<< Cerita Sebelumnya"Mang Zein sudah datang?" Molek bertanya.
"Oh, mamangmu mungkin malam sekali baru ke sini."
Molek lesu. Ah, sia-sia saja dia datang. Sekarang dia tidak ingin membantu bersaji, tak ingin duduk mendengarkan bisnis pernikahan yang tak bakal jadi. Dia ingin pulang.
Molek melirik Bicik Esa dari sudut mata dengan kebencian tersembunyi. Dia tampak cantik, berkulit putih, dan perawakan kecil. Cantik seperti Mbuk, Aisyah, dan Nyai. Tetapi, cantik yang bodoh, pikir Molek. Setiap kali teman-teman Mang Zein berkunjung, dia marah-marah, mengurung diri, tidak mau keluar dari kamar. Dia tidak bisa bergaul dengan mereka yang berpendidikan tinggi, tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Meski berasal dari keluarga bangsawan terpandang, Bicik Esa dididik secara kolot. Dia tidak pernah sekolah, sehingga tidak bisa membaca dan menulis. Pikirannya dangkal. Dia tidak mengerti suaminya, tidak mengerti pikirannya, tidak mengerti perjuangannya. Dia hanya wanita, yang karena takdir hidup bersama Mang Zein, yang kehadirannya tak sedikit pun memberikan warna baru pada suaminya, kecuali sebagai ibu dari anak-anaknya.
Molek menggeleng. Aku tidak mau seperti dia. Saat dia melihat teman-teman sepermainannya satu per satu menikah, dia berpikir, bagaimana suaminya kelak. Dia berkhayal punya suami pintar, seperti Mang Zein. Mereka sering bertukar pikiran dan mengobrol tentang semua hal dalam kedudukan yang sama dan sederajat. Tapi, khayalan itu membuatnya tak enak hati, teringat kata-kata yang telah diajarkan dan diingatkan kepadanya sepanjang masa, bahwa suami adalah pemimpin keluarga. Pria bodoh mana yang ingin berbagi kedudukan sepenting itu dengan istrinya, pikir Molek, pahit.
"Kalau mau pulang, biar Yusuf mengantarmu," kata Bicik Esa.
"Tidak usah, saya pulang bersama Said saja," tolak Molek.
"Tidak apa. Malam-malam pulang berdua dengan Said rasanya kurang aman," wanita itu berkeras.
"Ya, Molek, lebih baik ditemani Yusuf. Apa pun bisa terjadi di zaman sekarang. Tentara Belanda dan gerilyawan makin sering saling serang. Kalau ada yang menemani, kami di sini lebih tenang," Nyai mendukung Bicik.
"Bukankah kau dan Yusuf berteman sewaktu kecil? Kalian pasti senang bisa bercakap-cakap lagi. Dengan begitu, Yusuf akan sadar bahwa kau sudah jadi gadis cantik dan pantas jadi istrinya," kata Nyai, tertawa.
Molek tersentak. Tapi, dia hanya diam. Pulang malam hari ditemani pria dewasa adalah keputusan yang bijaksana. Yusuf sendiri bukanlah pilihan buruk untuk dijadikan teman seperjalanan. Sama seperti Umar, Yusuf juga teman masa kecil Molek. Bedanya, Umar selalu ingin menang sendiri, Yusuf justru jadi kambing hitam. Jika ada yang nakal, yang tertangkap adalah Yusuf, sementara yang lain lolos. Kalau anak laki-laki mencuri kemang di kebun, entah apa yang terjadi, tapi Yusuf yang akan dimarahi. Dia juga selalu paling belakang dalam setiap permainan. Molek belum pernah melihatnya menang dalam hal apa pun.
Ketika kecil, Molek sering menemani Yusuf. Meski kasihan, Molek juga kesal melihat kelemahan Yusuf yang tak bisa membela diri. Hingga suatu hari, ketika mereka dimarahi karena ketahuan mencuri mangga muda, Molek tak tahan lagi, dia memukul Yusuf, lalu berteriak marah, bahwa Yusuf sungguh bodoh dan Molek benci orang bodoh.
Yusuf mengusap-usap pipinya yang ditampar Molek, mengerjapkan mata menahan tangis, berkata pelan, "Aku tak mau tidak jujur, kubiarkan orang tahu bahwa aku mengambil buah mereka. Biarlah mereka marah, memukuliku, atau minta ganti rugi. Dengan begitu, aku merasa adil. Kumohon mengertilah. Jangan membenciku hanya karena aku ingin jadi baik. Aku tak peduli pada orang lain, tapi aku tak sanggup bila kau menjauhiku."
"Mari kubawakan," Yusuf mengambil buntelan pakaian kotor Nyai dan Mbuk dari tangan Molek.
