Fiction
Satu Kata Maaf [2]

20 Jun 2012


<<<<  Cerita Sebelumnya

Wah, setelah mandi aku merasa lebih segar, walau masih kedinginan. Bajuku bertangan pendek, tanpa dibalut kain bedong, tanpa kaus kaki. Bawa aku berjemur di luar, Mama. Sinar matahari begitu menggoda untuk disapa pagi ini. Atau, kalau tidak, dekaplah aku sebentar di dada Mama, karena aku ingin kehangatan.

Aku mencoba menggapai tangan Mama, menampilkan senyum termanisku, berharap ia akan tertawa dan menggelitiki pipiku. Tapi, Mama malah membenahi ember dan baju kotor, lalu kembali menghilang dari balik pintu. Sia-sia aku menunggunya terus pagi ini, berharap ia mau bermain denganku sejenak. Sepanjang sisa hari itu Mama hanya menjengukku tiga kali. Datang melongok untuk mengganti popok dan menyodorkan botol susu yang isinya tak banyak.

Malam hari, aku tidur bersebelahan dengan Mama. Dia hanya mengayunku sebentar, tidak memberi pelukan selamat tidur atau ciuman. Aku menangis sedih karena ingin dininabobokan, tapi Mama malah membalikkan tubuh, memunggungiku. Aku mulai protes dan meronta, tapi yang kudapat adalah cubitan kecil di kaki. Sakitnya…. Lagi-lagi aku menjerit. Makin melengking suaraku, makin dalam Mama menekuk tubuhnya.

Akhirnya, aku menyerah. Karena lelah mengisi hari dengan terlalu banyak tangisan, akhirnya aku tertidur dengan mengulum jempol tanganku. Ini hari pertamaku datang ke rumah, bertemu sosok Mama yang sudah sembilan bulan mengisi bagian hidupku, tapi aku sudah merasa tertolak.

Januari 1972
Seluruh kejadian itu berulang terus hingga aku menginjak tiga tahun. Walau setiap malam aku tidur dengan Mama, aku hampir tak pernah mendapat pelukan dan ciuman sayang. Paling-paling hanya usapan di kepala. Kata-kata manis, nyanyian kecil, atau dongeng pengantar tidur juga tak aku dapatkan.

Biasanya, kalau Mama bicara, kalimatnya pendek-pendek dan nadanya datar, kadang-kadang agak membentak. Padahal, aku ingin tahu rasanya bermanja-manja, apalagi jika aku sedang sakit. Badan rasanya sungguh tak enak, tidur tak nyenyak, makan pun tak suka. Kalau saja Mama mau sedikit memanjakan aku dengan pelukan, aku sudah cukup terhibur.

Bukan cuma dalam hal sentuhan dan kata-kata saja Mama bersikap pelit, soal keperluanku yang lain juga begitu. Makan dijatah, minum susu dibatasi. Kalau masih lapar, minum saja air putih banyak-banyak, begitu kata Mama.

“Di rumah ini bukan cuma kamu yang butuh makan, Mei Cen. Masih ada enam kakak, dua kakak ipar, Tante Lin, Oma, dan Mama. Kita harus saling berbagi, jelas?” tegur Mama galak, ketika suatu kali aku merengek minta porsi daging gorengku ditambah.

Porsi makan kami di rumah adalah dua kali sehari, sekerat kecil daging dan separuh bagian telur satu kali seminggu, sementara sisanya adalah sayur-mayur saja. Mula-mula, tentu saja aku menolak aturan itu dengan tangisan merajuk dan mulai menga-muk. Tapi, setelah merasakan panasnya sabetan tangan Mama di pantatku, lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan bisa belajar menahan lapar lebih lama.

Mandi cukup satu kali saja sehari, malah kalau perlu cuci muka saja sepanjang minggu. Irit air, irit sabun. Kalau kutanya mengapa, jawab Mama singkat saja, ”Karena kita bukan orang kaya, Mei Cen. Mengertilah sedikit.” Tentu saja aku belum bisa mengerti apa arti perkataan itu, seperti juga ketidakmengertianku tentang kondisi tangan dan kakiku.

