Tahun 1938Molek berdiri di depan jendela. Matanya lurus memandang air sungai yang jernih kehijauan. Di tengah, perahu penumpang dan perahu yang membawa dagangan hilir-mudik memecah air, membuat gelombang dan mengirimkannya ke tepian, tempat anak-anak ramai bermain. Beberapa orang menerobos gelombang yang datang, yang lain berlomba berenang dan menyelam, lalu menarik kaki temannya secara tiba-tiba. Suara tawa, pekik, jerit anak-anak itu terdengar, membuat suasana gembira.
Molek tersenyum, larut dalam kegembiraan. Masih dengan senyum di bibir dia berjalan menuju dapur. Di dapur dia membuka pintu di sudut dan masuk ke sebuah ruangan kosong yang sangat luas di belakang rumah.
Berhadapan dengan pintu yang tadi dibukanya, tampak pintu lain yang di baliknya terdapat sebuah dapur lagi. Dapur ini adalah dapur rumahnya. Ya, tadi sebetulnya dia berada di rumah Ujuk (paman). Rumahnya dan rumah Ujuk bersambung seperti huruf L dengan sisi sama panjang. Belakang rumah saling bertemu di ruang luas yang sengaja dikosongkan, hanya digunakan jika ada acara-acara penting, seperti pernikahan atau syukuran. Sebagai dapur besar, tempat ibu-ibu serta gadis-gadis sanak keluarga dan tetangga membantu menyiapkan aneka masakan untuk perhelatan.
Rumah ini rumah baru, terbuat dari kayu onglen dan belum lama dibangun. Caro gudang (seperti gudang) begitulah Abah (ayah) menamai rumah mereka. Tidak seindah dan serumit rumah limas yang penuh ukiran, bertingkat-tingkat dengan amben (bagian rumah yang lebih tinggi, khusus untuk orang-orang yang dihormati) dan banyak aturan bagi para penghuninya. Rumah ini lapang, bebas, dan leluasa. Siapa saja bisa berjalan keluar-masuk ke mana saja, tanpa harus selalu memerhatikan adat dan tata krama.
Molek suka kebebasan di rumahnya, namun dia sering kali menyesal mengapa Abah memilih rumah di depan yang menghadap jalan besar. Seharusnya Abah memilih bagian yang ditempati Ujuk yang bersebelahan dengan sungai. Molek sangat menyukai sungai. Sungai di waktu siang pusat kehidupan, ramai penuh gairah. Orang-orang berdagang naik perahu dan kapal berwarna-warni, lalu-lalang menyeberang dari hulu ke hilir. Anak-anak bermain dan ibu-ibu mengobrol sambil mencuci. Atau, sungai di waktu malam yang sunyi senyap, hanya suara jangkrik dan kecipak air sesekali terdengar, ditelan kegelapan dengan titik-titik kecil cahaya kuning lampu rumah dan kapal yang terpantul di kehitaman air, sungguh indah.
Melihat sungai selalu membuatnya bahagia. Terlebih lagi sekarang, sungai membuat dia mengingat betapa senangnya jadi anak-anak. Hidup bebas tanpa beban, bisa melakukan apa saja, berlari, melompat, bermain, berenang, bahkan tertawa lepas, semua yang tak bisa dilakukannya lagi sekarang.
Molek sudah menjalani tradisi mendep. Tradisi yang harus dilakukan gadis-gadis ketika dianggap sudah dewasa dan siap menikah. Mendep artinya tinggal di rumah. Jadi, gadis-gadis ini sudah tidak boleh keluar seenaknya. Dia memulainya ketika berumur dua belas dan telah berjalan empat tahun. Meski begitu, Molek masih merasa canggung. Dia sangat kehilangan semua hal yang dulu membuat hidupnya semarak.
Harum kue delapan jam menyerbu hidung. Molek mengeluarkannya hati-hati dari panggangan. Warnanya cokelat tua berkilau. Tadi pagi Mbuk (ibu) membuat kue ini sebelum berangkat ke rumah Bicik (bibi) Zainab. Dari empat puluh butir telur yang dicampur gula dan susu, lalu dikukus selama lebih dari delapan jam dan dipanggang sebentar agar warnanya lebih bagus.
