Fiksi 

Marissa [10]

 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Bagian :  
Femina Fiksi
<< cerita sebelumnya

Dokter itu menyarankan agar dirinya rajin melakukan kontrol untuk memulihkan kesehatannya dengan segera. Tetapi, Marissa atau Delia tidak pernah kembali kepada dokter itu. Ia mengendalikan penyakitnya dengan terus minum obat yang dibelinya melalui pasar gelap. Ia mencemaskan keadaan akan  makin memburuk, jika  makin banyak orang tahu akan penyakitnya.
Dan, apa yang ditakutkannya itu terjadi. Siapa pun tidak akan pernah melupakan kejadian siang itu saat Satya menjatuhkan vonis atas Delia.

Kuusap wajahku dan mendadak tubuhku lemas menyadari kisah yang kurangkai tadi. Saat kuluruskan punggungku, kulihat Satya berjalan cepat ke arahku. Aku harus mengatakan semua teori ini padanya.

“Kau masih di sini?“ tanyanya, biasa saja.

Aku hanya mengangguk. Satya kemudian melongok ke dalam melalui jendela yang terbuka. Ia tidak berkata apa-apa selain duduk di sisiku. menyebarkan aroma Bvlgari yang menjadi favoritnya. Sesaat kemudian aku menanyakan tanggal lahirnya. Dengan separuh heran ia menjawabnya: 5 Juni.

“Aku akan menunjukkan keajaiban tanggal 5 Juni padamu.“

Satu per satu berkas ijazah palsu itu kuberikan kepadanya. Foto lama Stasiun Yogya yang sama tergantung di dinding ruang kerja ayahnya dulu juga membuatnya kelihatan terkejut. Belum lagi ketika sepasang buku nikah kubuka untuknya, dan terakhir yang membuatnya terdiam lama: salinan akta kelahiran atas namanya.

Keheningan menyekap kami dari segala arah beberapa  saat lamanya. Aku bersandar lelah, benar-benar lelah setelah beberapa hari bekerja keras untuk mencari keluarga Delia. Ya, aku memang berhasil menemukannya. Ternyata, ia begitu dekat denganku.

“Jadi, kaupikir...  mereka ini...,“ suara Satya menggantung, kedengarannya tidak yakin dan lemah untuk seorang yang keras dan otoriter seperti dirinya. Aku mengangguk tegas. Satya tampak bimbang.

“Sama. Satu orang yang sama untuk tiga masa yang berbeda.“

“Tapi, bagaimana mungkin ini terjadi. Bagaimana ia bisa begitu kejam?“ ia memandangku tak mengerti.

“Untuk seorang wanita yang sudah menyerahkan segalanya dan berjuang habis-habisan untuk mendapatkan cintanya.“

Kemudian aku mengulang cerita penemuanku di apartemen Delia. Bagaimana aku mencari data pada malam itu. Lalu tentang pembicaraanku dengan Bu Maryam. Aku juga menghubungkan dengan kisah tragis dua sekretaris yang malang itu. Kupertegas dengan analisis Dokter Aulia dan bukti billing statement yang menyatakan adanya tindakan atas wajah wanita itu. Dan SMS-SMS itu. Satya menarik napasnya dalam-dalam.

“Jika semua ini benar, apa yang diinginkannya dariku?“ tanyanya, ragu.

“Rasa aman,“ jawabku, santai.

Ya, hanya itu yang diharapkan Delia atau Nadia atau Marissa. Rasa aman untuk menjamin hari tuanya. Ia sudah gagal memperoleh kebahagiaan dalam merebut kembali Pak Yudha. Sekalipun segala cara sudah dilakukannya, ia tidak dapat meraih cinta yang dulu pernah membahagiakannya. Harga sebuah cinta sejati tidak dapat dinilai dari bentuk dan keindahan fisik yang diperjuangkannya habis-habisan. Hanya ketulusan yang dapat menjaga sebuah cinta menjadi abadi. Seperti yang dilakukan Pak Yudha terhadap istrinya yang rapuh.

Satya termenung dalam waktu yang lama. Mungkin ia sedang berpikir keras mencerna apa yang barusan kusampaikan. Berkas-berkas itu aku ambil kembali, lalu kumasukkan ke dalam ransel. Seorang perawat datang kepada kami dan mengatakan bahwa Delia kembali gelisah. Kami bergegas masuk untuk melihat keadaannya.

Wanita itu terbaring dengan kedua tangannya terikat pada tepi ranjang. Mungkin ditujukan agar ia tidak mencakari wajahnya lagi seperti sebelumnya. Ia memperhatikan kami tanpa ekspresi apa pun saat melihat kami masuk. Padahal, aku berharap ia akan berteriak histeris melihat kedatangan Satya.

