Pintu lift terbuka, Orien melangkah masuk dan terkejut. Sebuah ponsel tergeletak di lantai lift. Tidak ada orang lain di dalam lift itu. Sampai pintu lift tertutup, tidak ada penumpang lain yang ikut masuk. Orien sendirian. Jadi, tentulah ponsel itu milik penumpang lift sebelumnya.
Orien meneliti ponsel itu. Bukan ponsel murahan, meski bukan pula yang termahal. Bukan soal harga. Tapi, lebih pada data yang ada di dalamnya. Kehilangan ponsel di zaman sekarang pasti sangat merepotkan. Sim card di dalamnya menyimpan banyak hal, yang merupakan perpanjangan telinga, tangan, kaki, dan banyak hal lain.
Orien menggenggam ponsel itu hati-hati. Akan disimpannya dengan baik, sebelum menemukan pemiliknya. Orien tahu pemiliknya pasti akan menghubungi nomor ponsel ini sebentar lagi.
Dugaan yang tepat. Ponsel itu berdering. Orien menerimanya.
”Selamat pagi. Saya Baron, pemilik ponsel ini,” sebuah suara menyapa sopan. ”Maaf, dengan siapa saya bicara?”
Orien menyebutkan namanya.
”Terima kasih telah menemukan ponsel ini. Saya terlalu terburu-buru pagi ini sehingga tidak tahu di mana saya letakkan ponsel itu.”
”Di lift,” Orien menjelaskan.
”Lift? Astaga, pastilah itu karena tadi saya membetulkan tali sepatu yang lepas. Untunglah kau menemukannya.”
”Kantorku di lantai tujuh. Kau bisa mengambilnya sekarang?”
”Ada meeting yang tidak bisa saya tunda pagi ini. Tidak berkeberatan untuk menyimpannya sampai siang nanti?”
”Baiklah,” kata Orien, setuju. Apa sulitnya menyimpan sebuah ponsel? Orien pun meletakkannya di laci.
”Terima kasih. Satu permintaan lagi, boleh kutahu nomor ponselmu? Baterai ponselku itu sudah hampir habis. Jadi, sebentar lagi pasti mati. Tak bisa dipakai lagi untuk menghubungimu.”
Orien berpikir sesaat. Bukan hal mudah memberikan nomor telepon pada sembarang orang. Apalagi, orang yang baru saja dikenalnya. Tapi, suara santun itu sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan. Lagi pula, bukankah dia punya alasan tepat? Baiklah. Orien menyebutkan nomornya.
Benar juga. Sesaat kemudian ponsel itu menyalakan sinyal merah dan tidak bertahan lagi.
Selepas makan siang, ponsel itu kembali pada pemiliknya. Seorang manager perusahaan keuangan di lantai lima belas.
”Tuhan berbaik hati padaku hari ini,” kata Baron, sembari menjabat tangan Orien.
”Oh, ya? Mengapa?”
”Karena mengirim dirimu untuk menemukan ponselku.”
”Siapa saja bisa menemukan ponsel itu,” Orien heran.
”Kau menyimpan ponsel ini dengan baik dan mengembalikannya padaku tanpa syarat. Suatu hal yang mungkin tidak akan dilakukan orang lain.”
”Ah, praduga buruk,” bantah Orien. ”Masih banyak orang baik di dunia ini.”
”Tidak banyak,” Baron menggeleng. ”Tapi, aku beruntung menemukan salah satu di antaranya hari ini. Terima kasih.”
Orien mengangguk. ”Terima kasih kembali. Lain kali, lebih berhati-hatilah.”
May meredupkan lampu kamar.
”Kau harus membangunkanku lebih pagi besok,” kata suaminya, sebelum beranjak tidur.
”Mengapa?”
”Aku terlambat lagi tadi pagi dan nyaris kehilangan ponsel.”
”Sudah kulakukan itu setiap pagi, tapi kau selalu lelap bak bayi, dan meminta lima menit tambahan. Kenyataannya, lima menit tambahanmu itu bisa berarti berpuluh-puluh menit.”
”Ah, maklumilah. Lelap tidur di pagi hari itu kenikmatan yang luar biasa mewah,” suaminya membela diri.
”Kalau begitu, sepadanlah kalau ponselmu hilang sebagai pembayarnya,” kata May, santai.
