Santi, seorang penari, atas kehendak suaminya, memilih mundur dari dunia tari. Namun, ia lalu terjebak dalam perkawinan yang tidak sehat karena suaminya yang otoriter dan menghabiskan banyak waktunya mengurus burung-burung. Hati Santi yang sedang hamil muda mulai bimbang ketika rekan sesama penarinya dulu mengajaknya kembali ke panggung.
cerita sebelumnya<<<<<<
Aroma rumah itu belum berubah. Ibu Santi memanjakannya seperti biasa. Apalagi ketika Santi cerita bahwa ia hamil lagi. Namun wajahnya justru tak terlihat bahagia saat mendengar nasihat dari ibunya. Nasihat yang harus dipegang erat oleh perempuan hamil.
Ibu Santi terlihat segar bugar. Beliau tidak sakit. Hanya kesepian, keluhan biasa tiap kali Santi datang berkunjung. Apalagi selalu hanya dalam hitungan bulan Santi datang menjenguk.
“Kemarin saja waktu masuk angin, Emak harus nrutus minta tolong ke rumahnya Wiwik. Masak Emak harus merepotkan tetangga terus? Tapi Emak juga segan kalau mesti bilang mau ikut anak mantu. Rasanya pasti seperti kemlandeyan.”
Santi pikir ia akan benar-benar terbebas dari mendengar nama Hendra dan suasana rumahnya. Tapi ibunya justru mengingatkannya kembali pada dua hal yang membuat dadanya sesak. Dari pembicaraan beliau, sepertinya tersirat bahwa suatu hari nanti mungkin beliau akan ikut dengan Santi. Santi jadi menyesal mengapa ia berbohong perihal kehidupannya dengan Hendra yang baik-baik saja. Tapi, bagaimana pula ia bisa jujur? Ia tak mau menjadi penambah beban perempuan yang sudah ingin menikmati masa tenangnya ini.
Kalut itu terlupakan sejenak saat kedua kaki Santi menjejak lagi area TBS. Beberapa anak sekolah terlihat kongko-kongko di pendopo utama. Mengingatkan Santi dengan masa lalunya. Di tempat inilah semuanya bermula. Dari keinginannya menjadi seorang penari ternama, yang kemudian mengantarkan pertemuannya dengan Hendra di sebuah pertunjukan yang diprakarsai UGM.
Kedua mata Santi mencari-cari sosok Palupi. Entah kenapa ponselnya tiba-tiba tak bisa dihubungi lagi. Betapa ia ingin segera melupakan kemelut yang kini lekat menguntitnya.
“Takkan kubiarkan orang lain turut menikmati kecantikanmu,” suara Hendra mendadak muncul di liang telinganya.
“Kenapa? Aku kan cuma menari. Aku tidak menjual diri,” sahut Santi, yang masih memakai busana latihan. “Mereka kan hanya bisa melihat. Melihat belum berarti memiliki. Seperti kamu saat ini,” senyum Santi kemudian.
“Bagiku, kecantikanmu itu bukanlah milik umum. Kecantikanmu itu hanyalah milik orang yang memilikimu. Dan dia adalah aku,” mengambil gambar Santi dengan kamera telepon genggamnya.
Santi tertawa, “Hahaha, bagaimana bisa? Kau ini lucu sekali. Apa kau akan menyimpanku di dalam kamar?” melirik ekspresi Hendra yang terpaku dengan gambar-gambar yang ia dapat.
Lamunan itu terhenti ketika sebuah tepukan mendarat di bahu Santi.
“Sudah lama ya?” sebuah senyum merekah dari wajah yang tak asing. Hampir tak ada yang berubah dari raut wajah Palupi. Sama persis dengan foto profil yang terpasang di facebook. Lima tahun perpisahan ternyata tak mampu merubah wajah itu. Tetap awet muda. “Mana Hendramu? Ayo ke belakang. Anak-anakku sudah menunggu.”
Di belakang bangunan pendopo utama ternyata telah berkumpul beberapa orang. Atas komando Palupi, mereka mengangkuti beberapa peralatan seperti kendang, gender, penerus gender, kenong, gong, bonang, dan kempul.
