Kisah sebelumnya:
Jepp, seorang pemuda Dayak sungai, hidup di pelosok Sungai Tengah, Kalimantan, bersama ibunya yang dipanggil Umak. Namun, atas dorongan Niah, gadis yang ia cintai, Jepp pergi mengglondong, menebang kayu di tengah hutan. Ketika berada di jantung hutan, Jepp menyadari betapa keras hidup di hutan.
<<<<< Cerita Sebelumnya
BANG Resok mendatangi kamp setelah satu minggu berlalu. Seperti yang dikatakannya, dia membawa barang-barang kebutuhan hidup untuk di hutan. Dan aku segera mengambil lagi. Uangku tersisa sedikit, hanya sekitar seratus ribu saja setelah dipotong untuk barang-barang yang minggu lalu kuambil.
Hari Minggu adalah hari libur. Hari yang secara umum sudah menjadi kesepakatan di dunia kerja sebagai waktu istirahat. Lima orang Jawa, Teguh dan teman-temannya, mereka lebih memilih duduk-duduk saja. Enam kawan sedesaku berpencar ke sungai. Mereka mencari ikan segar untuk dibakar. Bosan dengan ikan asin.
Aku menghabiskan hari libur itu dengan menjelajah hutan. Dan rasa penasaran tentang batas wilayah hutan konservasi membawa langkahku kembali ke sana. Penasaran yang meneror benakku tiap saat.
Suasana lengang. Raungan chainsaw yang biasa terdengar, tidak ada bunyinya sama sekali. Layaknya manusia, sekali waktu, mesin-mesin itu pun harus diistirahatkan. Aku melangkah terus sambil mendengarkan suara ayam hutan. Siulannya nyaring menembus belantara.
Sesuatu bergerak-gerak di antara batang pohon. Aku merunduk lalu bersembunyi di balik semak. Seekor orang utan berayun di pucuk pepohonan. Orang utan yang masih muda. Aku diam-diam mengikutinya. Namun, gerakan orang utan itu lebih cepat sehingga jejaknya tidak tertangkap olehku.
Tiba-tiba di depanku terhampar daerah terbuka. Sebuah areal yang lingkungannya dipagari kawat. Ada beberapa kandang besi di dalamnya dan beberapa bangunan rumah. Sepertinya sebuah penangkaran.
Kandang-kandang itu berisi orang utan-orang utan yang terlihat jinak. Seorang perempuan kulit putih setengah baya dengan rambut pirang dan berkacamata berjalan mengitari kandang. Di belakangnya seorang laki-laki membawa keranjang berisi potongan semangka. Perempuan itu membagi-bagikan potongan-potongan semangka, satu potong untuk tiap orang utan. Dia terlihat penuh perhatian dan menuangkan susu dari ketel, langsung mengucur ke mulut orang utan yang sudah menganga menanti jatahnya.
Aku memperhatikan semuanya tanpa menyadari bahwa seorang laki-laki sedang berjalan ke arahku. Dia tampak heran dengan kehadiranku. Apalagi dengan pakaian yang dekil, pakaian yang sering kugunakan untuk bekerja. Celana panjang warna cokelat dengan kaus merah kusam bergambar lambang salah satu organisasi politik pemberian orang-orang yang berkampanye tahun lalu, serta sebuah topi norak yang bertengger di kepalaku.
Sebelum orang itu sampai, aku tersadar dan buru-buru melangkah pergi. Tergesa-gesa menjauhi pagar kawat. Hampir saja tertangkap basah. Dari balik semak, aku mendengar laki-laki itu berbicara dengan temannya.
“Kelihatannya salah satu penebang liar,” ujar laki-laki itu, sambil mengamati arah pergiku. Temannya terdiam. Lalu mereka berdua berjalan ke arah perempuan kulit putih setengah baya itu. Berbicara dengannya sejenak. Lalu perempuan itu memandang ke arah di mana aku tadi terlihat. Sorot matanya terlihat curiga.
****
AKU menjatuhkan badanku ke atas batang kayu yang telah ditebang. Tunggul-tunggul bekas tebangan yang tingginya tinggal sejengkal dari tanah itu, kini menjadi tempat duduk-duduk di dekat kamp.