Kengerian menapaki diriku melihat bilur luka yang  makin merah dan bengkak. Mungkin, karena ia menderita diabetes, membuat lukanya tak kunjung kering. Wajah Delia makin lama membulat seperti bola yang mau meletus. Sekalipun naif, aku khawatir kalau-kalau wajah Delia akan robek.

Robek? Apakah itu yang diinginkan Delia? Merobek wajahnya saat ini untuk memperoleh wajah lamanya kembali? Dengan keterbatasan kemampuan otaknya dalam menggali memori yang perlahan-lahan menghilang dari dalam benaknya, apakah ia ingin sekali saja melihat dirinya yang pernah dikenalinya dulu? Bukan sebagai siapa-siapa, tapi sebagai seorang Marissa saja.

Satya bergeming, wajahnya datar tanpa ekspresi dan kelihatan menjaga jarak. Sekarang aku mengerti, aku tahu dari mana ia memperoleh sikap yang demikian tidak berperasaan.

Delia makin gelisah, ia meronta-ronta di atas ranjangnya sambil terus meminta cermin. Satya membisu. Kuhela napasku dalam-dalam. Aku memberanikan diri untuk menyapanya agar teoriku sejauh ini memberikan bukti yang nyata.

“Apa kabarmu, Marissa?“ sapaku, hati-hati.

Delia tersentak. Kelihatan kalau ia terkejut mendengar panggilanku. Sesaat kemudian ia menoleh perlahan ke arahku. Tanpa sadar aku mundur selangkah. Perutku mulas melihat caranya memandangku dengan aneh. Jantungku berdegup kencang. Bibirnya yang kering bergerak dengan sedikit gemetar.

“Kau menemukanku,“ suaranya terbata, seperti sedang mengeja. Terdengar asing di telingaku, seperti bukan suara manusia biasa. Bola matanya berputar dengan sorot yang membuatku meradang oleh rasa takut yang mendadak datang.

Aku mengerti mengapa namaku tercantum dalam ponselnya. Itu bukanlah suatu kebetulan, tetapi memang telah direncanakannya! Aku adalah orang yang akan menggantikan kedudukannya sebagai sekretaris yang diharapkan Satya. Aku adalah TO berharga Rp15 juta itu, yang harus dieliminasi seperti Tere dan Luisa!

Aku terjajar ke belakang. Kakiku goyah oleh rasa ngeri. Wanita itu mulai tersenyum. Makin lama senyum itu makin melebar sehingga giginya kelihatan dan wajahnya  makin mengerikan. Lalu ia tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang membuat bulu kuduk meremang.  

Satya menarik tanganku untuk segera berlalu dari situasi yang mencekam itu. Wajahnya pucat, bibirnya terkatup rapat. Aku terseok-seok mengikutinya dari belakang. Tangannya terasa dingin dan gemetar dalam genggamanku. (tamat)

Penulis: Shanty Dwiana

Bagian :  


 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Poling

Enaknya di Pusat Kota
Bagi Anda yang tinggal di suburban Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, apa yang paling Anda rindukan dari tinggal di pusat kota Jakarta?

Tempat hiburan yang lengkap (Mal, Pub, Cafe, dan Resto)
Fasilitas yang serba ada
Lingkungan atau pergaulan sosial Anda
Jarak yang dekat untuk ke pusat Kota

Topik Hari Ini
Lady Gaga Batal Konser
Lady Gaga batal konser di Jakarta. Komentar Anda?
KOMENTAR
22 May 2012 - Festisyamsir
Saya setuju digagalkan karena Panitia baru mengajukan izin tgl 4 Mei dan mereka hanya berpatokan mengambil keuntungan tanpa mau melihat dampaknya. Pemerintah sudah memberikan izin ke Katty Pery, Tina Tunner, Rihanna, dll.Penolakan juga cuma bukan di  ...
22 May 2012 - melisharouslyn07252
      Aku emang ga familiar sama iluminati, Lady Gaga banyak yang klaim dia banyak mengunakan simbol iluminati ( sering menampikan simbol2 dari iluminati/ freemanson community : segitiga, mata satu- dajjal- dewa ra-mesir), dan bap ...
22 May 2012 - melisharouslyn07252
      Aku emang ga familiar sama iluminati, Lady Gaga banyak yang klaim dia banyak mengunakan simbol iluminati ( sering menampikan simbol2 dari iluminati/ freemanson community : segitiga, mata satu- dajjal- dewa ra-mesir), dan baphomet ...



Majalah Femina  Edar 
Wednesday, 16 May 2012