei yang diikuti oleh 100 responden (usia SD-SMP) ini menyebutkan, sekitar 60% responden mengaku peduli pada kecantikan. Mereka ini menjadi konsumen aktif untuk berbagai produk kecantikan, mulai dari perawatan rambut, make-up, hingga perawatan wajah. Bahkan, mereka menyediakan bujet khusus untuk produk kecantikan dengan kisaran harga antara Rp50.000 hingga Rp200.000.
Dari hasil survei tersebut juga diketahui bahwa tiga masalah kecantikan yang mereka cemaskan adalah rambut rontok (56%), wajah berjerawat (51%), dan rambut berketombe (46%). Sedangkan lima produk kecantikan yang paling banyak digunakan adalah shampoo (100%), bedak wajah (89%), body spray and body lotion (855), lipstick/liptint/lipcream (80%), dan conditioner (78%). Yang menarik produk kosmetik kekinian seperti micellar water (76%) dan BB Cream (75%) cukup dikenal dan mereka gunakan sehari-hari.
Baca selanjutnya: Kapan Waktunya?
Faunda Liswijayanti
Topic
#makeupanak, #kosmetikanak, #trenmakeup




