Fiction
Cinta Kala Senja [3]

3 Mar 2012


Sekilas pikiran Lana tanpa sadar melayang pada Surya, pria yang dikenalnya di London.

Pria itu pernah mengajaknya makan malam satu kali pada saat mereka masih di London. Sejauh yang Lana ketahui tentang Surya, salah satu yang paling penting adalah bahwa pria itu belum pernah menikah. 
Lana buru-buru menepis bayangan pria itu dari dalam pikirannya. Tiba-tiba saja Lana merasa malu pada dirinya sendiri. Hanya satu kali makan malam saja, dan Lana sudah berani membayangkan pria itu sebagai calon suaminya? Rasanya aneh.

Lana membenahi tas kerja di atas pangkuannya.

“Sudah malam, Bu, saya harus pulang. Besok pagi-pagi sekali saya harus ke kantor. Lagi pula, Ibu sendiri harus banyak istirahat. Jangan tidur malam-malam, Bu.” Lana menggenggam tangan ibunya.

“Menginap saja di sini, Lan. Ibu masih kangen,” pinta ibunya.

Lana tersenyum.

“Saya tidak bawa baju untuk ke kantor besok, Bu. Lagi pula, jarak ke kantor saya dari sini terlalu jauh. Masa saya harus berangkat subuh?” Lana menepuk punggung tangan ibunya lembut.

Ibunya mengangguk-angguk. “Sering-sering ke sini, Lan. Kamu makin jarang datang ke sini.”

Lana mengangguk. 

“Kalau pekerjaan saya nggak terlalu banyak, saya pasti ke sini, Bu.”

“Ya, sudah, hati-hati di jalan, Nak.” Ibunya mengecup kedua pipi anaknya itu.

Lana melambaikan tangan, kemudian membuka pintu belakang mobilnya. Sopirnya masih menunggu di sana. Sekali lagi Lana melambaikan tangannya, baru kemudian masuk ke dalam mobil.

“Langsung pulang, Pak,” kata Lana.

“Ya, Bu,” sahut sopirnya. 

Perlahan mobil menjauh. Lana memandangi bangunan tua yang sudah ditinggali ibunya selama lebih dari dua puluh tahun itu. Kecuali warna cat yang sudah dirombak sana-sini dan halaman yang sudah beberapa kali dimodifikasi, bentuk dan susunan bangunan itu masih sama seperti puluhan tahun yang lalu, saat dia masih remaja.

Berbeda dari ibunya yang terus setia menetap di sana, Lana lebih memilih untuk menjauh, meninggalkan semua kenangan pahit masa remajanya di sana.

Usianya hampir tujuh belas tahun saat itu, saat beberapa polisi datang ke rumahnya, dengan hanya menunjukkan surat perintah menggeledah seluruh rumahnya seenaknya. Ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, bahkan dapur, semuanya digeledah. Lana histeris saat polisi mengacak-acak lemari pakaiannya dan lemari bukunya. Tak ada seorang pun yang peduli atau kasihan terhadapnya.

Di rumah hanya ada dia dan ibunya. Mereka memandangi polisi-polisi yang sedang bertugas itu dengan terpukul. Tapi, yang membuat mereka lebih terpukul lagi adalah laporan bahwa ayah Lana diduga telah menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja dalam jumlah besar. Mereka hanya dapat menangis, saat polisi-polisi itu meninggalkan rumah tanpa mendapatkan barang bukti apa-apa.

Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan mereka tanpa sedikit pun kabar berita dengan status sebagai seorang buronan polisi. Masih beruntung Lana dan ibunya bebas dari segala tuduhan dan tuntutan dari pihak perusahaan. Namun, kepergian pria itu membuat mereka harus berjuang ekstra keras untuk bisa bertahan hidup.

Ibunya yang tidak terbiasa bekerja, terpaksa bekerja sebagai seorang babysitter, karena hanya itulah kesempatan yang dia miliki untuk dapat tetap menyekolahkan Lana. Satu per satu sanak keluarga mereka mulai menjauh, meninggalkan mereka, karena tidak tahan menerima gunjingan mengenai aib yang dilakukan ayahnya. Ibunya benar-benar harus berjuang sendirian.

Ibunya tetap berusaha terlihat tegar. Namun, tak jarang Lana mendengarnya menangis. Yang bisa dilakukannya hanyalah menghampiri ibunya itu diam-diam dan memeluknya erat.

