<<<<< Cerita Sebelumnya
BAGIAN 4 (tamat)
Kisah sebelumnya:
Laras, seorang wartawan, mengambil cuti dan melakukan perjalanan ke Pulau Buru tanpa tujuan yang pasti. Tertarik dengan informasi mengenai penambangan liar di Gung Botak, Laras pun melihat ada petualangan baru di depan matanya. Ketika tersesat jalan, dia justru bertemu dengan Nenek, dan mendapatkan informasi penting mengenai Gunung Botak, termasuk tentang Ramli, ‘penguasa lokal’ Gunung Botak.
***
Pagi ini, aku tak menemukan Nenek. Aku sudah mencarinya ke sekeliling rumah, hingga ke tempat penyulingan minyak kayu putih. Para pekerja pun tak tahu ke mana Nenek pergi. Aku menjadi khawatir. Tak biasanya nenek seperti ini. Di dapur sarapan telah tersedia. Ini artinya Nenek sudah bangun seperti biasa. Mungkin ia sedang berbelanja ke warung, pikirku. Namun hingga siang nenek tak juga kembali. Bersamaan dengan itu tersiar kabar kalau Ramli mati dibunuh orang. Mayatnya di buang ke sungai.
Nenek pulang dengan wajah lelah. Ia langsung melemparkan tubuhnya di kursi.
“Katanya Ramli meninggal, Nek,” kataku memberi tahu.
“Ya. Ramli dibunuh orang,” jawab Nenek dengan suara lemah.
“Nenek sudah tahu?” tanyaku terkaget-kaget.
Nenek mengangguk lemah. Matanya terpejam sambil menghirup napas berat. lalu mengembuskannya perlahan. Aku melihat kesedihan yang mendalam. Ramli, laki-laki yang malang, gumanku. Apa yang Ramli takutkan ternyata terjadi.
“Ramli, anak yang bae. Dia su banyak bantu beta,” kenang Nenek.
“Dolo, Ramli deng Mina, karja di sini. Mina mamasa par orang karja. Ramli karja di beta pung tampa biking minyak kayu putih. Beta su anggap dong anak sandiri,” lanjutnya.
“Kenapa Ramli dan Mina tidak bekerja lagi di rumah Nenek?” tanyaku, memancing Nenek untuk bercerita, meski aku sudah tahu cerita itu dari Mina.
“Samua karena Mina curi mas dari Gunung Botak,” tuding Nenek.
Aku terkejut dengan jawaban Nenek, yang bertolak belakang dengan yang Mina ceritakan padaku. Mina mengaku dirinya menemukan emas itu secara tidak sengaja.
“Bukankah Mina yang menemukan emas itu, Nek?” tanyaku kebingungan.
“Dia bohong. Buat cerita biking orang parcaya. Padahal dia mencuri,” jawab Nenek, setengah emosi.
“Beta kas’tau cerita yang benar,” lanjut Nenek.
“Waktu itu Ramli bingung cari uang par berobat, buat dia pung anak yang ada sakit. Biayanya basar sakali. Beta pingin bantu tapi beta pung uang seng cukup. Beta seng pung jalan lain. Beta pi Gunung Botak, gali tanah dan ambil batu kacil. Beta kasih Ramli par jual. Ramli seng parcaya. Beta bilang, ini batu mas, ose jual ke pasar par biaya bayar obat.
Besoknya, Mina datang. Dia bilang biaya masih kurang. Ramli suruh dia datang buat minta batu lagi. Beta parcaya jua, karena Ramli yang suruh. Beta pi Gunung Botak dan kasih dia batu lai.
Beta bilang sama Ramli su kasih batu emas sama Mina. Ramli takojo, karena dia seng suruh Mina datang minta batu. Biaya par bayar obat su cukup. Mina su tipu beta. Ah, beta bodo sakali, parcaya bagitu jua.
