
Foto: Fotosearch
Jangan menganggap pakaian dan fashion hanya sekadar pembungkus dan pelindung tubuh. Lebih dari itu, pakaian dan fashion adalah salah satu alat komunikasi yang ampuh untuk menyampaikan dan menyuarakan suatu maksud. Banyak tokoh menyadari fungsi ini. Kita pun bisa belajar dari mereka.
Saat Presiden Joko Widodo menggelar konferensi pers di istana setelah demo tanggal 4 November lalu, sungguh di luar dugaan, yang menjadi bahan perbincangan kemudian justru bomber jacket hijau yang beliau kenakan. Yang unik, para simpatisan dan pendukung loyal Presiden Jokowi ramai-ramai mengeluarkan koleksi bomber jacket hijaunya, bahkan khusus membelinya sebagai simbol pernyataan dukungan mereka.
Sebenarnya, Presiden juga pernah mengenakan bomber jacket saat meninjau kapal perang KRI Imam Bonjol 383 di Lautan Natuna pada Juni 2016 lalu, yang saat itu lebih berkesan bagi negara lain. Meski mungkin beliau memakainya sekadar melindungi diri dari angin yang dingin, sebagian orang menganggap itu pilihan yang tepat untuk menunjukkan sikap siaga. Memakai jaket juga membuat tubuh kurus Pak Presiden jadi terlihat lebih gagah dan gaya.
Tidak mengherankan, banyak orang mencoba membaca makna pakaian yang beliau kenakan, apalagi sebelumnya Presiden Joko Widodo kerap menunjukkan sikapnya lewat pakaian yang dikenakan. Saat kampanye mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, beliau menggunakan kemeja kotak-kotak sebagai lambang keberagaman. Kemudian, kemeja putih dengan lengan digulung untuk menegaskan niatnya dan kabinet yang dibentuk untuk bekerja keras.
Pakaian dan fashion memang bukan penutup dan pelindung tubuh semata. Dalam buku Fashion as Communication (Routledge, 1996), pakar komunikasi Malcom Barnard mengatakan, pakaian yang kita kenakan bisa menampilkan berbagai fungsi. Sebagai bentuk komunikasi, pakaian bisa menyampaikan pesan yang bersifat nonverbal. Ia bisa menyuarakan banyak hal.
Pakaian bisa melindungi kita dari cuaca yang tidak nyaman atau dari kemungkinan cedera pada olahraga tertentu. Pakaian juga membantu kita menyembunyikan bagian-bagian tertentu dari tubuh kita, dan karenanya pakaian memiliki fungsi kesopanan. Selain itu, pakaian juga menampilkan peran sebagai pajangan budaya. Ia dapat menjadi ‘suara’ untuk mengekspresikan jiwa, karakter, dan sikap pemakainya, termasuk pilihan politiknya.
“Raja dan ratu kerajaan menggunakan jubah dan mahkota sebagai simbol dan legitimasi kekuasaan. Karena itulah, ada istilah baju kebesaran,” ujar Dr. Semiarto Aji Purwanto, yang biasa disapa Aji, peneliti dan dosen antropologi dari Universitas Indonesia. ”Di negara-negara sosialis, yang khas adalah pemakaian rentetan lencana pada pakaiannya. Ini merupakan bagian dari legitimasi dan sindrom megalomania bagaimana kebesaran ditunjukkan dengan sekian banyak lencana,” tambahnya.
Di tanah air, menurut Aji, kepemimpinan Presiden Soeharto sebagai contoh bagaimana pakaian menjadi simbol legitimasi sebuah era. “Pada era itu, penggunaan kemeja safari oleh pejabat, batik Korpri, dan kebaya Dharma Wanita adalah manifestasi dari uniformnitas, penyeragaman, yang berarti mudah dikendalikan,” ujarnya. Sementara bagi wanita aktivis, busana kebaya pada masa itu, yang sempit dan membuat sulit bergerak, bisa saja diartikan sebagai pembatasan gerak wanita. Bagaimana pakaian diartikan, memang tergantung latar belakang dari orang yang mengenakannya maupun orang yang melihatnya.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dalam catatan sejarah pernah mengungkapkan alasannya menghindari simbol suatu daerah atau suku tertentu. Sebagai seorang presiden, beliau tidak mengenakan pakaian daerah karena beliau adalah pemimpin bangsa, seluruh warga Indonesia, bukan milik sebagian suku saja.
Wajar saja bila Presiden Soekarno melakukannya, karena saat itu Indonesia baru merdeka sehingga perlu mengutamakan persatuan dan mengangkat semangat nasionalisme. Karena itu, Presiden Soekarno memilih mengenakan setelan jas dengan tanda kepangkatan dan peci hitam. Gaya berpakaian seperti ini dianggap netral.
Kemeja biasa yang dikenakan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menurut Aji, bisa berarti mereka adalah abdi masyarakat yang tugasnya melayani, bukan dilayani. ”Saat Presiden memakai bomber jacket, yang tidak biasa ia pakai, maka kesannya akan lebih melekat pada yang melihatnya,” tambahnya. (f)
Baca juga:
- Kiat Membangun Personal Branding
- Calon Presiden Amerika dari Partai Demokrat Hillary Clinton Mencuri Perhatian Dunia