”Masalahnya, aku cuma punya 1 ponsel. Atau, kau akan membantuku menemukannya kembali setiap aku kehilangan ponsel?”
”Aku bukan petugas lost and found. Tuhan pasti mengirim penolong lain untukmu.”
Pria itu tertegun. Kata-kata May mengingatkannya pada seseorang.
”Apakah kau ’melihat’ penolong itu?” tanyanya kemudian, penuh rasa ingin tahu.
”Tidak.” May menggeleng, menatap suaminya sesaat, seakan melihat sesuatu. ”Mengapa? Apakah terjadi sesuatu?”
”Seperti yang kau katakan, kau benar soal penolong itu. Ponselku tertinggal di lift dan seseorang menyimpankannya untukku.”
”Itu artinya, Tuhan berbaik hati padamu. Tapi, tidak setiap hari.”
”Apakah itu artinya kau sedang mencoba mengatakan, bahwa suatu kali nanti, kemalasanku bangun pagi harus kutanggung sendiri?” tanya Baron, tersenyum.
May tertawa. ”Tepat. Kau sungguh suami yang cerdas. Lain kali, lebih berhati-hatilah.”
Pria itu tertegun. Kalimat itu, telah didengarnya tadi pagi. Dua orang yang berbeda telah mengatakan sebaris kalimat yang sama persis untuknya hari ini. Sesuatu yang tidak biasa. Hari ini sungguh sebuah hari yang tidak biasa.
Sebuah hari yang lain
Kehilangan ponsel bukanlah pengalaman menyenangkan, bahkan mengakibatkan sesuatu yang runyam. Sim card di dalam ponsel menyimpan data yang sangat tidak sepele. Baron bukan tipikal pria bebal. Maka, dia tidak ingin mengulang lagi pengalaman itu. Maka, hari itu dengan sepenuh daya diupayakannya untuk bangun tepat waktu. Hanya sekali weker berbunyi, ia bangun.
Bangun lebih awal dari biasanya, selalu menyediakan waktu untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari biasanya. Begitu pun Baron. Ketika jarum jam tidak mengejarnya, dan segala sesuatu tidak perlu dilakukan dengan terburu, ada banyak hal melintas perlahan dalam ingatannya. Salah satu di antaranya adalah membuatnya melakukan sesuatu.
Baron meraih ponsel. Diketiknya sebaris kalimat pendek, dicarinya sebuah nama pada barisan buku alamat, lalu dikirimnya pesan pendek itu. Sesaat kemudian, ditenangkannya diri menunggu sesuatu. Menunggu jawaban.
Orien masih berpusar pada rutinitas paginya, ketika sinyal ponsel berbunyi, menandakan ada pesan pendek yang masuk. Sebaris nomor berjajar di layar. Nomor pemilik ponsel yang hilang tempo hari.
Orien membaca pesan pendek itu, ‘Selamat pagi’.
Ah, sebuah sapaan yang bersahabat, gadis itu berpikir sesaat. Ketika seseorang menyapa, bukankah tak layak untuk mengabaikannya?. Betapapun sederhana sapaan itu, semestinya, demi etika sopan santun, tetaplah layak mendapat balasan. Lalu, diketiknya sebaris balasan, ’Selamat pagi juga’.
Beberapa saat kembali ponselnya menghadirkan pesan pendek. ’Hari ini kukirim sesuatu ke kantormu. Itu untukmu. Terimalah.’
Kening Orien berkerut. Kiriman apa? Sesuatu sebagai ucapan terima kasih? Jemari Orien bergerak mengetik sebaris pesan. ’Terima kasih. Tapi, sebaiknya tidak. Kau tidak perlu repot melakukan itu.’
Pesan pendek itu berbalas lagi. ’Sama sekali tidak repot. Katamu, masih banyak orang baik di dunia ini. Dengan melakukan sesuatu untukmu, aku berharap menjadi salah satu di antaranya. Jadi, terimalah.’
Orien tersenyum. Bandel betul orang ini, pikirnya, sembari angkat bahu. Agaknya tipikal pria yang tak terbantah. Sekali merencanakan sesuatu, itulah yang dilakukannya. Baiklah, terserah apa maunya. Ia tak membalas pesan itu.
Ketika Orien sampai di meja kantornya pagi itu, sebuah kotak roti menyambutnya. Croissant keju berlapis tomat dan selada, plus segelas jus jeruk. Menu sehat yang memunculkan rasa lapar.