“Bagaimana dengan keadaan Om Probo?”
Palupi mengajak Santi menepi ke sebuah kursi panjang yang berada tak jauh di sisi kanan belakang pendopo utama, sehingga ia masih bisa mengawasi mereka yang tengah bekerja menata semua peralatan di pendopo utama.
“Cuma kau yang kemarin sukar dihubungi. Untung ada facebook,” senyum Palupi. Gadis inipun kemudian bercerita perihal keadaan Om Probo yang kini sudah tak berdaya lantaran paraperese yang dideritanya.
“Apa itu paraperese?”
“Tubuh mati separuh. Semacam stroke. Untung hanya bagian kedua kaki saja yang tak berfungsi, sehingga dengan semangatnya yang begitu tinggi itu kadangkala beliau masih bisa mengajari kami semua.”
Palupi cerita bahwa kemarin ia dan anak-anak asuhnya sempat mencari dana sumbangan untuk menutupi kekurangan biaya rawat Om Probo di rumah sakit. Itu sebelum mereka tahu tentang adanya BPJS.
“Sekarang masalahnya hanya soal biaya-biaya pengobatan alternatif yang kami usulkan sendiri. Kami juga ingin membantu biaya hidup istri dan anak-anak beliau. Beratnya balas budi, San,” tutur Palupi.
Pandang mata Santi terikat pada mereka yang terlihat menata persiapan latihan di pendopo. Tiba-tiba ia melihat dirinya sendiri di sana. Santi sepuluh tahun silam. Lulus SMA justru membuatnya bingung lantaran harus memikirkan akan menuju ke arah mana ia kelak. Sementara ibunya—yang hanya mengandalkan warung makan sebagai penopang hidup—sudah menyalakan lampu kuning tanda hampir menyerah dalam perkara pendidikan.
Seumur hidup menunggui warung makan yang biasa-biasa saja bukanlah hal yang menyenangkan bagi Santi. Lagipula ia tak mahir dalam membuat berbagai menu masakan. Ingatannya payah jika untuk menampung segala macam jenis bumbu yang bisa dirangkai untuk membuat menu ini dan menu itu. Ia juga tak tertarik untuk mengikuti langkah beberapa temannya demi menjadi pegawai di perusahaan anu apalagi sales dari produk anu. Kepala Santi selalu kosong jika diajak berpikir ke sana. Lalu pada suatu ketika ia melihat poster itu di Terminal Tirtonadi. Tampak cantik dalam balutan busana bidadari. Rasa penasaran kemudian mengikat hatinya. Ia ingin menjadi seperti perempuan dalam poster. Hanya itu.
Kemudian ia tahu bahwa di tempat ini banyak ia temui orang-orang yang ia kagumi. Meski ibunya kemudian angkat suara.
“Sebenarnya Emak kurang suka kalau kau menjadi santapan banyak mata lelaki.”
“Takkan ada yang berani macam-macam kalau Santi tetap jaga kehormatan, Mak,” susul Santi.
“Apa kau tak tahu sejarahnya taledhek itu bagaimana? Taledhek itu sendiri sudah nggak terhormat.”
“Mak!” bentak Santi tanpa sadar. Kedua matanya berkaca-kaca. Bibirnya gemetar. Dadanya naik turun menahan luapan amarah. Ia langsung membalikkan tubuh setelah melihat keterkejutan ibunya.
“Santi…,” tangan Palupi menghadang lamunan Santi di depan mata. “Kamu sakit ya? Wajahmu pucat sekali,” dahinya berkerut, menyelidik.
“Ah, nggak…,” gugup, memperlihatkan kegagalannya berbohong.
“Heeh, kedua matamu nggak bisa bohong.”
Santi buru-buru menyusut kedua matanya yang sudah tergenang airmata. Tanpa sadar ia terisak kemudian.
“Dengan suamikah? Kalian lagi ada masalah?” tebak Palupi dengan nada hati-hati.
Santi menggeleng. Berbohong. Meski di salah satu bilik hatinya ada yang berkoar bahwa itu benar. “Mungkin efek hamil muda,” mengusap ingus yang tak mau henti meleleh. “Pikiranku jadi sering kacau.”
