<<<< Cerita Sebelumnya
Pria yang ditunggunya lebih 20 tahun, kini menawarkan kehidupan penuh cinta. Namun, bagaimana dengan hati seorang pria lain, yang dengan sabar mendampinginya selama ini?
Ketika bangun, Tiwi merasa tungkainya masih ngilu dan kesemutan. Jarum infus belum dicabut, kateter masih terpasang. Tiwi menatap langit-langit kamarnya ketika suster masuk. Suster itu menyeka badan Tiwi. Cekatan, hati-hati, tapi tetap ramah. Tiwi masih asyik melamun ketika Baskoro datang dan membawakan barang-barang keperluannya. Hanya sebentar, Baskoro pergi lagi dan berjanji akan menjenguk siang nanti.
Seusai melakukan berbagai tes kesehatan, Tiwi memanfaatkan waktu untuk tidur, sebelum Baskoro kembali datang. Dalam tidurnya Tiwi bermimpi Baskoro mengajaknya pergi.
“Cepat, Tiwi, nanti ketinggalan!“ teriak Baskoro, tidak sabar, sambil menggandeng Tiwi. Jalan Kaliurang sudah dipenuhi salju, barangkali sampai ke lereng Merapi. Tiang listrik dan pohon-pohon hanya tampak ujungnya saja. Semua tertutup salju. Semua orang berjalan ke satu arah, naik ke gunung, dengan terburu-buru dan wajah dicekam ketakutan.
Tiwi berpegangan erat pada lengan Baskoro karena jalan yang mereka lewati licin dan berbahaya. Samar-samar Tiwi mendengar namanya dipanggil. “Nana... Nana... tunggu, Na….”
Ray, yang masih jauh di belakang, melambai ke arahnya.
“Mas Bas, tunggu Ray sebentar, Mas. Kasihan,“ kata Tiwi.
Tapi, Baskoro tetap menyeretnya. “Cepat, gerbangnya akan segera ditutup oleh Ngarso Dalem. Yogya akan segera ditenggelamkan,“ jawab Baskoro, gusar.
Awan dan kabut menutupi jalan. Tiwi berjalan terseok-seok, sambil menangis. Lamat-lamat dia melihat Gunung Merapi telah berubah wujud menjadi kapal raksasa. Dia melihat kedua eyangnya sedang melambaikan tangan. Ketika gerbang benar-benar ditutup, Tiwi telah berada di dalam kapal dengan hati pilu. Perasaannya hampa. Apakah Ray masih di bawah sana? Apakah Ray akan dibawa ombak?
“Tiwi, bangun… ada tamu, tuh,“ bisik Baskoro, sambil mengguncang-guncang lengan Tiwi.
Tiwi membuka mata dengan malas.
“Di luar ada Pak Oce yang ingin menemui kamu. Aku pamit dulu, ya. Nanti sore Eyang akan ke sini,” kata Baskoro.
Tiwi sedang mengatur bantal untuk bersandar, ketika laki-laki tinggi semampai itu menutup pintu. Laki-laki itu membalikkan badan dan mengucapkan salam, “Ibu Tiwi, apa kab...,“ kalimatnya menggantung.
Senyum Tiwi hilang. Jantungnya melompat. Seluruh sendinya ngilu. Matanya panas. Badannya menggigil kedinginan. Lidahnya kelu, ia hanya bisa berbisik, “Ray, apakah aku sedang mimpi?“
Ia segera bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya menatap langit-langit. Napasnya terengah. Ia menggigit bibir kuat-kuat agar tangisnya tidak meledak.
“Silakan, Pak Oce,” Tiwi mencoba mengembalikan kontrol dirinya. Keringatnya membanjir.
“Ratna Dria Pertiwi... Nana, sungguh tidak terduga,“ sahut Pak Oce.
Gelombang bawah sadarnya muncul kembali. Hanya ada dua orang yang memanggilnya Nana, almarhum ayahnya dan Ray.
“Pak Oce, terima kasih telah datang menjenguk. Apa yang ingin Anda bicarakan?“ tanya Tiwi, berusaha tenang.
“Nana, aku Ray. Aku Reihan...,“ kata laki-laki itu, pelan. Tangannya yang gemetar menyentuh tangan Tiwi, lalu menggenggam erat jari-jarinya. Sebenarnya, ia ingin mencium tangan Tiwi dan memeluknya, tapi Ray teringat pada Baskoro. Dia tidak ingin dituduh kurang sopan oleh suami Ibu Tiwi yang sudah berbaik hati menjemput, lalu mempertemukan keduanya.
Tubuh Ray bergetar hebat karena menahan emosi, menahan kerinduan dan luapan rasa cinta pada wanita yang kini ada di hadapannya. Tiwi masih diam. Ray tidak berubah. Setidaknya secara fisik. Penampilannya makin matang. Ribuan pertanyaan berjejalan di kepala Tiwi.
Ray menerangkan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan ucapan terima kasih karena Tiwi telah memberikan banyak ilmu pada masyarakat Maluku Tenggara.
