<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah Sebelumnya:
Wasiat Papa yang dibacakan di depan Mama, Mas Andi, Mbak Fira, Ara, dan Lestari membuat kaget. Betapa tidak, Papa mewariskan rumah kepada Lestari, anak dari istri kedua Papa yang sudah lama ‘menghilang’ sejak perceraian Papa dengan ibu Lestari. Lestari sendiri juga tak menyangka akan diwarisi rumah yang penuh kenangan itu. Atas suruhan Fira, Ara pun berusaha meminta Lestari untuk menjual rumah warisan itu kepada saudara tirinya. Setelah dekat dengan Lestari membuat Ara jadi gamang akan hubungannya dengan Pandu, pria beristri yang menjadi kekasihnya.
Tak kutemukan kata-kata untuk menanggapi selama dia jeda.
“Mbak tahu, aku pernah berpikir mungkin seharusnya namaku bukan cuma satu kata Lestari saja. Kupikir seharusnya aku punya nama lebih. Bapak memberi nama Mutiara dan Safira kepada Mbak dan Mbak Fira. Kupikir namaku seharusnya mungkin Intan. Intan Lestari. Bagus ya? Jadi kita bertiga; anak-anak perempuan Bapak; menggunakan nama-nama batu mulia. Lucu ya?”
Dia tertawa kecil, tapi kudengar getir. Aku jadi ingat tulisan yang ada di kaca depan rumahnya. Rumah Jahit Intan Lestari.
“Kau marah pada Papa?”
“Ehm.... dulu iya. Tapi, setelah dewasa aku mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Ibuku. Dia seharusnya tidak masuk ke kehidupan Bapak dengan cara seperti itu. Tapi, begitulah cinta kan, Mbak? Sering orang menjadi buta karenanya. Tak mampu berpikir. Tak sadar telah berbuat salah. Setelah itu, rasanya aku tak terlalu marah lagi pada Bapak. Toh, tidak sepenuhnya kesalahan dia. Aku malah jadi kasihan pada ibu Mbak. Pasti sakit sekali rasanya.”
Aku tak tahu terbuat dari apa hati gadis yang tengah berkata-kata padaku dalam gelap ini.
“Dan kau ikut jadi korban atas semua itu.”
“Rasanya semuanya jadi korban. Tidak cuma aku. Cara yang salah itu membawa efek bagi semuanya aku rasa. Mbak pasti juga merasakannya. Iya, ‘kan?”
Dia benar. Bertahun-tahun hubungan orang tuaku tak lagi sangat indah. Mama yang jadi lebih pendiam. Papa yang jadi lebih sibuk di luar atas nama tetek bengek bisnis.
“Mbak, mungkin rumah ini memang untuk kita semua pulang suatu saat nanti. Sekarang aku dan Mbak. Mungkin lain waktu akan bertambah. Siapa tahu? Tolong bilang kepada Ibu, Mbak Fira, dan Mas Andi, silakan datang kapan saja. Tak perlu minta izinku untuk masuk ke sini. Toh, kita semua pernah ada di sini bersama dulu.”
Apakah dia malaikat yang menyaru menjadi manusia?
“Mbak, rumah ini bukan sekadar bangunan rumah untukku. Aku melihatnya sebagai cara Bapak untuk mengumpulkan kita. Paling tidak bagiku ini adalah jalan untuk mendekat lagi pada keluarga Mbak. Mbak tahu salah satu alasan mengapa aku tak keberatan dengan rencana keluarga Ali menunda pernikahan kami sampai dua tahun lagi? Karena kemarin-kemarin aku tak tahu bagaimana meminta Mas Andi untuk menjadi wali nikahku nanti. Paling tidak sekarang aku tahu caranya. Bapak memberikan rumah ini sebagai cara untuk menjawab banyak keinginanku.”
Tuhanku….
Keesokan paginya, hal yang pertama kulakukan adalah mengirim pesan ke telepon Mbak Fira. 'Lestari tak akan menjual rumah itu. Lupakan saja keinginan untuk membelinya. Dia sudah punya rencana sendiri.'