Molek menyukai kue delapan jam. Lembut dan cairan manisnya melumer di dalam mulut. Tapi, yang ini tak boleh dimakan, karena akan dimasukkan ke dalam tenong (keranjang bersusun dari bambu) bersama kue-kue lain dan dibawa ke rumah Bicik Zainab besok.
Dia berhasil menahan diri untuk tidak mencuil sedikit. Ah, seandainya saja dia masih memakai blus dan rok, bukannya kebaya dan kain batik seperti sekarang. Tapi, tak apa, dia bisa mencungkil kerak-kerak kue yang menempel di jari. Bukankah Mbuk pergi? Jadi, tak ada yang akan mengomel melihat tingkah laku yang tak pantas itu, pikirnya senang.
Molek meletakkan kue di meja, membiarkannya terbuka, agar uap panas segera hilang. Dia mendengar suara-suara di depan, lalu berjalan ke ruang tamu. Pintu digedor-gedor berbarengan dengan suara orang memanggilnya. Ketika kait yang terpasang di atas dan di bawah ditarik dan pintu kayu didorong ke luar, tampak Aisyah berdiri dengan muka cemberut.
“Aku sudah lama di sini memanggil-manggil. Ke mana saja Cek (kakak perempuan) dari tadi?”
“Ay, ay cek elok dak baek marah-marah. Kagek dak ado bujang yang galak (gadis cantik tidak baik marah-marah, nanti tidak ada yang mau),” Molek membujuk, meniru Mbuk, jika salah satu gadisnya merajuk dan cemberut. “Cek tadi di rumah Ujuk. Jadi tidak mendengar suaramu. Bagaimana di rumah Bicik, apa sudah ramai?” Molek mengalihkan pembicaraan.
“Ramai sekali. Semua keluarga sudah datang. Malam ini Mbuk mau tidur di sana. Aku juga ikut menginap. Cek saja yang menunggu rumah, ya?” Raut muka Aisyah menjadi manis, ingin mengambil hati kakaknya.
Molek mengangguk, lalu duduk di samping Aisyah di kursi tamu. Tangannya mengaiskan anak-anak rambut yang keluar dari kepangan adiknya. Aisyah sibuk mengipas-ngipaskan tangan mengusir panas. Wajahnya yang merah tersengat matahari, pelan-pelan menampakkan warna aslinya, putih.
Aisyah baru tiga belas tahun, beda tiga tahun dari Molek. Dia baru beberapa bulan memakai kebaya, tetapi sudah banyak yang menanyakan untuk dijadikan menantu. Adiknya itu gadis impian lelaki, karena mewarisi semua keelokan Mbuk. Mata besar indah dengan bulu mata hitam lentik, hidung bangir, bibir merah delima menyiarkan kecantikan kanak-kanak yang beranjak remaja.
Molek lebih mirip Abah. Dengan tinggi badan yang mengharuskan banyak orang mendongak bila bicara dengannya, membuatnya kikuk dan sedikit membungkuk, menutupi ukuran tubuh yang menjulang. Sehingga, dia yang seharusnya tinggi semampai malah jadi bungkuk seperti udang. Ditambah warna kulit sawo matang, Molek makin tersisih dari kategori pujaan.
Sebetulnya Molek juga cantik, tapi kecantikannya jadi tidak menonjol, karena di masa itu orang memuja sosok wanita kecil mungil, berkulit putih yang memberi kesan halus, penurut, dan lemah lembut. Nyai (nenek) bahkan selalu berkata bahwa Molek adalah sebuah kesalahan. Dia seharusnya menjadi lelaki tinggi besar yang gagah dan tampan kebanggaan keluarga, diperebutkan oleh banyak keluarga terpandang untuk menjadi menantu idaman.
“Kalau mau menginap, kenapa kamu pulang?” tanya Molek. Tangannya memilin-milin ujung kebaya.
“Nyai tak punya baju salinan. Aku pulang mengambilnya.” Aisyah berdiri, berjalan ke dalam, menyendok air di guci dengan cangkir dan meminumnya.
“Hmm... enak,” desahnya, begitu air dingin membasahi kerongkongan. Aisyah melongok ke padasan (batu) di atas guci, yang airnya tinggal sedikit, sementara air di guci hampir penuh. Begitulah jika di rumah tak ada orang. Batu hitam yang menyaring air sungai itu isinya sampai menetes-netes memenuhi guci, sementara tak ada orang yang meminumnya.