Besoknya Beta langsung pi Gunung Botak. Beta lia Mina sedang gali lubang di tampa beta ambil mas kemarin. Rupanya waktu ambil mas Mina sambunyi–sambunyi iko beta dari belakang. Beta marah sekali. Mina su curi emas dari Gunung Botak.”
“Siapa pemilik emas di Gunung Botak itu, Nek?”
“Gunung Botak pung orang tatua sejak dolo. Para orang tatua su tunju beta par jaga Gunung Botak. Seng sabarang orang bisa jadi penjaga Gunung Botak. Beta seng bisa tolak. Tugas beta jaga jangan sampe ada orang masuk dan biking rusak. Beta harus pegang rahasia. Seng boleh kas’tahu orang, apalagi pake par pribadi. Gunung Botak kaya sakali. Ose seng perlu gali kadalam seng sampe dua meter, ose sudah bisa lia urat mas.”
“Jadi Nenek adalah penjaga Gunung Botak?” tanyaku menegaskan.
“Dolo, sebelum dong samua tahu ada mas di Gunung Botak. Sekarang Beta seng bisa buat rahasia. Samua orang su tahu. Beta seng bisa pi lai Gunung Botak. Dong usir Beta. Dolo Dong samua takut sama beta. Beta su gagal, jaga Gunung Botak,” ratap Nenek.
“Ini bukan semata–mata kesalahan Nenek,” hiburku.
Kenyataannya memang demikian. Ini bukan kesalahan Nenek.
“Niat beta cuma ingin tolong. Tapi malah biking kutukan. Mas su buat kutukan par Wanamasit. Katong bisa lia, su banyak orang mati. Sekarang beta tau, kenapa para orang tatua buat rahasia. Karena mas bisa biking banyak bencana,” ucap Nenek, mengakhiri ceritanya dengan nada lirih.
Aku bisa merasakan beban berat yang Nenek rasa kini. Kesedihan dan kekecewaannya melihat kondisi Gunung Botak saat ini. Sebagai penjaga Gunung Botak, tanggung jawabnya begitu berat. Dan harus gagal karena ingin menolong orang lain. Ternyata niat baik tak selalu berbuah baik. Jerih payah Nenek selama bertahun–tahun menjaga Gunung Botak menjadi sia–sia.
******
Mina terlihat masih shock. wajahnya pucat dan matanya bengkak. Aku mengucapkan belasungkawa dan tak berniat berlama–lama mengingat masih banyak tamu yang datang melayat. Tapi, Mina menahanku untuk tidak cepat–cepat pergi. Ia menyuruh orang–orang yang menemaninya di kamar untuk keluar. Kini tinggal aku dan Mina yang berada di kamar cukup mewah itu. Sebuah ruangan bercat kuning muda yang cukup luas, dilengkapi pendingin dan tempat tidur yang besar. Meja rias lengkap dengan peralatan make up. Lemari empat pintu berderet di samping tempat tidur. Sebuah televisi berukuran besar terpampang di depan tempat tidur.
Mina menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia memberi isyarat agar mendekat. Aku menurut duduk di sisi tempat tidur.
“Aku menyesal, Laras. Andai saja, aku menuruti ucapan Nenek, mungkin Kak Ramli akan selamat,” kata Mina dengan suara tertahan.
“Maksudmu?”
“Kau tidak tahu, Laras? Pagi–pagi sekali Nenek datang ke sini.”
“Aku tidak tahu,” jawabku penuh tanda tanya.
“Nenek datang pagi–pagi sekali. Ia melarang Kak Ramli pergi ke Gunung Botak. Katanya berbahaya, ada orang yang mengincar Kak Ramli,” cerita Mina.
Rupanya tadi pagi Nenek pergi ke rumah Ramli dan sudah tahu apa yang akan menimpa Ramli.
“Nenek tadi ikut mengurus jenazah Kak Ramli,” lanjut Mina.
