
Foto: Fotosearch
Bekerja dengan tuntutan deadline, harus menguras tenaga dan fisik, rela mengorbankan atau bertanggung jawab atas nyawa orang lain, hingga interaksi dengan publik bisa memberikan tekanan besar yang berdampak pada stres. Beberapa orang punya cara berbeda dalam menanggapinya. Ada yang dijadikan motivasi atau justru menjadikannya beban besar. Psikolog dari Personal Growth, Ratih Ibrahim, MM, menganggap lazim semua stres tersebut, karena itu adalah hal yang lumrah. Namun, menanggapi lebih jauh, ia membeberkan seperti apa dampak stres hingga bagaimana cara mengelola stres, dari negatif menjadi lebih positif.
Melepas Stres di Lapangan
Briptu Nurmala Hilda, 26, Polisi Lalu Lintas, Jawa Barat
Sejak pukul 06.00 pagi saya sudah harus berhadapan dengan kemacetan, kecelakaan, atau bahkan tindak kriminal di jalan. Stres? Sudah pasti. Namun, sebagai pelayan publik, saya tidak boleh memperlihatkan itu di hadapan masyarakat. Tugas harus tetap dijalankan. Publik harus tetap mendapatkan pelayanan terbaik, bagaimana pun kondisinya. Saat masih mengenyam pendidikan kepolisian, kami sudah dibekali cara-cara mengatasi tekanan saat bertugas, baik itu meredam kepanikan atau menjaga ketenangan sikap. Namun, sebagai manusia biasa, tak ayal saya sering lepas kontrol.
Ketika menghadapi kecelakaan lalu lintas, misalnya. Dalam hati saya panik, tapi perasaan itu harus disingkirkan dan segera menolong. Belum lagi ketika macet parah, masyarakat cenderung menyalahkan polisi, walau sebenarnya bukan kami penyebabnya. Ketika bertugas di Samsat DKI Jakarta, bagian pengurusan STNK dan BPKB, saya harus mengurus ribuan wajib pajak. Pusing ketika ada wajib pajak yang komplain mengenai berkas-berkas dan sebagainya. Cacian, omelan, dan perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat sudah menjadi makanan sehari-hari.
Saya sadar bahwa itu menjadi risiko profesi yang tak terhindarkan. Karena itu, saya selalu berusaha menyeimbangkan diri. Untuk melepas stres dalam pekerjaan, seperti halnya pekerja biasa, saya memanfaatkan waktu istirahat untuk ngobrol dan bersenda gurau dengan rekan kerja. Akhir pekan saya habiskan untuk bersantai dengan keluarga.
Ada satu hal yang menarik dalam menjalankan profesi ini. Bertugas sebagai polantas memungkinkan saya bertemu dengan banyak orang dari beragam kalangan. Saya menemukan banyak sisi humanisme di pekerjaan ini. Misalnya, ketika saya ditugaskan berjaga 24 jam selama 7 hari penuh di Nagreg, Jawa Barat, Lebaran lalu. Banyak masyarakat berdatangan memberikan dukungan dan simpati kepada tim kami. Ada yang membawa makanan atau sekadar menemani ngobrol. Bagi saya, bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan menjadi obat pelepas stres yang paling ampuh. Di lapangan saya tidak hanya menemukan tekanan stres, tapi sekaligus pengobat stres. Tergantung bagaimana diri kita menyikapinya, menjadi hal yang positif atau negatif untuk diri kita.
Ajak Ngobrol Jenazah
Kusparwati Ika Pristianti, 37, Dokter Spesialis Forensik, Yogyakarta
Bukan hal mudah menjalani profesi dokter spesialis forensik. Tidak seperti dokter lainnya, saya tak hanya bertanggung jawab pada pasien dan keluarganya, tapi juga pada pengadilan. Jenazah korban kriminal, kecelakaan, dan bencana alam pun memerlukan pemeriksaan forensik. Tujuannya, menentukan penyebab kematian jenazah. Hasil pemeriksaan jenazah akan dituangkan dalam visum. Visum itulah yang digunakan untuk membantu penyidikan dan sebagai bahan pertimbangan hakim di pengadilan. Hasil visum itu juga menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa, serta memengaruhi hukuman yang dijatuhkan sesuai pasal-pasalnya.
