<<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah sebelumnya:
Ketika suaminya menghilang selama tiga hari, betapa bingung hidupnya. Memang dia baru mengenal suaminya sesaat sebelum memutuskan menikah. Proses laporan kehilangan di kantor polisi justru membuatnya kian gamang. Ia pun mencoba menggali masa lalu suaminya dengan Praha, teman baik suaminya. Ia harus menerima kenyataan bahwa ada banyak hal dari masa lalu suaminya yang ia tak tahu. Ia pun merasa perlu terbang ke Inggris.
Kini buku ber-cover padang rumput itu ada di pangkuanmu. Menemanimu di pesawat, dalam perjalanan sepanjang lebih dari 15 jam menuju United Kingdom. Kau tak tahu apa yang akan kau temukan di sana. Bekalmu hanyalah harapan. Juga sebuah pertanyaan yang terus mendesakmu menemukan jawaban.
“Hay on Wye ini tidak jauh dari London, namun kami tidak ingin membiarkanmu pergi sendirian.” Demikian Liston dan Lisa sahabatmu berkeras melarangmu berangkat buru-buru menuju kota kecil itu. Kau baru saja tiba di Bandara Gatwick London dan hendak melanjutkan perjalananmu sesegera mungkin. Mengabaikan lelah dan jetlag-mu. Kau bahkan tak hendak menyediakan waktu untuk mengunjungi Big Ben ataupun melintasi London Bridge, yang adalah penanda utama Kota London. Kau juga tak sempat berpikir untuk menyinggahi Cambridge, apalagi Oxford.
“Maka tunggulah akhir pekan dan kami akan mengantarmu,” ucap Lisa membujukmu.
Kalian sedang menikmati sarapan di kebun belakang rumah mereka di Dulverton Road. Hijau kebun kecil itu dengan rumput yang tumbuh merata. Ada juntaian dahan dari pohon apel milik tetangga sebelah yang berbuah ranum. Musim gugur memberi kalian langit biru yang cerah dengan kesejukan angin pagi khas Inggris. Lisa membuat roti tawar beragi yang khas dan Liston, mengiris jeruk manis untuk melengkapi sarapanmu.
“Aku justru harus berangkat sendiri,” tolakmu kukuh.
“Kau tidak tahu apa yang akan kau temukan di sana. Kau bahkan tidak tahu tentang desa itu,” lagi Lisa berusaha menghadang niatmu.
“Utamanya adalah ini, kau tidak hanya lelah fisik, tapi terutama beban di kepala dan hatimu,” Liston seperti biasa tak berbasa-basi padamu.
“Setelah apa yang kau lalui, kehilangan ini sedikit banyak meninggalkan efek depresi padamu. Segala hal lebih kau timbang dengan emosional ketimbang berpikir jernih. Maka patuhilah saran kami.”
“Tidak,” kau menggeleng kalem. Roti tawar yang padat itu kau kunyah sepotong-sepotong, sembari menghirup kopimu yang mendingin lebih cepat.
“Kalian selalu saling mendampingi, maka kalian tidak tahu rasanya kehilangan,” bantahmu tak hendak mengurungkan niat. ”Bagaimana akan kujelaskan perasaan ini, ditinggalkan tanpa salam selamat tinggal?”
Mereka saling bertatapan sebentar, lalu menatap keras kepalamu yang tanpa kompromi. “Dia telah lama pergi, apa artinya perpisahan itu bila ditambah dengan menunda beberapa hari lagi pencarian itu?” suara Lisa terdengar hati-hati. Kau tahu dia berupaya membujukmu.
“Lagi pula, tak ada jaminan apa pun untuk pencarian ini!” sergah Liston telak padamu. “Kau harus disadarkan dari harapan-harapan yang berlebihan.”
“Aku tahu,” jawabmu tenang.
Bukan satu atau dua tahun kau bersahabat dengannya, melainkan tiga dasawarsa, maka kau tahu dia tidak sedang menghadang niatmu atau meruntuhkan tabahmu, melainkan justru sedang menjaga hatimu untuk sanggup menghadapi yang terburuk. Namun, bukannya patuh, niatmu justru makin teguh.
