<< cerita sebelumnyaHari keenam
Andari mengunyah rotinya lambat-lambat. Ponselnya berdering berulang-ulang, tak dipedulikannya. Matahari masih sepenggalah, namun dia sudah merasa lelah. Matanya sembap bekas menangis semalaman, dan rambutnya masih berantakan.
Hari ini, untuk yang pertama kali, Andari tak memedulikan tentang apa yang tertulis di agenda merah hati. Dia ingin hari ini berdenyut lambat, seperti sari seledri di jusnya yang perlahan mengendap. Namun, teringat waktu yang tak bisa berpaling, dia mendecak kesal. “Tak bisa begini, termangu di meja makan memikirkan mimpi,” gumamnya.
Dia beranjak, teringat air hangat di bath up yang menggenang sedari tadi. Tak pernah dia sebodoh ini, menyia-nyiakan waktu dengan mandi berendam di pagi hari. Semuanya gara-gara mimpi malam tadi.
Selama ini dia meyakini bahwa mimpi itu obsesi. Namun, yang dilihatnya semalam tak pernah dia ingini. Betapa putih wajah Bekti semalam. Tanpa semburat uban keperakan, Bekti menjelma pemuda yang dulu malu-malu menyatakan cinta. Maafkan aku, ya, Ri, kata-kata Bekti terngiang sepanjang malam tadi. Andari tak mengerti mengapa dia bisa luluh hati. Ucapan maaf itu sudah seperti gema yang dipantulkan dinding kamarnya berkali-kali.
Maafkan aku, ya, Ri. Bekti mencium tangannya tahun lalu, setelah dipergokinya SMS mesra Lidya itu.
Maafkan aku, ya, Ri. SMS Bekti, saat dia tahu Myrna sudah menggugurkan kandungannya.
Maafkan aku, ya, Ri, menguap seperti embun pagi, menghilang sesaat untuk kemudian hadir kembali. Nyaring tapi kosong, seperti klakson, merecoki rutinitas sehari-hari.
Tapi, ucapan maaf malam tadi, mengapa masih bersisa hingga pagi ini?
Andari mengosongkan bath up, mengunci kamar mandi, lalu melepas gaun tidurnya bergegas, seperti terenyak dari lamunan panjang. Dia harus berlari mengejar hari ini, sebelum teringat mimpi malam tadi. Tapi, mengapa pagi ini dirinya terasa ringan seperti melayang? Seperti sesuatu telah hilang. Sesuatu tak bernama yang selama ini ingin diingkari, tapi melekat di sini.
Mas Bekti, kenapa kamu siksa aku seperti ini?
Andari merasakan hangat mengguyur tubuhnya. Dia ingin gelisah tergelontor juga lewat lubang gelap di bawah sana. Udara lembap oleh uap hangat. Dinding ubin berkeringat. Dia berdiri di bath up. Ruang oval tertutup tirai biru tua terasa pengap. Andari mendadak merasa penat. Semua permainan ini, naik roller coaster berkali-kali, buat apa?
Tiba-tiba Andari ingin menangis. Tumpah air matanya, mengalir bersama guyuran air hangat.
Andari susah payah menahan air matanya selama ini. Tangis pertamanya bersama Bekti adalah ketika mereka sepakat untuk mengikat kasih. Tangis kedua tumpah saat pertama kali dipergokinya perselingkuhan Bekti. Tangis ketiga dipersembahkannya untuk jenazah papanya, yang saat-saat terakhir kematiannya tak ia temani.
“Jadi anak perempuan itu harus kuat,” kata Papa setiap kali. “Jangan jadi wanita yang cengeng. Siapa yang akan menghargai wanita kalau bukan dirinya sendiri?”
Andari menghapus air matanya. Tak pernah dibiarkannya Bekti melihat air matanya lama-lama. Tak juga kali ini. Tak ada air mata yang tertumpah untuk Bekti. Tapi....
Andari mengeringkan tubuhnya, seperti membersihkan semua yang tersisa. Ponsel berdering, saat dia menyisir rambutnya.
“Bu?”
