
Foto: Instagram/@gettyentertainment
Pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 ini disebut CNN.com memiliki kampanye yang paling keji dan tidak konvensional dalam sejarah peradaban modern. Sering terjadi saling tuding untuk menjatuhkan di antara dua kandidat, Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Terpilihnya Donald Trump pun mengejutkan banyak orang karena kampanyenya yang terang-terangan menyerang imigran dan kaum muslim, serta menyentuh rasisme. Trump juga tidak segan menyerang para juru kampanye Hillary Clinton dari Partai Demokrat, termasuk Presiden Barack Obama.
Baca juga:
Baca juga:
- Pemilihan Presiden Amerika Serikat: 70 Penerima Nobel Mendukung Hillary Clinton & Perdebatan Tentang Isu Perubahan Iklim
- Donald Trump: Hillary Clinton Sudah Memberikan Selamat
Karena itu, adalah suatu peristiwa yang perlu dicatat sejarah ketika Trump menemui Presiden Obama Kamis lalu (waktu AS), sebagai sebuah ritual transfer kekuasaan secara damai. Pertemuan tampak berlangsung hangat dan penuh senyum.
Padahal, ketika kampanye, keduanya saling menjatuhkan. Masih segar dalam ingatan ketika beberapa hari lalu ketika berkampanye di Florida, Obama mengatakan bahwa jika seseorang tidak bisa mengontrol akun Twitternya, dia tidak akan bisa juga memegang kode nuklir. Pernyataan yang disambut riuh audiens yang hadir, karena seperti merujuk pada peristiwa diambilalihnya akun Twitter pribadi Trump oleh stafnya.
Baca juga:
- Fakta dari Arena Debat Calon Presiden Amerika Serikat & 3 Momen Debat Donald Trump VS Hillary Clinton
- 8 Fakta Melania Trump, Calon First Lady Amerika yang Baru
Sementara, Trump pernah menanyakan sahnya presiden Afrika-Amerika pertama AS tersebut melalui kewarganegaraan dan agamanya. Ia menyebutkan bahwa Obama bukanlah orang asli kelahiran Amerika dan tidak memiliki akta kelahiran, serta kemungkinan beragama muslim. Ketika Obama “memperlihatkan” surat kelahirannya, Trump menuduh surat tersebut palsu. Obama juga dituduh sebagai pendiri ISIS. Pernyataan tentang kewarganegaraan Obama tersebut akhirnya diakui oleh Trump pada September 2016 lalu.
Dan, pada pertemuan dengan Obama Kamis lalu, disebutkan CNN.com, Trump beberapa kali menyebut Obama sebagai orang yang sangat baik dan tempatnya akan berkonsultasi di waktu mendatang. Trump juga berterima kasih pada Obama untuk pertemuan yang awalnya dijadwalkan hanya 10 menit, menjadi 90 menit. Trump mengaku mereka membicarakan banyak hal yang menyenangkan atau masa-masa sulit, tapi tidak menjelaskan apa saja hal-hal tersebut. Sorenya, Trump men-tweet mengenai pertemuan tersebut.

Sedangkan Obama berpesan pada Trump bahwa dia ingin Trump sukses menjadi presiden Amerika baru dan bersedia membantu apa pun untuk menjamin transisi kepemimpinan berjalan mulus.
“Prioritas no. 1 saya dalam dua bulan ke depan (sebelum Trump resmi dilantik) adalah mencoba menfasilitasi peralihan (kekuasaan) yang memastikan bahwa presiden terpilih kita sukses,” jelas Obama seperti dikutip CNN.com.
Pertemuan penuh damai antara Obama dan Trump ini mengindikasikan agar pihak-pihak yang berbeda pendapat saat kampanye mengenyampingkan perbedaan tersebut. Presiden baru yang akan memimpin seluruh negeri telah terpilih, artinya saatnya bersatu untuk kembali membangun negara.
“Jika Anda sukses, negara pun akan sukses,” kata Obama kepada Trump.
Perilaku yang mungkin bisa dicontoh untuk para pemimpin negeri ini. Bagaimana menurut Anda?(f)
Topic
#pilpresamerika