“Aku akan baik-baik saja. Aku rapopo. Ini satu hal yang harus kalian yakini,” katamu kemudian. “Perjalanan sejauh ini kutempuh, bukan semata demi menemukannya. Aku lebih mencari sebuah jawaban. Dia menghadapkanku pada yang serba tak kutahu, dan dialah penyimpan semua jawaban itu. Bukan jawaban palsu yang kuinginkan, karena itu aku siap dengan segala kemungkinan, hingga yang terburuk sekalipun.”
“Baiklah,” gumam mereka menyerah pada kekukuhan niatmu.
*
Penanda waktu menunjukkan beberapa saat melewati tengah hari. Belum malam. Namun, musim gugur membuat matahari tak terlalu lama bersinar, membuat langit jelang sore bercahaya redup. Demikianlah, Desa Hay on Wye memberimu salam selamat datang. Welcome to book town.
Turun dari bus, menapak pertama kali kakimu di pelataran tepat di depan Hay Castle. Sebuah bangunan tinggi berwarna abu-abu, berada di tengah taman hijau yang bertingkat-tingkat. Kecil bangunan itu sebagai sebuah kastil, dan relatif rusak. Jauh berbeda dengan kemegahan bangunan kastil lainnya yang kerap terlihat di berbagai buku panduan wisata wilayah negara Eropa. Namun, di balik kesederhanaannya, kau kagumi semangat pada kastil itu yang menjadi nyawa dan menjadikan kota kecil ini menjadi impian para pencinta buku.
Matahari yang redup memantulkan cahaya kuning pada dinding-dinding kasar kastil. Dari kejauhan terlihat olehmu rak kayu di pelataran terbuka berisi buku-buku. Buku bekas berlabel harga £1, yang sabar menunggu para pembeli. Itu Honesty Book Shop, gerai buku tanpa penjaga yang mengandalkan kejujuran pembelinya. Kau harus mengunjunginya nanti. Lalu matamu bergerak menelusuri kota.
Rumah-rumah sederhana berbaris rapi. Atap-atap segitiga dengan jendela kaca sebagai etalase. Aneka warna pada dinding, bingkai pintu dan jendela. Facade hijau salem kau temukan pada gerai es krim. Warna hitam khas gothic kau lihat pada pintu tua toko yang khusus menjual buku misteri. Di seberangnya sebuah toko mungil berwarna pastel memajang pernak-pernik hiasan rumah. Hatimu sedang sedih, namun ketakjuban pada desa yang unik itu memberimu pelipur lara yang tak terjelaskan dengan kata-kata.
Toko-toko di desa ini justru mempertahankan bentuk rumah aslinya. Nyaris tak ada bangunan mewah, hanya rumah kayu atau berdinding bata merah. Tidak ada toko besar, semua gerai seukuran rumah keluarga sederhana. Lebih tampak sebagai barisan rumah saling bertetangga yang membuka pintunya pada setiap pejalan yang lalu lalang untuk singgah. Sebagian besar toko-toko itu telah tutup pada pukul enam, sebagai bagian dari ciri khas toko di Inggris. Kau berpikir untuk melanjutkan takjubmu menikmati malam di Hay dengan secangkir teh atau coklat hangat di café selepas mandi nanti. Baiklah. Desa kecil itu berbentuk segitiga, dengan bantuan peta tidak sulit menemukan penginapan tujuanmu.
*
Tepat tengah hari. Kau duduk kelelahan pada emperan di depan etalase toko buku legendaris, Richard Booths Bookshop. Telah kau jelajah setiap toko. Hay on Wye Booksellers di High Town yang beratap loteng segitiga dan kotak-kotak pada etalasenya, serupa rumah dalam buku dongeng. The Poetry bookshop yang hanya menjual buku puisi di Brook Street, sebuah jalan yang sesunyi puisi.
Telah kau telusuri nyaris setiap sudut kota. Tower clock di persimpangan Lion Street dan Belmont Road telah pula kau sambangi, bahkan sempat menunggu lama. Karena itulah tempat yang suatu ketika menjadi pusat pertemuan penduduk di masa lalu. Jam berdentang dua kali menunjukkan 2 jam masa penantianmu, dan tak kau temukan seseorang yang kau cari di antara para pejalan yang lalu-lalang.
