True Story
Dua Dekade Pasangan Emas Susi Susanti - Alan Budikusuma

7 Oct 2018


Foto: Dok. Pribadi

Dua puluh tahun menjalani bahtera pernikahan, pasangan yang mendapat julukan ‘Pengantin Olimpiade’ ini saling melengkapi sebagai pasangan kekasih, sahabat, hingga partner bisnis. Ditemui di sela-sela perhelatan Indonesia Open 2018, Susi Susanti (47), yang kini menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI (2016-2020), bercerita tentang perjalanan cintanya bersama sang suami, Alan Budikusuma (50).

Melupakan Mimpi
 
“Bisa dibilang, lebih dari setengah hidup, saya jalani bersama Alan,” ungkap Susi tersenyum, membuka percakapan siang itu. Suaranya halus, tapi ada nada tegas terasa. Ini bukan bualan belaka, karena memang keduanya sudah berpacaran sejak masih remaja, saat masih sama-sama di pelatnas bulu tangkis.
 
“Mungkin karena sering bersama, kami merasa cocok dan akhirnya pacaran,” tambah Susi, yang mengaku tertarik pada Alan karena melihat Alan memiliki sifat yang mirip dengan ayahnya: pendiam, tapi sedikit keras.

Di lapangan bulu tangkis, keduanya sama-sama tersohor sebagai pemain tunggal putra dan putri. Prestasi mereka membanggakan. Puncaknya ketika Susi dan Alan meraih medali emas pada Olimpiade Barcelona tahun 1992. Hingga mereka mendapat julukan ‘Pengantin Olimpiade’.
 
Alexander Alan Budikusuma Wiratama, memulai karier bulu tangkis sejak usia 15 tahun, saat bergabung dengan PB DJarum, salah satu klub elit pencetak atlet bulu tangkis berprestasi. Di lapangan, ia dikenal sebagai atlet yang tidak mudah putus asa dan selalu belajar dari kesalahan. Deretan prestasi mentereng pernah diraih Alan, seperti Belanda Terbuka (1989), dua kali juara Thailand Terbuka (1989 dan 1991), Cina Terbuka (1991), Jerman Terbuka (1992), Piala Dunia (1993), dan Malaysia Terbuka (1995).
 
Susi terkenal sebagai atlet yang ulet dengan kaki-kakinya yang bergerak lincah mengejar kok di lapangan. Ketika baru memulai karier profesional di bulutangkis tahun 1989, Susi langsung berhasil menyabet juara Indonesian Open dan kariernya melesat tak terbendung. Ia bahkan menjadi satu-satunya wanita yang berhasil menjuarai All England empat tahun berturut-turut (1990, 1991, 1993, 1994) dan Juara Dunia (1993).
 
Bagi Susi, menjadi pasangan dengan background sama-sama atlet ada seni dan tantangan tersendiri. Selain harus sama-sama fokus pada latihan dan prestasi, kehidupan pribadi mereka juga tersorot publik. “Ya, terkadang, kalau prestasi lagi enggak bagus, bisa saja dikaitkan dengan masalah kami berdua,” ungkap wanita bernama lengkap Lucia Francisca Susi Susanti ini.
 
Sebenarnya, jauh sebelum terkenal sebagai pencetak medali emas bulu tangkis Indonesia, pasangan ini sudah menjalin kasih. “Kami pacaran sejak tahun 1988. Status saja pacaran, tapi kami sama-sama sibuk latihan bulu tangkis,” cerita Susi, tersenyum.
 
Hubungan keduanya pun sempat ditentang berbagai pihak, termasuk orang tua mereka. Alasannya, karena mereka ingin Susi dan Alan fokus dulu mengejar prestasi di lapangan. Dasar cinta, larangan tersebut justru membuat keduanya makin semangat untuk membuktikan bahwa hubungan mereka bukan penghalang untuk meraih prestasi.
 
“Jadi, pacaran ala kami, ya, latihan di lapangan. Kadang-kadang Alan membantu saya berlatih, atau sebaliknya. Obrolan kami juga tak jauh dari bulu tangkis, lebih banyak diskusi tentang kelebihan dan kekurangan saat pertandingan. Juga soal teknik lawan,” kenang Susi.
 
Bosan? “Enggak sama sekali. Justru hal ini membuat kami makin dekat dan saling memahami karakter masing-masing,” tambah Susi.

Apa yang dikhawatirkan banyak orang di awal hubungan mereka, tak terbukti. Pasangan ini justru makin menunjukkan kematangannya dengan berbagai prestasi di lapangan bulu tangkis. Yang paling fenomenal adalah ketika tahun 1992, dua emas Olimpiade Barcelona Indonesia mereka persembahkan.
 
Lima tahun setelah Olimpiade Barcelona, ‘Pengantin Olimpiade’ ini pun benar-benar naik ke pelaminan. Keduanya menikah pada 9 Februari 1997 setelah sembilan tahun lebih berpacaran. Usai menikah, niatnya mereka masih akan konsentrasi di dunia bulu tangkis, tapi garis hidup berkata lain.
 
Beberapa bulan setelah menikah, Susi dinyatakan hamil. Inilah momen terberat dalam kehidupan Susi. Saat itu, ia tengah berlatih keras untuk persiapan Asian Games 1998. Pasalnya, sepanjang karier bulu tangkisnya dan puluhan gelar yang ia raih, hanya emas Asian Games yang belum pernah ia menangkan.
 
“Ini jadi semacam mimpi terbesar saya. Jadi, ketika dipastikan hamil, saya merasakan kebimbangan yang sangat besar, meneruskan kehamilan atau mengejar obsesi,” kisah wanita kelahiran 11 Februari 1971 ini, menerawang ke masa itu.
 
“Saat itu keputusan memang ada di tangan saya. Alan dan orang tua saya memberikan kebebasan saya untuk memilih. Saya pertimbangkan segala sesuatunya, benar-benar tidak mudah. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk gantung raket dan meneruskan kehamilan,” katanya, yakin. Keputusan yang kemudian mengubah jalur hidup keduanya.
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#truestory, #kisahcinta

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.