Trending Topic
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Pendekatan Feminin untuk Hadapi Radikalisme Agama

18 Jun 2017


Foto: Pixabay
 
Dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama yang diadakan di Cirebon, Jawa Barat, akhir April lalu, radikalisme agama tak ketinggalan diperbincangkan. Kongres tersebut juga mengeluarkan rekomendasi untuk berbagai isu sosial serta kebinekaan, sebuah isu yang belakangan sedang mendapat ‘ujian’ dengan kian maraknya aksi intoleransi.

Menurut Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) Musdah Mulia, di tengah meluasnya radikalisme agama di masyarakat saat ini, ulama wanita memiliki cara-cara yang lebih komprehensif untuk menangkalnya. Itu karena wanita lebih mampu menjangkau kehidupan masyarakat dengan lebih luwes.

“Menghadapi radikalisme tidak bisa dengan cara-cara yang maskulin, seperti dengan cara kekerasan atau kontak senjata. Ulama wanita bisa memberikan pendekatan yang lebih feminin. Wanita juga lebih mampu berupaya menangkal radikalisme, misalnya lewat majelis taklim,” jelas Musdah.

Musdah menekankan pentingnya majelis taklim sebagai media dakwah yang tidak terbatas pada penyampaian dalil-dalil agama dan ayat-ayat Alquran. “Majelis taklim juga harus menggugah masyarakat untuk sadar akan keadaan lingkungan sekitarnya,” katanya.

Dari sanalah, masyarakat dapat membawa ilmu baru untuk diterapkan dalam keluarga. Karena itu, langkah ini dapat mulai ditempuh untuk mengatasi radikalisme agama.

“Keluarga harus dibekali dengan pendidikan untuk orang tua, baik ibu maupun ayah, terkait pendidikan agama seperti apa yang perlu diberikan pada anak. Orang tua pun perlu lebih terlibat dalam memantau perkembangan anak. Janganlah serta-merta menyerahkan tanggung jawab pada sekolah, karena sekolah hanya menunjang,” tambah Musdah.

Bila anak sudah dibekali terlebih dahulu dengan nilai-nilai agama yang mengedepankan kemanusiaan, kasih sayang, toleransi, dan menghargai perbedaan, maka bila mereka menemukan hal yang berbeda di sekolah, termasuk ajaran kebencian, mereka tidak akan mudah terpengaruh.

“Yang penting disadari, beribadah bukanlah tujuan dalam beragama, melainkan sebuah jalan untuk menjadi lebih manusiawi. Ketika beribadah tidak lantas berdampak pada kehidupan sosial yang lebih tenteram, seperti saat kelompok radikal melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat, maka beragama akan kehilangan esensinya,” tegas Musdah. (f)

Baca juga:
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Respons Ulama Wanita Terhadap Isu Kekerasan terhadap Wanita
Kongres Ulama Perempuan Indonesia, Pertama di Indonesia dan Dunia
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Agama Bicara Soal Membangun Kemanusiaan dan Lingkungan
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Agama Tak Lepas dari Isu Lingkungan


Puji Maharani


Topic

#IsuGender, #Radikalisme