Kau merasa lelah, namun tubuh dan dahimu tak berpeluh. Cuaca di Inggris sering kali tak terduga. Karenanya, meskipun musim gugur, kau berharap matahari akan bersemangat demi menyambutmu. Tapi, rupanya dia memilih berada di balik saputan mendung abu-abu yang nyaris pekat. Angin berembus pelan, menyapukan udara dingin menembus melalui rajutan benang biru pullover-mu. Seekor burung hinggap di dekatmu. Bukan menghampirimu melainkan untuk minum pada semangkuk air di depan pintu. Kau tersenyum padanya. Setiap toko di Hay hampir semuanya menyediakan air minum semacam itu bagi para hewan yang melintas bebas. Burung-burung, kucing, anjing, tupai.
“Hai,” sapamu.
Burung itu menengok sebentar, lalu hinggap pada papan panjang di sebelahmu. Membuatmu merasa ditemani. Sayangnya, tak kau miliki remah-remah roti untuk berterima kasih. Mendadak, entah dari mana syair Kahlil Gibran hinggap dalam ingatanmu.
Aku tidak cukup kuat untuk kesenangan dan manisnya kehidupan. Sebab seekor burung dengan sayap patah, tidak dapat terbang di langit yang luas.
Dan kau melihat dirimu sebagai burung bersayap patah itu, yang berhenti terbang mengarungi luasnya langit pernikahan, oleh karena pemilik cincin hatimu meninggalkanmu di tengah perjalanan. Tak ada cincin di jarimu kini, melainkan tersimpan di kegelapan sakumu. Kau tak sanggup membuangnya, tak pula memiliki keyakinan mengenakannya. Bagaimana kini akan kau tafsirkan pernikahanmu, ketika kau dapati pengantinmu kini seolah bayangan, antara ada dan tiada?
Adalah buku bersampul padang bunga rumput yang memicu keberangkatanmu ini. Buku koleksi suamimu yang tak pernah kau tahu. Halaman awal buku itu memberimu sebaris kalimat dalam tulisan tangan yang kau kenali. Sebuah tanggal, hari saat dia tak kembali. Parafnya terbubuh di halaman terakhir, bersama dengan nama sebuah tempat.
Di tempat itulah kau kini berada. Sejauh ini perjalanan demi sebaris tulisan tangan di buku bunga rumput. Apa yang kau cari? Mendadak tanya itu mendatangimu dan kau temukan dirimu gentar berhadapan dengan segala kemungkinan. Hampanya dirimu, justru pada batas-batas pencarian. Kau dapati ternyata sedemikian tipis batas semangat dan putus asa itu, setipis dan rapuh keyakinan yang kau punya.
Hampir malam. Beberapa gerai telah menyalakan lampu. Dari kejauhan seolah lampion bercahaya dalam satu garis. Langit belum gelap, namun bersaput mendung. Mengingatkanmu tentang sebuah sore yang lembut. Lalu kau rindui sore pada sebuah bingkai jendela terbuka, berbagi kopi hangat dan aroma buku. Sebuah sore pada suatu ketika di masa lalu. Kenangan yang menyedihkan, namun pula kau rindui. Ah, hidup adalah juga tabungan kenangan. Kadang kala terbuka tiap lapisannya menautkan kita pada masa lalu yang tak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.
“Apakah kau tahu kafe yang memiliki kopi latte yang sedap? Akan kubagi remah roti untukmu,” tanyamu pada burung teman barumu.
Gerakanmu mengejutkannya. Matanya yang bulat berkedip waspada. Terbang dia kemudian menjauh. Kau termangu dan merasa kesepian. Lebih dari itu kau sedang tak ingin kehilangan lagi, apalagi seorang teman baru, satu-satunya yang menemanimu di kota ini. Maka langkahmu bergegas mengikutinya. Beberapa kali burung itu hinggap dan terbang lagi. Entah berapa tikungan kau lalui demi memburunya. Metode kewarasan dalam dirimu sempat memberi sinyal, betapa konyol yang kau lakukan ini. Mengikuti jejak seekor burung yang entah dari mana datangnya. Tapi, saat yang sama kau justru sedang ingin menjadikannya sebagai permainan.
Terengah napasmu saat dari kejauhan kau melihat burung itu hinggap pada papan gantung yang terpancang pada sebuah tiang besi. Lampu kecil serupa lampion menyinarinya. Namun, jarak yang jauh membuatnya tak terbaca.