Dua tahun berlalu tanpa kabar dari ayahnya. Saat itu Lana sudah menginjak bangku kuliah. Ibunya bersikeras bahwa Lana harus sekolah tinggi, meskipun dia harus bekerja banting tulang dengan pinjaman dari sana-sini untuk dapat menghidupi biaya mereka berdua. 

Dari polisi, Lana mendengar kabar bahwa ayahnya sudah kabur ke Filipina. Ada juga kabar bahwa ayahnya masih berada di Indonesia, namun entah di mana. Lana tidak peduli lagi dengan nasib ayahnya. 

Menginjak tahun pertama kuliahnya, Lana mulai menjalin cinta dengan seorang pemuda, anak seorang pemilik toko kelontong kecil. Rudy, yang berusia empat tahun di atas Lana, sama sekali tidak mempermasalahkan status sosial Lana. Namun, seperti yang telah diduga oleh Lana sebelumnya, orang tua Rudy tidak mau menerima Lana sebagai calon menantunya, meskipun mereka sendiri merupakan keluarga dari status ekonomi yang biasa-biasa saja.

Lana selalu mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan apa pun. Dia bahkan bisa mengerti penolakan yang didapatnya dari pihak keluarga Rudy. Orang tua mana yang mau memiliki seorang menantu yang status keluarganya tidak jelas seperti dirinya? 

Namun, kadangkala tetap saja dia merasa sakit hati. Bagaimanapun, bukan dia yang bersalah. Bukan maunya dilahirkan dari keluarga yang bermasalah. Dia terpaksa harus menanggung kesalahan yang telah dilakukan oleh ayahnya.

“Aku tidak mau menyerah begitu saja. Yang berpacaran sama kamu kan aku, bukan orang tuaku,” cetus Rudy.
Lana hanya tersenyum seraya menggeleng perlahan, sementara angin menerbangkan rambutnya yang panjang terurai. 

“Aku tidak mau berpacaran tanpa restu. Bagaimana mau menikah, kalau berpacaran saja tidak diizinkan?” katanya, lembut. 

“Kita kawin lari kalau perlu,” kata Rudy. Matanya bersorot antusias.

Lana tertawa kecil.

“Kita mau kasih makan apa anak-anak kita? Aku masih kuliah, ka­mu sendiri masih bekerja di bawah orang tua kamu. Tidak mungkin, Rud.” Lana menyentuh pipi Rudy perlahan. “Aku tidak mau hidupku terus-menerus dikejar rasa bersalah. Aku juga tidak mau hubungan kamu dengan orang tua kamu rusak cuma gara-gara aku.”

“Kenapa, sih, sedikit pun kamu tidak mau membelaku? Toh, itu buat kepentingan kita berdua. Apa kamu benar-benar tidak ada keinginan untuk memperjuangkannya lagi?” tanya Rudy, lirih.

Lana menggeleng mantap.

“Cinta kadang-kadang butuh pengorbanan, Rud. Aku juga tidak mau harga diriku yang sudah dirusak oleh ayahku, tambah hancur cuma gara-gara keegoisanku.”

Rudi tidak membantah lagi. Sore itu, di keremangan senja yang mulai meredup, Lana melangkah pergi dengan mantap, meninggalkan Rudy yang masih terpaku, tanpa mampu melakukan apa-apa.

Ibunya hanya bisa ikut menangis pedih, saat Lana pulang ke rumah dengan berurai air mata. Tidak ada yang dapat diperbuatnya selain memeluk Lana erat-erat, berharap dia bisa menyalurkan kekuatan untuk putrinya itu.

Pengalaman bersama Rudy adalah perjalanan terakhir Lana terhadap cinta. Pintu hatinya sama sekali tertutup untuk pria mana pun dan dari kalangan mana pun. Hidupnya hanya untuk belajar dan belajar, sampai akhirnya Lana lulus sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya.

Dengan mudah dia mendapatkan pekerjaan di sebuah industri garmen. Perlahan kondisi ekonomi keluarganya membaik. 

Namun, kepahitan hidup yang harus dijalaninya ikut membuat karakter Lana berubah. Dia bukan hanya berlaku keras pada orang lain, namun juga pada dirinya sendiri. Target yang dipasangnya selalu tinggi dan dia juga tidak urung menghukum dirinya sendiri, jika dia melakukan kesalahan. 

Tujuan hidupnya hanya satu, membahagiakan ibunya.


Penulis: Yesi Marianti


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?