
Peran Megawati Soekarnoputri dalam proses demokratisasi di Indonesia tidak bisa ditampik. Sebagai ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati harus berjuang melawan tekanan Orde Baru. Mega yang sering disebut-sebut ‘hanya’ seorang ibu rumah tangga pada waktu itu adalah simbol perlawanan, meski di dalam tubuh partainya rawan konflik dan adu domba.
Pada masa-masa perjuangan itulah Megawati seakan magnet bagi para wartawan Indonesia, maupun asing, yang terus menempelnya demi berita-berita ekslusif. Meski pada masa itu, dekat dengan Megawati bisa dinilai sebagai ‘musuh negara’. Buku Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat yang diluncurkan pada Rabu, 23 Maret 2016 malam di Gedung Arsip Nasional, Jakarta inilah yang merekam jalan berliku Megawati dalam melakukan perlawanannya dalam sudut pandang 22 wartawan yang setia mengikutinya.
Dalam peluncuran yang juga dihadiri oleh banyak pejabat dan mantan pejabat, seperti Wapres Boediono, Kepala BIN Sutiyoso, Rizal Ramli, Puan Maharani, termasuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama (Ahok) yang sedang merintis jalur independen untuk pilkada DKI 2017 mendatang. Kehadiran Ahok tentu saja mengundang perhatian hadirin.
Megawati yang mengenakan blus bunga-bunga malam itu terlihat cerah dan beberapa kali tampak haru mendengar kesan-kesan beberapa penulis buku, termasuk wartawan Jepang Tomohiko Otsuka, yang pernah dpukuli polisi saat meliput demonstrasi kader PDI di Gambir Jakarta. “Otsuka bilang ke saya ingin ikut saya terus, tapi saya bilang, tolong berbahasa Indonesia yang baik ya biar para kader PDI mengerti maksudmu,” ujar Megawati, yang disambut tawa hadirin.
Di akhir acara, juga diselenggarakan lelang buku yang dipimpin oleh Megawati. Hasil lelang buku secara keroyokan ini rencananya akan digunakan untuk menerbitkan buku-buku lain mengenai sejarah demokrasi di Indonesia.(f)




