<< cerita sebelumnyaApa yang kupahami tentang konsep berbagi selama ini? Kumiliki dan kupimpin sebuah perusahaan. Setiap tahun kubagi keuntungan perusahaanku pada setiap karyawan, karena bagiku merekalah tiang-tiang perusahaan. Kusedekahkan pula sebagian penghasilanku, sesuai ajaran agamaku, karena demikianlah Tuhan mengajarkan kepada umatnya, supaya tidak terikat pada harta dunia. Karena, ada harta surgawi yang melebihi segala harta.
Di atas semua itu, ternyata tidak kupahami konsep berbagi yang sesungguhnya. Ternyata, seekor anak anjing bahkan lebih memahami konsep berbagi yang sejati, daripada aku seorang manusia yang merasa bermoral dan berpendidikan.
Aku mencoba mengingkari suatu kenyataan bahwa sesungguhnya Ayah tidak lagi kumiliki secara tunggal. Kutolak keberadaan Tenggara. Kuingkari segala bukti. Kuvonis dia sebagai pencuri kepemilikan tunggalku. Meski sesungguhnya dia adalah seseorang yang memiliki hak serupa dan sebangun denganku. Hak untuk memiliki kasih sayang dari seorang ayah yang satu, seorang ayah yang sama. Ayahku yang adalah ayahnya.
Sesungguhnya, siapakah pencuri itu? Tenggarakah?
Jawabnya: bukan Tenggara, melainkan aku.
Rasa itu menghampiriku. Sebuah rasa yang kusimpan dengan pedih sekian lama. Duka yang menggigit sehingga tidak pernah kuikhlaskan kepergian Bunda, meski bertahun-tahun sesudah itu. Sebuah rasa yang setiap kenangannya membersitkan kepedihan, seakan sebuah luka menganga lebar yang tak tertambal. Luka oleh karena rasa ditinggalkan.
Kini, kuberikan rasa luka itu pada seorang anak. Bahkan kubenamkan dia jauh ke dasar, dengan tega hati, tanpa rasa haru, apalagi belas kasihan. Kupejamkan mata. Sesuatu yang tajam, entah apa, seakan menusuk ulu hatiku. Mataku menghangat kemudian.
Jade menepuk punggung tanganku, diulurkannya saputangan.
”Natal tak lama lagi. Tidak setiap orang berkesempatan memilih hadiah Natal bagi dirinya sendiri. Kali ini peluang memilih itu ada padamu, entah menerima atau mengabaikan seseorang, yang kepadanyalah kau akan berbagi kehilangan sekaligus belas kasihmu.”
Aku menangis.
Sayap CahayaBangunan sekolah itu masih sama seperti ketika kutinggalkan tadi pagi. Bedanya, bangunan itu berselimut gelap malam. Cahaya benderang hanya tampak di sisi kanan halaman itu. Di sanalah bangunan asrama berada. Ibu pengasuh asrama mengantarku pada sebuah kamar. Tertutup pintu kamar itu.
”Tenggara ada di dalam, tidak keluar kamar sejak usai pelajaran sekolah siang tadi. Baru saja saya menawarinya makan malam, tetapi ditolaknya.”
Aku mengiakan dan memintanya menungguku di ruang tamu.
Kuketuk pintu dan membukanya perlahan. Di dalam ruangan kecil itu seorang anak berdiri termenung di depan jendela. Begitu diam anak itu mematung di tempatnya berdiri. Gerangan apa yang ada di benak kecil itu? Merenungi gelap malam, atau merenungi sebuah rasa ditinggalkan?
Tatap mataku mengabur.
”Tenggara,” panggilku kemudian, dengan suara tercekat.
Kepala kecil itu menoleh dengan terkejut, menatapku sesaat, sekilas ada bimbang tersirat pada mata itu. Sangat sekilas untuk kemudian dengan gerak cepat kakinya berlari ke arahku.
”Kakak...!” serunya, ekspresif. Lengan kecilnya terulur dan melingkariku dengan pelukan. Erat pelukan itu mengunci gerakku.
”Mengapa aku harus tinggal di sini? Mengapa harus kubawa semua bajuku? Kakak marah padaku?”
Tenggara menangis tersedu, tangisnya membasah di bajuku.
Kumiliki tangis yang sama. Kupeluk tubuh kecil itu dan kubenamkan tangisku di bahu mungilnya.
”Maafkanlah aku,” isakku, tanpa suara.
Untuk semua pengingkaran yang kulakukan. Untuk semua yang kucuri daripadamu. Untuk rasa pedih dan luka yang kugoreskan padamu. Maafkanlah.
”Kakak menjemputmu sekarang, tidak akan pernah lagi kau kutinggalkan,” janjiku, bersungguh hati.
”Aku juga sungguh tidak akan nakal lagi.”
Aku makin terisak, tak mampu menghentikan tangisku.
Anak malang, gumam benakku. Maafkanlah aku. Kakakmu. Saudara sedarahmu.
Lalu kami berjalan menuju pulang. Jemari kecil Tenggara tidak lagi mencengkeram ujung bajuku seperti yang biasa dilakukannya, karena jemari itu kini berada di dalam genggamanku. Kami melewati halaman luas sekolah itu. Di sisi kanan dan kiri terhampar padang rumput. Malam terasa redup karena hanya ada beberapa lampu taman dengan sinar yang terbatas.
Entah dari mana datangnya melintas beberapa cahaya. Melayang-layang di atas rerumputan.
”Kak, lihat,” Tenggara menunjuk cahaya-cahaya itu.
