True Story
Kisah Cinta Audy Item & Iko Uwais

12 Aug 2018


Foto: Dok. Pribadi

 
Merasa nyaman dengan kesendirian membuat Audy Item sempat memutuskan untuk melajang seumur hidup. Sementara itu, kegagalan kisah cinta membuat Iko Uwais tak berpikiran untuk menjalin hubungan baru. Namun, cinta memilih perjalanan nasibnya sendiri. Media sosial Twitter menjadi alat sang Cupid untuk memanahkan asmara di hati keduanya.

Cinta Audy bersama Iko adalah salah satu produk “kekinian”. Begitu Audy meminjam istilah yang sedang tren di kalangan anak muda sekarang. Setelah begitu banyak pria yang dibawa dan dikenalkan kepadanya, hatinya justru tergelitik oleh kicauan sepanjang 140 karakter dari pemilik akun twitter @iko_Uwais yang masuk ke timeline akunnya, yang kini berubah nama menjadi @awdee_ uwais. Tetapi, semua ini berawal dari film The Raid.

Sebelum menonton film The Raid, Audy mengaku tidak kenal siapa Iko Uwais. “Jujur, saya tidak suka nonton film Indonesia,” ungkap Audy. Namun, film laga yang menjadi buah bibir di dunia perfilman tanah air dan internasional itu membuat sahabat dan adiknya memaksa Audy untuk ikut menonton. “Karena dipaksa-paksa terus, akhirnya saya nonton juga. Di situ saya tahu Iko, dan saya sangat terkesan dengan aktingnya,” puji Audy, terus terang.

Kekaguman ini lantas dituangkan Audy lewat akun twitter miliknya. “’Congratulation Iko Uwais untuk aktingnya yang gemilang di The Raid’, begitu kira-kira tweet saya waktu itu,” ujar Audy. Rupanya, kicauannya ini langsung menjadi bulan-bulanan teman-temannya di medsos. Bahkan, ada yang kemudian men-cc pujian ini ke akun twitter Iko.

Sejak saat itu sang Cupid mulai bekerja di hati keduanya. Sehingga, dari yang tadinya saling mention di timeline, obrolan mereka berlanjut ke DM (Direct Message – Red.). Setelah itu mulai saling berkirim SMS, dan terus mengalir lewat obrolan berjam-jam di telepon, hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kopi darat!

“Bekal saya hanya nekat dan niat baik. Saya sangat bersyukur bahwa niat baik itu ditanggapi dengan baik juga oleh Audy dan keluarganya,” lega Iko tentang proses lamaran yang berlangsung di 4 Juni 2013 itu. “Pesan mama saya tidak banyak, hanya ‘Jaga kepercayaan orang tua dan menjaga nama baik keluarga.’ Tapi pesan ini punya arti luas bagi saya. Kalau bisa menjaga dua itu, artinya saya bisa menjaga istri, anak, dan menjadi kepala keluarga yang baik,” jelas Iko, yang mendapat dukungan penuh dari kedua belah pihak keluarga.
 


Foto: Dok. Pribadi
 
Audy yang tidak menyukai pasangan yang ribet atau sok jaim menemukan kejujuran Iko dalam membawa diri sebagai daya tarik yang besar. “Kalau soal fisik, siapa sih yang tidak suka dengan kegantengan Iko,” ungkap Audy, menggoda sang suami. “Tapi, hubungan kan bukan cuma urusan penampilan. Kesederhanaan Iko dan caranya memperlakukan saya juga membuat saya merasa sangat nyaman menjadi diri saya sendiri. Menurut saya, tanpa rasa nyaman, tidak mungkin sebuah hubungan akan bertahan,” lanjut Audy.

Keduanya resmi melepas masa lajang dalam upacara pernikahan adat Sunda pada 25 Juni 2013 dengan emas kawin 29 gram emas sebagai perlambang usia keduanya saat menikah. Dengan umur “pacaran” yang hanya 60 hari, kemesraan sebagai sepasang kekasih ini justru mulai mendapat ruang ketika mereka sah sebagai suami istri. Salah satunya merayakan valentine dengan ber-candle light dinner di tahun ke-2 pernikahan mereka.
 

“Walaupun kita berdua anti mainstream, tapi sok-sok ‘kekinian’ saja, mengikuti orang-orang zaman sekarang. Tapi nggak bisa lama-lama dan langsung pulang karena ada anak di rumah,” ujar Audy yang tidak memakai baby sitter. Apakah ia juga mendapat buket bunga mawar 12 tangkai di hari spesial itu? “Bunganya sudah satu set dengan meja makannya,” jawabnya geli.


Baik Audy maupun Iko paham bahwa masih ada kejutan-kejutan tidak mengenakkan dalam pernikahan yang harus siap mereka hadapi. Komitmen untuk saling menjaga kepercayaan, kejujuran, komunikasi, dan menghargai perbedaan menjadi kunci mereka. “Perbedaan ini yang memunculkan spark. Kalau semuanya sama, maka setiap hari kami berdua seperti akan berhadapan dengan bayangan di cermin. Perkawinan jadi hambar dan monoton,” ungkap Audy.

Namun, hadiah terbesar yang memberi warna baru pada kehidupan perkawinan mereka adalah kehadiran Atreya Syahla Putri Uwais yang lahir secara caesar pada 11 Oktober 2014. Prioritas hidup mereka pun berubah. “Saya jadi lebih semangat dalam bekerja, karena tanggung jawab saya sebagai kepala rumah tangga adalah menghidupi anak dan istri,” ujar Iko.

Kehadiran sang buah hati ini juga membuka banyak pintu rezeki bagi mereka berdua. Kini Iko telah memiliki usaha baru Uwais Scene, yaitu perusahaan konsultan koreografi seni beladiri. “Sudah ada beberapa klien, pembuat film dari luar negeri yang mengajak kerja sama,” ungkap Audy tentang usaha suaminya itu. (f)


 

Naomi Jayalaksana


 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.