Fiksi 

Kuping Gajah [1]


 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Kuping Gajah [1] Femina



“Kita bawa pulang bunga ini ke rumah, Dav,” cetusku seraya jongkok, hendak mencabut pokok bunga yang tumbuh sendirian di antara semak dan rerumputan yang lebat.
“Buat apa, sih? Di Jakarta kan banyak,” kata Dave. Tapi, aku terus berjongkok memandangi bunga jenis kuping gajah itu, membelai-belai bunga yang bernama Latin Anthurium crystallinum itu. Lantas menoleh memandang Dave dengan tatapan kesal, “Bunga ini indah sekali, sayang tumbuh di sini, tak ada yang menikmati keindahannya.”
“Indah apanya? Bikin repot saja,” Dave hanya melirik.
“Aku yang akan membawanya, Dav. Bukan kamu,” sergahku. Tanganku mulai bergerak menyibak rumput di sekitar bunga itu. Sisa embun di rerumputan membasahi tanganku yang bersemangat mencabuti rumput.
“Jangan, Wi. Lagi pula, bukankah sudah lama kita tak butuh rumah,” ulang Dave, dengan tekanan pada kata ‘butuh.’ Gerakan tanganku yang bersiap mencabut, terhenti.
“Dav, kamu kenapa, sih? Aku cuma ingin membawa bunga ini. Kita kan masih punya rumah, walaupun kita jarang butuh pulang ke rumah.”
“Buat apa, Wi? Cuma kuping gajah, tetangga juga banyak yang punya.”
“Ini beda, Dave.”
“Apanya yang beda?”
“Aku mencabut dengan tanganku sendiri langsung dari hutan. Itu yang membedakannya.”
“Memangnya kenapa kalau kamu mencabut langsung?”
“Pokoknya beda,” kataku, sengit. Aku jongkok lagi, membelai-belai daunnya yang lebar itu.
“Cabutlah, aku tinggal kamu di sini,” kata Dave, sembari melangkah meninggalkanku.
“Dave….”
“Ayolah, Wikan. Nanti di rumah aku belikan yang banyak.” Dave mengalihkan isu tentang rumah. Ya, rumah, sebuah tempat yang kami tinggali bersama, namun tidak pernah mampu menyatukan hati kami. Kami selalu sibuk dengan kegiatan dan urusan masing-masing. Di sana, kami seperti sepasang tamu yang tersesat dan frustrasi, hampir tiga tahun terakhir.
“Kamu egoistis, Dave. Tak pernah berubah.” Aku bergeming, pura-pura tak peduli. Tetap berdiri memandangi bunga. Dave tak menghiraukanku dan terus melangkah. Tapi, tak lama kemudian menghentikan langkahnya.
“Ini memang hanya bunga kuping gajah. Tapi sungguh, aku ingin membawanya pulang,” gumamku.
“Dasar perempuan! Egoistis dan sok tahu!”  Dave bersungut-sungut.

Dasar laki-laki, selalu menuduh perempuan egoistis untuk menutupi keegoisan dirinya yang jauh lebih besar. Mereka tidak pernah bisa terima jika melihat perempuan bisa lebih pintar di hadapan laki-laki. Laki-laki merasa dikalahkan bahkan untuk persoalan kecil seperti memilih corak lantai, warna cat, sampai letak lemari buku.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Lebih sering tidak bersisian. Kadang aku di depan, kadang Dave lebih duluan. Seperti ada kesepakatan untuk selalu menyisakan ruang. Bukan karena medan yang tak memungkinkan, melainkan lantaran egoisme kami masing-masing. Memang, ketika aku menjerit hampir terpeleset, Dave segera menangkap tanganku. Begitu juga aku, akan mengingatkan Dave jika jalannya terlihat membahayakan. Namun, jika itu terjadi, Dave memperlihatkan dirinya tak butuh pertolongan.   
 
                    *****
Kami menyusuri jalan setapak yang membelah hutan karet. Tepatnya kebun karet. Pohon-pohon karet berbaris rapi. Sayangnya, kondisi jalan tidak selalu mulus, bahkan lebih sering membahayakan karena medannya naik turun dan licin oleh hujan semalam. Untunglah pohon-pohon karet ini tidak terlalu rapat dan lebat. Sinar matahari leluasa jatuh sampai ke rerumputan. Langit yang biru terang di atas sana terlihat jelas.  

