Trending Topic
Terlalu Percaya Diri Dapat Menjadikan Diri Kita Sebagai Bahan Gosip

15 May 2016


Foto: Fotosearch

Dinda merasa tersinggung saat rekannya, Rara, mengatakan kalau Dinda nggak akan mampu mengerjakan tugas A. Menurut Rara, hanya dirinya yang kompeten meski jabatan mereka sama. Dinda pun enggan berinteraksi dengan Rara selain urusan pekerjaan.
           
Mungkin nggak sedikit dari kita yang mengalami kasus seperti Dinda, yaitu harus berinteraksi dengan orang arogan. Rasanya emosi, deh, mendengarkan dia  berbicara—kesannya paling hebat dan benar.  Kok, bisa, ya, ada orang seperti ini?
 
Anggap remeh
Seseorang yang arogan cenderung memandang remeh orang lain. Maklum, dia merasa dirinya ‘lebih’, mulai dari lebih pintar, lebih kaya, hingga lebih cantik. Nggak heran, deh, dia seringkali berbicara tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.
           
Menurut psikolog Nessi Purnomo, sikap arogan ini tidak ditunjukkan pada semua orang. Misalnya, seseorang memiliki uang Rp 1 juta. Dia bisa saja, tuh, menunjukkan arogansinya pada orang-orang yang memiliki uang hanya Rp 500 ribu. Namun, dia tidak bersikap arogan pada lawan bicara yang lebih kaya.
           
“Sebenarnya wajar jika ada seseorang yang pintar, cantik, atau kaya. Yang jadi masalah adalah ketika dia merasa lebih hebat tapi nggak mau berbagi untuk orang lain. Saat temannya bertanya, misalnya, dia malah meremehkan kemampuan temannya tanpa membantu. Ini yang disebut arogan.”
 
Butuh pengakuan
Nessi menjelaskan kalau salah satu penyebab seseorang menjadi arogan adalah karena dirinya kurang diakui di masa lalu. Akibatnya, dia ingin membuktikan pada orang-orang kalau dirinya juga bisa tampil ‘mengesankan’. Dengan kata lain: balas dendam terhadap situasi yang dialaminya dulu.
           
Namun, bukan berarti dia menjadi korban ala tokoh sinetron, ya, yaitu orang baik yang disakiti. Pada beberapa kasus, dia nggak diakui keberadaannya karena kelakuannya yang negatif.

Misalnya, dia suka membolos sehingga sering diomeli sang guru. Idealnya, dia harus mengubah sikap jika ingin dihargai. Ini sebaliknya. Dia malah makin dendam, tuh, karena tidak menerima pujian.

Pola asuh juga turut berpengaruh. Jika keluarganya cenderung bersikap arogan, maka sang anak pun meniru kebiasaan orangtuanya. Apalagi, jika dia menganggap mereka sebagai panutan. Hasilnya, hingga tumbuh dewasa dia menganggap sikap arogan merupakan hal wajar.

“Bisa juga, tuh, sikap arogan merupakan cara seseorang untuk menutupi kekurangannya. Daripada orang melihat kelemahannya, lebih baik dia menyerang dengan bersikap sombong,” jelas Nessi.
 
Dijauhi
Efek dari bersikap arogan adalah menjadikan diri sendiri sebagai bahan gosip. Belum lama ini, misalnya, masyarakat heboh dengan sikap arogan yang ditunjukkan salah satu musisi tanah air. Melalui Twitter, musikus ini mengumbar akan memotong kemaluannya jika capres tertentu menang. Dia pun menjadi perbincangan dan bahan olokan di dunia maya.
          
“Dalam kasus tersebut, bisa jadi ini merupakan bentuk cari perhatian. Artis, kan, kadang suka membuat ‘masalah’ agar jadi bahan pembicaraan. Makin dicaci dia atas sikap arogannya, makin senang dirinya. Yang penting jadi trending topic. Atau, bisa jadi dia kurang bisa mengelola dirinya dengan baik sehingga bersikap arogan,” jelas Nessi.
           
Pastinya, nih, orang biasa seperti karyawan yang gajinya terbatas juga bisa bersikap arogan. Jadi, bukan hanya orang populer atau mereka yang berkantung tebal. Seperti yang diungkapkan Nessi, mungkin ada konflik di dalam dirinya sehingga dia berlaku tidak menyenangkan.
           
Sikap ini jelas saja merugikan diri sendiri. Mereka yang memandang rendah orang lain akan dijauhi orang-orang sekitarnya. Maklum, nggak akan ada yang tahan menghadapi orang yang tidak menghargai lawan bicaranya. Ini nantinya akan berpengaruh pada pergaulannya, bahkan performa kerjanya.
 
Pentingnya introspeksi
Menghadapi orang arogan, tuh, memang menyita banyak energi. Apalagi, jika kita memang harus sering berinteraksi dengannya, seperti rekan kerja atau atasan. Akan sulit, tuh, menghindarinya.
           
Namun, bukan berarti kita nggak bisa mengatasinya. Jika terjebak obrolan dengan mereka yang menyombongkan diri, kita berhak, kok, memotongnya. “Carilah alasan elegan, misalnya harus mengerjakan tugas yang harus disetor segera. Mereka nggak akan bisa menolak!” jelas Nessi.

Bisakah sikap arogan diubah? Bisa. Asalkan, nih, ada kemauan dari diri sendiri. Sayangnya, sih, orang arogan umumnya nggak menyadari kalau sikapnya mengganggu orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai teman atau rekan kerja yang harus menyadarkannya.                                                                         

“Setelah sadar sikapnya nggak menyenangkan, tentunya dia harus introspeksi. Jelaskan pada orang-orang sekitar tentang niat kita untuk berubah dan minta masukan dari mereka mengenai ucapan-ucapan kita yang mengganggu. Prosesnya memang panjang, tapi bisa dilakukan selama kita memiliki niat. Dengan bantuan orang terdekat, pasti bisa berubah, kok!” jelas Nessi. (f)


Topic

#kepercayaandiri

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?