
Foto: Pixabay
Baca juga: Belajar Berbeda, Beranikah Anda Bertukar Tempat dengan Kaum Minoritas?
Apalagi belakangan ini, ketika hubungan antara kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia sedang diuji.
Sebenarnya, ada banyak faktor yang memengaruhi munculnya isu mayoritas dan minoritas. Cara berpolitik yang belakangan ini tak segan menjual isu agama dianggap banyak pengamat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi merenggangnya hubungan antar kelompok di masyarakat.
Yang perlu disadari bersama, Indonesia dibentuk sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku, dan puluhan bahasa daerah dengan berbagai macam agama. Perbedaan inilah yang sebenarnya menjadikan Indonesia sebagai negara yang unik, demokrasi dengan memegang nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut Dr. Arie Sujito, sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada, munculnya konsep mayoritas dan minoritas di masyarakat sebenarnya hanya terkait pada masalah jumlah: mayoritas yang banyak, sedangkan minoritas yang sedikit.
Dalam konsep sosiologi, yang perlu dipahami adalah bahwa sebagai manusia, berapa pun jumlah orangnya, bahkan satu sekalipun memiliki makna.
“Tiap manusia itu punya makna, bukan berdasarkan pada jumlahnya,” ujar Arie. Mayoritas adalah kelompok yang mendominasi dan memiliki pengaruh besar serta tingkat keamanan yang kuat.
Umumnya, bagi kaum mayoritas, potensi bahaya yang muncul terhitung kecil. Sedangkan minoritas adalah kelompok masyarakat yang memiliki kuantitas serta pengaruh yang kecil.
Biasanya, posisi minoritas ini berseberangan dengan mayoritas. Potensi ancaman yang datang dan kemungkinan tidak terpenuhi hak-hak minoritas juga cukup besar.
Kelompok mayoritas umumnya selalu merasa dominan, merasa punya hak, berkuasa, dan merasa lebih menentukan. Padahal, jika melihat kembali pada sistem demokrasi, mayoritas juga harus ditopang oleh minoritas.
“Konsepnya adalah mayoritas melindungi minoritas dan minoritas menghormati mayoritas. Konsep ini harusnya berlaku di masyarakat. Sehingga dikotomi minoritas-mayoritas selayaknya tidak dipolitisasi,” kata Arie.
Bicara tentang mayoritas-minoritas di Indonesia, memang memiliki sejarah panjang, terutama dalam hal hubungan antaretnis terkait agama.
“Harus diakui di masa Orde Baru, kita pernah salah urus. Pembicaraan soal perbedaan agama, suku, dan ras cenderung kaku. Namun kini, seiring arus perubahan, orang makin terbuka membicarakan hal tersebut,” tutur Arie.
Sayangnya, orang memang makin terbuka membicarakan identitas, tapi tidak diikuti dengan pemahaman tentang perbedaan identitas itu sendiri.
“Banyak orang berbicara terbuka tentang SARA (suku, agama, dan ras), tapi tidak diikuti dengan kematangan pemahaman tentang perbedaan. Misalnya soal pemimpin beda agama. Ujung-ujungnya, mayoritas dianggap dominan, sedangkan minoritas didominasi. Hal ini kemudian bergeser pula ke dunia politik dan memicu konflik karena pemahaman mayoritas-minoritas dipolitisasi secara berlebihan,” kata Arie.
Politisasi bisa membuat yang mayoritas bersikap sewenang-wenang, sehingga minoritas menjadi phobia. Indonesia yang majemuk memiliki potensi hal seperti ini terjadi. Namun, menurut Arie, jika hal ini dikelola dengan benar dan terkontrol, tidak akan menimbulkan bermasalah.
Gesekan antara mayoritas dan minoritas juga terjadi ketika muncul kesenjangan dan sentimen antarkelompok. Penyulutnya bisa bermacam-macam. Namun, berdasarkan pengamat Arie, faktor agama memang hal yang paling mudah disulut.
“Walaupun, kalau ditelusuri kembali, masalahnya bukan tentang agama, melainkan keadilan sosial dan kesenjangan ekonomi sebagai akar masalah,” kata Arie, menjelaskan. (f)
Baca juga: 3 Inisiatif Menyebarkan Nilai Toleransi dalam Masyarakat
Mengapa Masyarakat Kita Mudah Mengalami Konfik SARA?
Faunda Liswijayanti
Topic
#Intoleransi, #toleransi