“Nenek sangat menyayangimu dan Ramli. Jika tidak, Nenek tak akan datang memberi tahu,” ucapku, memberikan pandangan.
“Ya, Laras. Aku sadar itu dan aku sudah meminta maaf pada Nenek. Aku tak menuruti perintahnya. Nenek melarangku mengambil emas itu. Semua kulakukan karena terpaksa. Aku capek hidup miskin. Kau tahu, berapa gaji buruh minyak kayu putih? Hanya delapan ratus ribu rupiah. Sementara anak kami dua dan butuh biaya.
Di desa ini pekerjaan sulit. Banyak orang menganggur. Kalau tidak jadi buruh minyak kayu putih, ya, jadi petani. Penghasilannya pun tak seberapa. Sekarang hampir semua orang punya pekerjaan. Ada yang menambang emas, berjualan makanan dan barang kebutuhan sehari–hari untuk para penambang dari luar Wanamasit juga menjadi tukang ojek. Penghasilan mereka cukup lumayan. Keadaan mereka berbeda sekali dengan saat belum ditemukannya emas di Gunung Botak.
Sedangkan Nenek hanya memikirkan dirinya. Dia menyimpan emas itu selama puluhan tahun dan membiarkan kami semua sengsara,” lanjut Mina seolah membenarkan apa yang ia lakukan.
Aku sudah mengetahui cerita yang sesungguhnya dari Nenek. Jadi aku tak terkejut mendengar pengakuan Mina. Penemuan tambang emas di Gunung Botak ini bagaikan dua sisi mata uang. Di tengah kehidupan masyarakat Desa Wanamasit yang miskin dan sulitnya mendapatkan pekerjaan, emas Gunung Botak menjadi sebuah oase. Masyarakat memiliki sumber penghasilan dan mampu memperbaiki kehidupan perekonomian.
Sementara di sisi lain tambang emas ini menjadi musibah. Pengelolaan yang salah telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Kehancuran alam akan menjadi bencana bagi manusia. Selain bencana alam juga konflik sosial, akibat perebutan lahan seperti yang menimpa Ramli.
Di luar kamar terlihat orang–orang yang hendak menjenguk Mina. Aku bergegas pamitan. Kukatakan padanya bahwa aku akan segera kembali ke Jakarta.
“Kau kembali secepat itu?“ tanyanya.
“Ya, Mina. Aku harus bekerja.”
“Kau beruntung sekali bisa melanjutkan sekolah hingga sarjana dan bekerja. Sedangkan aku? Aku tak bisa melanjutkan ke SMA karena tak ada biaya. Kemudian aku dijodohkan dengan Kak Ramli. Sekarang aku harus memanfaatkan harta yang ada untuk masa depan kedua anak perempuanku. Apalagi kini Kak Ramli sudah tidak ada,” ucap Mina penuh harap.
“Aku yakin kau mampu, Mina,” kataku meyakinkan Mina.
“Terima kasih, Laras. Kuharap kita masih bisa bertemu.”
“Tentu saja, Mina.”
Mina memelukku erat. Sebelum pergi, aku dan Mina saling bertukar nomor ponsel dan berjanji untuk saling memberi kabar.
Mina menyuruh orang mengantarku dengan mobilnya. Jalanan terlihat lengang, padahal waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam. Tak banyak ojek dan mobil yang melintas. Warung–warung memilih untuk tutup. Jalanan pun tak seterang seperti biasanya. Sopir Mina menjelaskan, kematian Ramli membuat orang–orang ketakutan. Mereka khawatir terjadi keributan. Terdengar isu, orang–orang Ramli akan membalas dendam atas kematian Ramli. Sunyi dan sepi. Mungkin Desa Wanamasit yang sesungguhnya adalah seperti ini. Aku teringat pelukisan Nenek tentang Desa Wanamasit yang tenang.
