True Story
Lanjutan Kisah Shandra Woworuntu: Saya Tidak Dilihat Sebagai Korban Melainkan Pekerja Seks

4 Apr 2016


Foto: Dok. Pribadi

Setelah berhasil melarikan diri dari cengkeraman trafficker yang menjadikan saya budak seks selama berbulan-bulan, saya merasa lega. Terlebih lagi, setelah peristiwa penyergapan di rumah bordil yang berhasil membekuk sindikat trafficker yang menawan saya, dan membebaskan teman dari Indonesia, tak ada yang bisa membandingkan emosi yang saya alami. Kami menari, berteriak, dan menjerit kegirangan! Saya merasa mendapatkan hidup baru.

Namun, ternyata hidup saya belum membaik. Saya tak punya tempat tinggal. Sempat ditampung oleh pemerintah Amerika, lalu dibuang lagi karena tidak ada tempat, saya harus menerima hidup berpindah dari satu penampungan ke penampungan lain.

Saya juga berpindah-pindah tinggal di kediaman beberapa warga Indonesia di sana yang menolong untuk menampung saya. Untuk bertahan hidup, sulit sekali bagi saya melamar pekerjaan, karena saya tidak punya dokumen. Saya mencoba mengadu ke Konsulat dan menyampaikan tentang kondisi saya, tapi tidak dibantu karena mereka menganggap aturannya harus sama dengan warga Indonesia lain yang kehilangan paspor di luar negeri. Tetap harus  mengurus berita acara dengan melampirkan dokumen-dokumen. Mereka tidak mau tahu bahwa kondisi saya adalah korban trafficking, tanpa dokumen sama sekali.

Sementara itu, saya masih harus bolak-balik ke kantor polisi untuk proses penyelidikan kejahatan perdagangan manusia yang saya alami. Saya yang waktu itu setiap hari menulis buku harian dengan detail, masih menyimpan catatan  tentang apa yang saya alami dan siapa saja nama pria yang pernah datang menyentuh saya. Buku harian saya ditahan di kepolisian untuk diproses sebagai alat bukti. Kendati demikian, tanpa buku harian pun, kalaupun ada yang  membutuhkan informasi, saya bisa menyampaikkannya karena masih bisa mengingat kejadian-kejadian dari peristiwa tersebut.

Selama menjadi homeless, perjuangan saya tidak mudah. Ketika akhirnya ditampung dan tinggal di lingkungan orang Indonesia, yang saya terima adalah judgement. Tak sedikit yang memandang saya bukanlah sebagai korban, tetapi seorang pekerja seks, wanita nakal, terlepas dari apa alasannya. Saya harus hidup dengan stigma yang merendahkan. Bukannya bisa menyembuhkan trauma psikologis, setiap pernyataan mereka, justru makin melukai hati saya. Misalnya, pernyataan, “Gimana dagangannya?” Seolah tak peduli pada perasaan saya.  

Begitupun ketika saya ‘dititipkan’ oleh aparat ke satu gereja yang diasuh oleh orang Indonesia, saya kira saya bisa mendapatkan ketenangan spiritual. Akan tetapi, sang pendeta malah memperlakukan saya sebagai seorang pendosa yang seolah tidak pantas mendapatkan ampunan dari Tuhan. Ia juga tidak memperlakukan saya dan rekan saya sesama korban trafficking dengan layak.

Terus terang, sebagai korban, secara mental saya makin tertekan. Berat sekali harus menjalani hidup dalam pandangan stigma seperti itu, tidak hanya berbulan-bulan, bahkan selama bertahun-tahun.

Saya sungguh menyayangkan, kenapa masih banyak orang yang menganggap bahwa wanita yang diperdagangkan adalah pelacur. Dan pelacur –di mata mereka- bukanlah korban, melainkan pelaku kriminal yang harus diberantas.

Waktu itu, meski berat, rasanya sulit untuk kembali ke tanah air. Sebab, saya sudah berkomitmen akan menuntaskan masalah hukum sampai selesai. Selain itu, demi alasan keamanan juga, karena saya mendapat informasi, banyak orang mencari saya dan keluarga di Indonesia. Keputusan untuk tetap tinggal di Amerika sepertinya lebih sesuai. Apalagi, FBI masih membutuhkan kesaksian saya untuk memproses para trafficker.

Hidup saya mulai membaik setelah saya bergabung dengan Safe Horizon, sebuah organisasi di New York yang membantu korban-korban kejahatan dan pelecehan, termasuk korban perdagangan manusia. Dari jaringan merekalah, saya akhirnya bisa mendapatkan izin tinggai di Amerika secara legal, memberi saya tempat tinggal dan menghubungkan saya dengan lembaga-lembaga yang bisa mengusahakan pekerjaan. Saya sendiri akhirnya mengambil sekolah keperawatan sebagai bekal melamar pekerjaan. Tahun 2004, Safe Horizon pula yang memfasilitasi keluarga untuk bisa menyusul saya ke Amerika. Setelah tiga tahun terpisah, tak terkira kebahagiaan saya bisa bertemu lagi dengan anak dan juga ibu saya.

Secara psikologis, saya masih harus melalui proses penyembuhan dengan rutin bertemu psikiatri seminggu sekali. Secara fisik, saya sering merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, masalah kulit, mati rasa pada persendian, dan sakit kepala parah.  

