
Foto: Fotosearch
Gara-gara sedikit salah paham, kita dan sahabat berakhir diam-diaman. Sudah coba banyak cara, tapi ketemu jalan buntu. Akhirnya saling menjauh, deh, untuk waktu yang lama. Sampai suatu saat...kita harus berhubungan lagi dengannya. Dari luar, biasa, sih, terlihat cool, tapi di dalam terasa mengganjal dan...akwaaaard! Psikolog Erin Mutiara Naland, M. Psi punya jalan keluar.
1. Cari penyebabnya
Dalam suatu hubungan yang sudah intim secara emosional, suatu konflik akan terasa lebih menyakitkan, terutama bila menyangkut masalah kepercayaan. Bisa dibilang, ini menyangkut hati. Akibatnya muncul perasaan dikhianati. Contohnya, rebutan pacar, dicurangi ketika berbisnis, atau persaingan mendapatkan promosi di kantor.
2. Jangan tambah musuh
Kalau berkeras untuk perang dingin, kita pasti akan mencari-cari alasan untuk tidak berhubungan dengan sahabat. Itu, sih, alamiah. Kita mungkin bisa menghindari sahabat, tapi akibatnya orang lain di sekitar kita merasa nggak nyaman. Konflik melebar ke orang-orang sekitar yang tadinya tidak tahu-menahu. Akibatnya, bisa menciptakan musuh-musuh baru. Karena itu, lebih cepat masalah diselesaikan lebih baik.
3. Hindari sok acuh
Konflik tidak selesai seringnya gara-gara pihak yang bermasalah menolak untuk bersinggungan langsung dengan masalahnya. Bahkan, meyakinkan diri sendiri tidak ada masalah dan segalanya baik-baik saja. Padahal, bila terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang pasti, risikonya bisa meluas, menjadi beban bertahun-tahun, terlambat untuk dipecahkan hingga yang tertinggal adalah penyesalan berkepanjangan.
4. Keluarkan ueg-uneg
Saat berkonflik, komunikasi makin memburuk karena masing-masing pihak tidak lagi menaruh kepercayaan satu sama lain untuk berbicara secara terbuka mengenai jalinan persahabatan. Cara terbaik, ya, bersedia duduk bersama membucarakan secara terbuka, mencari tahu penyebab inti masalahnya. Hindari saling mentincir karena akan makin memperkeruh konflik. Ungkapkan saja uneg-uneg diri dan jangansibuk menuding orang lain.
5. Tekan ego dulu
Bila benar-benar ingin memperbaiki keadaan yang tidak mengenakkan, masing-masing harus merendahkan ego. Pastinya, memaafkan bukan perkara mudah. Dan, satu-satunya orang yangbisa kita ubah hanya diri kita sendiri. Sekeras apapun keinginan, kita tidak bisa memkasakan ‘mantan sahabat’ untuk berubah juga. Mulai, deh, dengan mencoba maafkan sahabat. Dengan berkata “maaf”, kita sudah mencoba memperbaiki hubungan serta move on. Ketika sahabat tidak mau menerima komunikasi, terbuta, atau memaafkan, setidaknya kita tidak beruyang karena bolanya sekarang ada di dia.
6. Tanggung risiko
Seringkali ada ketakutan mendapat reaksi yang merendahkan atau menyakiti hati kalau kita mulai duluan. Namun, itulah risiko bila berniat memperbaiki hubungan dengan sahabat yang memang pantas diperjuangkan. Masing-masing pasti punya mimpi dan persepsi apa yang benar dan salah. Syukur bila sahabat mau menerima permintaan maaf kita, bila tidak, jadikan saja sebagai sarana melatih diri menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang penting, selalu hormati apapun keputusan sahabat kita. Lagi pula mengalah belum tentu kalah kok.