“Jangan terbang lagi!” serumu dari jauh. “Sudah malam dan aku lapar, bawa aku pada kafe terdekat.”
Burung itu bertengger tenang, menunggumu. Betapa takjub dirimu kemudian. Papan nama itu bergambar cangkir kopi dengan garis uap di atasnya. Amboi, burung itu sungguh baik hati, dia tahu ke mana harus membawamu.
“Big thanks,” bisikmu di antara rasa haru yang memenuhi hati.
*
Genta angin di atas kepalamu berbunyi. Bukan karena angin, melainkan karena kau membuka pintu. Cahaya kuning dari lampu di tengah ruang memperlihatkan beberapa meja yang kosong. Tidak banyak pengunjung, barangkali karena saat ngopi sudah lewat, sementara jam makan malam belum saatnya. Sebuah waktu yang tanggung.
“Welcome, good evening.” Seorang perempuan paruh baya berambut abu-abu menyapamu. Kau membayangkan masakan rumah yang akan menjadi menu sajian kafe ini.
“Hai, good evening too,” serumu tersenyum.
“Call me auntie Hay,” diperkenalkannya diri sembari mendekatimu.
“Hay seperti nama desa ini?”
Dia tertawa. “Richard Booth boleh saja mengklaim dirinya sebagai The Lord of Hay saat dia membeli kastil itu, tapi aku memilih menjadi Bibi Hay bagi tiap orang.”
Kau acungkan ibu jarimu. “Pilihan yang hebat, Auntie Hay.”
“Terima kasih, nah duduklah. Kurasa aku harus membuat sesuatu yang hangat untukmu, udara musim gugur terlalu dingin, ya? Bibirmu biru.”
Kau setuju. Jemarimu nyaris kaku dalam suhu udara yang menurun menuju titik rendah. Matamu menatap berkeliling. Kafe ini lebih mirip sebuah rumah yang memiliki beberapa pasang meja kursi. Tatap matamu menemukan meja di sudut, tepat di sisi jendela. Betapa pas pilihan itu untukmu yang sedang ingin mengenang sesuatu. Tapi, sebelum sempat duduk, Auntie Hay buru-buru mencegahmu.
“Sorry, meja itu telah dipesan,” katanya. Kau terkejut sekaligus kecewa. Sesuatu memudar dalam anganmu.
“Tak bisakah kupakai dulu, meski sebentar?”
“Maaf, dia pelanggan setia. Tiap petang meja ini menjadi miliknya.” Auntie Hay meminta pemaklumanmu. Mempersilakan memilih meja yang lain.
“Kau suka meja sudut? Ada satu meja di belakang, bagaimana?”
“Tidak berjendela?”
Auntie Hay menggeleng. Tidak sopan bila kau memaksa, justru kau harus menghargai komitmen pelayanan seperti itu. Maka kau menuruti sarannya. Kau tidak memesan kopi, melainkan secangkir cokelat hangat. Satu muffin bulat menyertainya. Gurih mentega yang lembut seolah meleleh pada lidah saat mengunyahnya.
“Datang sendiri?” Auntie bertanya, menemanimu duduk sebentar. Kau mengangguk dan memuji cokelat hangatnya yang sedap.
“Tak banyak turis di masa seperti ini,” katanya, “kecuali saat festival ketika winter nanti. Winter food festival.”
“Khas makanan Inggris?”
“Ya. Tapi paling populer adalah The Hay Festival pada awal musim panas di bulan Mei dan Juni. Lebih dari 100.000 pendatang memenuhi kota. Tiap orang membawa buku. Tua, muda dan anak-anak, menjadikan kota riuh. Repot sekali, tapi sangat menyenangkan. Suka membaca?”
Kau mengangguk.
“Nah, datanglah saat festival tahun depan.” Sebuah ajakan yang tidak mudah kau penuhi.
“Meja sudut ini tidak mengecewakanmu, bukan? Justru sudut ini memudahkan untuk konsentrasi menulis atau membaca.” Kau tersenyum, tanpa ingin menyatakan alasanmu.