Jika tercium bau alkohol, saya bisa muntah. Dan kalau mendengar nada dering tertentu, saya teringat bunyi telepon genggam mucikari saya, tubuh saya menegang disertai rasa takut.

Belum lagi, bayang-bayang hidup dalam stigma negatif, ternyata masih belum kunjung pudar meski beberapa tahun berlalu. Hal ini saya alami bahkan dari suami saya sendiri. Dulu, suami pertama saya meninggal dunia. Setelah membangun hidup baru di Amerika, saya menikah lagi. Tak disangka, suami ternyata bisa bersikap kasar. Dia sering melecehkan saya. Bahkan memanggil saya dengan sebutan ‘lonte’. Di tahun 2009, saya memutuskan untuk bercerai.
Pernikahan itu membuat saya sadar, di luar sana ada banyak sekali wanita yang mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Sayangnya, masih banyak wanita yang tak paham akan haknya dan berani untuk memperjuangkan kebahagiaannya.  

Selama ini, sebelum terjun ke dunia aktivisme, saya kerap menjadi curahan hati para pekerja ataupun TKW yang merasa tidak diperlakukan dengan layak. Saya menjadi orang yang sering membantu mereka ‘kabur’, dalam arti mencarikan pekerjaan baru untuk mereka, daripada bertahan di tempat yang tidak mau menunaikan kewajibannya dan memperlakukan pekerja dengan layak.

Setelah tahun 2009, makin banyak orang yang datang ke saya. Selain pekerja, mereka juga umumnya para korban perdagangan manusia, yang ingin bisa kembali hidup layak. 

Saya sendiri, tak lelah-lelahnya berkeliling membagi kisah hidup saya. Kadang seminggu bisa lebih dari tiga kali, saya diminta untuk berbicara di depan gereja, sekolah, universitas, ataupun komunitas masyarakat.

Saya tak merasa perlu menyembunyikan kisah kelam saya. Justru, kisah hidup memang perlu dibagi pada orang lain, supaya masyarakat waspada.
Sejak itu, seperti ada panggilan untuk terjun ke pekerjaan yang membantu korban. Saya pun memutuskan untuk mengabdikan hidup saya membantu para korban trafficking.

Di tahun 2011, saya mendirikan "Voice of Hope", salah satu unit lembaga "Safe Horizon", yang berupaya memberdayakan, mendidik dan menjangkau korban sindikat perdagangan manusia. Lewat lembaga ini, saya juga gencar menyadarkan publik tentang bahaya perdagangan  manusia. Masih banyak orang yang memandang Amerika sebagai tanah impian. Setiap tahun, sekitar 17.000 sampai 19.000 orang dibawa ke Amerika untuk diperdagangkan. Namun, ini baru angka estimasi saja. Perdagangan manusia juga bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya wanita, dari kalangan tak berpendidikan, tapi juga pada pria, segala usia, dan segala kalangan.

Sekarang, sudah banyak perubahan yang bisa dirasakan. Jika dulu, orang belum  banyak yang tahu apa itu apa itu human trafficking, sekarang mulai banyak yang paham. Mulai ada sosialisasi, iklan, pendidikan di sekolah-sekolah, ada legislasinya yang sudah diimplementasikan, dan makin banyak korban yang berani untuk melapor.

Setelah bertemu dengan Imamatul, sesama survivor trafficking juga dari Indonesia, berdua, kami menjadi lebih kuat. Kami pun turut membidani pendirian lembaga yang diberi nama Mentari, organisasi yang membantu korban-korban berbaur ke dalam masyarakat, memberi pelatihan skill, hibah untuk usaha, dan menghubungkan mereka ke lapangan kerja.   

Saya kerap diminta untuk berbicara di depan senat Amerika. Saya turut memberi masukan, dari sudut pandang korban, untuk membuat kebijakan yang memastikan bahwa para pekerja yang direkrut dari luar negeri mengetahui hak-hak mereka dan tidak dikenakan biaya. Agen-agen perekrutan di luar negeri juga harus diperketat izinnya, harus mendaftar ke Departemen Tenaga Kerja sebelum mereka beroperasi. Saya juga memberi masukan untuk NYPD (New York Police Department), agar kondom bisa menjadi alat bukti di persidangan yang bisa digunakan untuk menjerat para pembeli seks. Selama ini, masih banyak anak di bawah umur yang menjadi korban perbudakan seks, tapi oleh polisi malah ditangkap. Menurut saya, pihak penegak hukum banyak yang belum paham tentang kriminalisasi industri seks.  

Di bawah bendera Mentari, kami sering berkunjung ke Indonesia. Kami menerbitkan komik pendidikan tentang masalah perdagangan manusia. Berkeliling di Jakarta, Cianjur, dan Bali, membagikan ribuan buku edukasi. Tahun ini, kami berencana ke Indonesia untuk membagikan 5000-10 ribu buku, dan menjalankan program pemberdayaan masyarakat. Para warga di pedesaan, harus diperkuat secara ekonomi, agar mereka tidak lagi harus menjual anak-anak mereka kepada sindikat perdaganan manusia.

Saya juga diminta menjadi Policy Champion of Depatment of State di National Survivor Network, yang bertugas memberi masukan untuk merumuskan kebijakan, melobi senat, dan bertemu dengan para pembuat kebijakan di gedung putih.
 
 
 

Ficky Yusrini


 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.