Kedua kakiku selalu ditutup kain menyerupai sepatu dan tidak boleh dilepas kecuali mandi atau tidur. Tanganku juga. Padahal, aku sudah bilang pada Mama bahwa aku kepanasan. Mama berkeras mengatakan bahwa tangan dan kakiku sedang tumbuh membesar. Jadi, harus dibungkus dengan telaten supaya pertumbuhan tulangnya bagus. Seperti buah mangga saja, katanya. Rapat-rapat dibungkus supaya cepat masak.

Kalau kain yang melilit tangan dan kaki itu sering dibuka, nanti pertumbuhannya terganggu, begitu Mama berpesan. Masih belum cukup dengan penjelasannya, Mama merasa perlu untuk mengancam akan memukuli dan mengunciku di kamar gelap berhari-hari, jika aku berani membuka ikatan di tangan dan kakiku, tanpa seizinnya. Jadi, dengan sangat terpaksa aku mengangguk mengiyakan.

Pekerjaanku setiap hari hanya duduk bermain di pojok kamar, ditemani dua boneka bekas yang sudah kumal. Mama tidak mengizinkanku keluar rumah. Tak pernah aku merasakan nikmatnya jalan-jalan pagi, melihat kerumunan burung, berkejaran di tanah lapang, atau naik sepeda di sore hari. Hari-hariku diisi dengan sepi, tak punya teman bicara. Seisi rumah terlalu si-buk untuk diajak bermain. Mama dan adiknya, Tante Lin, harus banting tulang mencari uang karena Papa sudah tak ada.

Mohan Liaw, ayahku yang berdarah Dayak-Tionghoa itu, semasa hidupnya bekerja sebagai penggali sumur. Ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika aku masih berada dalam kandungan. Dua kakak laki-laki tertua sudah menikah, tapi masih tinggal serumah. Empat kakak lain punya urusan sendiri karena mereka sudah beranjak remaja dan lebih senang bermain dengan teman pria daripada bermain masak-masakan dengan aku.

Setiap hari pukul dua pagi, Mama dan dua kakak laki-lakiku sudah beranjak pergi ke peternakan di luar kota untuk membeli puluhan ayam. Pulang ke rumah, mereka dibantu empat kakak perempuan mencabuti bulu-bulu ayam dan memotongnya. Pukul lima pagi, Mama dan dua kakak ipar membawanya ke pasar untuk dijual. Pulang ke rumah saat menjelang sore, Mama sudah kelihatan sangat lelah dan aku tidak boleh mengganggunya dengan rengekan untuk menemaniku bermain. Aku juga tidak boleh mengganggu Tante Lin yang sudah lelah karena setiap hari harus membuat kue-kue untuk dijual.

Bermain dengan Oma? Yang benar saja, umur Oma sudah 84 tahun. Kakinya lumpuh, bicaranya sudah tak jelas, telinganya pun tak berfungsi baik. Kerjanya sama denganku. Setiap hari hanya duduk-duduk melamun saja di kursi. Walau begitu, Oma baik karena setiap hari dia pasti memberiku uang, sekadar lima puluh atau seratus rupiah. Aku rajin menyimpannya dalam kotak kecil yang kuamankan di kolong ranjang.

Dibandingkan Mama yang banyak bepergian, Tante Lin lebih memungkinkan untuk menemaniku berlama-lama di rumah. Mengajariku bicara, membacakan buku cerita, menyuapi makan, bahkan membopongku ke kamar mandi karena aku belum bisa berjalan. Hal yang mengherankan. Karena, aku sering melongok dari jendela dan melihat beberapa anak tetangga seumurku sudah pandai berjalan, bahkan berlari mengejar layang-layang. Sedangkan aku… berjalan saja tidak bisa. Kalau aku mencoba berdiri, pasti jatuh. Sakit dan ngilu sekali rasanya.