Wanita-wanita di rumah ini memang sudah dari dua minggu lalu menginap di rumah Bicik Zainab yang akan menikahkan anaknya. Sementara Abah dan Kak Cak (kakak laki-laki) pergi ke Pagar Alam untuk berdagang, sekaligus memeriksa sewaan rumah dan toko.
“Cek, tadi aku melihat Mang Zein di pasar kecik (kecil). Tapi, Abah tidak ada. Bukankah mereka pergi bersama dan pulangnya juga selalu bersama-sama? Tapi, kenapa tadi hanya Mang Zein sendiri?”
“Jangan tanya aku. Aku juga tak tahu. Mungkin tadi kau salah lihat?” Molek agak bingung. Namun, sebersit rasa senang muncul.
“Ah, sepertinya tidak. Meskipun aku melihat dari jauh, aku yakin itu Mang Zein. Mungkin dia pulang lebih cepat agar bisa ikut persiapan pernikahan. Bukankah Bicik Zainab itu adiknya?”
Molek hanya mengangguk seakan tak acuh. Sebetulnya dia sibuk menekan perasaan gembira yang meluap mendengar kabar itu. Dia tak ingin Aisyah menebak rahasia hatinya yang paling dalam.
Mang Zein adalah saudara jauh Abah. Begitu jauh, hingga bisa dibilang hubungan kekeluargaan itu hampir terputus, jika saja mereka dulu tidak tinggal bersebelahan. Sebelum pindah ke rumah ini mereka bertetangga. Abah dan Mang Zein teman sepermainan sejak kecil dan tumbuh dewasa bersama-sama. Mereka sangat akrab, bahkan lebih dekat daripada saudara kandung.
Molek sangat menyukai Mang Zein. Ketika dia masih kanak-kanak, Mang Zein sering datang ke rumah membawa bonbon jeruk atau cokelat, lalu mendongeng untuk mereka tentang tiga bersaudara pungguk, bulan dan kuda. Kadang-kadang juga bewayat (mendongeng dengan lagu-laguan) tentang wanita tua dan beruk besar. Mang Zein juga sering menceritakan hal-hal menarik yang ditemuinya dalam perjalanan. Dia sangat pandai menghidupkan cerita. Dengan suara berat memikat dia menggambarkan semuanya dan membuat siapa saja yang mendengar masuk ke dalam sebuah dunia lain.
Semua anak Abah sangat dekat dengan Mang Zein. Mereka sering bercakap-cakap, bertanya atau berpendapat apa saja, tanpa takut dimarahi dan dicap kurang ajar. Sebetulnya, Abah juga terbuka dan baik. Tapi, karena beliau pendiam, kesannya menjadi angker. Sedangkan Mang Zein, dengan wajah tampannya yang selalu tersenyum dihiasi mata bersinar-sinar ramah, langsung memikat hati siapa saja.
Ketika dia dan Denti, kakaknya, mulai mendep, karena bosan, mereka lalu meminta Mang Zein membawakan buku-buku. Mang Zein mempunyai beberapa buku roman yang mengasyikkan. Denti dan Molek sangat menyukai cerita-cerita percintaan itu. Mereka ingin cepat-cepat mengetahui akhir setiap cerita, maka persediaan buku Mang Zein segera habis dibaca.
Molek yang senang membaca lalu meminta Mang Zein membawakan buku-buku pelajarannya sebagai ganti buku cerita (Mang Zein berpendidikan tinggi, pandai berbahasa Arab dan Belanda). Di buku-buku itu terdapat penggalan-penggalan cerita dunia dan pengetahuan menarik yang segera memikat Molek. Dengan tekun dia mempelajarinya. Jika tidak mengerti, dia akan menanyakannya pada Mang Zein. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam asyik membicarakan isi buku-buku itu. Molek segera menyadari bahwa dia telah mendapat terlalu banyak dan belajar terlalu jauh dari yang seharusnya diketahui seorang wanita di zamannya.
Hal itu membuat Mbuk dan Nyai kesal. Menurut mereka, wanita yang terlalu pandai akan menyusahkan suami. Mbuk lebih suka Molek belajar memasak, menjahit, atau menenun. Semua lebih berguna jika dia disunting orang. Semua yang akan membuat suaminya senang dan mertua makin sayang.
Penulis: Lisa Andriy


