Fiksi 

Laron Jakarta [8]

 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Bagian :  
Femina Fiksi
<< cerita sebelumnya

“Jay tidak akan kembali lagi ke kantor itu. Ia menjadi konsultan karena ingin terus memantaumu. Jika tidak, mungkin ia akan tolak tawaran direktur itu. Sudahlah, terserah kamu, aku yakin kamu bisa melihat mana yang terbaik. Aku pulang dulu, badanku letih sekali.”

Kubiarkan Karen pulang. Kuambil telepon genggam dan kuhubungi Jay. Pasti dia ada di tempat ini dari tadi. Kenapa aku tak melihatnya?

“Aku sembunyi di meja sebelah sana. Maaf, semua yang dikatakan Karen adalah benar. Kamu kupersilakan marah, tapi tolong jangan tinggalkan aku.”

“Nanti sore Don mengajak aku bertemu dengan direktur,” balasku, tanpa berusaha romantis.

“Oh. Kalau begitu, apa yang sempat dia minta pada kamu jadikan bumerang baginya. Itu saja. Gampang, ‘kan? Aku dukung kamu dari belakang.”

Sampai di kantor langsung kutemui Siska. Hari ini dia memakai baju gado-gado lagi. Kasihan juga, tampaknya aku harus membelikan majalah mode.

“Maaf, Mbak, kalau bukan karena Mbak Karen, tentunya aku tak akan sadar,” katanya.

“Sudahlah. Yang penting kamu tahu siapa aku dan aku tahu siapa kamu sebenarnya. Hal itu adalah syarat untuk menjadi teman,” balasku.

Siska tersenyum senang. Menyenangkan juga berteman dengannya. Setidaknya, nasibnya mirip denganku.

Karierku ditentukan sore ini, aku harus memikirkan langkah terbaik. Aku tidak mau menyerah, aku harus mempertahankan posisiku. Setidaknya, Jay berjanji untuk menolongku. Semoga saja dia telah menelepon direktur.

Sore tiba dan aku merinding menghadapinya. Berdua Don aku masuki ruangan direktur. Ada senyum di bibir pria tua itu untukku, sangat sekilas, tapi bisa dilihat dengan jelas. Apakah ini tanda-tanda kemenanganku?

Basa-basi dimulai. Tak lama kemudian, Don bersiap memberikan laporannya. Aku tidak mau kalah, aku harus mendahuluinya.

“Maaf, jika saya merusak suasana. Di hadapan Pak Direktur dan Pak Manajer, hari ini saya menyatakan bahwa saya ingin mengundurkan diri. Tolong jangan ditanya alasannya.”

Kulihat direktur tersenyum. Don panik.

“Baiklah, kami pikirkan dulu. Silakan kembali ke mejamu.”

Aku keluar tanpa melirik ke arah Don. Entahlah, rasanya mual kalau melihat wajahnya. Tapi, kenapa direktur tidak menahanku? Apakah dia tidak melihat jerih payahku selama ini? Berapa iklan yang telah kubuat dan berbuah sukses. Segampang itukah? Apakah Jay telah menelepon direktur dan menyarankan agar menerima pengunduran diriku? Tapi, bukankah Jay tidak tahu apa yang akan kukatakan tadi.

Ah, kuberesi saja mejaku. Terserahlah, aku harus menerima jika memang aku diizinkan untuk mengundurkan diri. Apa yang kulakukan setelah itu? Menjadi istri yang baik? Tidak akan. Aku akan mencari pekerjaan lain. Setidaknya, aku keluar bukan karena kasus, jadi untuk apa takut kalau tidak akan mendapatkan pekerjaan baru.

Don sudah kembali dari ruang direktur. Dia langsung ke mejaku. “Kau dipanggil...,” katanya, sambil berlalu.

Kenapa aku dipanggil? Apakah aku harus memberikan kesaksian seperti rencana Don? Apakah pengunduran diriku diterima?

Aku masuki kantor itu dengan hati-hati. Pria tua itu tersenyum.

“Pengunduran dirimu sebagai tim kreatif senior saya terima....”

Wah, habis sudah karierku di kantor ini. Sudahlah....

“Namun, saya tidak menerima pengunduran diri kamu dari perusahaan ini. Ya, saya anggap kamu adalah sosok istimewa. Hasil kerjamu sangat bagus.”

“Maksud Bapak?”

“Gantikan Don dan cari wakilmu!”

“Tapi, Pak....” Ingin sekali kukatakan bahwa aku masuk ke perusahaan ini gara-gara Jay.

“Ini perintah!”

Aku keluar dari ruang direktur dengan perasaan yang mengerikan. Bayangkan saja, aku tidak bisa menerjemahkan perasaan itu.

“Selamat, ya, Bu Manajer!” teriak Beno.

Aduh, kenapa begitu cepat tersebar. Kulihat seluruh rekan kerja berdiri dan memberikan selamat. Kudekati Siska, “Kenapa semuanya tahu?” tanyaku.

Siska tidak menjawab, dia hanya menunjuk alat pengeras suara yang ada di sudut ruangan sebelah atas. Jadi, direktur membiarkan perbincangan tadi didengar seluruh pegawai.

“Tampaknya, aku pantas jadi wakilmu, Nad,” ujar Beno, sambil berbisik.

Aku tertawa. Tidak akan, Ben.

Kulirik Siska, menarik juga. Tapi, tidak akan kujadikan wakil. Dia masih terlalu muda di kantor ini. Dia masih harus banyak belajar. Siska kutempatkan saja di mejaku, kurasa itu sudah cukup.

Jadi siapa? Siapa yang akan kujadikan wakilku? (tamat)

Penulis: Muram Batu


Bagian :  


 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Poling

Enaknya di Pusat Kota
Bagi Anda yang tinggal di suburban Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, apa yang paling Anda rindukan dari tinggal di pusat kota Jakarta?

Tempat hiburan yang lengkap (Mal, Pub, Cafe, dan Resto)
Fasilitas yang serba ada
Lingkungan atau pergaulan sosial Anda
Jarak yang dekat untuk ke pusat Kota

Topik Hari Ini
Lady Gaga Batal Konser
Lady Gaga batal konser di Jakarta. Komentar Anda?
KOMENTAR
22 May 2012 - Festisyamsir
Saya setuju digagalkan karena Panitia baru mengajukan izin tgl 4 Mei dan mereka hanya berpatokan mengambil keuntungan tanpa mau melihat dampaknya. Pemerintah sudah memberikan izin ke Katty Pery, Tina Tunner, Rihanna, dll.Penolakan juga cuma bukan di  ...
22 May 2012 - melisharouslyn07252
      Aku emang ga familiar sama iluminati, Lady Gaga banyak yang klaim dia banyak mengunakan simbol iluminati ( sering menampikan simbol2 dari iluminati/ freemanson community : segitiga, mata satu- dajjal- dewa ra-mesir), dan bap ...
22 May 2012 - melisharouslyn07252
      Aku emang ga familiar sama iluminati, Lady Gaga banyak yang klaim dia banyak mengunakan simbol iluminati ( sering menampikan simbol2 dari iluminati/ freemanson community : segitiga, mata satu- dajjal- dewa ra-mesir), dan baphomet ...



Majalah Femina  Edar 
Wednesday, 16 May 2012