Saat tamu bulanannya masih rajin berkunjung dengan teratur selama tahun pertama perkawinannya dengan Togi, Jojor tidak ambil pusing. Namun, memasuki tahun kedua, ia mulai terganggu oleh kehadiran tamu itu. Ia mulai tak mengharapkannya. Namun, ia tak kuasa mengusirnya. Ia hanya berharap bahwa setiap menjelang tanggal yang dilingkarinya dengan spidol bertinta merah di kalender yang tergantung di kamar tidurnya, tamu itu akan datang telat. Atau tidak datang sama sekali. Lalu ia akan pergi dengan hati berdebar menjumpai dokter langganannya, dan ia akan mendapat jawaban yang sangat dinantinya.
“Selamat, Mbak. Positif!”
Dan ia masih akan shock mendengarnya hingga tak bisa bernapas beberapa detik.
Lalu ia akan pulang cepat-cepat, menyiapkan satu kejutan kecil untuk suaminya. Ia akan menyuruh Togi pulang sedikit lebih cepat dari kantor, dan memintanya disuapi ikan mas arsik, masakan khas Batak kesukaannya. Tentunya ia akan membuat pria itu sedikit kebingungan dengan tingkah polahnya. Dan, akhirnya, ia akan berkata, “Bang… kamu akan menjadi ayah!” Ia akan melihat muka Togi makin bingung, tetapi hanya untuk sekejap. Karena berikutnya, ia akan melihat binar-binar bahagia bersemi di sana. Kemudian, Togi akan menciumnya mesra, memeluknya lembut, lalu mengelus perutnya yang masih terasa datar itu.
Ah…! Jojor tersenyum pahit. Semua kebahagiaan itu hanya ada dalam khayalnya. Andai saja…! bisik hatinya.
Menjelang tahun ketiga perkawinan mereka, semua orang mulai kasak-kusuk karena mereka belum memiliki tanda-tanda akan mempunyai momongan.
“Nggak bagus nunda-nunda terlalu lama!” rekan yang satu protes.
“Sudah ke dokter?” tanya yang lain.
“Eh, si Anu bisa mengobati pasangan yang susah dapat keturunan!” usul yang lainnya lagi.
Tapi, Jojor hanya tersenyum. Ia menganggap semua seperti angin lalu. Sejak dahulu, kala anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Ia mengartikan semua pendapat itu sebagai wujud perhatian mereka kepadanya, seperti aksi solidaritas yang bangkit dengan sendirinya ketika harapan yang dinanti tak kunjung tiba.
Ia bukan orang bodoh. Ia bukan produk zaman batu yang gagap dengan kecanggihan abad ini. Ia tahu apa yang perlu dan harus dilakukannya. Menjelang setahun pernikahannya, ia sudah beberapa kali mengajak suaminya untuk check up ke dokter kandungan. Pemeriksaan dokter menyatakan bahwa mereka berdua tidak ada masalah. “Berdoalah! Ini hanya masalah waktu!” hibur dokter itu, menguatkan mereka.
Tetapi, suara-suara itu makin nyaring saja terdengar.
“Jangan-jangan, suamimu yang tidak bisa memberimu anak!” komentar teman yang satu.
“Adopsi anak saja sebagai pancingan. Sudah banyak yang berhasil, kok!” tawar yang lain, sambil menyebut beberapa artis yang sering muncul di acara gosip layar kaca.
“Hati-hati, Jor. Jangan-jangan suamimu mulai berpikir soal poligami! Atau mulai mencari WIL, wanita idaman lain,” sembur yang lain, sadis.
Dan, kuping Jojor makin panas saja manakala mertuanya juga mulai ikut-ikutan meneror melalui telepon. “Kapan kami akan menggendong cucu?” Seolah mereka saja yang mengidam harapan yang menggebu itu. Mereka tidak tahu bahwa Jojor dan Togi juga mulai resah. Walau kuping mereka sudah mulai menebal, toh, masih sering memerah dengan ucapan-ucapan itu.
“Bang, katanya, si Betti dan suaminya berobat ke orang pintar yang di daerah anu itu. Ia sudah hamil tiga bulan sekarang,” pancing Jojor, sambil membalikkan badannya ke arah Togi, ketika mereka hendak tidur di suatu malam.
“Ke dukun maksudmu?” Togi mendelik ke arahnya.
“Bukan… dia bukan dukun, tetapi orang pintar yang melakukan pengobatan alternatif, dengan ramuan-ramuan gitu!”