“Dari mana saja kau, Jep?” tanya seorang teman sedesaku. Kulihat dia sedang membalur-baluri ikan tangkapannya, ada satu bubu kecil, dengan garam.
“Jalan-jalan saja,” sahutku enteng.
“Jangan terlalu jauh berjalan-jalan,” suara Teguh mendadak ikut menimbrung. “Kita ini di daerah rawan.”
“Daerah rawan?” tanyaku heran. Pasti ada kaitannya dengan pagar kawat yang mengelilingi bangunan dan kandang-kandang besi itu.
“Kita di dalam hutan lindung?”
“Hutan lindung?”
Teguh menghela napas. Agak berat sampai akhirnya ia kembali membuka mulutnya. Sepertinya dia mengetahui ke mana aku pergi.
“Kita ini pembalak liar.”
Aku terkejut, teman-temanku juga. Apa artinya semua ini? Apakah pekerjaan ini tidak resmi? Terlarang? Sepertinya begitu. Mengapa otakku tidak cepat mencerna situasi ini? Bukankah kegiatan seperti ini juga marak di dekat kampungku sana? Perlahan, bertunas rasa kecewa dalam dadaku.
“Jangan katakan kepada mereka, Guh!” ujar seorang teman Teguh, yang usianya sepantaran dengan Teguh, seorang Jawa yang tak banyak bicara.
“Tak ada guna menyimpan kebusukan, Dir. Toh, cepat atau lambat mereka juga akan tahu. Dan kau pasti sudah melihat patok-patok itu, ‘kan?”
Tak ada gunanya aku berbohong. Aku mengangguk.
“Aku tidak tahu patok batas apakah itu dan aku enggan bertanya kepada kalian,” aku mengedarkan pandangan ke arah Teguh dan teman-temannya. “Kupikir hanya batas wilayah biasa saja.”
Teguh menggeleng. “Itu batas wilayah hutan lindung. Hutan konservasi. Kita semua saat ini sedang berada di dalam wilayah yang tabu untuk menebang. Berada di dalam wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Dan pekerjaan kita adalah, mengglondong secara ilegal, meskipun yang membayar tebangan kita adalah orang-orang dari perusahaan yang legal. Lewat bos-bos lapangan.”
“Mengapa mereka membayar kita untuk mengambil kayu di hutan lindung?” aku masih penasaran.
“Kau tahu, beberapa tahun belakangan, ramin sudah makin langka. Sudah tidak ada lagi di hutan bebas. Kalaupun masih tersisa, hanya di hutan-hutan konservasi seperti ini. Dan mengambil kayu di hutan konservasi, paling-paling hanya membayar tol untuk penjaga hutan, ketika kita memilirkan log-log. Perusahaan dapat untung banyak dengan usaha seperti ini.”
Aku tercenung. “Kau mengerti banyak, tetapi mengapa tidak takut terus bekerja jadi pembalak liar di sini.”
“Aku pernah berhenti mengglondong. Tetapi keluargaku butuh makan, aku sudah telanjur memboyong mereka semua dari Surabaya untuk ikut ke sini. Dapur kami tak bisa mengepul kalau aku menganggur. Mencoba mencari pekerjaan lain, susah! Akhirnya aku kembali mengglondong bersama anakku yang seumur denganmu.”
“Anakmu juga kau ajak mengglondong?” tanyaku heran. Aku tak melihat ada pemuda yang berwajah seperti Teguh, minimal menuruni sedikit garis wajahnya. Kuteliti kembali satu per satu wajah para pengglondong.
“Dulu. Sudah setahun dia meninggal. Tertimpa kayu saat mengglondong.” Suara Teguh terdengar sendu. “Dia baru dua puluh dua tahun.” Tersirat lukisan duka di wajah setengah bayanya. Usianya paling tidak sudah lima puluh tahunan. Aku tercekat.
“Kau tidak kapok?”
“Bagaimana mau kapok. Kalau aku berhenti, siapa yang akan memberi makan keluargaku? Tak ada pilihan lain. Meskipun sering kali aku pulang hanya membawa uang seratus ribu saja tiap bulan. Uang gajian tiap minggu habis untuk belanja kebutuhan di sini.” Teguh bercerita panjang lebar. “Sebenarnya aku kasihan dengan istriku. Dia sampai harus ikut bekerja keras membuat tempe tiap hari untuk dijual, karena uang dariku tak cukup untuk membiayai kehidupan kami. Anak-anakku putus sekolah. Seharusnya aku tak membawa mereka ke sini.”