Seperti dugaanku, Mbak Fira langsung membalas pesan itu dengan panggilan bertubi-tubi. Semuanya kutolak. Aku tak ingin berdebat dengannya. Percuma juga dijelaskan lewat telepon sekarang, hanya akan mengundang adu mulut yang menghabiskan pulsa. Biar saja nanti kuceritakan saat aku sampai di Semarang.
“Lestari ke mana, Mak?”
“Pergi sekitar sejam yang lalu, Mbak. Ke makam Bapak.”
Ah ….
*
Jenang gulo, kowe ojo lali marang aku iki tho, Kangmas = jenang gulo, jangan engkau melupakan aku, Kangmas
nalikaning nandang susah sopo sing ngancani? = pada masa susah dulu siapa yang menemani?
dhek semono aku tetep tresno lan tetep setyo tho, Kangmas = waktu itu aku tetap cinta dan setia padamu, Kangmas
durung nate gawe gelo lan gawe kuciwo = tidak pernah membuatmu kecewa
ning saiki, bareng mukti kowe kok njur malah lali marang aku = sekarang justru dalam keadaan senang kau malah melupakanku
sithik-sithik mesti nesu terus ngajak padu = sedikit-sedikit marah dan membuat pertengkaran
jo ngono, ojo ngono = jangan begitu
opo kowe pancen ra kelingan jamane dhek biyen tho, Kangmas = apakah kau benar-benar lupa riwayat kita dahulu, Kangmas?
kowe janji, bungah susah podho dilakoni = engkau berjanji kita akan menjalani susah dan senang bersama.
Minggu-minggu ini aku jadi selalu memasang telinga dan berkonsentrasi penuh mendengarkan setiap kali Pak Juki menyanyikan langgam itu di workshop. Bertahun laki-laki separuh baya menjadi bagian dari tim produksiku dan selama itu pula aku mengabaikan setiap kali langgam itu meluncur dari mulutnya. Kini lain adanya. Setiap kali Pak Juki melagukannya, pada saat yang sama pikiranku sibuk membayangkan sosok wanita yang mengeluhkan nasibnya dengan pilu seperti itu. Seperti apakah dia? Seperti ibukukah? Atau seperti ….
Hari ini Pandu mendatangiku di workshop, tempat persembunyianku. Kusebut begitu karena di sanalah aku bersembunyi darinya. Juga tempat merenungi Jenang Gulo. Persembunyian yang cukup ideal karena dia selalu malas ke sini. Dia tidak tahan debu kayu dan tajam bau cat. Jadi, sebenarnya aku bisa aman, sembari berlagak seakan-akan sedang mengawasi pekerjaan tim produksiku.
Tapi, kali ini dia muncul, ketika aku sedang membantu Mas Gatot mengukur multipleks, bantuan yang sebenarnya tak perlu. Dia duduk diam, menunggu di depan meja tulis darurat, sampai aku menariknya keluar, masuk ke mobilnya. Debu akan segera membuatnya bersin-bersin tak keruan, jika bertahan di situ lebih lama.
“Ada apa kemari?”
“Menarik kelinci keluar dari liang persembunyiannya.”
“Aku bukan kelinci dan juga tidak sedang bersembunyi,” jawabku, sambil mencoba tertawa.
“Ya. Kau hanya sedang menghindariku. Kalau itu usahamu membuatku kangen, maka kau berhasil dengan sempurna. Tapi, aku khawatir bukan itu maksudmu. Perasaanku jadi tak enak. Aku butuh penjelasan. ”
“Bukan menghindar, cuma belum siap untuk bicara.”
“Ehmm.... kedengaran tak jauh beda, sebab kau jadi sulit sekali ditemui. Mari bicara sekarang. Aku tidak tahan lagi dihindari seperti itu.”
Bermenit-menit aku diam. Bermenit-menit pula dia duduk di sebelahku tanpa mengusik. Dia akan tahan tetap seperti itu sampai aku membuka mulut.
“Pandu ....”
“Ya?”
“Aku pikir aku adalah wanita yang datang terlambat.”
Dia mengeryit tak mengerti.