**********
Kematian Ramli menjadi perbincangan di kalangan para penambang. Siapa pun tak menyangka Ramli akan tewas mengenaskan. Selama ini Ramli selalu dikelilingi para pengawalnya. Siapa pembunuh Ramli, belum diketahui. Desas–desus yang beredar, Ramli dibunuh oleh salah satu pengawalnya yang berkhianat. Kini permasalahan muncul siapa yang akan menggantikan posisi Ramli. Dikhawatirkan terjadi perebutan kekuasaan di Gunung Botak.
Aku sengaja datang ke Gunung Botak, untuk melihat situasi setelah terbunuhnya Ramli. Suasana di Gunung Botak tampak tak berubah. Para penambang beraktivitas seperti biasa. Berbeda dengan suasana semalam di Desa Wanamasit saat aku pulang dari rumah Mina. Kematian Ramli tak berpengaruh pada aktivitas di Gunung Botak. Pertikaian yang dikhawatirkan tak terjadi, mungkin pengganti Ramli sudah ditentukan, pikirku.
Perkiraanku ternyata salah. Entah bagaimana awalnya suasana mendadak kacau balau. Orang berlarian tak tentu arah. tenda–tenda dirusak dan dirobohkan oleh sekelompok orang dengan beringas. Terdengar teriakan orang minta tolong. Aku berlari menyelamatkan diri.
Dari kejauhan aku melihat Pak Hari dan rombongannya sedang berlari. Mereka tampak ketakutan. Aku berteriak memanggil namanya. Salah seorang anggota rombongan mengenaliku. Aku memberi isyarat kepada mereka untuk mengikutiku. Pak Hari dan rombongannya bergegas menghampiri. Aku teringat jalan pintas melalui sungai yang pernah Nenek ceritakan.
“Lewat sini, Pak,” kataku pada Pak Hari dan rombongannya.
Kubawa mereka menuruni sungai. Beberapa anggota rombongan terluka, sehingga harus berjalan perlahan–lahan. Pak Hari meminta berhenti. Ia tampak kelelahan. Tapi aku memaksanya untuk tetap menyeberangi sungai. Akhirnya kami tiba di seberang sungai. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki jalanan menanjak.
“Terima kasih, Laras,” ucap Pak Hari dengan napas terengah–tengah, setelah kami sampai di atas.
Ia dan rombongannya berdiri sambil memandang ke arah Gunung Botak yang masih terlihat ramai oleh orang–orang yang menyelamatkan diri. Aku mengajak mereka ke rumah Nenek. Kurasa Nenek tak keberatan bila mereka beristirahat di sini. Melihat kedatangan rombongan Pak Hari, para pekerja Nenek berbaik hati ikut membantu. Mereka menyiapkan air minum dan membantu mengobati anggota rombongan yang terluka.
Pak Hari lega, karena semua anggota yang berjumlah sepuluh orang selamat. Empat di antaranya terluka, terkena sabetan benda tajam dan terjatuh saat hendak menyelamatkan diri. Pak Hari sendiri luka di bagian betis. Pak Hari bercerita, serangan datang dengan tiba-tiba dan tak sempat menghindar. Saat kejadian, ia dan rombongannya tengah berkumpul di tenda dan belum memulai pekerjaan. Keributan disebabkan perebutan kekuasaan. Dua kubu yang bertikai mengklaim berhak menggantikan posisi Ramli sebagai penguasa Gunung Botak.
Sambil beristirahat Pak Hari berdiskusi dengan rombongannya. Mereka harus segera pulang ke Jawa karena situasi di Gunung Botak sudah tidak aman lagi. Diperkirakan kapal penuh hari ini karena penggali yang selamat langsung pulang menggunakan kapal. Mereka memutuskan untuk pulang esok pagi.
“Ini rumah teman Mbak Laras?” tanya Pak Hari.
Aku terdiam, teringat cerita yang kukarang saat bertemu pertama kali di kapal. Aku mengarang cerita bohong bahwa kedatanganku ke Desa Wanamasit adalah untuk mengunjungi seorang teman. Kemudian kuceritakan tujuanku yang sesungguhnya datang ke Gunung Botak adalah untuk melakukan investigasi penambangan emas liar.