“Pemilik meja berjendela itu, sudah datangkah?” Kau bertanya mengalihkan perhatiannya demi tak melihat kekecewaan di matamu. Pertanyaan itu membuat Auntie Hay memajukan tubuhnya demi menjangkaukan pandangan yang terhalang rak buku.
“Belum, kadang-kadang dia datang lebih larut.”
“Tiap hari?”
“Kecuali akhir pekan. Tampaknya dia tidak ingin bertemu dengan banyak orang.”
“Mengapa?”
“Entahlah.” Auntie menggerakkan bahu. “Everybody has their own business.”
Seketika kau sadar betapa nyinyirnya dirimu.
“Sorry,” katamu meminta maaf.
“It’s okay. Sebenarnya dia bukan orang Barat, sepertinya dari Asia sepertimu. Barangkali Filipina atau entahlah. Tidak mudah menebak seseorang itu Japanese, Chinese, atau Korea, bukan?”
Kau setuju. Kau hirup cokelatmu, hangatnya masih terasa.
“Tapi dia murah senyum, walau sering tampak muram. Tampaknya dia kesepian.”
“Apa yang dilakukannya?” lagi kau bertanya, tak mampu meredakan rasa ingin tahu.
“Nah, itu uniknya.” Auntie Hay berpaling ke arah pintu, seolah memastikan seseorang itu belum datang. “Dia selalu memesan dua cangkir kopi. Satu kopi hitam untuk dirinya sendiri, satu lagi kopi latte untuk seseorang yang seolah-olah ada di depannya.”
“Seolah-olah?” Kau heran.
“Ya, dia seperti mengandaikan ada seseorang duduk bersamanya di meja itu. Entah siapa yang ada dalam bayangannya. Kuduga seorang perempuan. Barangkali istri atau kekasih yang telah berpisah atau meninggal?” suara Auntie merendah, tampak terbawa suasana muram. Sebuah cerita yang menyentuh hati.
“Mengapa menduga begitu?”
Kau melihat Auntie Hay menghela napas.
“Kadang-kadang dia meletakkan sehelai syal di punggung kursi. Warna kuning mustard dengan corak yang unik, bukankah itu warna perempuan?”
Ah, kau ingat memiliki juga selendang sewarna itu. Tapi, bagimu bukan mustard, melainkan kunyit yang muda. Sewarna itulah selendang pengantinmu. Kenangan itu mengingatkan pada kesedihanmu sendiri. Pelan-pelan kau hela napasmu.
“Kadang-kadang begitu ingin tahunya aku sehingga sengaja melewatinya.” Lagi kau dengar suaranya yang nyaris berbisik. Dia tersenyum tersipu. “Dan kudengar dia pelan-pelan membaca buku, persis yang dilakukan para pencerita. Kadang-kadang bahasa Inggris, sesekali dengan bahasa yang tak kutahu.”
“Maksudmu dia membacakan buku itu seolah-olah pada seseorang yang duduk bersamanya?”
“Nah, seperti itulah. Kadang-kadang dibawanya beberapa buku sekaligus.”
Kau termangu. Entah takjub atau heran.
“Betapa bahagianya seseorang dalam bayangan itu,” gumammu lepas.
“Tepat, betapa bahagianya disayangi dengan cara serupa itu,” sambung Auntie Hay bergumam pula.
Hening kemudian. Tanpa suara kalian hanyut dalam lamunan masing-masing. Kesedihan menetes-netes di dalam hatimu. Itu sebuah kisah yang mengharukan. Namun, yang menyedihkan adalah karena pada saat yang sama kisah itu justru menghadapkan pada paradoks kisahmu sendiri.
Seorang laki-laki menempatkan bayang seseorang yang dicintainya pada sebuah bangku kosong. Cinta yang bertahan, meski berhadapan dengan kehampaan. Sementara dirimu berhadapan dengan bangku kosong oleh karena ditinggalkan.
“Cangkirmu kosong, mau kuisi lagi?” tanya Auntie Hay.
“Teh saja. Hmm... apa yang terjadi pada kopi latte-nya?” Lagi rasa ingin tahumu tak terbendung. Kau berpikir tentang latte yang mendingin sia-sia.
Bibi Hay menggedikkan bahu. “Dia meminumnya sekali teguk sebelum pulang.”
