Trending Topic
Terumbu Karang Indonesia Terancam Punah, WWF Indonesia, HiLo Green Commmunity dan Komunitas Sea Soldier Menanam 12500 Terumbu Karang di Ujung Kulon

2 Aug 2016


 
Banyak cara untuk menyatakan cinta pada alam. Salah satunya, dengan menanam terumbu karang. Seperti yang dilakukan oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, HiLo, dan komunitas Sea Soldier untuk merayakan Hari Konservasi Alam Internasional yang jatuh pada 28 Juli 2016 di perairan Pulau Badul, Ujung Kulon. Menurut Anwar Purwoto, Direktur Program WWF Sumatera dan Kalimantan, lokasi tersebut dipilih karena tiga alasan, yakni kemudahan akses lokasi, kondisi perairan yang cukup dangkal, dan alasan historis.
           
“Terumbu karang membutuhkan sinar matahari untuk dapat tumbuh. Perairan Pulau Badul cukup dangkal dan memungkinkan sinar matahari menembus ke dalam. Selain itu, Ujung Kulon merupakan lokasi site-based conservation pertama WWF Indonesia, sejak tahun 1962,” ujar Anwar.
           
Terumbu karang, sejatinya, merupakan rumah dari sekitar 3.000 jenis ikan dan biota laut lainnya. Indonesia memiliki terumbu karang sebanyak 16% dari luas terumbu karang dunia atau kira-kira seluas tujuh kali Pulau Bali. Namun, sayangnya saat ini hanya sekitar 1/3 terumbu karang di Indonesia yang berada dalam kondisi baik. Peningkatan populasi sampah, pembangunan permukiman, dan penggunaan bom ikan menjadi penyebab terbanyak kerusakan terumbu karang.

Padahal, secara ekologi, keberadaannya merupakan sebuah ekosistem yang menunjang kehidupan bawah laut dalam wujud tempat untuk tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. “Seperti hutan bakau, terumbu karang juga bermanfaat untuk menahan energi ombak  sehingga abrasi pantai dapat diminimalkan,” papar Nadine Chandrawinata, Brand Ambassador HiLo Revive the Reef yang juga pendiri komunitas Sea Soldier.
            
Selain itu, keberadaan terumbu karang turut menyumbang manfaat secara ekonomi. Salah satunya untuk ekowisata. Tidak heran jika penanaman yang dilakukan secara simbolik oleh Nadine dan Angelique Dewi, Head of Green Committee HiLo, pada hari itu turut melibatkan masyarakat desa sekitar.
“Keterlibatan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kualitas ekowisata di Ujung Kulon. Selain mengedukasi masyarakat mengenai penanaman terumbu karang, WWF juga memberikan pelatihan storytelling agar masyarakat bisa memandu turis dengan baik,” ungkap Yuyun Kurniawan, Project Leader WWF Daerah Ujung Kulon.

Kemampuan bercerita menjadi salah satu kunci penting dari peningkatan kualitas ekowisata dan pada akhirnya dapat meningkatkan pereknomian masyarakat.  Ditambahkan Anwar, kemampuan menyampaikan cerita mengenai fakta-fakta terumbu karang sangat penting untuk memperkaya wawasan turis. Hal ini akan membuat turis yang datang, tapi tidak bisa melihat terumbu karang secara langsung, tetap mendapatkan informasi berharga.

Penanaman 12.500 koloni terumbu karang akan dilakukan secara bertahap dam tetap melibatkan masyarakat di sekitar perairan Pulau Badul, khususnya masyarakat dari Kampung Paniis, Desa Taman Jaya, Pandeglang. Pengawasan dan pengamanan kawasan terumbu karang akan dilakukan WWF Indonesia selama tiga tahun setelah pemasangan rak koloni terumbu karang. Masyarakat dan alam, pada akhirnya, harus saling membantu untuk pelestarian agar tidak saling merusak. (f)
 
 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?