"Terima kasih," jawab Molek. "Sudah lama, ya, kita tidak bertemu, apa yang kau lakukan selama ini?" tanya Molek.
“Aku membantu Abah di toko. Kau sendiri?"
"Ah, apa lagi yang bisa kulakukan? Hanya menjahit dan memasak"
Molek mengamati Yusuf dari samping. Yusuf lebih tinggi daripadanya. "Kau makin tinggi dan tampan. Kenapa belum melamar orang? Tentunya banyak perempuan yang mau denganmu," Molek bertanya separuh bergurau.
Yusuf menggeleng, tersenyum kecil menanggapi godaan Molek. "Aku sebetulnya masih ingin melanjutkan sekolah."
"Benarkah? Hebat sekali. Senangnya kalau aku juga bisa sekolah lagi. Tapi, kenapa tak jadi?"
"Abah ingin aku membantu di toko, tak ada orang lain yang bisa mengawasi barang dan pegawai jika dia pergi. Rasanya tidak adil, kenapa dulu Abah bisa terus sekolah, tapi kini aku tidak bisa. Sepertinya, Abah hanya ingin dia sendirilah yang pintar."
"Tidak mungkin,"bela Molek cepat. "Pasti karena tak ada orang lain yang bisa dipercayai untuk mengatur pekerjaan. Kau kan anak sulung dan adikmu masih terlalu kecil untuk dilibatkan."
Mata Yusuf menerawang, menembus kegelapan, "Aku ingin lebih pintar dari Abah, jauh lebih hebat darinya. Bukankah kau menyukai orang pintar, Molek? Aku ingat kau dulu selalu membuntuti Abah ke mana pun. Memujinya setinggi langit, memandanginya dengan kagum. Jika aku lebih pandai dari Abah, apakah kau akan melakukan hal yang sama padaku? "
Yusuf berhenti di bawah lampu jalan. Mereka berpandangan. Mata hitam Yusuf bercahaya lembut, memerangkap siapa pun yang memandangnya hingga tak bisa berpaling lagi dari kelembutan itu. Tapi, Molek berhasil memalingkan wajah, tak ingin larut dalam pesonanya. Tanpa menjawab, Molek meneruskan langkah, diikuti Yusuf dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Air sungai apakah selalu mengalir ke laut? Molek melemparkan sepotong ranting ke air. Ranting itu terombang-ambing, nmun pelan-pelan mengalir mengikuti tujuannya. Apakah menjadi sungai lebih menyenangkan? Menyinggahi berbagai tempat baru, bertualang. Setiap hari tak pernah sama, setiap hari penuh cerita. Atau, sesungguhnya sungai sama seperti dirinya? Yang menginginkan kebebasan, tapi tak bisa. Tujuan hidupnya sudah ditetapkan, tak bisa berubah, tak bisa menghindar, seperti sungai dan laut sebagai takdirnya.
Tak ada pilihan, tak bisa memilih. Perempuan seharusnya menikah dan menjadi ibu, itu tujuan, kewajiban, dan alasan hidup. Tadi pagi ketika mengantarkan kopi untuk Abah, bapaknya berkata, "Duduklah, Molek, ada yang mau Abah bicarakan denganmu."
Molek bertanya-tanya dalam hati, karena Abah jarang sekali bicara. Dia berusaha menebak masalah penting apa yang membuat Abah buka mulut.
"Semestinya mbuk-mu yang lebih tepat menyampaikan hal ini. Tapi, karena Mbuk masih di rumah Zainab, Abah pikir, tidak ada salahnya Abah menyampaikannya sendiri. Abah yakin kamu akan gembira."
Apa yang bisa membuatku gembira? Apakah aku boleh sekolah lagi? Molek berharap-harap cemas.
"Sewaktu Abah berdagang ke Pagar Alam, Zein dan Abah merundingkan kemungkinan perjodohan antara kau dan Yusuf. Kita masih bersaudara sehingga pernikahan ini akan lebih mempererat ikatan keluarga kita. Apalagi, kamu mengenal Yusuf sejak kecil. Bukankah dia anak baik? Tak ada cacat cela, dia calon yang tepat. Abah khawatir mengingat usiamu memasuki tujuh belas. Jika harus menunggu lebih lama, makin sulit bagimu mendapatkan jodoh."
Molek merasa kepalanya berdenyut-denyut. Dia terkejut. Di balik sikap Abah yang bebas dan maju, dia memikirkan masalah pernikahannya. Tapi, dari semua kejutan itu, yang paling memukulnya adalah kenyataan bahwa Mang Zein bahkan tak pernah menganggap dia lebih dari seorang anak.
Penulis: Lisa Andriy


