<< cerita sebelumnyaNasiyah dikejutkan oleh tangis Hamidah. Buru-buru ia melompat dari tempat tidur, membereskan selimut dan bantal, lalu membuka jendela. Astaga! Matahari sudah merayap di sela pohonan. Cepat-cepat ia keluar, sembari menyambar karet dan mengikat rambutnya.
Nasiyah masuk ke dapur. Munaroh dan Kholidah sedang memasak sesuatu. Aromanya menusuk hidung. Rupanya, Munaroh sedang menggoreng nasi jagung dan Kholidah tampak sibuk membakar dua potong tempe. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Peralatan dapur tergantung rapi di tempatnya masing-masing.
“Kalian yang membereskan semua?”
“Nenek.”
Pada saat itu masuk Nenek dengan terbungkuk-bungkuk, sambil menembang.
“Kenapa saya tidak dibangunkan, Nek?”
“Kamu terlalu lelah setelah bekerja seharian kemarin.”
“Tapi, Nenek kan....”
“Apa kerja nenekmu ini kurang beres? Kurang bersih?”
Aduh, bukan itu maksudku, Nek, gerutu Nasiyah dalam hati. Ia meninggalkan dapur, membereskan baju-baju kotor, lalu pergi ke sungai. Di sana orang-orang sudah ramai. Anak-anak mandi, ibu-ibu mencuci, gadis-gadis cekikikan. Semua ribut bercerita.
Pembicaraan mereka sampai pada cerita tentang pencurian. Dalam satu malam ada dua rumah kemasukan maling. Dua ekor kambing Pak Masrum lenyap. Pak Muroji kehilangan tiga barang sekaligus, yaitu jam dinding, radio transistor, dan televisi. Ada yang menduga pencurinya Narto Gepeng dan Sarno Gentho. Tapi, mereka tidak bisa membuktikan, sebab tidak ada saksi yang melihat secara langsung. Mereka hanya menghubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain. Sarno Gentho baru saja kalah judi, sedangkan Narto Gepeng pernah sesumbar akan membelikan anaknya sepeda jengki.
Mengenai Pak Muroji, ada sebagian yang tak bersimpati. Orang kaya pelit memang harus dibegitukan supaya hartanya bisa sedikit disedekahkan kepada orang miskin. Kehilangan sedikit tidak ada artinya bagi dia. Toh, sebentar lagi dia pasti sudah bisa membeli yang baru.
Satu per satu orang-orang itu menyelesaikan pekerjaannya. Ada yang langsung pulang, ada yang menunggu temannya. Ketika satu dua orang pergi, ada saja yang datang. Keramaian tidak kunjung mereda hingga matahari mulai menyengat tubuh mereka.
Semalaman burung gagak tak henti berbunyi. Anjing meraung-raung di ujung jalan kampung. Tampak orang berlarian ke rumah Pomo. Kaki Jikun, bapak Pomo, meninggal. Kabarnya, Kaki Jikun sudah lama menderita tifus, malaria, dan tekanan darah tinggi. Seminggu terakhir, ia sudah tak bisa diajak bicara dan sering pingsan.
Ratap tangis memenuhi rumah berdinding anyaman bambu itu. Para tetangga sibuk mengambil air, menyiapkan kain kafan. Trimo, kakak Pomo yang baru tiba, langsung disambut dan dipeluk. Meja panjang sudah dipasang di halaman. Ember-ember penuh air sabun dan air bunga. Enam orang merentangkan kain di atasnya.
Nini Jikun dan enam anaknya memandikan jenazah. Setelah itu, jenazah diletakkan di atas meja panjang. Orang-orang mulai berdatangan. Jenazah diangkat ke dalam keranda, meski Pomo belum datang.
Selepas zuhur Nasiyah datang ke rumah Nini Jikun untuk membantu, menjamu para pelayat dan mempersiapkan acara tahlilan. Nini Jikun masih di kamarnya, ditunggui anak-anak dan menantu perempuannya. Ia kelihatan masih terpukul atas kepergian suaminya.
Pelayat datang dan pergi untuk menyampaikan belasungkawa. Ada yang menanyakan apakah Pomo sudah dikabari atau belum. Ada juga yang menyarankan agar menyusulnya ke Surabaya. Tapi, tak seorang pun tahu alamat tempat kerja Pomo. Trimo mengatakan, ia sudah menelepon bosnya semalam. Jika pesan itu segera disampaikan, siang atau sore ini Pomo akan datang. Namun, hingga magrib, yang diharapkan tidak juga muncul.