“Yah… sama saja. Itu kan hanya aliasnya saja. Setelah itu, paling-paling kita disuruh minum secangkir air putih yang sudah dijampi-jampi, ‘kan? Atau… disuruh mandi kembang tengah malam.”
“Alaah… Abang sok tahu. Kayak sudah pengalaman saja dengan urusan begituan,” kata Jojor, cemberut.
“Bukannya begitu, Hasian (Sayang)! Kita sudah ke dokter dan katanya tidak ada masalah. Ini hanya masalah waktu. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha. Mungkin Tuhan sengaja lama memberi kita anak, supaya kita bisa menikmati keberduaan kita lebih lama,” hibur Togi, sambil mengecup jemarinya lembut.
“Tetapi, aku sudah pengen punya anak!” rengeknya.
“Sayangnya aku bukan Tuhan, Hasian! Memberimu anak itu di luar kekuasaanku. Aku hanya bisa menanam benihnya. Untuk pertumbuhan selanjutnya sudah melampaui wewenangku sebagai manusia. Kita hanya bisa berdoa.” Togi tampak menyembunyikan keresahannya. Pasrah!
“Bang…!” suara Jojor terdengar sedikit meragu.
“Hmm?”
“Ah, nggak,” Jojor menggeleng.
“Jangan gitu, dong. Mau bilang apa, sih?”
“Mmm… gimana kalau misalnya kita mengadopsi anak saja?”
“Apa?” Spontan suara Togi menguat dan ia membalikkan badan ke arah Jojor sambil menatap istrinya dengan sangat serius. Namun, Jojor tidak ingin mengulangnya. Sepertinya, kalimat itu terlalu sakral baginya. Dan, ia sadar bahwa suaminya mendengarkannya. Ia hanya balik menatap Togi. Keduanya terlihat berbaring dengan badan miring, saling berhadapan. “Kenapa tiba-tiba?” lanjut Togi.
“Aku juga nggak tahu,” lirih suara Jojor.
“Jangan langsung berpikir yang aneh-aneh dulu. Kita hanya perlu waktu. Sudah belasan dokter yang meyakinkan kita akan hal itu, ‘kan? Lagian, kalau kita mau adopsi anak, itu artinya kita menabuh genderang perang dengan orang tuaku!”
“Kenapa?”
“Karena mereka hanya punya satu anak. Dan, itu adalah suami tercintamu ini,” setengah menggoda, Togi masih terlihat begitu tenang. Tangannya mengelus rambut istrinya itu, seolah ingin meninabobokannya dalam peluknya.
Memasuki tahun kelima pernikahan mereka, suara-suara itu pun membadai. Seolah merekalah yang paling kepingin mendapatkan anak dari pernikahan mereka. Padahal, beberapa ahli kandungan yang mereka kunjungi memberi vonis sama: “Kalian berdua sehat, hanya menunggu waktu. Namun, setiap kali Jojor berjumpa dengan teman atau kerabat yang begitu perhatian, selalu saja mereka menyuruhnya mengunjungi si ini atau si itu. Seolah semua orang yang kenal dengan mereka sudah berubah profesi menjadi calo orang pintar.
“Mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sebaiknya aku menjadi ibu rumah tangga saja, ya!” Jojor mengejutkan Togi di suatu malam, usai bersantap bersama.
Tangan Togi yang sedang mengelapkan tisu ke mulutnya, terhenti. Ia menatap istrinya dengan dahi mengernyit. “Serius, nih?”
“Bang… tadi Inang (ibu mertua) meneleponku lagi!”
“Dengan pertanyaan yang sama?”
Jojor mengangguk.
“Jadi, gara-gara itu kamu mau berhenti kerja?”
“Nggak, sih. Tetapi, setelah dipikir-pikir, mungkin ada baiknya saya lebih konsentrasi mengurus keluarga saja.”
“Tetapi, selama ini kan tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Apa aku telantar sebagai suami, walaupun kamu juga kerja? Nggak, ‘kan? Sudah, deh, jangan diambil hati apa kata Mamak tadi.” Togi meraih pundak istrinya dan menyandarkannya ke pundaknya sambil menepuknya lembut. Betapa ia berlaku seperti ayah yang menenangkan putrinya yang galau. Jojor merasa seperti berteduh di bawah pohon rindang setelah lelah terpanggang panas matahari. Ia bersyukur mendapat tempat bersandar yang kokoh.
“Inang memang nggak ada singgung-singgung soal saya bekerja. Hanya, saya merasa perlu lebih banyak istirahat, mungkin dengan begitu kita bisa lebih cepat punya momongan.”
Penulis: Hembang TambunPemenang III Lomba Mengarang Cerber femina 2008