“Mestinya aku sudah bisa berjalan kan, Ma?” tanyaku suatu sore. Tampaknya, Mama tidak mendengar sehingga aku harus mengulang pertanyaanku beberapa kali. Kali keempat barulah Mama mengangkat wajah dari tumpukan baju kotor yang tengah dicucinya. Ia terdiam sebentar, lalu menjawab lirih, ”Kakimu belum kuat untuk diajak berjalan.”

“Karena kakiku bengkok?”

”Bukan! Umurmu masih kecil, jadi belum bisa jalan sendiri.”

“A Ming dan Budi seumur denganku, tapi mereka sudah pandai berjalan.”

“Mereka lain! Mereka anak laki-laki, kaki mereka lebih kuat.”

“Oh….” Aku mencoba mencerna penjelasan Mama. Mungkin, betul juga penjelasan Mama. Aku percaya padanya, Mama tak mungkin bohong.

“Lalu, kapan kakiku kuat, Ma?”

“Nanti, kalau kamu sudah besar.”

“Kapan aku besar, Ma?”
“Nanti, kalau sudah berumur lima tahun.”

“Oh….” Aku menghitung-hitung dalam hati. Itu berarti aku harus menunggu dua tahun lagi. Hmm… tidak terlalu lama.
“Lalu, tanganku? Kenapa tanganku juga harus selalu ditutup, Ma?”

Kali ini Mama menghela napas, sambil menghapus keringat di dahi dengan punggung tangannya. ”Supaya tanganmu tidak kedinginan, Mei Cen. Kalau kedinginan, tanganmu sering kram.”

“Kram itu apa?”

“Kejang, susah bergerak.”

“Tapi, nanti tanganku bisa sembuh?”

“Ya, kalau kamu sudah besar.”

“Kalau aku sudah berumur lima tahun?”

“Ya.”

“Tidak perlu pakai kain lagi?”

“Ya.”

“Sungguh? Mama tidak bohong, ‘kan? Mama janji?” kejarku dengan nada menuntut. Dalam hati, aku gembira bukan alang kepalang. Asyik, sebentar lagi aku bisa berjalan!

Aku begitu sangat merindukan datangnya hari ulang tahunku yang kelima. Berharap bisa berjalan dan berlari sekuat macan, dan tanganku tak lagi disarungi kain seperti bantal. Sambil menunggu saat yang Mama janjikan itu, aku tetap berusaha belajar berjalan. Minta ampun susahnya! Mencoba berdiri dengan berpegangan pada semua benda yang ada, lalu menyeret kaki untuk melangkah satu dua. Sakitnya jangan ditanya, tapi aku tetap memaksakan diri. Lutut dan siku sudah lebam biru keunguan terkena benturan setiap kali aku terjatuh. Tidak cuma itu. Aku juga sulit menggerakkan jemari tangan untuk mengambil sesuatu, apalagi barang yang kecil. Memegang sendok atau menjumput kancing, misalnya. Jari-jari tangan rasanya kaku dan aneh.

Dan, lagi-lagi Tante Lin datang sebagai penyelamat. Ia berbaik hati meluangkan waktu istirahatnya untuk melatihku menggerakkan kaki dan tangan, sementara Mama dan kakak-kakakku tidak bisa terlalu diharapkan. Karena terlalu memaksa diri berlatih, aku jadi sering menangis karena kesakitan dan kelelahan. Tapi, setiap kali itu juga ucapan Mama bahwa pada umurku yang kelima aku akan bisa berjalan, datang menyemangatiku.

Setiap hari aku rutin mencoreti kalender dengan spidol merah, menghitung hari demi hari, takut kalau ulang tahunku yang kelima bakal terlewat. Nanti aku akan memakai baju terbagus dan mengundang semua teman tetanggaku untuk merayakannya, sambil bermain kejar-kejaran di halaman rumah. Pasti menyenangkan sekali. Cepatlah datang, cepatlah datang! Aku sudah tidak sabar menanti.



Penulis: Ruddy Raharjo
(Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2004
)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?