Aku meminta maaf pada Pak Hari. Ia tersenyum dan bisa memaklumi apa yang kulakukan.
“Ini rumah Nenek Ruth. Waktu itu saya tersesat dan bertemu Nenek. Kemudian Nenek mengizinkan saya tinggal di sini,” kataku menjelaskan.
Pak Hari manggut–manggut. Ia menyebut nama Ruth berulang-ulang, seolah tengah mengingat seseorang.
“Bapak kenal dengan Nenek Ruth?” tanyaku penasaran.
“Mungkin kenal, tapi saya lupa,” jawab Pak Hari dengan nada bingung.
“Siapa suami Nenek?” tanya Pak Hari lagi.
“Saya tidak tahu, Pak.”
Aku hanya tahu sekilas tentang suami Nenek dari Mina. Itu pun belum kuketahui kebenarannya. Karena bukan Nenek yang mengatakan. Jadi lebih baik kujawab tidak tahu.
Kemudian kuceritakan keseharian Nenek Ruth. Pak Hari menyimak ceritaku dengan wajah serius. Tak berapa lama Nenek datang. Ia terkejut melihat di rumahnya banyak orang. Aku menjelaskan pada Nenek tentang kejadian yang menimpa Pak Hari dan rombongannya. Kuperkenalkan Pak Hari pada Nenek. Keduanya berpandangan, seolah tengah saling mengingat.
Aku terdiam melihat Pak Hari dan Nenek Ruth yang berdiri saling berhadapan. Tak ada kata yang mereka ucapkan. Kecuali tatapan mata keduanya. Aku melihat sesuatu yang aneh, tapi tak berani bertanya lebih lanjut lagi. Nenek dan Pak Hari terlihat salah tingkah. Mereka seperti pernah saling mengenal sebelumnya. Akhirnya kutinggalkan mereka berdua dengan perasaan penuh tanda tanya.
************
Pagi-pagi sekali Pak Hari dan rombongannya sudah bersiap hendak pergi ke pelabuhan. Mereka akan kembali ke Madiun. Nenek menemani Pak Hari sarapan. Mereka duduk berdua di dapur. Sementara rombongan lainnya makan di ruang tamu. Dan aku melihat pemandangan yang aneh dari cara Nenek melayani Pak Hari. Nenek melayani Pak Hari seperti layaknya seorang yang sudah mengenal lama. Ia menuangkan air ke gelas dan menyendokkan nasi untuk Pak Hari.
Usai sarapan, aku dan Nenek mengantar Pak Hari beserta rombongan hingga naik mobil angkutan. Sebelum naik mobil, Pak Hari berpamitan pada Nenek dengan cara yang aneh. Ia mengusap-usap punggung Nenek. Seolah ada perasaan berat untuk berpisah. Nenek hanya memandang Pak Hari sambil tersenyum tulus. Saat mobil angkutan melaju, Nenek tak lepas memandang Pak Hari. Keduanya saling melambaikan tangan. Nenek menunggu hingga mobil angkutan menghilang dari pandangan.
Aku mengaitkan kejadian hari ini dengan tatapan mereka kemarin dan cerita Mina tentang suami Nenek. Mungkin ini hanyalah kebetulan belaka. Pada masa itu banyak tahanan yang berasal dari Jawa. Mungkin juga Nenek Ruth memang mengenal Pak Hari, mengingat Pak Hari pernah berada di Pulau Buru. Tapi, rasa penasaran memaksaku untuk bertanya.
Tiba di rumah kuberanikan diri untuk bertanya.
“Nenek sudah kenal dengan Pak Hari?” tanyaku hati-hati.
