<< cerita sebelumnya
Albert teringat akan cita-citanya semula. Ia dulu juga bermimpi untuk bisa mengumpulkan banyak uang. Itu sebabnya, setelah lulus SMA, ia melamar untuk menjadi Bintara Polisi. Karena, seingatnya, para pemuda yang berhasil menjadi polisi bisa hidup makmur dan punya banyak uang. Yang lebih penting dari itu semua adalah para gadis lebih menyukai mereka.
Tapi, impiannya hanya tinggal impian. Ia terjegal saat menjalani tes kesehatan. Dokter yang memeriksa hasil tesnya mendapati cacat di hatinya, akibat minuman beralkohol yang biasa ditenggaknya.
Albert mengakui itu. Kebiasaannya menenggak bir --sebagaimana sering dilakukan banyak pemuda di daerahnya-- benar-benar telah mengandaskan cita-citanya. Akhirnya, sekali lagi, setelah gagal menjadi PNS --juga karena nyangkut di tes kesehatan-- ia kembali menekuni pekerjaan nenek moyangnya, yakni melaut dan mencari ikan.
Padahal, menjadi nelayan itu berisiko tinggi. Selain harus bertarung melawan ganasnya gelombang, ada saat-saat tertentu –saat rembulan bersinar terang di atas sana-- ikan-ikan menjadi malas mendekati umpan mereka. Apalagi, saat ini. Saat harga solar melonjak lebih dari seratus persen. Bisa melaut seminggu sekali saja sudah untung. Albert menarik napas panjang mengingat nasibnya yang kurang beruntung.
“Dorang mahasiswakah?” tanya Yan, sepupunya, menyadarkannya dari penyesalan sesaatnya.
Yang dimaksud dorang oleh Yan adalah Harjoyo.
Albert menggeragap, sebelum akhirnya mampu menjawab pertanyaan Yan. “Iyo. Hampir lulus katanya.”
“Kuliah apa?”
Albert tak mampu menjawab pertanyaan ini. Pernah memang Harjoyo bercerita tentang jurusan yang dipilihnya, yakni seputar unsur-unsur kimia atau semacam itulah. Tapi, ia tak bisa memahami sepenuhnya perjelasan sahabatnya. “Oh, itu pelajaran kimia.”
“Dorang mo jadi dokter kalau begitu?” tanya mamanya dengan tatapan serius.
“Bukan Mama. Jadi ahli kimia apa atau apa kimia, begitu.”
“Kalau begitu dorang mo jadi insinyur?” selidik mamanya lagi.
“Ah, betul, insinyur.”
“Pasti banyak uang dorang nanti,” sahut Yan lagi.
“Sekarang saja dorang su banyak uang. Dorang pu ibu kaya, toh. Dorang pu ibu kontraktor besar itu,” sahut mamanya lagi.
Saat itu yang dibicarakan sedang tertawa tergelak-gelak sambil terus menyelesaikan anyamannya.
Minggu berikutnya pada sore yang sama, kedua sahabat, sekali lagi, tengah asyik menikmati laut. Perahu kecil mereka mengapung tenang di permukaan laut di wilayah permukiman suku Kayu Batu. Entah mengapa, dengan sengaja keduanya membiarkan perahu kecil itu hanyut mengikuti arus air. Permukaan laut terlihat berwarna hijau jernih. Ini akibat tanaman rumput laut yang tumbuh bebas di sana.
Setelah cukup lama mengalir mengikuti arus barulah Albert menurunkan jangkarnya. Sementara Harjoyo sibuk memandangi sepotong pantai lengkap dengan mata air yang memancar abadi dari perut bukit. Ketika kecil dulu, keduanya sering ke tempat ini untuk mencuri rumput laut yang akarnya enak untuk dimakan atau mandi di pancuran di pantai ini.
Harjoyo memandang berkali-kali pantai di depan matanya. Pantai yang juga tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia kemari. Lantas dipandanginya air yang memancar dari perut bukit. Pancuran itu adalah satu-satunya sumber air bagi suku Kayu Batu. Di tempat inilah biasanya suku ini mandi, mencuci, dan mengambil air untuk minum. Sementara di dekat keduanya mengapung, terdapat deretan rumah panggung tempat kediaman suku Kayu Batu.
Suku Kayu Batu memiliki kebiasaan khas yang berbeda dari suku-suku Papua lainnya. Misalnya, kediaman mereka. Rumah panggung-rumah panggung yang berdiri kokoh di belakang mereka merupakan satu kesatuan tersendiri. Antara satu rumah dengan lainnya tak memiliki penghubung apa pun. Artinya, tidak ada jembatan atau apalah, untuk menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain.
Tak terlihat pula satu jembatan pun yang menghubungkan rumah mereka dengan daratan. Ke mana pun pergi, warga Kayu Batu lebih suka menggunakan sampan kecil yang terbuat dari kayu bulat. Bahkan, untuk mandi, mencuci dan mengambil air di pantai di depan sana, harus dilakukan dengan menggunakan perahu.
Benar-benar tidak praktis. Tapi, itulah realitas yang tersaji abadi di depan matanya.