Segera ditulisnya sesuatu di ponselnya. ’Terima kasih sarapannya. Tapi, dengan memberikan pada mereka yang lebih memerlukan akan menjadikanmu seseorang yang lebih baik.’
Menit berikutnya ponselnya berdering membawa jawaban. ’Siapakah yang menurutmu ’lebih memerlukan’ itu?’
’Mereka yang bahkan tidak tahu, apakah ada beras tersisa untuk dimasak hari ini.’
’Baik, temani aku melakukan sesuatu untuk mereka suatu hari nanti.’
’Oke.’
Orien tersenyum, menyadari, baru kali ini ia secepat itu membuat kesepakatan dengan seorang sahabat baru.
Hari berikutnya, Orien baru saja membuka mata di awal pagi, ketika ponselnya memberi tanda adanya sebuah pesan baru. ’Selamat pagi, apakah aku membangunkanmu?’
Dalam remang cahaya pagi Orien menuliskan jawabannya. ’Ya, terima kasih telah membangunkanku. Selamat pagi juga.’
’Sarapan apa pagi ini?’
’Jangan kirim sarapan lagi. Ibu sudah memasak untukku.’
’Tentu tidak. Kukirim sesuatu yang lain.’
Apa lagikah itu? Orien menyimpan rasa penasaran. Akan segera ditemukannya sesuatu itu sebentar lagi.
Serumpun anyelir merah magenta menunggu di meja kerjanya.
”Kurasa, kau tidak sedang berulang tahun hari ini,” kata seorang teman, sembari menyentuh bening embun di helaian daun anyelir itu.
”Memang tidak.”
”Jadi, dalam rangka apa anyelir ini datang padamu hari ini?”
”Entahlah,” Orien angkat bahu. Apakah harus ada alasan untuk mendapatkan anyelir secantik ini?
”Tentu bukannya tanpa alasan seseorang mengirim bunga untukmu,” tatap mata temannya menyelidik.
”Ah, mungkin dia hanya ingin berbaik hati.”
”Dia? Siapa?” kerling mata temannya tampak makin ingin tahu.
Orien tertegun. Tersadar bahwa temannya melihat sesuatu yang tak biasa. Mendadak, rona dadu meremang di kedua belah pipinya. Dengan segera dia berkelit, menyibukkan diri dengan pekerjaannya, menghindar dari penyelidikan lebih lanjut teman-temannya. Tapi, hatinya berdebar-debar.
Dikirimnya pesan pendek ucapan terima kasihnya. ’Bunganya cantik sekali, aku suka. Terima kasih.’
Tak lebih dari lima menit, ponselnya bergetar membawa balasan. ’Tidak kutahu bunga apa yang kau suka. Aku khawatir salah pilih.’
’Pilihanmu tepat. Sangat mengesankan.’
’Sungguh? Andai aku serupa bunga itu, berkesan bagimu....’
’Tentu, kau seorang yang mengesankan.’
’Benarkah? Sepagi ini kau membuatku kangen.’
’Senangnya bisa membuat seseorang kangen.’
Debar aneh mendadak memenuhi dinding rongga hati gadis itu. Berdentam-dentam, memunculkan gerak hati yang tak biasa. Menghadirkan bayang-bayang yang samar. Bayang-bayang seseorang. Mendadak lamunannya berhenti. Ponselnya bergetar membawa sebaris pesan.
’Akan lebih mengesankan kalau bisa menikmati pagi bersamamu Ada sarapan enak di Spring Morning. Kutunggu besok di sana?’
Orien ragu sesaat. Hanya sesaat. Karena kemudian jemarinya bergerak menyusun huruf-huruf berbaris di ponselnya dan mengirimnya sebagai pembawa jawaban. Semua dilakukannya bagai gerak refleks, nyaris tanpa berpikir. Sesaat dengan terkejut, dibacanya ulang baris jawaban itu.
’Ya. Aku akan datang.’
Astaga. Betulkah itu jawaban yang dibuatnya? Sungguhkah diinginkannya juga pertemuan itu?
Tapi, pertanyaan dan keterkejutan itu tak mampu meredakan gerak jemarinya, dan tanpa tercegah lagi, jemarinya kembali bergerak menekan tombol ’Send’. Terkirimlah pesan itu dengan sempurna.
cerita selanjutnya >>
Penulis : Sanie B. Kuncoro