Setelah tahlilan, beberapa orang menggelar daun pisang di tengah-tengah mereka. Nasi tumpeng beserta lauknya ditumpahkan di atasnya. Air teh dari ceret dituangkan ke gelas-gelas, lalu dibagikan. Tanpa menggunakan sendok atau garpu, mereka makan sekadarnya. Nasi yang tidak habis dimakan, dibungkus dengan daun pisang untuk dibawa pulang sebagai berkat.
Beberapa orang masih duduk di ruang tengah ketika tiba-tiba muncul Pomo. Orang-orang langsung menyongsongnya. Derai air mata dan ratap tangis merebak kembali. Wajah pemuda itu merah. Ia bersimpuh di pangkuan ibunya sambil tersedu.
Setelah suasana mereda, Nini Jikun membujuk Pomo supaya segera makan. Pemuda itu hanya minum seteguk teh, lalu masuk kamar. Seseorang mengetuk pintu. Pomo mempersilakan masuk. Nasiyah masuk untuk mengambil pakaian keponakan Pomo. Sesaat gadis itu tertegun, lalu tanpa berkata-kata, ia mengaduk-aduk keranjang pakaian.
“Kamu tidur di sini?”
Nasiyah menggeleng.
“Siapa mengantarmu?”
“Bapak.”
Nasiyah keluar. Pomo menarik napas. Ia pun beranjak dari kamar dan bergabung bersama saudara-saudaranya di ruang depan.
Keesokan harinya Nasiyah tidak datang ke rumah Nini Jikun. Seharian ia membantu bapaknya, mencabut singkong di ladang Pak Amir. Katanya, Pak Amir akan mengolah singkong menjadi gaplek. Selain Nasiyah, ada lima perempuan lagi yang menjadi buruh. Setiap dua puluh kg mereka dibayar dua ribu rupiah, cukup untuk membeli setengah kg beras atau satu kg jagung.
Selain itu, mereka diberi juga beberapa buah singkong dan boleh mengambil daun singkong sebanyak-banyaknya. Sedangkan batangnya diambil oleh Pak Amir. Sebagian disetek untuk ditanam kembali dan selebihnya dijadikan kayu bakar. Orang-orang yang bekerja juga boleh memintanya.
Perempuan-perempuan itu bekerja dengan cekatan. Mereka harus menguliti singkong-singkong itu dengan cara menyobek kulitnya sampai bersih. Sambil terus bekerja, seperti biasa, mereka mengobrol ngalor-ngidul. Dari situ Nasiyah mendengar kasak-kusuk mengenai meninggalnya Kaki Jikun. Katanya, ia sempat makan sepotong ketan bakar dan segelas kopi di rumah Pak Suro, tiga hari sebelum jatuh sakit. Menurut mereka, kakek buyut Pak Suro memiliki kekuatan gaib yang bisa diwariskan kepada keturunannya.
Peristiwa itu kemudian dihubung-hubungkan dengan posisi Pak Suro sebagai kepercayaan Sumarjo, salah satu calon kepala desa. Pak Suro pernah mendatangi Kaki Jikun dan membujuknya agar mendukung jagoannya. Tapi, Kaki Jikun menolak. Pak Suro menyimpan rasa malunya dalam hati. Lalu, pada suatu kesempatan, sepulang dari pasar, ia mengajak Kaki Jikun mampir. Di rumahnya Kaki Jikun disuguhi sepiring ketan dan segelas kopi kental. Minuman dan makanan itu katanya paling manjur untuk mengantarkan roh jahat ke tubuh orang yang memakannya.
Hari itu Emak sengaja tidak membuat tempe. Sepulang dari pasar ia langsung pergi memenuhi undangan pesta perkawinan. Pekerjaan rumah sudah selesai semua. Seperti biasa, Ahmad lengket di punggung Nenek. Anak itu dibawa berkeliling di sekitar rumah. Bapak di sawah. Nasiyah duduk sendiri di ruang depan, sambil menggunting kuku. Pintu diketuk. Seseorang yang sangat dikenalnya masuk.
“Tidak membungkusi tempe?”
Nasiyah menggeleng.
“Nanti bantu ibuku lagi, ya?”
Nasiyah mengangguk.
