Fiction
Jas Putih [8]

10 Sep 2012

<< cerita sebelumnya

RUMAH KAY... SEMINGGU MENJELANG PERNIKAHAN.

Kay memoleskan alas bedak ke wajahnya. Kulitnya yang putih tidak banyak berubah dengan polesan alas bedak itu. Kay menemukan beberapa titik hitam baru di pipinya. Kay menyapukan perona pipi untuk menghilangkan kesan pucat dari kulitnya yang putih.
Jantung Kay berdebar-debar. Sepekan lagi, peristiwa penting itu akan terjadi. Pernikahan. Perasaan Kay campur aduk. Selama tiga puluh tiga tahun Kay selalu tahu apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Ia bergelut di dunia LSM yang membuatnya harus bersentuhan dengan anak-anak jalanan yang ditelantarkan. Kay menyukainya. Kay selalu merasa meluap-luap dalam melakukan pekerjaannya.

Anak-anak menurut Kay adalah orang-orang pertama yang harus diselamatkan. Karena mereka tidak berdaya. Tidak mampu menjaga diri mereka sendiri dari ancaman. Dan Kay mendapat kebahagiaan yang tidak terkira setiap kali ia bisa menikmati seulas senyum dari anak-anak itu. Tidak ada yang melebihi ekstase itu.

Banyak orang yang mencibir apa yang sedang Kay lakukan. Mereka mengatakan Kay seperti pahlawan kesiangan. Mereka hanya tidak tahu dan belum merasakan sebuah teori yang begitu nyata. The power of giving, Kay sangat memercayainya. Mungkin karena itu Bunda Teresa tidak pernah lelah merawat orang sakit, pekerjaan yang terlihat begitu melelahkan dan buruk.

Pernikahan. Kay tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah pesta pernikahan. Benarkah pernikahan merupakan pintu gerbang menuju sebuah ruang misteri. Sebuah ruang yang begitu misterius sehingga tidak pernah bisa kau tebak sebelum kau memasukinya. Yama memang orang terbaik, namun pernikahan tetap saja membuatnya berdebar-debar.

Kay selesai dengan dandanannya. Suara mobil  bergerung di depan rumah. Yama sudah tiba. Tepat pada waktunya. Seolah Yama tidak pernah terlambat untuk sedetik pun. Yama memang sempurna. Bahkan terlampau sempurna 

****

Vila Bunga... Puncak

Kay dan Yama duduk bersebelahan di bangku taman sebuah vila dengan hawa dingin membelai-belai tubuh. Tiupan angin lembut menggoyangkan tangkai-tangkai bunga mungil di hadapan mereka. Suara burung terdengar mencicit di kejauhan. Yama melingkarkan tangannya di bahu Kay. Kay memeluk pinggang Yama sambil menikmati juice jeruknya. Petikan harpa kebahagiaan menyelinap di sela-sela hati. Suasana yang sempurna menjelang pesta pernikahan.

Gaun putih seperti busana para peri sudah tergantung rapi di lemari baju Kay. Jas hitam Yama yang beraroma pewangi sudah terselip dengan manis di antara deretan bajunya. Sepekan lagi upacara sakral itu. Dua hari yang lalu, Kay dan Yama sudah mengirimkan undangan pernikahan mereka ke para kerabat dan teman-teman. Besok, undangan itu tentu sudah sampai di  tangan mereka.

Yama mendekatkan bibirnya ke pipi Kay dan memberikan kecupan lembut. Semburat warna merah membias dari pipi Kay. Rasa hangat mengaliri hatinya. Kay memandang Yama sejenak. Dengan laki-laki inilah ia akan menghabiskan seluruh hidupnya. Laki-laki charming dengan jas putihnya yang membuat ia  makin gagah. Kay sudah bisa membayangkan seperti apa hidupnya kelak. Hidup yang diwarnai aroma sedap bunga mawar dan air suam-suam kuku yang mengaliri pembuluh darahnya. Karena ada Yama di dekatnya, laki-laki yang ditakdirkan  menemaninya sampai waktu menumbuhkan keriput pada serat-serat kulitnya. Kay berharap rasa bahagia ini abadi.

Hari beranjak  makin siang. Langit yang sebelumnya cerah, perlahan berganti dengan warna abu-abu. Gumpalan-gumpalan hitam menebal di beberapa bagian. Hujan yang deras akan datang.