Spesialis forensik tidak bisa berjalan seorang diri. Untuk membuat sebuah visum, kami membutuhkan persetujuan kepolisian. Kalau tidak ada surat permintaan visum dari polisi, otomatis saya tidak bisa memeriksa jenazah. Hal ini membuat stres. Di sisi lain saya bertanggung jawab untuk segera melakukan pemeriksaan, tapi pergerakan terbatas karena harus menunggu berkas. Padahal, makin lama kondisi jenazah didiamkan, makin sulit didapatkan hasil visum yang akurat.
Kadang-kadang kami terkendala karena diburu-buru tenggat penahanan. Padahal, ada beberapa kondisi yang membuat pemeriksaan visum harus berjalan lama. Kalau sudah seperti ini rasanya kesal dan stres karena diburu deadline. Hal yang menyedihkan adalah ketika kami tidak menemukan penyebab kematian jenazah. Ada rasa bersalah yang saya rasakan. Saking stresnya, saya sampai mengajak jenazah bicara. Namun, bagaimana lagi, kalau jenazah sudah busuk biasanya akan sangat sulit dikenali.
Dalam kasus massal tertentu, misalnya kecelakaan pesawat Sukhoi atau Air Asia MH370, kami dikarantina dan bekerja lima hari menghadapi mayat dengan beragam kondisi. Di sela waktu kosong biasanya saya sempatkan ke luar rumah sakit untuk melepas penat dan stres, misalnya ke mal atau ke pusat keramaian. Sekadar ngobrol sambil makan di kafe seraya menunggu panggilan, jika ada jenazah baru yang datang.
Pada kasus autopsi standar, tak jarang menemukan jenazah yang sudah rusak kondisinya sehingga tidak bisa ditemukan penyebab kematiannya. Timbul rasa penasaran. Namun, jika kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, saya akan langsung pulang ke rumah, bermain dengan anak. Jika hati belum tenang juga, saya akan tidur agar tidak kepikiran terus.
Di akhir pekan saya sempatkan pergi bersama suami dan anak. Keluarga sudah sangat memahami ini. Mereka selalu mendukung saya. Mereka pulalah yang akan menenangkan saya dalam kesulitan.
Terbiasa dengan Tekanan
Satwika, 33, Produser Program Berita Televisi, Jakarta
Sebagai produser program berita yang tayang tiap hari, saya bertugas menentukan topik sesuai isu terkini, memproduksi berita, dan mengawal berita saat tayang. Selain berkoordinasi dengan tim di kantor, saya juga harus berkoordinasi dengan tim yang bertugas di biro-biro daerah. Sangat repot! Saya harus menyatukan ide-ide dari tim. Mulai dari menentukan isi rundown sampai memproduksi berita, sudah pasti membuat saya stres.
Belum lagi jika keadaan di lapangan berubah dan tidak sesuai dengan rundown yang telah disusun. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Sesuai rencana awal, pada hari itu ada 3 laporan langsung dari lapangan. Ternyata, kondisi berubah. Dua reporter lain yang telah standby batal live. Rundown berantakan, sementara program sudah harus tayang. Dalam keadaan panik, saya harus mencari solusi dengan cepat dan tepat. Berita pun harus ditayangkan dengan sistem tambal sulam.
Bila ada peristiwa besar dan mendadak, kami akan memprioritaskan itu karena lebih dibutuhkan dan menyita perhatian banyak orang. Kondisi di lapangan tidak selalu bisa ditebak. Perubahan-perubahan dapat terjadi kapan saja. Sebagai produser, saya memang tidak memimpin tim secara langsung. Eksekutif produser adalah pemimpin tim. Kadang kala, tuntutan-tuntatan dari atasan pun kerap menjadi pemicu lain dari stres.
Pintar membaca situasi dan memahami kondisi lapangan sangat penting dilakukan agar suasana tidak makin ribet. Pengalaman sebagai reporter, koordinator liputan, dan daerah menjadi bekal bagi saya untuk menguasai berbagai situasi. Dampaknya memang saya jadi mudah marah. Namun, saya tak pernah melampiaskannya kepada orang lain. Sebab saya merasakan, mereka pun mengalami hal yang sama. Sering kali, saya keluar kantor, duduk di teras untuk menenangkan diri dan pikiran. Berusaha melepaskan diri dari stres atau tekanan pekerjaan. Saya menyadari bahwa bekerja di media massa memang tidak mudah. Namun, saya akan terus bertahan pada pekerjaan ini. Saya sudah biasa menghadapi stres, itu adalah salah satu risiko bekerja di media. (f)
Dian Probowati & Desiyusman Mendrofa
Topic
#kelolastres