*
Genta angin di atas pintu berdentang saat Auntie Hay mengantar secangkir teh beraroma chamomile. Kau mengucapkan terima kasih sembari berpaling pada pintu yang terbuka. Dari balik celah-celah buku pada rak pembatas di tengah ruang, terlihat olehmu seseorang melangkah menuju meja di sisi jendela. Senyum tipisnya membalas salam Auntie Hay. Matamu tak berkedip.
Kau melihatnya menarik kursi keluar dari meja. Meletakkan sehelai selendang pada sandaran kursi. Kuning pucat, itulah kunyit yang muda. Selendang yang tak asing bagimu. Lalu dia duduk pada kursi yang lainnya. Kau mendengar gumam terima kasih saat Auntie mengantar dua cangkir di meja. Mereka berbincang sesaat entah apa. Matamu masih tak berkedip.
Saat Auntie Hay berlalu, terlihat olehmu telapak tangannya memeluk cangkir. Kau bayangkan kehangatan kopi merambat pada sepasang telapak itu. Cincin di jari manisnya memantulkan cahaya. Dari kejauhan kau melihat sepasang mata yang menatap bidang kosong. Jantungmu berdebar-debar demi mendapati kerinduan yang memenuhi mata itu. Tubuhmu gemetar menyangga gejolak yang bagai akan meletup di dalammu.
Dia menghirup kopinya. Tersenyum dengan matanya.
Minumlah, sebelum latte-mu dingin. Seolah kau dengar gumam di kejauhan itu. Erat kau genggam cangkirmu, asap tipisnya menghampiri, mengusapkan wangi bunga chamomile pada parasmu yang gugup. Kau mendengar denting cangkir menyentuh alasnya saat diletakkan kembali. Kau mendengar gemuruh di dalam dirimu yang tak mereda.
Dia membuka bukunya. Entah pada halaman berapa. Membacanya dalam intonasi lambat, mengalirkan satu cerita, membuatmu ingin memejamkan mata. Pada kelopak mata yang mengatup kau temukan dirimu sebagai padang yang semi. Bunga putih bulat kecil pada tangkai-tangkai rumput yang memanjang. Berapa hari dalam satu musim? Berapa kubik air turun dari langit pada musim penghujan? Berapa lama sebatang rumput sanggup bertahan menanggung kemarau?
Ingin kau tanggalkan semua hitungan. Segala angka sebagai hasil pengukuran tak akan membawa arti apa pun. Namun, kau telah telanjur menghitung. Tiga ratus tujuh belas hari, itulah yang terhitung dari tanggal yang tertera pada buku bunga rumput hingga hari ini. Sebuah hari ketika dia tidak kembali. Tujuh belas lebihnya dari tiga ratus. Itulah putaran waktu yang telah kau tempuh, memberimu perjalanan menelusuri barisan pertanyaan yang melelahkan. Dan kalau kau tak berhenti mencari jawaban, itu hanya demi sebaris kalimat, tulisan tangan pada buku bunga rumput: “Tak Berhenti Mencintaimu.”
Rasa marah di dalam dirimu menuntut mencari jawaban. Kepedihanmu ditinggalkan menggerakkan menemukan pembuktian.
Kini kau berdiri di sebelah kursi kosong. Mendapati dirimu berhadapan dengan semua jawabannya. Selendang di sandaran itu adalah kerudung pengantinmu. Cincin di jari manis itu berukir namamu. Secangkir kopi latte yang nyaris dingin itu adalah untukmu. Begitulah caranya mencintaimu.
“Bunga Rumputku,” kau mendengar suaranya memanggil.
Entah berdebar ataukah justru berhenti jantungmu, yang kau tahu bahwa tabahmu telah sampai pada batas akhir dan rebahlah dirimu saat sepasang lengannya merengkuhmu. Kehidupan yang sempurna selalu hanya ilusi. Namun, melihat caranya mencintaimu telah memberimu keyakinan bahwa segala yang ada di depan itu akan sanggup kalian jalani dan kau tak akan berkeberatan dengan segala yang tak sempurna itu.
Kelopak bunga chamomile di dasar cangkir telah mengembang dari keriputnya, memberi rasa dan aroma yang sempurna pada secangkir teh hangat. Kehangatan yang sempurna untuk melengkapi langit petang musim gugur di desa buku Hay On Wye. (Tamat)