“Sudah berapa bulan?” menggenggam jemari Santi.
“Baru lima mingguan. Rasanya benar-benar enggak karuan, Pi. Di hari-hari pertama kemarin, cuma batuk pilek saja susah sekali perginya. Aku sering mual kalau mencium bau nasi. Susah tidur…,” mulut Santi terus saja berderai meski hatinya sebenarnya sedang merisaukan hal lain lagi. Sudah sejak kemarin Hendra tak berkirim kabar atau sekadar menanyakan keadaannya. Burung-burung dalam sangkar itu selalu lebih menyita perhatiannya. Sesuatu yang sungguh aneh, mengingat sebelum tali pernikahan menyatukan mereka, betapa seringnya Hendra menghujani dengan SMS-SMS yang penuh perhatian.
“Tampaknya kamu harus cuti lebih lama lagi ya?” sahut Palupi begitu Santi mengakhiri cerita penderitaannya.
“Enggak, Pi. Aku ke sini memang niat untuk ikut menari lagi kok,” sahut Santi buru-buru.
“Apa kondisimu mengizinkan?” menatap serius.
“Justru itu. Aku ingin melawan semuanya dengan menari. Pasti bisa. Seperti saranmu kan? Izinkan aku ya. Aku juga ingin ikut membantu Om Probo,” jawab Santi. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya lagi. Tapi entah mengapa mulutnya tak mau mengungkapkannya. Sebuah penderitaan lain, yang justru lebih lama telah ia derita.
Mulai lagi. Kicau seekor burung yang tinggal di dalam kepalanya mulai riuh lagi. Santi menengok ke sana-ke mari. Tapi memang tak ada burung di sekitar tempat ini. Riuh kicau burung itu benar-benar seperti berasal dari dalam kepalanya sendiri. Ada seekor burung yang sedang terperangkap dan ingin meloloskan diri. Santi mengira ada sangkar yang harus ia buka pintunya lagi. Tapi bagaimana caranya jika burung itu justru terperangkap di dalam kepalanya?
Berhari-hari Santi pernah mencoba mencari cara untuk menghilangkan keanehan ini. Menghilangkan suara seekor burung yang tiba-tiba terperangkap dalam kepalanya itu. Apapun cara. Dari menyumpal kedua lubang telinganya dengan earphone telepon genggam yang memperdengarkan lagu-lagu, tidur seharian, pergi memanjakan diri ke tempat-tempat wisata, sampai akhirnya ia pun menemukan sebuah cara.
Mulanya adalah ketaksengajaan. Seekor burung lovebird milik Hendra sekarat. Santi menyaksikan semuanya. Ketika teman-teman Hendra riuh ingin ikut menentukan nasib burung malang tersebut. Ada yang usul diberikan ke kucing saja, ada yang usul dibakar saja lantaran penasaran dengan rasa daging burung lovebird, ada yang usul diberi betina ke dalam sangkarnya saja siapa tahu lantas bisa langsung sembuh. Dan akhirnya sebuah keputusan itupun diambil Hendra.
Santi masih ingat betul sensasinya. Ketika diam-diam ia mengintip adegan itu. Hendra mengambil lovebird malang itu, dan lalu meletakkannya di ranting pohon sirsak depan rumah. Lovebird itu tiba-tiba terbanglah dengan gesitnya. Seolah ia tak pernah sakit sebelumnya. Hendra pun mengumpat sejadi-jadinya. Ia langsung gegas mengambil senapan angin dalam kamar.
Meski burung yang pernah menyumbangkan tiga piala untuknya itu sudah tak terlihat kelebat sayapnya lagi, tapi Hendra tetap menembak berkali-kali. Hingga pelurunya habis. Santi rasa, kesal dalam dada Hendra tak juga surut lantaran ia jadi gampang uring-uringan sesudah itu. Tapi, ada sensasi aneh yang takkan Santi lupa atas kejadian itu. Kepalanya mendadak terasa lega. Entah bagaimana tiba-tiba kepalanya terasa lapang sekali. Begitu damai dan tenteram. Seolah riuh kicau burung yang memenuhi kepalanya kemarin adalah suara penderitaan lovebird yang merindukan kebebasan itu.