“Dave, masih seberapa jauh, ya, untuk mencapai sungai?” aku memancing obrolan yang mungkin berguna. Jujur saja, aku mulai pesimistis tujuan perjalanan ini tercapai. Hubungan kami tampaknya makin sulit diperbaiki.
“Mungkin sejam lagi,” sahut Dave.
“Bagaimana kalau kita tersesat?”

Dave tak menyahut. Aku tahu dia kesal. Aku memang yang meminta tidak perlu ditemani pemandu. Aku hanya meminta peta. Dave tidak sepakat dengan ideku, tapi enggan mengungkapkannya karena tak mau terlihat penakut. Kupikir ideku sesuai dengan tujuan kami melakukan perjalanan wisata ini, mengabiskan waktu seintens mungkin hanya berdua, sekaligus untuk mengukur seperti apa hubungan kami sebenarnya. Melihat seberapa jauh kami masih saling membutuhkan.

“Dave, bagaimana kalau kita berhenti dulu, istirahat sebentar.”
Kami duduk di tonjolan batu-batu yang kami alasi dengan koran. Dave menurunkan ranselnya, mengeluarkan botol minuman dan biskuit. Aku membasahi kerongkongan dengan beberapa teguk air jeruk. Kami berhenti di turunan yang tidak curam, bahkan cenderung landai. Tak jauh dari sana terdapat air terjun kecil. Suara gemerciknya meningkahi percakapan kami yang berlangsung secara membosankan dan sia-sia.
   
“Dave, apa kamu masih yakin kita bisa meneruskan perjalanan ini?”
Dave masih bungkam. Aku tahu dia mengerti maksud pertanyaanku, dan kini tengah memikirkan jawaban tepat yang sialnya tidak pernah dia miliki. Sifat peragunya sungguh menyebalkan.

“Sudah berapa lama hubunganmu dengan Vivi?” kataku, dengan nada rendah dan sesantai mungkin.
“Kamu sendiri, dengan Fred sudah sejauh apa?” Dave balik bertanya dengan suara terdengar tertahan, bahkan seperti hampir tertelan kembali.

Aku tahu, Dave tidak membutuhkan jawaban. Dan tujuan perjalanan ini memang bukan untuk membahas hubungan kami dengan kekasih kami masing-masing. Meski aku tahu, tak akan terhindarkan menyinggung hal tersebut. Sebab, itulah soal terbesar yang memicu ruwetnya hubungan kami. Padahal, dari awal kami telah sepakat tidak ada kesetiaan dalam kehidupan perkawinan kami. Tujuan perkawinan kami hanya satu: membahagiakan orang tua kami masing-masing. Ini memang terdengar aneh di zaman serba internet begini. Apa boleh buat. Perjalanan ini adalah untuk membahas kembali komitmen tersebut. Dilanjutkan, diperbarui dengan kesepakatan-kesepakatan sesuai kebutuhan, atau berhenti sama sekali.   
   
“Aku dan Fred tidak akan menikah, Dave. Tapi, kami komitmen untuk saling setia,” kataku, dengan nada yang sama, penuh pura-pura. Aku tidak ingin terlalu melibatkan perasaan dalam membicarakan perihal ini. Demi Tuhan, berbicara dengan melibatkan perasaan sangat melelahkan, buang-buang energi.

“Kedengarannya romantis sekali,” kata Fred, sinis.
“Aku tidak memerlukan komentar seperti itu, Dave.”
Kami bertatapan lama sekali. Seperti berusaha keras menembus pikiran satu sama lain. Menimbang kembali makna keberadaan kami bagi diri kami masing-masing. Namun, seperti dugaanku, Dave kembali kalah. Dia lebih dulu memalingkan muka.
   
“Aku tak pernah mengerti dengan jalan pikiranmu, Wi,” desah Dave, setengah mengeluh.
“Pikiran yang mana, Dave?”
“Runyam,” ujar Dave seraya memberikan minuman kaleng yang kuminta dengan cara melemparnya. Hup! Aku menangkapnya dengan akurat.   

Kelengangan dan kekakuan kembali menelikung. Matahari berada tepat di atas kepala. Kurasa kami sudah cukup istirahat. Pegal-pegal yang mengeram di sekujur kaki kami sudah banyak berkurang. Kami harus kembali berjalan.
   