Tiwi mulai berani menatap mata laki-laki itu. Dari dulu Ray sudah memiliki sikap tenang. Ia mulai merasa santai. Pikirannya berputar ke mana-mana. Saat ini Ray berada di hadapannya. Itu membuat Tiwi sangat senang dan bahagia. Dia sudah menantikan pertemuan ini hampir separuh hidupnya. Dia yakin, dia bisa menjalin hubungan lagi dengan Ray, tapi bagaimana dengan Ray?
Ray juga sedang galau. Selama ini bayangannya tentang Tiwi belum beranjak jauh dari bayangan seorang gadis yang memikat karena kesederhanaan dan kepolosannya. Ray menegakkan punggungnya, masih sedang memikirkan kata-kata yang tepat.
“Nana, pertemuan kita ini nyaris mustahil. Terus terang, aku sempat menyesali, mengapa baru sekarang kita dipertemukan. Tapi, pertemuan ini sepertinya sudah digariskan Tuhan. Na, aku ingat, saat itu tiba-tiba aku harus ke Jakarta. Maaf, aku tidak sempat memberi tahu karena tidak ada waktu lagi. Aku dipanggil untuk tes oleh sebuah biro konsultan finansial yang cukup bergengsi. Aku lolos. Ketika itu aku mengurus surat-surat kepindahanku ke Jakarta dan berniat mengabarimu, tapi kamu dan teman-teman sekolahmu sedang tur ke Bandung. Lalu, kamu sepertinya sibuk akan masuk perguruan tinggi. Aku cuma mendapat selembar surat yang kau titipkan lewat Bu Nonong. Saat itulah aku merasa kehilangan. Aku berusaha mencarimu, tapi hasilnya nol besar. Setiap kali aku ke Yogya, aku pasti mencari kamu, Na,” tutur Ray, sedih.
“Anakmu sudah berapa, Na?“ lanjut Ray.
Tiwi tersedak, “Hanya satu.”
“Tampaknya, kamu bahagia. Punya suami yang baik dan kehidupan yang mapan. Aku ikut bahagia, Na,“ tambah Ray.
Tiwi menatap Ray sekilas. Wajah laki-laki itu membeku. Sorot matanya tampak begitu terluka. Bagi Tiwi, itu sudah menjelaskan semuanya. Pasti Baskoro dianggap suaminya. Keluarga bahagia dengan satu anak. Sekaranglah saatnya untuk bicara. Hanya dengan bicara, semuanya akan selesai. Tiwi menarik napas panjang sebelum mulai membuka mulut.
“Ray, sebenarnya, aku juga mencarimu, dengan caraku sendiri. Sangat berat menjalani masa pencarian itu. Selepas SMA, aku tidak kuliah. Aku bekerja di perusahaan garmen Bu Handoyo. Mulanya, aku tinggal di rumah Eyang di Magelang, tapi kemudian Eyang di Yogya minta aku tinggal di sini. Aku pun kuliah sambil bekerja. Setelah lulus, aku sering diundang ke berbagai kota untuk mengadakan pelatihan. Di sanalah aku mencarimu, mulai dari mengamati buku telepon hingga mencari tahu lewat relasi. Hasilnya, nol besar. Jadi, kemunculanmu yang tiba-tiba ini tentu membuatku percaya bahwa ini cuma mimpi,“ Tiwi mengakhiri ceritanya dengan mata basah.
“Nana, jadi kamu tidak menikah dengan Baskoro?“ tanya Ray.
Tiwi menggeleng dan menceritakan sekilas tentang sepupunya itu.
“Tadi kamu bilang, kalian punya satu anak,“ desak Ray.
“Aku hanya bilang, itu anakku. Anak kandungku,“ sahut Tiwi, hampir berteriak di antara isaknya.
“Nana, sekarang katakan, apakah berarti anak itu anakku?” Ray menggenggam tangan Tiwi dengan kedua tangannya yang gemetar.
“Tentu saja itu anakmu! Anak siapa lagi?“ teriak Tiwi, sambil menarik tangannya, lalu memukul Ray sejadi-jadinya.
“Ya, Tuhan, ampunilah aku,“ bisik Ray, sambil memejamkan mata.
Kamu jahat, Ray. Kejam, tidak bertanggung jawab. Laki-laki pengecut, meninggalkan aku sendiri. Kamu tidak pantas jadi bapak untuk anakku,” Tiwi melontarkan semua perasaannya.
Ray rela seandainya Nana ingin membunuhnya sekalipun. Itu belum seberapa dibandingkan penderitaan gadis itu selama ini.
Tiba-tiba Tiwi berteriak kesakitan. Jarum infusnya berubah posisi. Ray segera mengangkat wajahnya. Ray memanggil suster. Dalam hitungan detik suster datang dan membetulkan posisi jarum infus. Setelah tenang, Tiwi kembali duduk dan tiba-tiba teringat pada Dody.
“Ray, saat aku di Maluku tempo hari, aku bertemu anak muda yang persis kamu. Tepatnya, persis kamu saat muda,“ kata Tiwi.
