Ia mengantongi 200 piala dari arena sirkuit, tapi ia pun tak pernah absen ke salon.
1. Sebagai wanita pembalap, ada yang meremehkan?
Iya. Ada yang bilang, saya tidak bisa semaksimal pria pembalap. Waktu saya mendapat penghargaan MURI sebagai wanita pembalap formula pertama di Indonesia, saya terpacu untuk tak sekedar jadi yang pertama, tapi jadi yang terbaik.
2. Anda ikut jejak Ayah?
Papa, H. MAS Alex Asmasoebrata yang memaksa saya agar berlatih gokar. Awalnya, saya tidak percaya diri. Tapi, setelah mencoba, saya jadi ketagihan. Setelah 3 bulan latihan, saya ikut kejuaraan gokar daerah dan menang. Padahal saya masih 12 tahun. Melihat potensi ini, Papa mendorong hingga saya bisa sampai ke jenjang balapan formula.
3. Ada rasa takut?
Sedikit takut, jika mengalami kecelakaan. Tapi, rasa takut ini saya jadikan kontrol agar tidak melakukan hal bodoh dalam arena balap. Lucunya, setiap kali mau lomba, saya masih saja merasa nervous dan deg-degan, persis seperti pertama terjun ke dunia balap.
4. Anda juga mendapat penghargaan The Most Stylist Athlete, ya?
Ya. Di luar arena balap, saya memang bergaya feminin dan sangat merawat tubuh. Tapi, kalau sudah turun ke sirkuit, saya berubah 180 derajat seperti pria. Tidak pakai make up dan sunblock, padahal arena sirkuit biasanya panas terik dan berdebu. Jadi, usai balapan, kulit saya belang dan rambut kering. Setelah pekan balap selesai, saya menebusnya dengan rutin ke salon untuk lulur, hairspa, manicure & pedicure, hingga massage supaya tubuh relaks.
5. Anda mengambil pendidikan lain di luar dunia balap?
Saya tertarik mengambil ilmu komunikasi di Universitas Paramadina. Saat ini tinggal tahap skripsi.
Trifosa Dewi