Tanpa dipersilakan, Pomo duduk. Beberapa saat hening. Pomo memain-mainkan tangannya di meja. Nasiyah tetap menggunting kuku.
“Aku mau berangkat nanti sore. Tapi, aku bingung.”
Nasiyah menatapnya. “Kenapa?”
“Tidak ada yang membantu Emak ngangon kambing. Lastri terlalu kecil.”
“Lalu, kamu akan meninggalkan pekerjaanmu di Surabaya itu? Dulu, kamu sudah bisa ngangon sejak kelas satu SD.”
“Aku kan laki-laki.”
“Memangnya perempuan tidak boleh mandiri sejak kecil?”
“Dia harus sekolah.”
“Membantu orang tua sepulang sekolah tidak membuat anak jadi bodoh.”
Pomo mendesah. Suara gunting di tangan Nasiyah mempertegas keheningan di antara mereka. Keduanya tidak berbincang. Nasiyah selesai melakukan kegiatannya. Gadis itu kemudian bangkit dan beranjak ke kamar. Tidak lama kemudian ia keluar. Tangannya menenteng sebuah topi hitam.
“Kenapa ini ada di tanganmu?” tanya Pomo.
“Pernah kamu pinjamkan kepada siapa?”
Pomo menggeleng. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi Nasiyah lebih dulu menawari teh. Pomo menolak. Keduanya sama-sama diam. Dipalingkannya wajah mereka ke luar. Padi sudah mulai menguning. Sebagian rebah oleh angin selatan. Burung-burung pipit beterbangan di atasnya. Dulu, pada masa-masa seperti itu, Pomo sering meninggalkan kambing-kambingnya untuk turun ke sawah. Ia menyusup di antara rumpun itu. Tidak lama kemudian ia sudah keluar, sambil membawa sarang berisi empat ekor bayi burung kecuit. Semua diserahkan kepada Nasiyah. Lalu, Nasiyah mencarikan ulat-ulat kecil untuk makanan burung-burung itu. Pomo meniup seruling, sementara Nasiyah asyik bermain dengan burung-burungnya.
Di rumah, Nasiyah merawat burung-burung itu dengan hati-hati. Nasiyah menaruhnya di dalam wadah bambu yang diberi alas kain bekas. Tapi, keesokan harinya ia menemukan bayi-bayi merah itu sudah kaku. Bersama Pomo, ia menguburkannya di kebun belakang.
“Seminggu lagi. Kenapa masih sepi? Atau… atau, aku salah?”
Nasiyah menoleh.
“Kamis depan?”
Nasiyah diam. Pomo menarik napas.
“Sayang, aku sudah tidak bisa ambil cuti lagi.”
Tiba-tiba Ahmad berlari, masuk dari pintu depan. Nenek mengejarnya. Anak itu menghambur ke pangkuan Nasiyah sambil tertawa-tawa. Pomo ikut tertawa.
“Katanya kamu mau pergi lagi, ya?” tanya Nenek.
Pomo mengangguk.
“Ya, ya. Tak apa-apa. Bekerja itu memang harus sungguh-sungguh. Doakan saja supaya bapakmu bisa tenang di alam sana. Kewajibanmu sekarang menjaga yang masih hidup, ibumu dan Lastri. Kerja yang baik, yang teliti, prihatin, dan jangan lupa pada Gusti Allah.”
Sementara itu Ahmad menarik-narik tangan Nasiyah, sambil merengek-rengek minta makan. Nasiyah membawanya ke belakang. Nenek masih menasihati Supomo. Suara Ahmad terdengar ribut, minta disuapi. Tapi, ia tidak mau disuruh duduk, bahkan berlari hingga ke depan. Anak itu berputar-putar di tengah ruangan sehingga Nasiyah kesulitan memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Nasiyah kemudian menjewer telinganya, menyuruh diam.
Tapi, Nenek mengomel, seperti biasa, menasihatinya agar jangan kasar kepada anak-anak. Itu tidak baik. Apalagi, ia calon ibu. Seorang ibu harus sabar, penuh kasih sayang, telaten, dan tidak kasar.
Ahmad tetap tidak mau menghabiskan makannya. Ia malah merengek terus, minta digendong. Nasiyah memerhatikan cahaya mata adiknya. Tampaknya, dia sudah mengantuk. Nasiyah membawanya ke luar. Tidak lama kemudian si bungsu sudah terlelap dalam gendongannya. Nasiyah menidurkan adiknya di kamar. Di ruang depan terdengar Nenek berpamitan untuk membersihkan rumput di halaman. Pomo, yang termangu sendiri, kemudian memanggil Nasiyah. Gadis itu keluar.
