
Apakah gimmick syuting di luar negeri menjadi sebuah formula baru bagi para produser untuk menaikkan pamor filmnya di pasaran? Jika kita perhatikan daftar 10 box office film-film Indonesia tiga tahun belakangan ini (2013 - 2015) seperti dikeluarkan oleh filmindonesia.or.id, tidak semua film yang syuting di luar negeri masuk dalam daftar box office.
Tahun lalu, Bulan Terbelah di Langit Amerika tercatat ditonton oleh 917.743 orang, menempati peringkat keempat sebagai film paling laris 2015. Angka ini turun jauh dibandingkan sequel pertamanya, 99 Cahaya di Langit Eropa yang pada tahun 2013 ditonton oleh 1.189.700. Sedangkan Negeri Van Oranje hanya mampu menempati posisi 9 box office dengan total 490.703 penonton. Perolehan penonton terbesar justru didapat film Surga yang Tak Dirindukan yang mencapai lebih dari 1,5 juta penonton.
Assalamualaikum Beijing dan Haji Backpacker yang sama-sama bertema religi berhasil bertengger di jajaran daftar 10 film box office 2014 dengan perolehan masing-masing 560.465 dan 375.799 penonton. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan film Ketika Cinta Bertasbih (3,1 juta penonton) pada tahun 2009.
Sedangkan tahun ini, London Love Story yang baru tayang di awal Februari lalu, meski berhasil menempati tempat pertama, jumlah penontonnya hanya mencapai 800.000 orang. Data terbaru juga menyebutkan, Surat dari Praha ditonton oleh 60.000 lebih penonton, meskipun ini belum angka terakhir.
Rekor box office film nasional dengan setting luar negeri justru dipegang oleh film Habibie – Ainun (2012), yang meraih penjualan tiket lebih dari 4,3 juta lembar. Tapi, apakah ini lantaran film Habibie – Ainun syuting di luar negeri? Rasanya, sih, tidak.
Menurut Krisnadi, keberhasilan film Habibie-Ainun menggempur pasar lokal tak lain karena film ini mampu memberikan ruang baru bagi penontonnya. “Film ini seakan mampu mengajak orang-orang yang tidak nonton di bioskop untuk pergi nonton ke bioskop,” katanya.
Tapi, apakah angka penonton film Indonesia tersebut sudah cukup membanggakan? Menurut Krisnadi, tentu saja ini bukan gambaran yang ideal jumlah penonton film Indonesia, mengingat jumlah potensi penonton Indonesia sendiri sangat besar. “Ingat, ya, kita itu negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Kalau perfilman Cina, India, dan Amerika bisa sangat besar di negeri sendiri, angka penonton ini menjadi pertanyaan untuk kita,” katanya.
Film Indonesia yang mengambil lokasi syuting di luar negeri tentu saja akan memperkaya sisi sinematografi film tersebut. Tapi, menurut Krisnadi, syuting di luar negeri tidak benar-benar memperkaya cerita karena tema yang diangkat masih basic story. “Di luar religi, film-filmnya banyak yang berlatar cerita tentang tema percintaan remaja,” ungkapnya.
Tak sedikit film yang syuting di luar negeri diadaptasi dari buku-buku best seller karangan penulis muda favorit Indonesia. Seperti film Negeri Van Oranje yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan Raden Wahyuningrat, Rizki Pandu Permana, Adept Widiarsa, dan Annisa Rijadi. London Love Story diambil dari buku karangan Tisa TS. Keduanya pun bercerita tentang percintaan mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di luar negeri.
Diakui oleh Danial, beberapa film garapannya mengambil setting luar negeri, tapi cerita yang diangkat harus tetap berakar pada problematika orang Indonesia. “Sudut pandangnya pun harus sudut pandang Indonesia,” kata Danial.
Mengapa produsen memilih cerita? Alasannya ada berbagai macam. Misalnya, mengadaptasi dari buka best seller untuk menarik orang-orang yang membaca buku tersebut. Tapi, menurut Krisnadi, yang perlu dilihat kembali adalah apakah film-film Indonesia yang syuting di luar negeri memang konsekuensi dari jalan ceritanya. Jangan sampai sudah jauh-jauh syuting tapi tidak memberikan ‘gizi’ pada ceritanya.
Ia mencontohkan film Pachinko & Everyone’s Happy yang menjadi perbincangan di tahun 2000 karya Harry Dagoe. Film yang syuting di Tokyo ini bercerita tentang tiga generasi penduduk Tokyo dan problematika kehidupan mereka. “Berlatar budaya Jepang tentu film ini butuh syuting di sana,” jelasnya.
Konsekuensi syuting di luar negeri karena jalan cerita juga dialami film Haji Backpacker yang harus berpindah lokasi syuting dari satu negara ke negara lainnya untuk akhirnya tiba di Mekah. “Jadi, bersama tim kreatif kita bicarakan negara mana yang bisa kita kunjungi, termasuk masalah perizinan dan hitungan bujetnya,” kata Danial.
Selain itu, film Surat dari Praha, menurut Krisnadi Yuliawan Saptadi, menjadi salah satu film Indonesia yang memang harus dibuat di luar negeri karena setting cerita berlatar masalah orang Indonesia yang mengalami stateless setelah kasus ‘65. Adegan Jaya dan Laras berjalan di jalanan kota dengan latar bangunan bergaya Eropa dan tram yang melintas, khas Kota Praha, memang berhasil membuat penonton terkagum-kagum dengan keindahan ibu kota Republik Ceko tersebut.
Bahkan, momen golden hour – pergantian siang ke malam namun masih menyisakan cahaya matahari yang menyemburat warna keemasan – yang ditangkap kamera, berhasil menggambarkan Eropa yang romantis, sekaligus perasaan keterasingan dan kesepian yang dialami tokohnya. Selain tangkapan kamera yang tak pernah dilihat mata penonton, faktor pemilihan tema yang unik dan kekuatan jalinan cerita, dan tak kalah penting faktor marketing, juga memberi pengaruh pada sukses tidaknya sebuah film di layar lebar. (f)
Faunda Liswijayanti