Kami baru bangkit berdiri tatkala seekor kijang melintas di samping kami. “Kamu tunggu di sini, Wi. Akan kutangkap kijang itu!” seru Dave, seraya berkelebat mengejar kijang.  Aku berteriak mencegah, tapi teriakanku hanya menyisakan gema, dipantulkan batang-batang pohon karet. Sialan! Dave kembali mendemonstrasikan keegoisannya. Kutatap ujung sepatuku yang belepotan tanah dengan putus asa.
   
Di kejauhan kulihat sepasang bocah pencari kayu tengah bekerja keras. Bocah perempuan sibuk mengumpulkan ranting-ranting kering di bawah, sementara bocah laki-laki mematah-matahkan ranting kering dan menarik-nariknya menggunakan galah yang ujungnya terdapat pisau, dari dahan di ketinggian pohon karet. Aku bergerak mendekat ke arah mereka. Menyaksikan kerja sama yang kompak. Pemandangan ini sungguh menggetarkan. Bocah perempuan memandangku sejenak seraya membalas senyum penuh simpatik yang kulemparkan padanya, kemudian melanjutkan kesibukan memunguti kayu. Cukup lama aku menunggu mereka menyelesaikan pekerjaannya.

“Buat kalian,” kuangsurkan beberapa kotak biskuit dan minuman kaleng. Mereka mengangguk dalam sebagai pengganti ucapan terima kasih. Kulihat punggung mereka menjauh. Kudapati diriku sendirian. Hanya gemercik air dan suara burung-burung yang tak kutahu namanya.
   
Ketika aku berjalan untuk kembali ke tempat tadi kami berhenti, aku melihat banyak bermacam jenis bunga kuping gajah tumbuh. Kalau aku mencabut beberapa jenis yang berbeda, tentu tidak ada orang yang melarang. Aku juga bisa menyembunyikannya dari Dave. Tetapi sayangnya, aku telah kehilangan minat.
   
Waktu tadi aku mencabutnya pun sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh ingin membawannya pulang. Kuping gajah bukan jenis bunga langka. Aku hanya ingin menguji Dave. Ke mana sekarang dia pergi? Mana mungkin bisa menangkap kijang di tengah hutan karet begini. Sialan, sekarang giliran dia mengujiku.   

                        *****

“Wikan...” kulihat Dave muncul dari balik batu besar. Tak ada keringat dan napas ngos-ngosan. Senyum kemenangan tampak jelas di wajahnya. Aku menahan geram, tapi pura-pura tak peduli, meski aku tahu sikap ini pasti terlihat bodoh sekali.
“Kamu sebenarnya punya cukup bakat untuk setia padaku, Wi.”   
“Ayolah, Dave. Keburu sore, pemandu pasti sudah menunggu di sungai,” sergahku, mengabaikan arah pembicaraan Dave. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu pertanda semua terserah padaku saja.

Benar, di tepi sungai itu dua orang pemandu telah siap. Di belakang mereka tertambat perahu karet. Mereka menyambut kami dengan mengangsurkan peralatan rafting. Tanpa tunggu waktu lagi kami segera mengenakan rompi pelampung, helm pelindung kepala, dan dayung. Sebelum meluncur, mereka memberi pengarahan untuk keamanan selama melakukan arung jeram.
   
Malamnya, di penginapan, kami lebih banyak membaringkan badan. Seperti biasa, hanya sedikit percakapan teknis. Rasanya memang tidak ada yang perlu diselamatkan dari hubungan kami. Kembang kuping gajah kumasukkan ke tong sampah.

                                       ******

                                   Aris Kurniawan





 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Topik Hari Ini Ayah Rumah Tangga Femina
TOPIK Hari Ini
Ayah Rumah Tangga
Jika suami memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga, apakah Anda setuju? Apa alasannya?
KOMENTAR
01 Oct 2014 - primapuspita
Kok rasa-rasanya belum siap ya punya suami rumah tangga. Lebih baik saya saja deh yang bekerja dan berkarya di rumah sambil asuh anak-anak. Kepikiran seandainya suami harus meeting dengan klien atau ada keperluan apa gitu menyangkut pekerjaan dan har ...
30 Sep 2014 - iekamobile
kyx acara bgs n psti seru jg... smg aku bs ikutan... amien



Majalah Edisi 39 (4 - 10 Oktober 2014) Femina  Edar 
Wednesday, 1 October 2014






  VIDEO