Fiksi 

Molek dari Tepian Sungai Musi [10]


 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Bagian :  
Molek dari Tepian Sungai Musi [10] Femina
<< Cerita Sebelumnya

Emosi Molek kini tersulut seperti sepercik api yang jatuh ke padang rumput kering, berkobar begitu cepat. “Seharusnya kau mengerti. Itulah perbedaanmu dengan lelaki lain. Kau bukan mereka yang harus memberikan sesuatu padaku untuk menarik perhatianku. Karena, hanya kau yang bisa memberikan kebahagiaan yang lebih berharga dari perhiasan apa pun. Jika kau memberiku sesuatu, maka tak ada bedanya kau dengan lelaki lain. Atau, bagimu aku hanya wanita penghibur yang bisa kau beli dengan uang?”

Molek membuka kait kalungnya. Dihempaskannya kalung itu ke lantai. Beberapa butir intan terlepas dari tempatnya. Zein memungutinya.

“Maafkan aku,” katanya menyesal.

“Buang saja,” bentak Molek.

“Sudahlah maafkan aku,” kata Zein memberikan kalung itu pada Molek. “Aku berjanji tak akan berpikir macam-macam lagi. Jadi, jangan marah.”

“Aku tak ingin lagi melihat kalung itu, jadi buanglah, Molek berkeras. Diambilnya napas panjang untuk mengurangi nyeri hatinya. Kenapa mereka sering sekali saling melukai, meski tak berniat menyakiti. Bukankah kami sama-sama saling mencintai? Mestinya kami sangat bahagia, tapi kenapa makin hari kebersamaan ini makin melelahkan? Kenapa bersama Zein tidak semudah yang dibayangkannya? Bersamanya dia seperti digulung ombak besar yang kadang mengempasnya ke puncak kebahagiaan atau ke puncak kesedihan. Apakah mencintai seseorang itu tak mudah? Atau, karena ini cinta terlarang?

“Tapi, kalung ini sangat mahal. Bagaimana kau menghadapi Beaur jika mengetahui kalung ini tak ada. Dia bisa marah. Kau akan celaka.”

“Jangan khawatir. Dia tak pernah marah padaku.”

Tahun 1941
Molek berlari keluar rumah. Rambutnya terurai panjang tak disanggul. Hari ini dia tak memedulikan penampilan yang biasanya selalu apik. Selama ini tak pernah dia keluar rumah tanpa memastikan dandanannya rapi dan bergaya. Tapi, tidak sekarang, saat hatinya dicengkeram ketakutan.

Di depan pintu pagar, sebuah mobil berhenti. Molek berlari me­nyongsong diikuti pembantunya. “Apa yang terjadi?” tanyanya, panik.

Wakil kepala opsir membiarkan pembantu Molek membukakan pintu baginya, lalu berkata tenang, “Kami sudah mendapat perintah membakar kampung dua puluh enam.”

“Tidak,” jerit Molek, ketakutan. Dia ingin berlari, tapi tangan Van Houven memegangi lengannya.

“Maafkan saya, tapi Anda tidak boleh ke sana. Di sana sangat berbahaya.” Van Houven mengamati wajah cantik yang kini bersimbah air mata. Betapa eloknya, bahkan dengan wajah basah seperti ini. Sebentar lagi wanita ini pasti akan menimbulkan pertikaian untuk memperebutkannya.

“Tapi, di sana ada keluargaku,” Molek membantah, sambil terisak. Bagaimana dengan Abah, Mbuk, dan Nyai yang sudah tua? Dia seakan melihat Nyai di tengah kobaran api, juga Denti yang berlarian, sambil berteriak-teriak memanggil–manggil anaknya. Apakah mereka semua selamat?

Molek tak kuasa berdiri. Badannya lemah hingga terjatuh ke tanah. Kepalanya tertunduk dan tubuhnya berguncang oleh tangis yang hebat.