“Tak peduli seperti apa kondisimu sekarang, tetap saja akulah yang datang terlambat. Gerbongmu sudah mulai berjalan ketika aku melompat naik. Di dalam sudah ada kau, Dahniar, dan Bulan. Kalian sudah menetapkan satu tujuan bahkan sebelum aku datang bergabung.”
“Ara.... “
Kuminta dia diam mendengarkan saja.
“Mungkin ada masanya Dahniar berpikir untuk menghentikan laju dan turun di tengah jalan. Tapi itu nanti. Dan masih mungkin. Artinya bisa terjadi, bisa juga tidak. Dan kenyataannya sampai sekarang pun dia masih ada di dalam gerbongmu. Tak peduli apakah dia duduk persis di sisimu, atau di pojok tak terjangkau oleh tanganmu. Pandu, mengertikah kau apa artinya ini untukku?”
“Ara, kau tahu alasanku tak bisa segera bersikap adalah Bulan. Seandainya tak ada Bulan, tak akan aku menempatkanmu pada posisi tak enak seperti ini.”
Bulan? Bukan bocah kecil yang belum paham apa-apa itu maksudku. Bulan justru yang punya kans besar menjadi korban.
“Bukan begitu... justru aku merasa menjadi perusak... “ Sungguh aku merasakan adukan antara perasaan nelangsa dan hina ketika mengucapkannya. “Kau pernah mendengar istilah dalam bahasa Jawa, 'ngerusak pager ayu'? Kalau kau tak mengerti karena kesundaanmu, maka lihatlah diriku. Itulah yang sedang aku lakukan…. Sebenarnya tanpa aku sadari….”
“Bukankah sudah kubilang perkawinanku sudah rusak bahkan sebelum aku mengenalmu? Jauh sebelum itu. Kau tidak merusak apa-apa, Ara.”
Ah.... kenapa dia jadi terdengar seperti tengah mengambinghitamkan sesuatu demi meraih apa yang diinginkannya?
“Tetap saja aku adalah si terlambat yang merusak.”
“Ara….“
“Pandu, jika aku menikah nanti, kuinginkan itu adalah pernikahan yang tidak menimbulkan kesakitan untuk orang lain. Tidak kesakitan, tidak juga kehancuran. Aku wanita biasa, Pandu, yang memimpikan indah pernikahan bukan sekadar berupa kemeriahan pesta, tapi lebih pada awal kehidupan yang bermartabat. Bagaimana bisa terwujud kalau kudapatkan itu dengan cara merusak?”
Hatiku ngilu sekali. Sementara Pandu tercekat.
“Demi Tuhan, Ara kau tidak merusak apa-apa! Semua sudah tidak baik-baik saja jauh sebelum kau ada!” katanya berkeras.
Benarkah? Berarti sahkah apa yang kulakukan?
“Apakah Dahniar tahu tentang aku?”
Wajah cokelatnya berubah warna. Pucat. Kusimpulkan artinya istrinya tak tahu tentang aku. Tapi mungkin ada curiga. Seorang istri selalu punya indra keenam, jika itu berhubungan dengan kelakuan suaminya.
“Bagaimana menurutmu jika kondisinya dibalik? Ada orang lain di sisi Dahniar. Akan marahkah kau? Bisakah kau terima itu dengan lapang dada sebagai satu bentuk kewajaran dan konsekuensi normal atas ketidakberesan perkawinan kalian?”
“Ara, sudahlah! Tak usah berandai-andai. Terserah jika kau mengidentifikasi dirimu sebagai wanita yang datang terlambat. Tapi, kau tidak merusak apa-apa! Aku juga bukan laki-laki yang sibuk berburu wanita lain ketika pernikahanku tak berjalan seharusnya. Aku tak pernah berniat untuk berselingkuh terhadap Dahniar. Cuma keadaannya lain. Bertemu denganmu pun bukan satu hal yang kurencanakan. Tak adil jika kau menumpukan semua kesalahan pada kita.”
Lalu salah siapa?