Berbeda dari tetangga kampungnya, Kampung Baru, yang padat, kumuh dan semrawut, kediaman suku Kayu batu terlihat tenang dan bersih. Bahkan, waktu lebih dari satu dekade tak membuat tempat ini menjadi hiruk pikuk. Waktu seolah berhenti di sini.
Harjoyo menajamkan matanya mencari-cari, sesuatu yang dulu teronggok di pantai ini. Tapi, ia tak menemukan yang dicarinya, yakni rongsokan tank tentara sekutu yang pernah mendarat dan terdampar di sini waktu Perang Pasifik dulu.
Setelah berkarat termakan waktu, tank itu akhirnya berfungsi sebagai tempat bertelur bagi ikan-ikan. Dulu ia paling suka mengapungkan perahunya di atas tank, menikmati ikan-ikan kecil aneka warna yang berenang lincah di dalam perut tank. Biasanya tank itu ada di sekitar sini.
“Di mana tank itu, Albert?”
“Tank apa?”
“Tank yang di sini dulu. Masih ingat?”
Albert melihat ke arah sahabatnya dengan senyum dikulum. Ia tahu yang dimaksud Harjoyo.
Ujarnya kemudian dengan nada sinis, “Sudah lama diangkut kamorang pendatang. Katanya mo dilego jadi besi tua. Yah, kitorang mau bilang apa. Sudah sa bilang kamorang pendatang suka makan apa saja. Sampai-sampai besi bakarat juga dimakan.”
Harjoyo tercekat mendengar pernyataan Albert yang begitu sinis, terus terang dan apa adanya. Di matanya, Albert sebenarnya tidak banyak berubah. Ia tetap merupakan pribadi yang periang, hangat, dan penolong, seperti Albert kecil yang dikenalnya dulu. Yang membedakannya kini hanya satu. Kini ia menjadi sedikit sinis. Sinis kepada orang-orang seperti Harjoyo dan kelompoknya.
Tapi, ia sudah lama berhenti sakit hati dengan perlakuan semena-mena orang lain. Terutama, terhadap Albert. Apalagi, melihat senyum Albert yang lebar saat mengucapkan kalimat-kalimat sinis itu. Benar-benar suatu perpaduan yang absurd, tersenyum lebar sambil menyindir.
Harjoyo tercenung melihat senyum itu. Senyum Albert yang hangat mengingatkannya pada Dense. Rupanya, dua kakak beradik ini memiliki senyum hangat yang sama.
“Ko masih ingat kapal tua di pelabuhan a-pe-o?”
“Kapal Korea itu?” jawab Harjoyo, sambil mengingat-ingat sebuah kapal berbendera Korea yang disita pemerintah, karena kedapatan mencuri ikan.
Seingatnya kapal itu telah lama teronggok di sana. Karena, tak ada satu pun pihak yang merasa berkepentingan untuk menebus sang kapal. Sementara para awaknya yang sempat ditahan di penjara kota, sudah lama pulang ke negerinya.
“Yo. Kapal itu.”
“Kenapa? Su jadi bakarat toh kapalnya. Su lama juga di sana.”
“Bukan itu yang sa mau bilang. Kapal itu juga sudah dilego jadi besi tua.”
“Oleh pendatang pasti,” jawab Harjoyo, mengikuti arus sinisme yang tengah diikuti Albert.
“Su pasti.”
Saat memutuskan pulang dan mengayuh perahu ke hulu, ke arah kampung mereka, keduanya harus berjuang keras menentang arus air yang begitu deras menuju laut lepas. Laut sedang penuh-penuhnya. Mentari sore memancarkan sinarnya dengan lembut. Saat ini sungguh saat yang ideal untuk menikmati hangatnya air laut.
Saat itulah ia melihat gadis itu tengah berenang bersama dua gadis cilik keponakannya. Tampaknya mereka benar-benar menikmati laut. Terlihat dari gelak tawa ketiganya yang lepas bebas.
Gadis itu berenang menyusuri kolong rumah meninggalkan dua keponakannya yang sedang asyik berlompatan di laut di dekat beranda belakang. Setelah satu dua kayuhan ia berhasil mendekati salah satu tiang rumah. Sesampainya di sana, dicabutnya sebuah siput yang menempel pada tiang. Dibawanya dalam genggaman tangannya dan berenang kembali ke teras belakang. Sambil duduk menantang mentari, diisapnya siput itu melalui bagian cangkang yang terbuka. Sekali isap, daging siput itu berhasil masuk ke mulutnya.
Harjoyo terkesima. Gadis itu adalah gambaran kebebasan sekaligus keluguan. Dinikmatinya sekali lagi kemudaan, keluguan, dan sikap apa adanya yang terpancar dari gadis muda itu.
Sepertinya, saat pertama kali melihatnya, gadis itu terlihat dewasa betul. Waktu di hutan dulu, ia menebak umur gadis itu adalah enam belas atau tujuh belas tahun. Tapi, saat ini, melihatnya berenang dengan masih berpakaian lengkap dan mengisap daging siput dengan tawa yang begitu segar, membuat gadis itu terlihat sangat muda. Bahkan, dadanya tampak rata. Benar-benar belum tampak tonjolan-tonjolan berarti yang menunjukkan awal keremajaan seorang gadis.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2007