“Mamad sudah nyenyak?”
Nasiyah mengangguk.
“Mau ke mana hari ini?”
“Tidak ke mana-mana.”
“Aku pulang dulu, ya?”
“Ya, nanti aku ke sana.”
Pomo keluar. Baru saja melangkah dari pintu, ia berhenti dan berbalik lagi ke dalam. Ditatapnya wajah Nasiyah beberapa saat. Bibirnya bergerak-gerak, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak jadi. Ia pun melangkah lagi, sembari mengenakan topinya. Nasiyah menatap kepergian pemuda itu hingga hilang di kelokan jalan. Nasiyah menutup pintu pelan-pelan, lalu masuk ke kamar. Tanpa disadari percik hangat mengambang di kelopak matanya.
Pintu belakang berderit. Terdengar suara Hamidah memanggil-manggil Emak. Nasiyah enggan beranjak. Nenek berseru dari samping rumah, mengatakan bahwa Emak belum pulang. Hamidah disuruh mengambil sendiri makanan di atas meja. Suara itu perlahan-lahan menghilang. Nasiyah merasakan sesuatu mengembus wajah, membawanya ke alam luar kesadaran. Tapi, Emak membangunkannya.
“Banyak tamu di rumah Nini Jikun. Cepat kamu ke sana.”
Nasiyah menggeliat sebentar, lalu bergegas membasuh wajahnya di pancuran. Ia pun pergi ke rumah Pomo. Di sana Nasiyah segera disibukkan oleh berbagai pekerjaan. Mengantar minuman kepada para tamu, menata meja makan, mencuci piring. Di dapur, ibu-ibu tidak henti-hentinya memasak. Mereka harus membuat tumpeng lebih dari biasanya. Ini adalah malam ketiga. Selain tumpeng yang dihidangkan, mereka juga harus membungkusi berkat suci untuk tahlilan. Ini sudah menjadi tradisi. Bahkan, di hari ketujuh, biasanya juga diselipkan uang dua ribu rupiah dalam berkat itu.
Trimo sudah selesai memetik daun pisang. Daun-daun itu dijajar di bawah sinar matahari sampai layu supaya waktu digunakan untuk membungkus berkat tidak pecah. Nasiyah kemudian membantu memotongi daun itu dengan ukuran tertentu, sesuai kebutuhan. Trimo mendekati Nasiyah.
“Tolong, bangunkan Pomo di kamarnya.”
Nasiyah meletakkan lembaran daun-daun itu dan melaksanakan permintaan Trimo. Dengan hati-hati Nasiyah masuk ke kamar Pomo. Di sana Pomo kelihatan masih sangat lelap. Ia ragu. Cukup lama ia berdiri mematung di tepi pembaringan. Antara iya dan tidak, akhirnya keluarlah suara tercekik di kerongkongan.
“Pomo….”
Nasiyah mengulanginya hingga tiga kali, baru pemuda itu tersadar dari tidurnya. Pomo menatap gadis itu keheranan.
“Hampir asar. Katanya, mau pergi. Trimo sedang siap-siap.”
Nasiyah beranjak, tapi Pomo memanggilnya. Nasiyah tidak bergerak lagi. Ia terpaku di belakang pintu. Dan, ia tetap diam ketika Pomo memeluk serta mencium pipi kanannya dari belakang. Gemuruh napas Pomo seperti suara tamu-tamu di luar kamar. Perlahan Pomo melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat tidur. Nasiyah menyusut air matanya, lalu keluar dari kamar itu.
Nasiyah tidak begitu terkejut ketika kemudian mendengar kasak-kusuk tentang dirinya dan Pomo. Mereka mengatakan, Pomo dan Nasiyah kembali berpacaran. Menurut cerita mereka, Pomo diam-diam menemui Nasiyah dan mengemis-ngemis kepada gadis itu agar mau ikut bersamanya ke Surabaya. Sayangnya, Nasiyah tidak mau, meskipun ia sebenarnya masih menyukai pemuda yatim itu.
Selepas tujuh hari Nasiyah tidak membantu lagi di rumah Nini Jikun. Ia kembali disibukkan oleh pekerjaan rumahnya.
Penulis: Nawa N.S


