Fiction
Tambatan Hati [10]

26 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Aku berdiri di pagar kapal, melambai pada Tante Liyan yang tergesa menuruni tangga. Terdengar raungan klakson kapal tiga kali. Tak lama, perlahan kapal bergerak menjauhi pelabuhan. Sedikit demi sedikit aneka cahaya lampu mengecil dan menjadi titik–titik laksana taburan bintang warna–warni, hingga hilang dalam gelap malam dan pekat laut.

Sama seperti saat datang, kali ini aku pun menempati sebuah kabin kelas satu. Namun, di luar musim li-buran, penumpang kapal tidak banyak, hingga kembali aku menguasai dua dipan yang tersedia. Dalam sepi perjalanan aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan membaca majalah. Keluar kabin hanya untuk makan di restorasi dan melihat sunset di buritan. Terasa menyenangkan, tanpa seorang pun mengganggu. Gangguan yang kudapat hanya ketukan di pintu kala petugas memeriksa tiket selepas berlabuh atau menerima segelas teh di sore hari.

Malam ini aku gelisah. Tidak enak tidur. Televisi sudah lama mati. Namun, aku belum juga terbuai mimpi. Aneh, seperti ada sesuatu yang mengusik benakku. Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Ingatanku tiba–tiba memunculkan wajah cokelat bermata bulat. Mengapa aku teringat padanya? Wa Tia tentu sudah bersama tantenya di pulau seberang. Besok aku akan menelepon Tante Liyan dari wartel pelabuhan saat kapal singgah, tekadku sebelum akhirnya terlelap.

Kapal sudah sejak tadi bersandar di pelabuhan Makassar. Selepas makan siang, aku bergegas turun mencari wartel di area pelabuhan. Tak lama aku sudah duduk di salah satu bilik wartel, menunggu sahutan Tante Liyan di seberang sana.

“Halo?”

“Tante, ini Lea. Sekarang sudah sampai Makassar.”

“Syukurlah kamu menelepon. Ada yang ingin Tante sampaikan.”

Perasaanku berubah resah.

“Ada apa, Tante? Apa ada kabar buruk?”

Sejenak Tante Liyan terdiam. Lalu, berbicara dengan suara gemetar. “Tante baru tahu saat semalam sepulang dari pelabuhan. Wa Tia ditemukan telah meninggal kemarin sore. Mayatnya tenggelam di laut dekat Pulau Raha.”

Mendadak tubuhku terasa lemas tak berdaya. Ternyata ini yang meresahkan aku semalam.

“Mengapa bisa tenggelam, Tante?”

“Kemarin siang Wa Tia dikejar oleh suruhan La Darumba di kapal penyeberangan. Kemungkinan dia jatuh dan terbawa ombak kencang. Mayatnya ditemukan mengambang di waktu sore.”

Aku menghentikan percakapan. Tak kuasa menahan lelehan air mata. Tergesa aku keluar dari bilik. Tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang mengantre di balik pintu.

“Maaf,” kataku, seraya menghapus sisa air mata.

Pria itu sekilas memandang heran. Mungkin, dipikirnya aku baru putus dari kekasihku. Dalam kabin aku masih mengenang Wa Tia. Teringat pertemuan terakhir malam itu. Terakhir melihat mata bulatnya yang ceria. Berharap uang yang kuberikan dapat membuatnya bertahan dan membawa sekadar harapan.

Sore menjelang senja, seperti biasa aku jalan–jalan di buritan. Semoga keindahan sunset bisa memulihkan kesedihan. Tubuhku bersandar di pagar. Menikmati nuansa laut yang sudah kemerahan. Tiba–tiba seorang pria mendekat. Pria yang tadi berpapasan di wartel!

“Hai.” Pria itu tersenyum menyapa. Aku baru menyadari wajahnya lumayan tampan. Kulitnya bersih dan giginya tampak putih di balik senyuman.

Aku tersenyum, mencoba ramah. Sepertinya, pria ini cukup sopan. Tubuhnya yang tinggi tampak santai namun rapi, dengan kemeja flannel berpadu jeans biru. Rambutnya sedikit ikal, semrawut diterpa angin laut.

“Kamu sendirian?”

Aku mengangguk.

“Kenalkan, nama saya Ryan.”

“Lea.” Aku menerima uluran tangannya. Sejenak merasakan jemarinya yang halus di telapak.

“Maaf, sebetulnya saya tidak ingin mencampuri. Tapi, sepertinya kamu sedang bersedih.”

Aku menunduk, menahan desakan di dada. Ingin rasanya berbagi dengan seseorang. Rasanya, Ryan bisa menjadi teman curhat yang baik.

“Apakah kamu mau berbagi kesedihan itu denganku?” Suaranya lembut, memberi keteduhan.

Aku menceritakan tragedi yang menimpa Wa Tia. Ryan menatapku, mendengarkan. Saat mentari mulai menghilang di balik horizon, menyisakan laut jingga di belakang tubuh tegapnya, tiba–tiba aku teringat pada sesuatu. Sesuatu yang menyadarkan aku pada sosok pria di hadapanku. Tubuh Ryan yang berdiri membelakangi lautan. Ya, dia seorang pria yang dikelilingi banyak air, seperti perkataan dukun waktu itu! Jangan-jangan....

Ryan tak mengeluarkan banyak kata untuk menghiburku. Tapi, itu sudah cukup. Aku memang tak membutuhkan penghiburan apa pun. Ryan yang kemudian bercerita sedikit tentang hidupnya. Dia seorang dokter muda. Kedatangannya ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan adik perempuannya. Walau sudah hampir kepala empat, Ryan belum menikah. Bahkan sengaja menerima tugas kedokteran di Ambon untuk menghindar perjodohan orang tua.

“Lea, kalau boleh bertanya, mengapa sampai sekarang kamu masih sendiri? Apakah kamu belum mau menikah?”

“Mungkin memang belum dapat jodoh,” jawabku.

“Apa kamu percaya jodoh?”

Sejenak aku diam, menghindar dari kedalaman tatapannya yang terasa menghanyutkan.

“Aku percaya, jodoh ada di tangan Tuhan,” sahutku kemudian.

“Apa kamu percaya bahwa Tuhan akan memberikan jodohmu lewat suatu pertanda.”

“Maksudmu?”

“Ya, bisa saja, Tuhan memberi tahu jodoh kita lewat sebuah mimpi, misalnya. Dulu saya pernah bermimpi, bertemu dengan seorang wanita di seberang lautan. Mungkin saja, dia jodoh saya.”

Aku serius mendengarkan, Ryan menatapku sejenak sebelum melanjutkan perkataan. “Percaya tidak, wanita itu berambut panjang dan memakai kaus ketat, sama seperti kamu.”

Aku tersentak. Laksana diterkam ombak laut yang ganas. Hatiku bertanya-tanya, apakah pria ini memang jodohku? Benarkah dukun itu mendapat pertanda dari Tuhan atau hanya kebetulan semata? Entahlah, aku sungguh tidak mengerti. (Tamat)

Penulis: Athma



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?