”Itu kunang-kunang. Dulu Ayah sering menangkap kunang-kunang untukku, kusimpan di stoples, kemudian melepasnya satu per satu melalui telapak tangan.”
” Kakak menyentuh sayap-sayap bercahaya itu?” seru Tenggara.
”Bukan sayapnya yang bercahaya, melainkan perutnya. Kunang-kunang memiliki zat tertentu di dalam tubuhnya, yang menghasilkan energi pemancar cahaya.”
”Tetapi, dari jauh, seperti sayapnya yang bercahaya.”
Sayap bercahaya. Ah, benar juga. Dari jauh seakan-akan kunang-kunang itu melayang dengan sayap-sayap cahayanya.
”Ada sebuah dongeng tentang kunang-kunang. Kau mau de¬ngar?” tanyaku.
Tenggara menatapku seakan tak percaya.
”Ada seekor kunang-kunang. Suatu hari dia mendapati cahaya sayapnya meredup oleh suatu sebab yang tidak diketahuinya. Kunang-kunang itu sedih karena keredupan cahaya itu menyulitkannya menemukan arah yang akan dilaluinya. Cahaya yang tak cukup benderang akan membuatnya mudah tersesat kala menempuh perjalanan. Maka, kunang-kunang itu berupaya menyempurnakan kembali cahayanya. Namun, segala usahanya sia-sia dan cahayanya bahkan makin meredup.”
Tenggara menyimak dongengku.
”Suatu hari datang seekor kunang-kunang kecil yang terbang mengikutinya. Kunang-kunang kecil itu ingin berteman dengannya. Namun, kunang-kunang besar tak peduli, karena sibuk memulihkan cahayanya. Maka ditinggalkannya kunang-kunang kecil itu. Hingga beberapa saat kemudian dilihatnya betapa malangnya kunang-kunang kecil itu. Rupanya dia adalah anak kunang-kunang yang tersesat, kehilangan jejak ibu dan kelompoknya yang terbang entah ke mana. Kunang-kunang kecil yang sendirian. Muncullah belas kasihan di dalam dirinya terhadap kunang-kunang kecil itu.”
”Apa yang terjadi?” sela Tenggara.
”Kemudian ditemaninya kunang-kunang itu dan diajaknya bermain, bahkan dibantunya si kunang-kunang kecil itu menemukan kembali jejak ibunya yang hilang. Maka kunang-kunang kecil dan ibunya sangat bersuka-cita bisa bertemu kembali, mereka sangat berterima kasih pada kunang-kunang yang pudar cahaya itu. Sesudah itu, kunang-kunang itu menyadari, cahaya di dalam dirinya tidak lagi meredup.
Tenggara mendengarkan tanpa berkedip.
”Didapatinya bahwa sayap-sayapnya mengepak dengan cahaya benderang, menerangi segala arah. Kunang-kunang itu takjub melihat cahayanya sendiri, karena tidak pernah ditemukannya cahaya sebenderang itu di dalam dirinya selama ini. Lalu sadarlah dia dari mana cahaya terang itu berasal. Sesungguhnya kunang-kunang kecil itulah yang membantunya menemukan kembali cahaya yang pernah dimilikinya.”
”Apa yang dilakukan kunang-kunang kecil itu?” tanya Tenggara, amat penasaran.
”Memunculkan rasa kasih. Karena kasihnya kepada kunang-kunang kecil itu, maka cahaya di dalam dirinya tidak lagi memudar, bahkan terbit kembali membuat benderang sayap-sayapnya. Kunang-kunang kecil yang berjasa.”
”Aku ingin menjadi seperti kunang-kunang kecil itu. Suatu hari nanti bila Kakak sedih, aku akan membuat kakak kembali gembira,” katanya, lugu.
Kuulurkan lengan memeluk anak itu. Kusandarkan diri pada bahu kecilnya. Bukan suatu hari nanti, melainkan hari ini kau telah menjadi kunang-kunang kecil itu bagiku. Kau telah menuntunku menemukan kembali sayap-sayap cahayaku.
Kau adalah kunang-kunang kecil dengan cahaya yang belum sempurna, namun dengan ketidaksempurnaan itu justru kau sempurnakan sayap cahayaku yang sempat memudar. Kini, dengan sayapku akan kulindungi dirimu sepenuh hatiku. Maka marilah kita senantiasa terbang bersama, saling mendukung dan menjaga agar cahaya sayap-sayap kita senantiasa benderang.
Karena, begitulah yang dikehendaki Ayah atas kita. Ayahku. Ayahmu. Ayah kita berdua.
Dulu kumiliki sayap yang bercahaya. Suatu kali meredup karena kepergian Bunda. Namun, Ayah dengan segala kasihnya, menjadi energi pemancar bagiku sehingga sayapku tetap bercahaya.
Cahayaku meredup, bahkan padam karena Ayah tiada lagi.
Namun kini, datang bagiku sayap-sayap kecil, dengan sayap yang belum sempurna merengkuhku dan memberikan cahaya baru bagi sayap-sayapku. Dia adalah seseorang yang Ayah simpan untuk menjadi penjagaku suatu hari nanti.
Tidak setiap Natal membekas di hati. Kali ini kudapati anugerah Natal tak terduga, yang akan terus menyertai malam demi malam kudusku selanjutnya. Seorang adik bernama Tenggara.
Dengannyalah aku akan terus terbang, berbagi cahaya.
(tamat)
Penulis: Sanie B. Kuncoro