Aku tertunduk. Nasibku jauh lebih baik. Ayah memang sudah meninggal, tetapi kami memiliki sabah dan kebun yang selalu memberi hasil yang cukup untuk sekadar bertahan hidup. Kami mengambil apa yang dibutuhkan sekadarnya dari lingkungan kami.
****
SUDAH hampir satu bulan aku berada di tengah rimba. Sesekali aku melihat bekantan berekor panjang melompat dan berayun di dahan-dahan pepohonan yang tumbuh di tanah berawa ini. Namun orang utan, jarang sekali kutemui. Kecuali yang dekat dengan kandang-kandang di mana dulu aku tepergok.
Malam ini aku sedang menghitung-hitung berapa peruntunganku selama bekerja mengglondong. Rupanya, apa yang dikatakan Bang Resok dahulu berbeda dengan kenyataan di lapangan yang kuhadapi. Kami bukannya digaji per minggu. Tetapi kami mendapat persen dari harga kayu sejumlah yang kami tebang. Persen kami dapatkan dari bos-bos lapangan yang nantinya berurusan dengan masalah ke mana kayu itu dijual. Kami hanya tahu menebang. Makin banyak yang ditebang, upah bertambah. Namun, aku mulai resah.
Kawasan hutan sebelah barat dan utara nyaris seluruhnya kami rambah. Dan kayu ramin sudah mulai jarang. Padahal, di dalam hutan lindung. Apalagi di luar hutan lindung, aku yakin sudah tidak ada lagi kayu jenis ini. Maka kami mengalihkan tebangan pada jenis kayu yang juga lumayan tinggi harganya, bengkirai.
Selama hampir satu bulan aku tak mendapat banyak uang untuk disimpan. Hampir seluruhnya ludes untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Aku harus mulai mencari celah, sebab aku sudah berjanji akan pulang menjelang panen sabah.
Ah, sedang apa si Niah sekarang. Sudahkah dia membantu Umak membelah kayu dan menanak beras?
Pikiranku sejenak melayang ke kampung halamanku. Rindu yang teramat sangat. Rindu ingin mengelus batang pohon asam yang aku yakin sudah berbuah kecil-kecil. Rindu membuat sambal dengan irisan-irisan pauh di dalamnya. Rindu memasang bubu ikan di malam hari dan menumbak dengan Rasin. Jika malam hari aku menumbak ikan, dan perolehanku banyak, tak jarang bersama Rasin kami membuat api unggun di tepian sungai dan membakar ikan. Atau memancing dengan kapal kayu Rasin yang kecil itu.
Rasanya segala keperluan hidup begitu mudah di desa kalau hanya sekadar makan. Lalu mengapa aku harus sampai bekerja mengglondong begini? Hasrat melihat dunia luar yang belum tersua atau rayuan Niahkah? Belalakan matanya yang mengandung angan begitu besar, mendorongku menjauh dari kampung halaman dan melakukan pekerjaan yang hina ini. Hina? Tentu saja. Menebang pepohonan bukan di wilayah adat hutan, bukan untuk kepentingan hidup sekadarnya dan mengais rezeki dari belas kasihan bos-bos lapangan. Aku dengar, jika ada razia, kebanyakan pengglondong seperti kamilah yang jadi sasaran empuk untuk dibawa ke penjara. Bos-bos itu, mana mau menebus kami? Pura-pura tak kenal.
Ah, rasanya jiwa mudaku tak bisa lagi menerima perlakuan seperti ini. Pekerjaan yang tak berapa lama pasti akan segera terhenti. Kayu-kayu mulai habis. Tak ada lagi yang akan ditebang. Sekarang saja, kami mulai menebang kayu-kayu kelas dua yang diameternya makin kecil. Pohon-pohon berdiameter besar makin sulit dijumpai.
Aku menatap langit. Mencari sebentuk keyakinan pada gemintang yang berkelip di antara celah dedaunan. Udara dingin menusuk kulit dan angin yang lembap dari rawa-rawa menerjang hutan bersama nyamuk-nyamuk yang berpesta di antara tubuh-tubuh kami. Pengglondong-pengglondong yang kelelahan.