Nenek tersenyum sambil memandangku. Ia mengambil foto hitam putih berbingkai kayu itu dan memperlihatkannya padaku. Ya, meski sedikit memudar, aku bisa melihat wajah lelaki di foto itu. Wajah Pak Hari ketika muda. Dan di sebelahnya adalah foto Nenek.
“Pak Hari, beta pung paitua,” katanya dengan suara lirih.
Aku terdiam mendengar jawaban Nenek dan tak berani bertanya lagi. Ini artinya Nenek sudah hampir tiga puluh tahun tak bertemu Pak Hari. Selama itu pula Nenek tak menikah lagi. Kali ini cerita Mina benar adanya. Aku merasa bersalah karena telah bertanya dan membuat Nenek harus membuka kenangan masa lalu.
Kemilau emas Gunung Botak tidak hanya membuat Nenek kehilangan orang-orang yang disayanginya, tapi juga telah membuat Nenek bertemu dengan suaminya yang tak dijumpainya selama hampir tiga puluh tahun.
Di luar yang kuduga, Nenek bercerita tentang kisah hidupnya bersama Pak Hari. Setelah bebas dari tahanan. Pak Hari bekerja di tempat penyulingan minyak kayu putih milik keluarga Nenek di Pulau Buru. Keduanya kemudian menikah. Setelah setahun menikah, Pak Hari pulang ke Jawa untuk menengok keluarganya. Sudah hampir tujuh tahun Pak Hari tak bertemu dengan keluarganya, tepatnya sejak ditahan di Buru. Setelah itu, tak pernah ada kabar. Nenek tetap setia menunggu. Meski orang-orang memberi tahu bahwa Pak Hari sudah menikah lagi di Jawa.
Saat bertemu dengan Pak Hari kemarin, Nenek mendapat cerita yang sama denganku. Pak Hari bercerita kepada Nenek bahwa ia telah menikah lagi dengan istri temannya sesama tahanan di Pulau Buru. Sebelum meninggal, temannya meminta Pak Hari menikahi istrinya. Dan Pak Hari berjanji akan mengabulkan permintaan temannya itu.
Nenek tetap menunggu, meski orang-orang mengatakan Pak Hari sudah menikah lagi dan tak akan pernah kembali. Hingga akhirnya para tetua menunjuknya sebagai penjaga Gunung Botak. Nenek pun pindah ke Desa Wanamasit. Di sana ia menjalankan tugasnya sebagai penjaga Gunung Botak dan mengelola usaha penyulingan minyak kayu putih untuk membiayai hidupnya sehari-hari.
“Nenek menyesal pernah menikah dengan Pak Hari?” tanyaku.
“Manyasal seng ada guna, Laras. Ada masalah penting yang harus beta urus. Beta harus urus Gunung Botak,” ucap Nenek mengakhiri ceritanya sambil tersenyum.
Nenek benar, banyak hal penting yang harus dilakukan ketimbang menyesali apa yang telah terjadi. Betapa setahun ini aku membiarkan diriku dikepung rasa marah dan menyesali apa yang telah terjadi antara aku dan Niko. Kemudian menyalahkan Alex sebagai penyebabnya.
Saat membereskan barang-barangku di kamar, mataku tertuju pada undangan pernikahan biru muda. Aku masih ingat, saat malam pertama menginap di rumah Nenek. Aku membaca berulang-ulang undangan itu. Kini, hari itu sudah terlewati. Bahkan, aku lupa andai saja tidak menemukannya tadi. Dan aku mendapati perasaanku baik-baik saja. Kesedihan mendalam yang kubayangkan tak terjadi. Semua pikiranku tercurah untuk tugas investigasi di Gunung Botak dan juga kisah di dalamnya. Kisah hidup Nenek Ruth, si penjaga Gunung Botak.
Kumasukkan undangan itu ke dalam kantong plastik bersama sampah lainnya. Dan setelah hari ini, aku siap memulai hari-hariku yang baru.
(Tamat)
***********
Dwi Ratnawati
Dwi Ratnawati


