Fiction
Larasati [7]

12 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Larasati memulai lembar baru dalam kehidupannya. Ia dan Galuh pindah ke rumah baru yang lebih sederhana. Menyandang status janda tidak membuatnya berbeda. Mengapa orang di lu-ar sana begitu sibuk mempergunjingkan status yang satu itu? Sementara bagi Larasati, kehidupan barunya ini telah membuatnya menemukan dirinya, kekuatannya, dan tujuan hidupnya. Kecuali, satu hal yang masih mengganjal pikiran Larasati. Ibunya belum juga mau bicara dengannya.

Teman-teman guru dan murid-muridnya di sekolah sudah kembali normal. Mereka tak lagi memandangnya sebagai makhluk luar angkasa yang jatuh ke bumi. Kecuali Winata, yang makin jarang bicara dengannya dan lebih suka menghindar. Semua mata penghuni sekolah tak lagi tertuju kepada Larasati, tetapi kepada Wulan, murid primadona yang digosipkan menyambi sebagai gadis penghibur.

“Bagaimana pendapat Pak Winata mengenai gosip tentang Wu-lan?” tanya Larasati, seraya menghampiri meja Winata.

Winata tampak terkejut. Ia tidak dapat menghindari Larasati seperti biasanya.

“Saya tidak percaya Wulan seperti itu. Dia cantik, pandai, dan berbakat di segala bidang. Mungkin saja teman-temannya iri, lalu menyebar fitnah.”

Winata mengangguk-angguk.

“Pak Winata tidak seperti biasanya.”

“Ehm... tidak ada apa-apa, Bu. Hanya… ah, Ibu mendengar gosip yang sedang berkembang di sekolah,’kan?”

Larasati mengerutkan dahinya.

“Karena saya terlalu peduli, mereka menuduh saya pernah bermain dengan Wulan.”

“Oh, itu. Biarkan saja Pak, yang penting Bapak tidak melakukannya. Ya, ‘kan? Atau, takut pada istri Bapak?”

Winata menghela napas. “Saya belum beristri, kok, Bu.”

“Oh, maaf, Pak. Saya tidak tahu.”

“Saya harus bersiap-siap mengajar. Lain kali kita bicarakan lagi.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih.”

Winata segera meninggalkan ruang guru. Debar di dadanya makin menjadi.

Pintu ruang BP diketuk dari luar. Larasati mempersilakan si pengetuk pintu masuk. Sekolah ini tak menyediakan guru BP secara khusus. Karena itu, Larasati dan Winata merangkap sebagai guru BP. Larasati tak bisa mendiamkan kasus ini menjadi bahan pergunjingan berkepanjangan. Semua harus segera jelas.

“Silakan duduk!” kata Larasati, tersenyum.

Murid perempuan bernama Anis itu tampak takut-takut.

“Jangan takut, aku hanya membutuhkan sedikit informasi tentang Wulan. Kau mengenalnya, bukan? Apalagi, kalian sebangku,” kata Larasati, langsung pada pokok masalah.

Anis mengangguk. “Apa yang ingin Bu Laras ketahui?”

“Mungkin kau tahu sesuatu untuk menjernihkan masalah yang menimpa Wulan akhir-akhir ini?”

“Saya tidak tahu apa-apa, Bu.”

“Begini Anis, Ibu hanya ingin semua masalah menjadi jernih. Jangan sampai gosip ini menjadi fitnah yang keji. Dengan informasimu, mungkin kita bisa membantu Wulan keluar dari pergunjingan ini.”

“Tetapi…tetapi,” Anis menghentikan kata-katanya. Menatap Larasati lama.

“Ibu akan menjaga kerahasiaanmu. Dan ingat, semua ini kita lakukan semata-mata untuk menolong Wulan.”

“Saya setiap malam belajar bersama Wulan, karena rumah kami berdekatan. Selalu saja ada seorang pria yang datang ke rumah untuk menjemput Wulan setiap malam.”

“Mungkin saudaranya?”

Anis menggeleng. “Bukan. Wulan hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sakit. Wulan tidak memiliki saudara.”

“Ibunya sakit apa?”

“Sakit jiwa.”

Larasati terkejut. Apa yang terjadi dalam kehidupan Wulan?

“Mungkin kau tahu hal lain?”

“Tidak, Bu, hanya itu yang saya tahu.”

Larasati mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja. Pikirannya melayang ke Wulan. Gadis itu begitu muda dan cantik. Cerdas dan berbakat di segala bidang. Tidak hanya sekali dua kali ia merebut gelar kejuaraan dari berbagai bidang perlombaan. Pialanya berjajar, memperbaiki reputasi buruk sekolah ini. Melihat Wulan, Larasati seperti melihat dirinya di masa remaja.

“Bu, boleh saya kembali ke kelas? Sebentar lagi ada ulangan kimia.”

Larasati tersentak dari lamunannya yang sekejap. “Oh, baiklah. Terima kasih atas informasimu, Anis. Lain kali, kalau Ibu membutuhkan informasi lagi, kau bersedia?”

Anis mengangguk, tersenyum, dan melangkah meninggalkan ruang BP.

Apa yang telah terjadi dalam kehidupan Wulan? Per­mainan hidup seperti apa yang sedang dijalani gadis muda itu? Benarkah ibunya sakit jiwa? Larasati tak henti memikirkan muridnya yang cantik itu. Bahkan, ketika siang ini ia berjalan-jalan untuk belanja berbagai keperluan rumah bersama Galuh, Larasati teringat Wulan. Apa yang dilakukan Wulan pada hari Minggu seperti ini?

“Mama, kita makan es krim di situ, yuk!” ajak Galuh, ketika melihat kafe yang menawarkan beragam es krim.
Larasati menuruti ajakan anaknya. Tetapi, ia sangat kaget ketika duduk di salah satu bangku kafe dan memesan dua cup es krim. Tak sengaja matanya melihat meja pojok. Di meja pojok itu tampak seorang gadis dengan wajah lebam dan rambut berantakan, sedang menunduk di hadapan pria berwajah dingin.

“Ini bayaranmu!” kata pria itu mengangsurkan segepok uang. “Dan lain kali, aku tidak mau melihatmu bersikap seperti anak kecil!”

Gadis itu masih menunduk. Membiarkan pria berwajah dingin di depannya meninggalkan kafe tanpa salam perpisahan. Larasati melihat gadis itu dengan saksama. Rasanya ia tak salah lihat. Bukankah gadis itu Wulan? Apa yang sedang terjadi padanya?

Larasati bangkit dari duduknya. Sebelum Larasati sampai di meja pojok, tiba-tiba tubuh Wulan melorot dari kursinya. Ia pingsan. Larasati dan pelayan berlari menghampiri meja Wulan. Setelah meneliti gadis itu, Larasati yakin bahwa dia memang Wulan.

“Saya mengenal gadis ini. Tolong, bantu saya membawanya ke mobil. Saya akan membawanya ke rumah saya,” kata Larasati, kepada para pelayan.

“Siapa dia, Ma?” tanya Galuh, berlari-lari kecil di samping Larasati.

“Murid paling pintar di sekolah Mama, Sayang.”

Setelah membayar tagihan es krim dan makanan di meja Wulan, Larasati membawa Wulan ke rumahnya.


Penulis: Tary


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?