Trending Topic
Kecam Kekerasan Seksual!

2 May 2016


Foto: Stocksnap.io

Satu lagi korban kekerasan seksual yang dilakukan secara kejam, menimpa anak perempuan. Kejadian memilukan tersebut menimpa seorang siswi SMP berusia 14 tahun di Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu, yang mengalami pemerkosaan hingga meninggal, awal April lalu. Dalam perjalanan pulang sekolah, ia diperkosa oleh 14 pemuda. Mirisnya lagi, beberapa di antara pelaku masih di bawah umur, dan satu sekolah dengan korban. Hingga berita ini ditulis, 12 dari 14 pelaku telah ditangkap oleh Kepolisian.

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan itu adalah fakta dari ancaman kekerasan seksual yang masih menghantui para wanita (dan terutama anak-anak perempuan).

Dari tahun ke tahun, angka kekerasan seksual justru terus meningkat. Menurut catatan Komnas Perempuan, jika tahun 2014, kekerasan seksual menempati peringkat ketiga dalam urutan tindak kekerasan terhadap perempuan, di tahun 2015 justru menjadi peringkat kedua. Kekerasan fisik menempati peringkat pertama dengan persentase 38% (4.304 kasus).

Bentuk kekerasan seksual tertinggi adalah perkosaan 72% atau berjumlah 2.399. Kasus lainnya adalah pencabulan 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual 5%  (166 kasus). Dalam data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2015, ada sekitar 5.000 kasus kekerasan pada anak. Bak fenomena gunung es, itu baru angka yang terungkap.

Menurut Lies Marcoes, peneliti isu gender dan Islam, dan Direktur Rumah  Kita Bersama, kasus tadi bukan sekadar syahwat kelamin, melainkan ‘Kutuk Kejantanan’ yang harus dipikul remaja lelaki dalam frustrasi yatim piatu sosial mereka. “Orang tua dan orang dewasa memusuhi, peer pressure, kehendak menunjukkan kejantanan, semangat menaklukkan, adu keberanian, solidaritas kelompok, kehendak untuk diterima dalam gangnya dan kegembiraan yang membuncah di atas penderitaan orang lain. Tanpa ‘pemahaman’ soal kutuk kejantanan atau maskulinitas itu, sungguh sulit untuk meletakkan logika perkosaan remaja yang biadab tiada tara itu,” ungkap Lies, seperti yang ia tulis dalam akun Facebooknya.  

Lies mengkritik budaya patriarkat turut berperan sebagai penyebab masih adanya kekerasan seksual yang dialami kaum wanita. “Sebagai orang dewasa, boleh jadi sudah modern, tapi cara mendidik anak lelaki tetap di zaman batu, zaman ‘berburu’, menerjemahkan kejantanan dari menaklukkan hewan jadi menaklukkan perempuan. Pasti ada yang salah dalam cara mendidik anak lelaki kita,” kritiknya.

Lies menambahkan. “Publik harus marah, tak boleh diam! Anak kita harus aman berada di luar rumah untuk menuntut ilmu, untuk berkreasi. Anak lelaki kita harus dididik menjadi lelaki sejati yang hormat kepada perempuan, pemimpin harus diajari menjadi orang tua teladan,” tuturnya.

Apa yang dialami korban di Bengkulu tadi, terlalu keji untuk diuraikan dan dibayangkan. Sudah seharusnya kita tidak tinggal diam atas kasus ini, minimal dengan mengecam dan berharap pemerintah segera turun tangan mengambil tindakan agar tidak ada lagi korban kekejian seperti itu di negeri ini. Dan, seperti pesan Lies, kita bisa ikut berperan dengan mendidik sebaik mungkin anak lelaki kita untuk menjadi lelaki sejati yang berhati nurani dan hormat terhadap perempuan.  

Ficky Yusrini