7. Hindari jutek
Dibandingkan blak-blakan bicara nggak suka, masalah lebih runyam kalau direspons dengan sikap pasif-agresif. Artinya, nih, masalah tidak diselesaikan secara terbuka saat itu juga dan malah dipendam. Contohnya: memutuskan jalinan pertemanan, mengucilkan teman, atau nge-jutek-in. Jutek atau dengan sindiran memang tidak terlihat agresif, tapi tetap bikin orang sakit hati. Cara ini, nih, yang bikin hubungan makin rusak.(f)
1. Cari penyebabnya
Dalam suatu hubungan yang sudah intim secara emosional, suatu konflik akan terasa lebih menyakitkan, terutama bila menyangkut masalah kepercayaan. Bisa dibilang, ini menyangkut hati. Akibatnya muncul perasaan dikhianati. Contohnya, rebutan pacar, dicurangi ketika berbisnis, atau persaingan mendapatkan promosi di kantor.
2. Jangan tambah musuh
Kalau berkeras untuk perang dingin, kita pasti akan mencari-cari alasan untuk tidak berhubungan dengan sahabat. Itu, sih, alamiah. Kita mungkin bisa menghindari sahabat, tapi akibatnya orang lain di sekitar kita merasa nggak nyaman. Konflik melebar ke orang-orang sekitar yang tadinya tidak tahu-menahu. Akibatnya, bisa menciptakan musuh-musuh baru. Karena itu, lebih cepat masalah diselesaikan lebih baik.
3. Hindari sok acuh
Konflik tidak selesai seringnya gara-gara pihak yang bermasalah menolak untuk bersinggungan langsung dengan masalahnya. Bahkan, meyakinkan diri sendiri tidak ada masalah dan segalanya baik-baik saja. Padahal, bila terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang pasti, risikonya bisa meluas, menjadi beban bertahun-tahun, terlambat untuk dipecahkan hingga yang tertinggal adalah penyesalan berkepanjangan.
4. Keluarkan ueg-uneg
Saat berkonflik, komunikasi makin memburuk karena masing-masing pihak tidak lagi menaruh kepercayaan satu sama lain untuk berbicara secara terbuka mengenai jalinan persahabatan. Cara terbaik, ya, bersedia duduk bersama membucarakan secara terbuka, mencari tahu penyebab inti masalahnya. Hindari saling mentincir karena akan makin memperkeruh konflik. Ungkapkan saja uneg-uneg diri dan jangansibuk menuding orang lain.
5. Tekan ego dulu
Bila benar-benar ingin memperbaiki keadaan yang tidak mengenakkan, masing-masing harus merendahkan ego. Pastinya, memaafkan bukan perkara mudah. Dan, satu-satunya orang yangbisa kita ubah hanya diri kita sendiri. Sekeras apapun keinginan, kita tidak bisa memkasakan ‘mantan sahabat’ untuk berubah juga. Mulai, deh, dengan mencoba maafkan sahabat. Dengan berkata “maaf”, kita sudah mencoba memperbaiki hubungan serta move on. Ketika sahabat tidak mau menerima komunikasi, terbuta, atau memaafkan, setidaknya kita tidak beruyang karena bolanya sekarang ada di dia.
6. Tanggung risiko
Seringkali ada ketakutan mendapat reaksi yang merendahkan atau menyakiti hati kalau kita mulai duluan. Namun, itulah risiko bila berniat memperbaiki hubungan dengan sahabat yang memang pantas diperjuangkan. Masing-masing pasti punya mimpi dan persepsi apa yang benar dan salah. Syukur bila sahabat mau menerima permintaan maaf kita, bila tidak, jadikan saja sebagai sarana melatih diri menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang penting, selalu hormati apapun keputusan sahabat kita. Lagi pula mengalah belum tentu kalah kok.
7. Hindari jutek
Dibandingkan blak-blakan bicara nggak suka, masalah lebih runyam kalau direspons dengan sikap pasif-agresif. Artinya, nih, masalah tidak diselesaikan secara terbuka saat itu juga dan malah dipendam. Contohnya: memutuskan jalinan pertemanan, mengucilkan teman, atau nge-jutek-in. Jutek atau dengan sindiran memang tidak terlihat agresif, tapi tetap bikin orang sakit hati. Cara ini, nih, yang bikin hubungan makin rusak.(f)
Topic
#menggantungmasalah