”Yama, sebaiknya kita ke dalam. Mau hujan besar, nih.”
Yama mengalihkan pandangan ke langit. Sebelum sempat menjawab ajakan Kay, telepon selulernya berdering nyaring. Sekilas Yama melihat nama penelepon dari layar ponselnya. Membiarkan telepon itu berdering-dering berulang kali, sampai bunyinya hilang sendiri.
”Dari siapa?”
”Dari pasien, Kay. Aku tidak ingin diganggu saat ini.”
”Jawab saja, Ma, siapa tahu penting.”
”Tidak, Kay. Kalau penting, toh, mereka bisa ke rumah sakit. Selama ini aku sudah menyediakan waktuku 24 jam untuk melayani mereka. Boleh kan sekali saja aku menjaga privasiku. Apalagi aku lagi sama kamu Kay di saat-saat yang begitu penting.”
Kay mengangkat bahu. Yama benar. Profesi dokter memang pekerjaan yang idealis. Namun, dokter juga manusia. Kay memeluk pinggang Yama dan berjalan dengan hati bahagia ke bagian dalam vila.

****

YAMA INGIN SEBUAH TIDUR YANG PANJANG yang tidak pernah berakhir. Sudah lama Yama merindukan tidur siang yang nyaman. Di sebuah vila miliknya di Puncak, Yama ingin menuntaskannya. Bersama Kay. Perempuan yang dalam sepekan akan menjadi istrinya.
Yama akan pulang nanti malam. Ia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan di tengah kemacetan. Yama tidak ingin pulang ke Jakarta siang hari, seperti rencananya semula. Terlalu sayang waktu yang dimilikinya bersama Kay. Terlebih ia sebal bertemu dengan laki-laki bungkuk itu. Yang meracuni pikirannya dengan segala keluh kesahnya. Ia ingin tidur siang cukup lama untuk sesuatu yang lebih ingin dilakukannya. Gadis kecil itu, bagaimana nasibnya? Ah, kalau boleh jujur, ia ingin gadis kecil itu enyah saja dari kehidupan. Seleksi alam. Hanya yang kuat yang akan bertahan. Seperti Yama bertahan dalam hidupnya yang keras dan menjelma menjadi manusia yang berharga. Dengan keringatnya sendiri. Tanpa pertolongan dari siapa pun. Tanpa mengemis kepada siapa pun.

****

JAKARTA, HARIAN INTI

Polisi Selidiki Dugaan Malapraktik di Rumah Sakit Permata Bunda
Seorang anak perempuan bernama Rahayu (3 tahun) mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Permata Bunda setelah dirawat selama sembilan hari di ruang ICU. Keluarga melaporkan adanya kesalahan prosedur dalam penanganan kasus Rahayu. Rahayu dilaporkan telah mendapatkan penguapan yang melebihi jarak waktu yang dianjurkan. Akibatnya, uap yang berlebihan itu mencari celah untuk keluar dari paru-paru yang menyebabkan terjadinya pembengkakan di dada, di leher, di muka, sampai menutupi mata Rahayu. Akibatnya harus dilakukan pembedahan di leher Rahayu, namun operasi ini pun gagal menyelamatkan nyawa Rahayu.

Dokter yang menangani kasus ini adalah dr. YP yang dikabarkan sedang bepergian ke Puncak ketika peristiwa itu terjadi. Ibu korban, Setiani, menyayangkan sikap dr. YP yang memilih melanjutkan aktivitasnya di Puncak daripada merawat Rahayu. Padahal, ia sebelumnya berjanji akan tiba di Rumah Sakit Permata Bunda pada pukul dua siang. Kesalahan prosedur ini diduga terjadi akibat adanya salah pengertian antara dokter dengan perawat karena tidak mulusnya sinyal telepon. Dokter YP menginstruksikan tindakan medis terhadap Rahayu melalui saluran telepon kepada perawat NS yang terhitung perawat baru di Rumah Sakit Permata Bunda.   Baik dokter YP maupun perawat NS kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya dijerat dengan pasal 361 KUHP, yaitu melakukan kejahatan yang berhubungan dengan kealpaan dan menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

****

EPISODE KEHIDUPAN KAY BEGITU CEPA
T berbalik arah seperti pusaran angin. Yama, laki-laki yang sangat dikasihinya, ternyata sangat mengecewakannya. Ingatan Kay pada tangan Yama yang terborgol bersama dengan jas putihnya, menerbitkan rasa pahit yang seolah mengguyur seluruh tubuhnya dengan cairan hijau empedu.

Sepulangnya mereka dari Puncak, keadaan begitu kacau-balau. Keadaan Rahayu memburuk dan segala usaha untuk menyelamatkannya gagal. Kay ada di rumah sakit dan semua dilanda kepanikan. Kedatangan Yama dan dokter senior sudah terlambat. Keadaan paru-paru Rahayu telanjur memburuk. Anak tiga tahun itu meninggal dengan tragis.
Kay tidak sanggup melihat tubuh bocah itu yang dingin dan kaku. Wajah mungilnya seolah menagih pertanggung-jawaban pada orang-orang dewasa yang ada di ruangan itu. Ia tidak pantas mati. Ia tidak seharusnya mati. Ia ingin terus hidup untuk menggapai mimpi-mimpi indahnya.

