Fiction
Terdakwa [3]

27 May 2012


<<<  Cerita Sebelumnya


Siapakah pembunuh Leonard Pearson?

Saat pengacara tiba, perasaanku hancur berkeping-keping. Dengan baju penjara, di kursi besi, tanganku tergeletak lemas di pangkuan. Ada sesuatu yang membangkitkanku ketika kulihat Abel Hirsch masuk, tetapi kemudian ia memperkenalkan koleganya, Robert Winchell. “Ia ahli dalam urusan kriminal,” jelasnya.

Kedua pengacara duduk di hadapanku. Wajah Abel yang begitu kukenal terlihat cerah dan bersahabat. Sementara wajah Winchell yang tampan terlihat berkerut di dahi karena banyak berpikir. Ia mengajukan beberapa pertanyaan standar padaku dan aku menjawab dengan anggukan dan gumaman.

Kemudian ia menyatukan tangannya perlahan dan berkata, “Ceritakan apa yang terjadi, Nyonya Pearson.”

Aku mencoba mulai bercerita, namun tiba-tiba aku merasa hancur lebur, terasa nyeri di dada. “Ya Tuhan,” desahku. Aku bahkan tak bisa menangis.

“Vicki ...” Abel meletakkan tangannya di pundakku.

“Oh,oh,oh,” aku menahan sakit. Tak sanggup aku menghentikannya. Aku tak pernah berlagak tegar. Namun apa yang terjadi padaku hari itu .... Borgol ñ mereka menggiringku dari rumah dengan kedua tangan di borgol dibelakang. Dan para wartawan tak berperasaan itu menjepretkan kamera ke arahku.

Aku dimasukkan ke dalam mobil. MacGowan mengemudi sementara Zelman duduk di sampingku. Kami membisu hingga akhirnya Zelman dengan pandangannya yang seakan penuh pengertian itu berkata, “Apakah Anda ingin membicarakannya?” Seakan ia ingin membantu padahal ia ingin memenjarakanku.

Akhirnya sampailah di penjara. Petugas dengan kasar menekan jemariku ke bantalan tinta. Kemudian petugas wanita dengan suara keibuan berkata, “Buka baju, aku akan memeriksamu, Sayang.” Dengan manis ia menenangkanku, tak ada gunanya marah dan memberontak.

Dan terakhir, aku dimasukkan sel. Akupun merasa remuk redam. Aku berteriak saat pintu besi ditutup. Berlutut, memohon agar mereka mau menunggu sampai pengacaraku datang dan menjelaskan segalanya. Kukatakan, aku mau melakukan apapun asal aku boleh keluar.

Kini aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. “Minum ini,” Abel menyodorkan segelas air. “Mungkin bisa membuatmu lebih baik.”

Konyol. Tapi kuminum juga, dan memang aneh, aku merasa lebih baik. Sekali lagi kuteguk air itu sampai habis, kemudian bersandar di kursiku. Winchell memandangku. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku pun mengangguk siap. Dengan nada sama seperti sebelumnya, ia berkata, “Sekarang, ceritakan apa yang terjadi, Nyonya Pearson.”

Aku pun mulai bercerita.

Kuceritakan sebisaku. Tentang Durkheim yang masuk ke rumahku, dan segala yang terjadi setelah itu. Selesai mendengarkanku, ia menengadah dan menghela napas. Bahkan Abel pun menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Winchell, seakan semua harapan tertumpu pada apa yang akan meluncur dari bibir laki-laki itu. Perlahan ia berbicara, seakan aku tak mengerti bahasa yang digunakannya.

“Kata Durkheim kau membayarnya.”

“Gila …! Kenapa juga aku melakukannya!”

“Nyonya Pearson, Anda mewarisi aset bernilai jutaan dolar. Kalau suami Anda masih hidup dan menceraikan Anda, maka itu tak akan terjadi. Motifnya cukup kuat.”

Aku menggelengkan kepala. “Aku tak mengerti. Ada apa sih sebenarnya? Kenapa ia bilang begitu?”

“Katanya Anda bayar dia 21.000 dolar. Tunai.”

“Kau bicara seakan-akan aku memang melakukannya!”

“Maksud Anda, Anda tak membayarnya?”

“Demi Tuhan, 21.000 dolar? Abel mengurus uangku, ia yang membayar semua tagihanku.” Aku menoleh ke arah Abel, memohon bantuannya. “Aku tak punya uang 21.000 dolar sejak berpisah dengan suamiku, kan?”

Abel menunduk, tak berkata apa-apa.

Winchell berkata, “Anda yakin, Nyonya Pearson?”

“Well, aku …” aku berhenti berbicara. Aku ingat sesuatu. “Maksudmu bukan tabunganku, kan? Aku punya tabungan sejak sebelum menikah, tapi tak seberapa.”

“Seminggu lalu ada 21.742 dolar 50 sen dalam tabungan itu. Tepat angkanya,” ungkap pengacara itu dengan tenang.

Kupandangi laki-laki itu. Bibirku bergetar. “Dan sekarang?”

“Sekarang kosong.”

“Tidak.”

“Kosong.”

“Tapi aku … tak mengambilnya.”

“Ada tanda tangan Anda pada slip penarikannya.”

“Tak mungkin! Aku tak menandatanganinya.”

“Ada saksi. Pegawai bank. Katanya ia biasa melayani Anda dan mengenal Anda. Ia yakin Andalah yang menarik tabungan itu.”

Aku berusaha berbicara namun tak ada kata-kata yang keluar.

“Ada rekaman telepon juga. Tiga kali sambungan telepon ke nomor Durkheim dari rumah Anda. Mestinya Anda gunakan telepon umum.”

“Tapi aku tidak …,” aku berusaha keras menahan air mata yang mulai merebak. “Aku tidak…”

“Kata Durkheim Anda meneleponnya. Dan tak ada gunanya ia berbohong, Nyonya Pearson. Ia toh akan dihukum mati.”

Aku terduduk tegak. “Hukum mati…” gumamku.

“Ya, hukum mati,” kata Winchell dengan nada dingin. “Mungkin disuntik mati. Tetapi mereka menundanya, hukuman itu untuk Anda.”

Akhirnya, kita harus menyerah terhadap hukum. Seperti anak kecil yang tak kuasa mempertahankan diri. “Buka bajumu, kami akan memeriksamu, Sayang. Kami akan mengikatmu dan mematikanmu.” Seperti anak kecil, berharap bisa melarikan diri namun tak mampu. Dengan uang jaminan aku pun diizinkan pulang tetapi seakan penjara itu mengikutiku ke rumah.


Selama lebih dari 6 bulan aku pun terkatung-katung. Hari demi hari, meeting demi meeting. Lingkup kehidupanku semakin menyempit. Aku hanya menunggu kabar dari Winchell. “Kabar baik,” begitu katanya, walau aku tak mengerti urusan hukum, dan secercah harapan timbul. Atau mungkin juga ia akan mengatakan, “Maaf, Vicki,” dan aku pun tinggal menunggu hukuman mati.

Kami duduk dan mengulas kembali kesaksianku. Aku berusaha mati-matian untuk meyakinkan bahwa aku berkata jujur. Namun sikap skeptisnya tetap melekat.




Penulis: Andrew Klavan



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?