****
KESUNYIAN rimba kembali pecah oleh deru chainsaw di tanganku. Aku mendapatkan chainsaw ini dengan cara mengkredit dari Bang Resok. Timbunan kayu di kamp kami sudah banyak dan rencananya akan dipotong menjadi balok-balok dan langsung dimilirkan. Bang Resok mendapat pesanan dari sebuah sawmill.
Pekerjaan memotong kayu seharian penuh ternyata belum mampu menghabiskan tumpukan tebangan kayu. Malam hari kami sepakat melanjutkan menggergaji dengan penerangan dari lampu minyak buatan kami sendiri. Bekas botol minuman suplemen yang kami beri sumbu kain dan diisi minyak tanah. Penerangan yang jarang-jarang kami gunakan kecuali lembur. Ya, tiap malam kami terbiasa tidur tanpa penerangan. Benar-benar diselimuti jubah pekat malam.
Dan akhirnya menjelang dini hari, selesai sudah. Semuanya bekerja cepat supaya cepat mendapat persen. Dan jika Bang Resok melihat besok pagi, dia dapat langsung membayar kami. Biasanya Bang Resok baru sampai di kamp sekitar pukul sepuluh pagi. Jadi waktu yang sedikit, dari dini hari hingga pukul sepuluh, kami habiskan dengan tidur nyenyak. Tak ada istirahat yang senyaman itu saat tulang belulang kami terasa remuk. Pegal dan ngilu di sekujur tubuh. Beberapa di antara kami bahkan sampai mendengkur keras.
*****
ASAP pembakaran kayu di kejauhan terus membubung. Lapisannya menipis dan kian habis ke udara. Hilang di atmosfer yang jauh, hilang seperti hilangnya asa yang dulu erat terpatri akan sebuah kehidupan yang mapan dengan menjadi pengglondong.
Telah sampai manakah kini impianku? Berbulan kulewati, tak jua berubah membaik keadaanku di dalam hutan. Apa yang dikoarkan Bang Resok tiap kali mengambil orang-orang dari kampung-kampung, kudapati kenyataan yang sebenar-benarnya di dalam hutan ini. Tak manis, melainkan sepahit empedu. Mengapa dahulu aku tak memercayai ucapan Rasin? Sedikit pun tak menggubrisnya.
Celana-celana yang kupakai menjadi longgar di bagian pinggang, meski lenganku kian berotot. Mungkin jika ada cermin, akan terlihat betapa tulang-tulang wajahku kian tegas menerakan kekerasan hidup.
Lantaran sehari-hari harus bekerja keras, saat libur aku kerap menghabiskan uang sisa mengambil barang ke Bang Resok dengan berjalan-jalan ke kota. Kebiasaan-kebiasaan mendatangi rumah lacur di kota terdekat, kusadari telah menguras isi kantongku. Namun, dengan minum-minum di lapak-lapak tuak, sejenak dapat kulupakan kerinduanku akan kampung halaman, akan Umak juga akan Niah.
Aku harus segera mengambil keputusan. Seorang pemilik speedboat yang kerap aku naiki berjanji memberiku pekerjaan. Dia punya beberapa speedboat yang biasa disewakan. Aku hendak diajarinya mengendalikan speedboat-speedboat itu menggantikan dirinya.
Rupanya, pemilik speedboat itu hendak melapangkan sedikit tenaganya. Terlalu payah jika dia sendiri yang membawa speedboat, sementara dia juga sibuk mengurus bisnis udang galahnya yang dikirim ke kota-kota di Jawa. Menyuplai udang-udang kelas satu, kelas terbaik untuk restoran-restoran di Semarang, juga di Jakarta, begitu ujarnya tiap kali bercerita denganku. Aku sebenarnya tertarik, tapi masih kutahan gengsiku. Gengsi sebagai pengglondong yang berlimpah lembaran uang, meski kenyataannya hal itu mulai berubah. Bergeser sesuai perjalanan waktu. Mengglondong tak lagi menjanjikan.
*******
Irine Rakhmawati
Pemenang II Sayembara Menulis Cerber 2014
Irine Rakhmawati
Pemenang II Sayembara Menulis Cerber 2014