Begitulah. Setiap kali Santi merasai gejala itu, saat tersadar entah mengapa ia selalu mendapati Hendra yang marah-marah lantaran kehilangan burung kesayangan.
* * *
Santi kembali merasakan sesuatu yang berada di dalam perutnya meronta saat melihat Hana—yang tadi sempat dilihatnya begitu lahap menyantap soto iga sapi saat jam istirahat latihan menari. Begitu menyadari gelagat ini, Hana pun langsung mogok menghentikan semua gerakannya, hingga semuanya turut menghentikan gerakannya, termasuk para pengiring tetabuhan.
“Apa tak sebaiknya dibagi menjadi dua tim saja, Mbak? Vita dengan aku, sementara Mbak Santi dengan Mbak Palupi Kelihatannya Mbak Santi masih ‘trauma’ denganku,” ujar Hana tanpa canggung.
“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku memang masih terbayang-bayang saat Hana menyantap soto tadi. Entah mengapa aku selalu saja ingin muntah jika melihat makanan berbahan daging. Sepertinya ini bawaan bayi,” Santi segera menyusuli ujaran Hana.
Palupi—yang sekarang menjadi pemimpin kelompok itu—menghampiri Santi, “Apa kau yakin masih ingin ikut menari?” dengan nada suara rendah.
“Tentu saja, Pi. Apa kau takut aku akan mengacaukan semuanya? Bukankah mual adalah gejala umum yang dialami seseorang yang tengah hamil muda? Aku hanya lupa membawa pil antimualku,” jawab Santi dengan nada suara yang bisa didengar oleh beberapa orang yang berada di dekatnya.
“Tapi kondisi perutmu baik-baik saja kan?” tanya ulang Palupi.
“Tak apa-apa. Hanya sedikit mual saja,” Santi meyakinkan. “Biar nanti aku telepon Hendra untuk tanya apa nama pil mualku. Aku bisa cari di apotek nanti,” Santi berbohong.
Latihan itupun berlanjut setelah Santi meminta pengertian kepada para kru lainnya. Betapa ia sangat ingin membantu Om Probo dengan ikut menari—mungkin untuk yang terakhir ini. Hingga latihan di hari berikutnya dan hari berikutnya. Santi merasa nyaman dengan semua itu, meski perutnya tak mau bersahabat. Hanya perutnya. Ia merasa, dengan menari, semua beban yang menyesaki kepalanya dengan ajaib bisa menguap. Ia merasa tak ada masalah lagi. Tak ada. Hingga malam pertunjukan itu tibalah.
Malam itu, ia melihat Taman Budaya Jawa Tengah tampak ramai sekali. Beberapa penari perwakilan negara ASEAN tampak menarik dalam balutan kostum masing-masing. Santi sendiri merasa meletup-letup dalam balutan kain kemben. Setelah lima tahun berlalu, akhirnya kini ia bisa merasai lagi sensasinya memakai cindhe kembang berwarna ungu, lengkap dengan pendhing bermata dan segala manik-maniknya. Meski hawa dingin sedikit mengganggu lantaran bagian atas dadanya yang terbuka. Ia harus menahan rasa mual yang sesekali waktu masih datang mengganggu. Harus. Demi kawan-kawannya, demi Om Probo, dan tentu saja demi dirinya sendiri di masa yang akan datang.
“Kamu ini murid yang paling durhaka,” ujar Om Probo saat Santi akhirnya kembali bersua. Tubuh lelaki itu sudah sangat memprihatinkan. Meski selera makannya masih bagus, tapi sepertinya hal itu tiada dapat membantu memperbaiki kondisi tubuhnya yang sudah seperti mayat hidup. Hanya bisa tergolek pasrah macam bayi berambut uban. “Laras yang sudah mati saja masih mau gentayangan ke sini.”
“Gentayangan?”
“Dia sudah mati. Kau tak akan lagi bisa melihatnya menari. Rasanya pasti lebih buruk ketimbang penyakit yang kuderita.”