“Kamu sampai ke Dulah Laut?“ tanya Ray, sekilas.
“Tidak hanya ke sana, aku juga dijadikan anak angkat Bapa Soa di sana,“ sahut Tiwi, bangga.
“Hah? Kamu jadi anak angkat bapakku?“ Ray seperti disengat lebah.
Ray membungkuk di depan Tiwi sambil memegangi lututnya. “Nana, kamu sudah lupa pada nama dan alamat yang pernah kuberikan padamu dulu? Sebelum ke Jakarta, aku menitipkan 2 alamat yang bisa kau hubungi. Satu alamat familiku di Jakarta, satu lagi rumah Bapak Rahman Rahadet di Maluku Tenggara. Namaku Reihan Rahadet. Anak muda yang kamu lihat itu pasti Dody, adik bungsuku.”
Tiwi merasa lantai kamar tiba-tiba bergoyang. Tubuhnya siap melayang. Ia memegang lengan Ray, sambil memejamkan mata. Napasnya turun-naik dengan cepat. Dia terengah-engah karena hari ini dia mendapat banyak kejutan besar yang mengguncangkan batinnya.
“Ray, aku belum pernah menerima alamat apa pun dari kamu. Kamu kirim lewat pos?“ tanya Tiwi.
“Kutitipkan Aditya, teman kosku,” kata Ray.
Tiwi menggeleng. “Ray, kamu tahu, aku tidak mungkin lalai untuk hal sepenting itu. Aku tidak pernah menerima alamat itu dari siapa pun.“
Ray percaya itu. Barangkali memang jalan hidupku harus seperti ini, keluh Ray dalam hati. Dia harus menelan kenyataan pahit itu.
Suara lonceng besar di menara rumah sakit itu berdentang dua kali. Tiwi ingat janji Dokter Hendarto pagi tadi, diagnosis tentang penyakitnya sudah siap siang ini. Aneh, kemarin dia merasa takut untuk mengetahui penyakitnya. Kini, dia merasa lebih punya keberanian. Sebegitu besarkah arti kehadiran Ray di sampingnya?
Dokter Hendarto masuk kamarnya dan memberi tahu hasil diagnosis. Rupanya, gula darah Tiwi cukup tinggi. Itulah yang membuatnya sering pusing dan lemas. Namun, vonis diabetes itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang akan dihadapi setelah pertemuan ini.
Setelah dokter pergi, Tiwi melanjutkan ceritanya. “Ray, selama ini aku telah belajar seribu cara untuk bersabar, menenangkan hati, dan mengubur kecemasan selama bertahun-tahun menunggumu. Hanya satu yang tetap kupelihara, harapan.Jadi, ketika hari yang kutunggu ini benar-benar terjadi, aku bahagia.”
Ray memeluk Tiwi dengan hati-hati. Ditatapnya wajah gadis itu dengan penuh kerinduan. Gejolak kegairahan terlihat jelas dari rona merah di pipinya. Ray memandang wajah di depannya tanpa berkedip, lalu mencium bibir itu dengan lembut.
“Nana, kita harus segera menikah,“ bisik Ray, parau. Tatapan matanya hangat, tanpa gejolak yang menggelora.
Tiwi menangis tanpa suara. Dia tak mampu berkata apa-apa. Dia sudah terjebak dalam sedu sedan yang pilu.
“Ssst, sudah, Na. Aku tahu apa yang akan kau ucapkan. Aku masih belum kehilangan gadisku tercinta, ‘kan?“ bisik Ray.
Tiwi tidak mampu mengangguk. Ray menghapus air matanya dengan saputangan. Ia mengecup pipi Tiwi, yang teringat puluhan tahun silam.
Ray pernah bertanya, “Nana, kenapa kamu mencintai Ray?” Mata hitam itu kini bersinar jenaka.
Tiwi gelagapan. Dia memang tidak pernah memikirkan apa yang membuat dia mencintai Ray. Tiwi hanya merasa nyaman, senang, dan bahagia bila sedang bersama laki-laki itu. Ray tidak pernah menganggapnya anak kecil. Ray juga tidak pernah sok tahu. Ray adalah laki-laki dewasa yang baik hati, seperti Janges.
Tiwi sering berkhayal, andaikata ayahnya sebaik Ray atau Janges, pasti hidupnya akan sangat indah.
“Nana, sebenarnya aku ke Yogya untuk dua urusan. Mengunjungi Bu Tiwi itu dan melamar seorang gadis Yogya untuk keponakanku,” katanya.
Ray mengambil kartu nama dari dompetnya danmenyodorkannya kepada Tiwi, yang harus membaca tulisan itu sampai tiga kali untuk meyakinkan dirinya. RM Soewito Wiryohutomo, Rumah Joglo Jalan Kaliurang Km 8,3, Gang Nusa Indah No. 100 Yogyakarta.
“Ray, siapa nama gadis yang akan kau lamar?” tanya Tiwi. Kedua tangannya dingin. Tiwi masih berharap penglihatannya keliru.
Penulis: Yetty Diaz PR