Van Houven berjongkok di depannya. “Jangan takut, Nyonya. Sebelum kampung dua puluh enam dibakar, kami sudah mengungsikan orang-orang. Kami tidak mengganggu rakyat biasa. Yang kami cari adalah tentara pemberontak. Sejak Kapten Beaur terbunuh di situ, kami sudah menjaga ketat kampung dua puluh enam, karena kami mendapat informasi bahwa pasukan Zein bersembunyi di sana. Tapi, kami yakin bisa menangkap mereka.”

Tangis Molek menjadi. Ini pasti ganjaran atas dosa yang telah dibuatnya. Orang-orang yang tidak bersalah menderita karena dia. Dia telah memberitahu Zein bahwa persembunyiannya sudah diketahui dan Beaur memimpin pasukan berangkat untuk menangkapnya. Bukannya melarikan diri, Zein bersembunyi bersama pasukannya, menunggu sampai tentara pimpinan Beaur lewat, lalu menyerbu dan membunuh hampir semua pasukan, termasuk Beaur.

Dada Molek seketika bertambah nyeri. Tiba-tiba dia merasakan gerakan kecil di perutnya. Dipeganginya perut itu saat Van Houven membantu berdiri.

“Bawalah nyonyamu masuk. Usahakan agar dia istirahat. Panggillah dokter untuk memeriksa kandungannya,” kata Van Houven pada pembantu Molek. Dia berbalik, tapi Molek mencengkeram kedua lengannya kuat-kuat.

“Bantulah aku. Kumohon, jika aku tak boleh ke sana, tolong pastikan keluargaku selamat. Kumohon.” Suara Molek timbul tenggelam di antara tangis.

Van Houven mengangguk.

“Berjanjilah untuk mengabari saya secepatnya, demi apa pun yang paling Anda cintai, Tuan,” kata Molek, tanpa melepaskan lengan itu. Setelah melihat Van Houven mengangguk, Molek melangkah ditopang pembantunya.

Kampung ini rata dengan tanah, kayu-kayu rumah jadi arang menghitam berserakan di mana-mana. Hanya itu bekas yang tertinggal. Meski pemandangan di sana-sini sama rata, Molek tetap tahu arah berjalan. Di tengah puing-puing kehitaman itu Molek melihat sosok yang menggetarkan hatinya. Dia berjalan pelan, menghampiri orang yang tengah mengorek-ngorek tumpukan arang hitam. Seorang wanita berdiri setengah membungkuk di sampingnya.

Molek berhenti berjalan di depan lelaki tua itu. Dia diam tak bisa mengucapkan seribu kata yang berdesakan di kepalanya. Air mata menetes melihat tangan tua itu kotor menghitam oleh debu, tanah, dan arang yang digalinya. Wanita di sampingnya membeku saat matanya mengenali Molek.

“Lihat ini, aku menemukan sesen, lihat! Mungkin di bawah ini ada lebih banyak lagi.” Lelaki itu menunjukkan sekeping uang logam yang hitam terbakar pada wanita di sampingnya. Molek melihat betapa letih dan tuanya wajah itu.

“Molek!” serunya terkejut, ketika melihat Molek. “Oh, Molek, lihat rumah kita. Rumah kita terbakar, Nak. Habis sudah, hilang semua dilalap api. Kita tak punya apa-apa lagi. Tapi, lihat ini, Abah menemukan uang,” Abah berbisik pelan, sambil menoleh ke kiri dan kanan, “Abah yakin, masih banyak uang di bawah sini. Abah akan menggali dan menemukan semuanya.”

Molek terisak. Mbuk juga terisak.

“Kenapa kalian menangis? Kau, Molek, bukankah seharusnya ada di sekolah? Kenapa di sini? Ayo, kembali ke sekolah. Abah tak suka punya anak pembolos. Atau, kau sudah pulang? Kalau begitu, cepatlah kembali ke rumah, bantulah Nyai memasak mangut ikan. Ja­­ngan langsung berenang di sungai.”