Santi menahan keinginannya untuk bisa bertemu kembali dengan Laras, si cantik yang dulu menjadi primadona para penonton. Tari Gambyong akan lebih menggigit jika penarinya seorang rupawan yang memiliki daya pikat kuat dengan lenggang-lenggoknya. Kalaupun sekarang ia sudah mati dan tak bisa kembali lagi menari, seperti apa rupa suami Laras itu? Kehidupan seperti apa yang bisa membunuh semangatnya yang dulu amat menggebu itu?
“Aku ingin bisa ke Perancis, sekalian melihat-lihat pameran busana yang sedang tren, mencari barang-barang murah dengan kualitas dunia di Paris Look dan Rue Temple. Melihat-lihat barang bekas di pasar dadakan Markt Daggen seperti sekarang. Suatu saat nanti aku juga ingin mampir ke Amerika. Kira-kira, bagaimana rasanya menari di broadway?” celoteh Laras saat mengitari kompleks Tropen Museum di Belanda dalam sebuah pertunjukan tahunan. Saat itu mereka tengah menjadi duta negara. Itu adalah masa-masanya ketika Laras masih terobsesi dengan dunia tari.
Apakah kelakuan suaminya melebihi kelakuan Hendra? Santi tiba-tiba teringat bahwa sudah hampir sebulan ia di kota kelahirannya ini, dan Hendra hanya pernah sekali mengirim pesan pendek yang menanyakan kapan Santi pulang? Hanya sekali itu. Santi tahu bahwa burung-burung dalam sangkar itu sangat ampuh untuk melupakan rindu dan hasrat cinta. Santi selalu disergap rasa sesak jika memikirkannya. Sesak yang mengaduk-aduk isi perut. Yang kemudian menariknya kembali ke alam nyata, di mana ia masih menjadi pusat perhatian. Ia masih menari.
Sialnya sesak itu semakin bertambah dan bertambah. Hidungnya mencium bau yang aneh. Seperti bau keringat, seperti bau busuk yang entah apa. Memaksa Santi untuk muntah. Keringatnya berleleran. Anehnya terasa di paha juga. Yang lalu bersambung dengan rasa kram di perut. Tubuhnya gemetar hebat lantaran menahan mual yang semakin menjadi. Hal terakhir yang Santi ingat adalah ia benar-benar muntah di tengah keramaian itu. Lalu gelap.
* * *
Santi dibangunkan oleh bebauan khas itu. Rasa mual kembali mengusik—seketika itu pula bayangan-bayangan berkelebat dalam kepalanya. Tapi anehnya Santi tak jadi muntah. Mual itu tiba-tiba berubah nyeri. Dan anehnya pemandangan pertama yang ia dapati adalah wajah ibunya. Dengan raut yang sulit dimengerti.
“Ini di mana, Mak?” Santi mengedarkan pandang. Entah kenapa sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal, dan terutama nyeri di perut.
“Kamu harus banyak istirahat. Semalam Hendra memaksa mengambilmu,” ujar perempuan paruh baya itu, seraya membetulkan letak selimut.
“Rumah sakit?” desis Santi yang mencoba duduk.
Belum sempat Santi mendapatkan pembenaran dari mulut ibunya, sosok Hendra muncul dari balik pintu. Dengan raut mengeras.
“Aku sudah memperingatkan Palupi. Dan kamu, jika kamu memang masih ingin serius mempertahankan rumah tangga kita, mulai hari ini, tinggakan dunia tari,” sebuah kalimat yang langsung menghantam dada Santi. Tak lama Hendra kembali keluar. Entah ke mana. Meninggalkan seseorang yang memar luar dalam.
Ingatan Santi perlahan mengumpul setelah ibunya kemudian menjelaskan semua. Santi keguguran. Semalam Hendra marah-marah—terutama kepada Palupi. Ia langsung mencabut perawatan Santi di RSUD Dr. Moewardi Solo, dan membawanya ke rumah sakit Mardirahayu di Kudus. Santi sudah dikuret.
Air mata Santi hampir meleleh. Tapi ia tahan sebisa mungkin, mengingat semua bermuara dari keinginannya sendiri. Lagipula apa yang didapatnya sebulanan kemarin ia rasa sudah lebih dari cukup untuk memenuhi rasa hausnya melihat bentangan masa lalu dan bayangan masa depan.