“Akan kubereskan semua masalahku dengan Dahniar secepatnya.” Matanya menatapku sungguh-sungguh, seperti begitu yakin itulah jalan keluar dari segalanya.
Jika mereka bercerai, maka dia adalah laki-laki bebas merdeka. Tak akan ada masalah lagi bagi hubungan kami. Tapi, tetap ada yang terasa salah. Bulan. Bagaimana dengan dia nantinya? Apa yang dipikirkannya tentang perceraian orang tuanya kelak ketika dia cukup dewasa untuk mengerti? Apakah dia akan jadi seperti Lestari yang tercerabut dari akar silsilahnya? Ah….
“Pandu ... bagaimana jika sebenarnya semuanya itu bisa diperbaiki? Maksudku, bisa jadi apa yang kita pikir sudah rusak itu sebenarnya luka gores yang cuma perlu dijahit dan diperban untuk menyembuhkannya. Lalu tak meninggalkan cacat apa pun. Bagaimana jika begitu?”
Yang kutanya kembali tercenung.
“Bagaimana?”
“Ara, aku bukan tak pernah berusaha memperbaiki kekacauan itu. Cuma semuanya tak pernah tuntas dan selalu saja timbul kekacauan-kekacauan baru. Aku lelah.... Dan setelah itu terjadi lebih dari dua tahun, apakah aku harus tetap menganggapnya sebagai 'luka gores yang hanya perlu dijahit dan perban'?“
“Aku tak tahu, Pandu. Aku cuma berusaha membaca semua kemungkinan.”
“Tak semua kemungkinan terbaca olehmu. Kau menghilangkan kemungkinan atas kita.” Suaranya terdengar getas di telingaku.
Aku menghilangkan kemungkinan kebersamaan kami. Sejak kapan? Aku tahu jawabannya. Sejak seseorang dari masa lalu yang nyaris kulupakan hadir kembali karena wasiat Papa. Dan tanpa dia sadari telah menohokku dengan kisah hidupnya.
“Apa artinya ini, Ara?”
“Artinya aku tidak mau menjadi perusak. Mungkin benar katamu bahwa semuanya sudah rusak jauh sebelum aku datang. Tapi, bisa jadi sebenarnya masih ada kemungkinan untuk memperbaikinya. Mungkin ada kesempatan kedua. Aku takut dengan adaku kemungkinan itu sirna. Kalau itu terjadi, berarti tetap saja aku perusak. Merusak kesempatan kalian untuk berusaha memperbaiki.”
“Lalu?”
Kutatap laki-laki di depanku. Laki-laki yang langsung kusuka sejak pertama kali melihatnya. Mungkin ini akan jadi kali terakhir aku melihatnya sedekat ini.
“Aku turun dari gerbongmu.” Ternyata perihnya langsung terasa... Begitu sekejap datangnya, begitu cepat menjalar.
“Ara … tolong jangan seperti itu….”
Dia menggenggam tanganku kuat-kuat. Tapi, hatiku sudah kadung layu. Dan seperih apa pun aku masih percaya martabatku terlalu tinggi untuk jadi perusak.
“OK, aku bisa terima kita buat jeda sementara sampai kuselesaikan semua masalahku. Lalu kita bertemu lagi.”
Ah …. kenapa dia tak kunjung mengerti?
“Akan kuselesaikan semuanya. Tak akan kutunda lagi! Dan kau tidak merusakkan apa-apa. Kau tidak menghancurkan apa-apa! Kau cuma perlu menungguku sebentar lagi. Tak akan lama, aku janji!”
Berkali-kali diguncangkan tanganku seperti tengah mendapatkan energi baru.
jenang gulo, kowe ojo lali marang aku iki tho, Kangmas …....
nalikaning nandang susah sopo sing ngancani …...
…...........
Lamat-lamat aku seperti mendengar senandung itu. Tidak dalam suara Pak Juki… aku seperti mendengar suara wanita melagukannya. Lirih … liris ….
“Pandu, tak usah menjanjikan apa pun. Cobalah melihat dari sudut pandang yang kujelaskan tadi. Cobalah menoleh ke belakang, melihat lagi apa yang telah kalian lalui. Mungkin kau akan menemukan cara untuk memperbaikinya dari sana.”