Molek menghapus air matanya. Dia telah mendengar banyak orang sakit dan terganggu jiwanya karena tak sanggup kehilangan harta benda. “Abah juga harus pulang. Mari pulang bersama kami.”

“Tapi, aku harus menggali uang. Nanti bisa ditemukan orang la­­in.” Wajah tua itu kini tampak panik dan takut.

“Biar Molek yang mencari. Abah pulang saja, mangut ikannya nanti dingin. Nyai akan mengomel, jika harus memanasi lagi.”

“Baiklah, ayo, Mbuk, kita pulang. Memang tidak baik membiarkan nasi jadi dingin.” Abah berjalan mendahului, tapi lalu berhenti. “Tapi, kita mau pulang ke mana? Ini rumah kita. Rumah kita habis dibakar Belanda. Kita tidak punya rumah lagi. Habis sudah, habis semua.” Abah menangis seperti anak kecil. Mbuk memeganginya, berusaha menenangkan.

“Abah bisa pulang ke rumahku. Aku akan mengurus Abah.”

“Rumahmu? Apa yang kau katakan? Kau tak punya rumah,” tanya Abah.

“Aku punya rumah, Abah. Besar dan bagus. Abah pasti senang tinggal di sana. Ayo, pulang,” ajak Molek, sambil menuntun bapaknya.

Abah menyentakkan tangan Molek. Wajah tua itu tiba-tiba me­ngeras. Dalam sekejap kesadarannya telah kembali dan dia men­jadi orang yang sama dengan orang yang dulu.

“Rumah penjajah!” Matanya kini berapi-api penuh kebencian. Wajah yang tadi tampak letih dan bingung kini berubah keras dan pasti. “Pergilah. Jangan temui kami lagi. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa lupa bahwa kau bukan lagi anakku. Ayo, Mbuk, kita pulang ke tangsi.”

“Abah,” panggil Molek, menjatuhkan diri, memeluk kaki ayahnya, “Maafkan aku, Abah. Tolong maafkan aku. Aku tak tahu bagaimana caranya bisa mendapat maaf dari Abah. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Mohon maafkan aku. Ampuni kesalahanku. Aku merindukan kalian semua. Aku ingin sekali merawat Abah, menjaga Mbuk dan Nyai, bersama seperti dulu lagi. Kumohon izinkan aku memperbaiki kesalahanku.” Molek mencium kaki ayahnya.

Air mata Abah menitik membasahi pipi keriputnya. Dia bicara sangat perlahan, hingga hanya Molek yang bisa mendengarnya. “Dari dulu Abah sudah memaafkanmu, Nak. Tapi, kau juga harus memaafkan Abah. Karena meskipun aku memaafkanmu, kau tetap tak bisa kembali bersama kami.”


Penulis: Lisa Andriy


Bagian :  


 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Topik Hari Ini Harga BBM Naik Femina
TOPIK Hari Ini
Harga BBM Naik
Setuju atau tidak dengan kenaikan harga BBM ini?
KOMENTAR
25 Nov 2014 - RuryPaurisca
Saya setuju saja dengan kenaikan BBM yang ditentukan oleh pemerintah RI. Kenaikan BBM bersubsidi itu menurut saya merupakan pengalihan subsidi untuk yang lebih produktif dan menurut Presiden Jokowi itu juga merupakan jalan untuk mengalihkan anggaran  ...
20 Nov 2014 - RiaJumriati
Saya setuju dengan kenaikan BBM, beri kesempatan pada Bp. Presiden Jokowi utk membuktikan bhw pengalihan subsidi BBM, bisa di gunakan utk pembangungan jalan dan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Beliau berani mengemban dosa pemimpin terdahulu d ...



Majalah Edisi 46 (22 - 28 November 2014) Femina  Edar 
Wednesday, 19 November 2014






  VIDEO