Hari-hari setelah titik hitam itu, Hendra semakin terlihat keras. Tak seperti yang Santi duga. Dulu, hanya terlihat samar. Hendra selalu menolak diajak menginap di Solo. Padahal ia tahu, ibu Santi hanya tinggal seorang diri mengurus warung.
“Bukannya Emak sudah terbiasa kau tinggal sendiri? Lagipula pekerjaanku di Jepara, jarang bisa ditinggal. Kalau kau mau tinggal di Solo, pergilah saja sana. Tapi aku mungkin hanya bisa datang saat kirim barang saja,” alasan Hendra saat itu. Ia seperti mendapatkan angin saat ibu Santi bilang tak keberatan dengan hal itu. Meskipun pada kenyataannya beliau sering terlihat mengeluh kesepian. Untung saja banyak tetangga yang sudah seperti saudara.
“Ikutilah suamimu. Jangan seperti emakmu ini,” ujar perempuan itu.
Kening Santi berkerut. “Memangnya Emak pernah berbuat apa?” Santi tak mengerti.
Dan kemudian terbukalah semua. Perempuan itu bercerita tentang kenapa ia betah hidup sendirian saja. Ibunya dulu pernah menikah dengan seorang lelaki yang baik. Baik sekali. Perempuan itu mengulang kalimat terakhir sebagai tanda bahwa ia benar-benar menyesal atas keputusan yang telah terjadi. Lelaki itu mengurus ibunya yang lumpuh, lebih dari saudara-saudaranya yang lain—lantaran mereka memang masih tinggal seatap. Beban itu masih ditambah dengan adik bungsunya yang mengalami gangguan jiwa setelah diputus sang pacar.
“Aku menolak tinggal seatap. Aku bersikeras tinggal di rumah kakekmu. Apalagi saat itu aku sedang mengandung dirimu. Kami tak bisa menemukan titik temu. Baktinya kepada ibunya melebihi cintanya kepadaku. Aku marah lantaran merasa ia menikahiku hanya untuk dijadikan babu di sana. Dan terus terang, Emak cemburu dengan perhatiannya terhadap ibu kandungnya yang tak seperti kepadaku. Kami pun pisah. Kau lahir tanpa keberadaannya,” tutur perempuan itu dengan mata berkaca-kaca, dan lalu mengelap beberapa bulir air mata yang meleleh dengan ujung kebaya tuanya.
“Kenapa Emak tak menikah lagi saja?” Santi pikir penyesalan itu lantaran ibunya yang kemudian terpuruk, kehidupannya tak semulus kehidupan bapaknya.
“Pernah. Sekali. Tapi laki-laki itu lebih brengsek dari bapakmu.”
Dengan hati-hati, pada hari selanjutnya, Santi pernah meminta izin untuk dipertemukan dengan bapak kandungnya. Setelah dua puluh tahun. Kehidupannya sudah mapan sekarang. Beliau punya toko kelontong yang menjadi rujukan semua toko di daerah itu. Sementara nenek Santi—orang yang pernah menjadi biang masalah ayah ibunya—sudah lama tiada. Dan sepertinya sudah tidak ada jejak rindu dalam dada lelaki itu. Ia hanya bertanya, bagaimana kabar ibumu? Kerja apa? Apa Santi punya saudara lagi? Hanya itu. Membuat Santi jadi merasa asing di rumah itu.
Yang menyenangkan dari lelaki itu adalah ia begitu mendukung keinginan Santi menjadi penari. Ia bahkan menawari Santi untuk mematangkan studi tarinya di ISI Jogja. Namun Santi tak mengambil kesempatan itu. Ia sudah merasa cukup dengan hanya bertemu lelaki itu saja. Rindunya selama berbilang tahun telah terobati. Ia janji akan sering datang ke rumah itu, meski akhirnya terhitung cuma tiga kali Santi menjejakkan kaki ke rumah bapaknya. Lebaran menjadi alasan ampuh bagi Santi untuk melabuhkan rindu. Selebihnya ia lebih banyak terkurung dengan rasa tak enak dengan enam saudara tirinya. Cerita selanjutnya >>>>
***
Adi Zam Zam