“Ara, berapa kali harus kujelaskan bahwa….”
“Kau sudah mengatakannya. Kau cuma belum mencoba lagi mencari cara untuk memperbaikinya. Paling tidak demi Bulan.”
“Ara, Bulan masih terlalu kecil untuk mengerti. Aku yakin bisa mengatur yang terbaik untuknya.”
Lestari juga masih terlalu kecil ketika hal itu terjadi padanya. Dan hasilnya dia tercerabut dari akarnya tanpa bisa membuat perlawanan.
“Kau belum sepenuhnya mengerti maksudku. Pulanglah. Dan pikirkan. Kau dan Dahniar sudah pernah melewati satu kurun waktu bersama. Kalian pernah melewati masa sulit demi restu orang tua yang walau sampai sekarang menurutmu tak pernah komplet. Kalian pernah punya masa baik-baik saja. Kini pikirkanlah benar-benar apakah memang semuanya sudah rusak? Jangan kau jawab sekarang. Pikirkan.”
“Kita bagaimana?”
“Tidak sekarang, Pandu. Dan mungkin juga tidak akan pernah. Jujur aku tak tahu.”
“Kau benar-benar menolakku, Ara …?” tanyanya, tak percaya.
“Ya.” Aku menolak laki-laki yang kusukai sejak pertama kali kulihat….
“Ara, aku janji ….”
Tak kubiarkan lagi dia membuat janji lagi. Bukan karena aku tak percaya janji-janji, tapi karena itu adalah janji yang hanya akan mengukuhkanku sebagai si perusak.
“Tak usah berjanji. Tak perlu ada janji. Agar kau tak berutang apa-apa padaku. Juga karena aku pun tak bisa menjanjikan apa-apa untukmu. Jika pun suatu saat nanti kita bertemu, aku mau itu bukan karena janji. Aku mau kita bertemu tanpa janji, tanpa rencana. Hanya berupa takdir. Sama seperti kita pernah bertemu dulu, ketika belum ada tendensi dalam diri kita masing-masing.”
“Ara, aku tak tahu harus berkata apa lagi…. “
Aku juga. Jadi kubiarkan saja itu menjadi waktu beku.
Ketika akhirnya aku turun dari mobilnya dan dia pergi menjauh, terasa pandanganku begitu buram oleh kubangan di pelupuk mataku.
…...................
opo kowe pancen ra kelingan jamane dhek biyen tho, Kangmas
kowe janji, bungah susah podho dilakoni ….
Kali ini benar-benar suara Pak Juki yang kudengar. Bukan lamat-lamat suara wanita seperti tadi.
Telepon di saku celanaku bergetar. Kuabaikan, tanpa melongoknya. Bergetar lagi. Terus begitu. Pandu. Cuma itu yang ada di kepalaku. Tapi ternyata aku salah. Bukan Pandu yang meneleponku.
“Mbakkk… kok, lama sekali tidak diangkat? Sibuk, ya?”
Suaranya seperti biasa, terdengar riang.
“Tidak. Aku tadi sedang di kamar mandi.” Takkan kuceritakan betapa aku tengah berdiri di pinggir jalan dengan mata tak kering.
“Kok, suara Mbak serak begitu? Sakit?”
“Tidak. Ada apa?” Rasanya makin susah mengontrol pertahananku.
“Boleh malam ini aku menginap di rumah Mbak? Ratri dan Diah sedang pulang. Aku sendirian. Boleh aku ke sana, ya? Oh iya, aku punya pisang raja. Kita buat pisang goreng ya, Mbak?”
Pertahananku jebol sudah. Air itu seperti berlomba merambati pipi kanan kiriku.
“Mbak? Boleh kan aku datang?”
Air-air itu membuat tanganku sibuk dan ujung lengan kemejaku basah. Setengah mati aku menahan sedan agar tak sampai ke telinganya.
“Ya, tentu saja. Kau harus datang….”
Paling tidak aku tak sendiri malam ini. (Tamat)
Penulis: Ina Binanti Alasta