“Ya, Sari.”
“Ada tamu yang menunggu.”
“Saya tidak ada janji dengan tamu pagi ini.”
“Tapi....”
“Bilang saja saya sakit dan tidak akan ke kantor hari ini.”
Klik. Andari membanting tubuhnya di atas ranjang. Ponselnya berdering lagi. Dari Alex. Dia hanya memandangnya, kehilangan selera. Saat dering itu berhenti, diperiksanya ponselnya lagi. Ternyata inbox-nya sudah tertimbun pesan sedari tadi. Semuanya dari Alex.
Selamat pagi sayang. Alex.
Mimpi indah malam tadi? Kamu baik-baik aja, ‘kan?
Dia sudah kembali? Belum, ‘kan? Aku harap dia tak akan pernah kembali lagi, agar kamu bisa sepenuhnya kumiliki.
Andari membanting ponsel itu. Gila. Dia pikir aku akan percaya?
Di depan cermin, Andari meraba wajahnya. Pasi di sana tak secerah cahaya dari wajah Bekti malam tadi. Bibirnya tak merekah tanpa lipstik, seperti mawar pucat dari plastik. Kerut wajahnya rapi tersembunyi obat dan kosmetik. Serapi apa pun kerut mata disamarkannya, tua itu tetap terlihat. Umur tak berdusta. Apa mungkin seorang remaja terpikat wanita setua dia?
Andari memejamkan mata. Tidurnya tak pernah nyenyak empat hari ini, sejak dengkur itu tak ada. Andari ingin istirahat. Dua puluh tahun, dia menyangka tak akan menemukan belahan jiwa. Ternyata, selama ini belahan jiwa itu tak ke mana-mana. Dia di sana, menepi saja, karena Andari tak siap berbagi ruang dengannya.
Bekti
Pria itu seperti tak asing bagiku. Dia tertawa lebar. Saat mendekat, giginya tampak berbaris rapi. Dikembangkannya tangannya, seperti aku rindu pulang ke pelukannya.
“Bekti, akhirnya kamu pulang, Nak.”
“Bapak?”
Kukerjapkan mataku. Rasanya tak percaya pria muda ini bapakku.
“Sudah ketemu ibumu?”
Aku terperanjat melihat wanita muda di samping pria yang mengaku bapakku itu. Rambutnya ikal sebahu, alisnya seperti aku.
“Akhirnya, kamu kembali, Nak,” katanya.
Aneh, matanya sayu. Ya, itu ibuku, dan pria muda itu bapakku, seperti yang kulihat di foto kelabu dulu.
Mereka membimbingku, seperti aku berumur lima tahun lagi. Mengapa perjalanan jauh ini seperti mimpi sehari?
“Bagaimana kabarmu, Bekti?” Bapak bertanya seperti tengah menyambutku pulang dari Jakarta.
“Aku....”
“Ya, ya, Bapak sudah tahu. Bapak tahu semua yang terjadi. Bapak melihatnya dari sini.”
Melihat matanya meredup, mendadak aku teringat sesuatu.
“Maafkan Bekti, Pak. Bekti tak sempat mengantar waktu Bapak pergi dulu.... Maaf, ya, Pak.”
Bapak terkekeh.
“Kau juga tidak ada di sana waktu ibumu pergi waktu itu.”
Kutundukkan mukaku dalam-dalam.
“Maksudku, ah, tentu saja kamu pemurah, Anakku. Kamu rawat makam bapak-ibumu. Entah berapa rupiah kamu habiskan untuk membuat makam seperti itu. Bapak-Ibu tidak pernah ingin punya makam sebagus itu....”
“Bukan itu, Pak....”
“Bapak sudah ikhlaskan kamu sejak kamu kabur naik kereta itu. Bapak tahu kamu akan berbakti, dengan caramu sendiri.”
Kupandang mata bapakku yang sangat muda itu.
“Lha, wong, namamu Bekti....” Dia terkekeh lagi.
Ah, Bapak. Masih saja mencoba melucu. Apa dia tak pernah tahu, leluconnya tak pernah lucu?
Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