Kay meninggalkan Yama begitu saja. Kay tidak bisa lagi melihat Yama;  sosok tubuh manusia yang pernah dicintainya. Sosok laki-laki itu tiba-tiba menjadi monster bagi Kay. Tiba-tiba gambar-gambar wajah Yama yang sebenarnya terbuka satu per satu di benak Kay. Bahwa laki-laki itu begitu dingin. Ia bengis. Yama tidak pernah peduli pada anak-anak di Rumah Hati. Yama selalu memalingkan wajahnya pada anak-anak jalanan yang mengetuk pintu mobilnya. Yama tak mengacuhkan Nina pada awalnya. Hanya keseriusan Kay untuk membicarakan pernikahan yang bisa membuat Yama membantu Nina. Yama membenci pasien-pasiennya yang berbaju lusuh. Ia membenci semua orang yang berbaju lusuh.

Kay ingat dering telepon berulang yang didengarnya selama perjalanan ke Puncak. Dering telepon yang selalu diabaikan Yama atau dijawab dengan wajah malas. Rahayu sudah memperlihatkan tanda-tanda yang sangat buruk, namun Yama menyepelekannya. Yama lebih mengkhawatirkan apakah orang tua Rahayu bisa membayar biaya rumah sakit daripada memikirkan keselamatan anak itu. Dokter macam apa itu? Dokter mendapat fasilitas yang berlebihan dari pemerintah untuk menjadi seseorang yang memiliki jiwa penolong. Berapa besar subsidi yang dihabiskan pemerintah untuk membiayai pendidikan seorang dokter? Lalu, apa balasan mereka terhadap masyarakat? Mereka hanya menimbun uang sebanyak-banyaknya. Seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Begitulah Yama. Kay lebih baik tidak pernah menikah daripada menikahi pembunuh seperti Yama.

****

TEATER BALI AGUNG, BALI SAFARI...


Ke manakah Kay harus pergi? Tidak ada tempat yang memberinya rasa damai. Tidak ada. Bayangan rasa kecewa dan perasaan hancur itu seolah menjadi bayangan tubuhnya. Ia sudah mengganti nomor HP-nya. Ia sudah berhenti menghubungi Yama, namun kesedihan itu tidak kunjung berakhir. Perasaan yang terasa amat menyesakkan akhir-akhir ini adalah Kay tidak lagi yakin pada dirinya sendiri. Ia tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Sehingga, bayangan yang tampak di depannya seperti penuh kegagalan dan kehancuran.

Hadirin sekalian. Pertujukan Teater Bali Agung akan segera dimulai. Bali Agung mengisahkan legenda Barong Landung di Bali yang sangat termasyhur....
Kay mengusap air mata yang meleleh di pipinya. Ia melirik Melly, sahabatnya yang menemaninya menenangkan hati ke Bali. Melly sudah resmi bercerai dari suaminya. Sahabatnya itu memang perempuan yang sangat kuat.

Teater spektakuler yang melibatkan binatang-binatang liar itu membuat Kay dan Melly terpukau. Selama satu  jam mereka tersihir oleh perpaduan tari dan teater modern itu. Terutama Kay, terpukau pada laki-laki pemeran Raja Jaya Pangus. Kay terpesona pada kemampuan laki-laki itu menari.

”Gimana Kay, suka nggak dengan teaternya?”
”Bagus Mell, aku suka. Cuma, faktor emosi dan dramanya kurang digarap, ya. Jaya Pangus dan Kang Cing Wei tak sekali pun berkata-kata untuk menunjukkan emosi kesedihan maupun kegembiraan.”

”Mungkin konsepnya memang begitu, Kay. Oh, ya, aku kenal pemeran Jaya Pangus-nya, mau aku kenalin?”

Jantung Kay berdetak lebih kencang. Apakah pendulum hidupnya sudah kembali berayun? Ah, tidak, terlalu cepat melupakan tragedi Yama dan memulai sesuatu yang baru. Bali hanyalah tempatnya sementara waktu untuk mengumpulkan energi baru untuk melanjutkan hidupnya. Cukup sudah kisah cinta yang berantakan itu untuk sementara waktu. Hati Kay masih terlampau perih mengingat Yama. Mungkin Kay akan mengistirahatkan lembaran hatinya untuk beberapa waktu  dari sebuah kisah cinta. (Tamat)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?